Selasa, 11 Januari 2022

Cerpen "Dua Guru Terbaik"

 “Naila…. Silakan maju untuk membacakan puisimu. Murid-murid lainnya silakan dengar dan simak pembacaan puisi Naila ya,” ujar Bu Rina. Naila pun maju ke depan kelas dan membacakan puisi.

Guruku

Lautan samudera yang luas ini

Tidak sebanding dengan ilmu yang kamu berikan kepada kami

Betapa pentingnya ilmu yang kamu ajari

Membuat kami semakin mengerti

Semakin memahami makna ilmu Ilahi

Terima kasih telah membimbing dan mengajari kami

Tatkala kesulitan mendera dalam diri ini

Berkatmu kami bisa membaca, menulis, dan mengaji

Terima kasih guru kami

Plok… plok…. Plok…. Suara tepuk tangan semua murid dan bu Rina menyambut puisi Naila. Bu Rina pun sempat terpesona bahkan hampir meneteskan air mata. “Terima kasih Naila. Puisimu menyentuh hati Ibu. Kamu pandai membaca dan memilih kosakata yang bagus. Cara membaca puisimu sungguh indah. Sekali lagi berikan tepuk tangan untuk Naila.” Plok plok plok, suara gemuruh tepuk tangan menghiasi kelas Naila.

“Itu tadi puisi dari Naila tentang guru. Silakan siapa lagi yang akan membacakan puisi tentang guru di depan kelas?” tangan bu Rina diangkat ke atas sebagai pertanda mengajak murid untuk berani berekspresi membacakan puisi di depan kelas.

“Saya, Bu,” jawab Zaima sembari mengangkat tangan juga. “Silakan maju ke depan Zaima. Mohon yang lainnya diam sejenak untuk mendengarkan pembacaan puisi dari Zaima,”

Zaima pun maju ke depan. Dengan langkah percaya diri membawa sobekan kertas, Zaima sambuil menghembuskan nafas kecil untuk menghilangkan rasa nervous.

Sepeda Ontel Butut

Kayuhan kakimu kini tak sekuat dulu lagi

Roda yang mengitari bumi kini telah menipis

pertanda waktunya untuk diganti

Meskipun begitu semangatmu tidak pernah berhenti mendidik kami

Jarak yang kau tempuh ratusan mil dari rumah mini

Kami tau, baju usangmu itu sudah termakan usia

Tas yang kau tenteng setiap hari sudah berubah warna

Ditambah dengan rambut yang sudah menua

Namun, semangat mengajar kami mengalahkan usiamu

Seakan masih ada cahaya untuk di masa depan bagi kami semua

Guruku…. Sepatu yang kini kau pakai telah terlalu sempit

Guruku…. Kacamata yang kenakan kini telah buram

Semangatmulah yang membuatku ingin menjadi orang sukses di kemudian hari

Semangatmulah yang membuatku ingin menjadi orang bermanfaat di masa mendatang

Semangatmulah yang membuatku ingin menjadi kebanggaan bagi Negara

Doaku untukmu guruku

Selalu sehat dan kuat dalam membimbing muridmu

 

Terhenyak dan terdiam bahkan terpukau seisi kelas. Air mata bu Rini kini benar-benar membasahi pipinya. Tak henti-hentinya tisu yang di atas meja diambil satu persatu untuk menyeka air mata. Ruangan seakan hening dan tak mampu lagi untuk mengucapkan kata demi kata. Terperangah semua mata. Bulu kuduk seakan berdiri, merinding dalam setiap hentakan alunan yang mendera kelas. Tepuk tangan diawali oleh Haris, diikuti semua murid dan bu Rina. Bahkan bu Rina tak mampu menimpali puisi Zaima. Cukuplah pertanda derasnya air yang mengalir dari kelopak mata sebagai jawabannya.

Kriiiiiiiiinggggggggggg….. bel pun berdering kencang. Membuyarkan segala lamunan kami semua. Romi sebagai ketua kelas berdiri menyiapkan anggotanya untuk persiapan berdoa selesai belajar.

Kini Naila pun beranjak ke rumah untuk istirahat dan bersih-bersih diri. Seperti biasa, tidak lupa sepeda kesayangannya setia menemani perjalanan Naila menuju rumah.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam, Alhamdulillah anak Ibu yang sholihah sudah datang.”

“Selamat Hari Guru, Ibu,”

“Lho…. Ibu kan bukan guru, Nai,” jawab ibu Naila.

“Memang Ibu bukan profesinya sebagai guru, tapi berkat Ibu lah aku bisa seperti ini. Ibu adalah guru pertamaku di dunia. Ibu adalah guru segala guru di dunia ini. Aku bisa karena Ibu telah mendidik aku dari kecil hingga besar serta mengajariku menjadi anak baik. Terima kasih Ibu. Aku cinta Ibu,” jawab Naila.

“Terima kasih kembali sayangku,” pelukan hangat dari ibu sembari air matanya menetes di rambut Naila. Menandakan ibu Naila menangis terharu.

Kini Naila paham betapa bahagianya dikelilingi orang-orang baik. Di rumah ada Ibu yang selalu setia menemani tatkala ayahnya tugas di luar kota. Di sekolah ada teman-teman Naila yang sangat baik yang asyik diajak ngobrol setiap saat, bahkan di kala kesulitan mendera di kelas. Begitupun para guru di sekolah. Semua adalah orang-orang baik yang dikirimkan Allah menjadi pendidik di sekolah kami. Sungguh karunia Allah sangat besar kepada kita semua. Tidak hanya materi, namun dikelilingi orang-orang baik.

Terima kasih dua guruku terbaik. Ibu dan guru-guruku di sekolah.

Selamat Hari Guru Nasional 2021

Cerpen Dua Guru Terbaik

 DUA GURU TERBAIK

Karya: Izza

 “Ma, Naila berangkat dulu ya,”

“Iya, hati-hati ya sayang…” timpal mama.

*****

Sepeda kesayangan Naila pun sudah siap menemani ke sekolah. Meskipun jarak rumah Naila cukup jauh dari sekolah, perbekalan Naila pun tidak begitu banyak. Mama Naila hanya memberikan bekal makan siang secukupnya serta camilan bergizi buatan rumah.

“Assalamualaikum, Ma,”

“Waalaikumussalam, Naila,” “jangan lupa, bekalnya dimakan.”

“Iya, Mam.”

Seiring kicau burung beterbangan di angkasa serta dedaunan yang menyambut Naila sepanjang perjalanan, semangat Naila tidak pernah pudar untuk menimba ilmu. Sesekali Naila tersenyum tatkala disapa maupun menyapa orang yang dikenalnya.

Tepat pukul 06.45 WIB, Naila tiba di sekolah dengan aman dan nyaman. Naila menuju tempat parkir sepeda yang berada di ujung sekolah dengan diarahkan satpam sekolah yang bernama pak Rifai.

“Assalamualaikum, Pak,” sapa Naila.

“Waalaikumussalam, Naila. Silakan parkir di pojok ya.”

“Iya, Pak. Terima kasih.”

“Terima kasih kembali,” jawab pak Rifai.

Krrrrriiiiiinnnnnggggggg

Bel pun bunyi. Naila bergegas masuk kelas dan menempati kursi seperti biasa di samping Shafeea. Pelajaran hari ini adalah PIB (Praktek Ibadah) dan Tematik. Pak Roki yang sedari tadi menjelaskan materi Tematik dengan tema tumbuhan membuat Naila menjadi semringah. Bagaimana tidak, tumbuhan yang berada di sekitar rumah Naila kurang terawat, jadi ketika Pak Roki menjelaskan tentang tumbuhan dengan jenis dan perawatannya, Naila semakin tau betapa Maha BesarNya Allah menciptakan tumbuhan bagi manusia yang banyak manfaatnya.

Waktu istirahatpun tiba.

Naila mengeluarkan bekal makanan di dalam tas warna merah muda yang dibawa hari ini. Karena tas warna biru yang sepekan kemarin telah kotor karena debu menempel sepanjang perjalanan ke dan dari sekolah.

“Hai Fea, yuk makan siang bareng aku sekarang,” ajak Naila.

“Aku lagi ga enak makan Nai, pingin jajan di kantin sekolah,” ujar Shafeea. “Kenapa murung begitu?” tanya Naila. “Ibuku hanya mengasih uang jajan 2000 rupiah. Mana cukup uang segitu untuk beli di kantin sekolah. Paling-paling dapat sosis 1. Sementara aku tidak membawa bekal, karena aku tadi dibawain bekal oleh ibu aku ga mau,” seloroh Shafeea menjelaskan panjang lebar.

“Ibumu benar, kalau kamu sering jajan dan tanpa menyeleksi makanan yang kamu makan, maka akibatnya perut kamu sakit, dan tidak bisa sekolah. Jadi, ibumu sayang kamu. Agar kamu tidak sakit kalau jajan sembarangan.” “Begini saja, lebih baik kamu makan bersama aku saja.”

“Oke deh kalau seperti itu. Maaf ya Nai,”

“Iya, gapapa. Lagian bekalku cukup kok kalau kita makan bareng. Asli enak banget bikinan mamaku. Lain waktu, kamu main-main ke rumahku ya.”

“Oke Nai,” jawab Shafeea.

Sembari menikmati makan berdua, bu Rina berjalan menenteng tas hitamnya menyapa kami berdua. Sambil tersenyum, bu Rina pun berujar, “Selamat menikmati Naila dan Shafeea. Jangan lupa ya, sebentar lagi bel masuk akan bunyi. Makannya dipercepat ya,”

“Iya, Bu,” jawabku berbarengan dengan Fea.

Tidak berselang lama, bel masuk pun berdering kencang. Semua murid yang berada di luar kelas, berbondong-bondong menuju kelas masing-masing.

Hari ini tanggal 25 November 2021 yang bertepatan dengan Hari Guru Nasional 2021.

Bu Rina masuk kelas. Saatnya belajar Bahasa Indonesia.

“Assalamualaikum anak-anakku…. Bagaimana kabarnya hari ini?”

“Waalaikumussalam…. Alhamdulillah sehat, kuat dan semangat Bu,” serentak semua murid menjawab.

“Hari ini Ibu akan menjelaskan materi tentang puisi,”

“Puisi adalah karya sastra yang berisi tanggapan serta pendapat penyair mengenai berbagai hal. Pemikiran penyair ini kemudian dituangkan dengan menggunakan bahasa-bahasa apik serta memiliki struktur batin dan fisik khas penyair. Pemikiran penyair dituliskan dengan menggunakan beragam pemilihan kata yang indah, sehingga dapat memikat para pembaca. Puisi memiliki nilai estetika yang berbeda-beda bergantung penulis puisi. Setiap penyair biasanya memiliki kekhasan dalam menulis puisinya.” ujar bu Rani panjang lebar.

“Bagaimana, apakah kalian sudah paham?” tanyanya. “Paham, Bu,” semua murid serentak menjawab.

“Oke, sekarang kalian membuat puisi tentang hari guru ya. Hari ini tanggal 25 November 2021 adalah peringatan Hari Guru Nasional 2021. Sebagai bentuk penghormatan kepada guru, Ibu kasih tugas untuk membuat puisi. Sekarang kalian punya waktu kurang lebih lima belas menit. Jangan lupa tidak perlu panjang dan yang terpenting adalah kalian bisa memilih kosakata yang tepat untuk membuat puisi tersebut.”

“Siap Bu,” lagi-lagi semua murid menjawab serentak.

10 menit pun telah berlalu, bu Rina keliling ke meja satu persatu untuk membimbing pembuatan puisi. Kini tiba saatnya untuk beliau menunjuk siapa yang akan membacakan puisi di depan kelas.



bersambung ya....

Rumah Bau Melati part 3

 Namun, tanpa disangka, kotak amalpun kosong. Tanpa satupun rupiah. Tadi siang selepas Jumat, pak Haji tidak bisa menemani pak Rahmat untuk mengecek semua kotak amal masjid, sehingga ia lupa kalau kotak amal sudah diamankan hasil pemasukannya oleh pak Rahmat. Namun, pak Haji sudah menaruh curiga, bahwa anak kecil itulah yang telah mengambil uang kotak amal masjid. Ia mengetahui wajah itu karena tidak asing baginya. Akhirnya pak Hajipun mengajak serta jamaah yang ada menuju rumah Ucil. Setelah Waktu Magrib yang menegangkan. Orang-orang bergerak menuju rumah kosong setelah pencuri kotak amal lari ke dalam bangunan reot untuk bersembunyi.

Pencuri sialan!

Dia harus ditangkap dan diadili!

Rombongan massa itu saling sahut-menyahut, menumpahkan sumpah serapah, sesekali salah satu di antara mereka meneriakkan takbir. Mereka makin dekat. Semerbak melati dibawa angin dari arah rerimbunan pepohonan di halaman yang terbilang seperti gubug. Rumah bau melati. Konon sering ada penampakan wanita yang melayang-layang mengitari rumah mbah Murti dan Ucil. Ia terbang sambil tertawa cekikian.

Namun, kali ini siapa yang peduli bau melati? Siapa yang peduli penampakan hantu wanita? Orang beramai-ramai. Bahkan di dalam rombongan itu ada Pak Haji, mana mungkin wanita itu berani menampakkan diri? Bau melati makin kental. Kian menusuk hidung. Wangi sekaligus mendatangkan ketenangan yang mengerikan. Tak berapa lama kemudian orang-orang telah sampai di halaman rumah.

"Allahhu akbar!" Pak Haji mengucap takbir. Pandangannya menatap tajam ke awang-awang. Sementara warga yang lainya senyap. Beberapa gemetaran, ada juga yang mulutnya sampai menganga.

Perempuan itu muncul, melambung-lambung di antara dua pepohonan rimbun.

"Mengapa tak ke masjid? Mengapa tak mengumandangkan azan Isya? Bangsaku sudah bersiap menutup telinga, beberapa sudah bersembunyi di tempat pembuangan yang kedap dan bau," sergah wanita yang wajahnya tertutup rambut panjang.

"Kami mau menangkap pencuri kotak amal!" jawab Pak Haji sedikit gemetar.

"Tidak bisa! Dia mencari perlindungan di rumah kami! Wajib bagi kami untuk melindunginya!"

"Setan terkutuk! Sudah terkutuk, sukanya membela bandit yang kelakuannya terkutuk!"

"Kamu lebih terkutuk! Kalian semua terkutuk!" Lecutan kata itu diiringi tawa cekikikan. Bau melati bertebaran. "Biar aku bacakan kamu ayat-ayat Allah! Lekas-lekaslah terbakar dan enyah kamu ke neraka!"

Pak Haji membaca ayat kursi. Warga berdzikir bersama-sama. Dengung suara dzikir terdengar bagai segerombolan lebah. Tak lekas terbakar, wanita itu malah menirukan bacaan ayat kursi secara fasih. "Bagaimana bisa ayat suci itu menghiasi lisanmu, bahkan tiap hari kamu membaca berjuz-juz Quran, tapi tak satu pun yang terselip di hati?" ucap wanita yang kini duduk di atas dahan pohon beringin.

"Apa maksudmu, setan busuk?"

"Aku tahu dia bukan pencuri kotak amal. Dia cuman anak-anak. Dia yatim. Kini bertambah jadi piatu. Hanya mbah tua yang selalu setia menemaninya setiap hari dan sepanjang waktu. Bagaimana bisa penderitaan anak ini luput dari jangkauan kalian?"

Semua terdiam. Pak Haji makin jengkel.

"Tapi, bukan berarti dia boleh mencuri!" teriak pak Haji. “Dia bukan pencuri!!!” jawab wanita itu.

"Kamu mengumumkan kas masjid yang puluhan juta itu melalui pengeras suara. Sementara anak ini kelaparan. Hidupnya kini miskin papa! Lalu ke mana saja kas yang puluhan juta itu? Mengapa yang kalian pentingkan hanya pembangunan masjid saja?"

"Kalau masjidnya bagus dan nyaman, ibadah jadi tenang." Pak Haji masih membela diri meski nada bicaranya makin melunak.

"Masjid kalian makin megah, makin nyaman, tapi, Allah yang kalian sembah itu kelaparan, kehausan, sedang kalian tak mau menggubrisnya."

"Kurang ajar! Beraninya kamu merendahkan Allah. Mana mungkin Allah lapar dan kehausan!" Pak Haji kembali menaikkan suara. Telunjuknya mengacung ke atas, tasbihnya terlihat melilit di pergelangan tangan.

"Dalam setiap jiwa yang kelaparan dan kehausan, Allah begitu dekat. Apa kalian tak pernah mengasah hati nurani?" Wanita itu kembali cekikikan.

Perkataan terakhir wanita itu membuat hati Pak Haji melunak secara kaffah. Dahulu, di pondok pesantren, ia kerap mendengar hadits qudsi tersebut. Mengapa kini ia malah melupakannya? Tertunduk Pak Haji dalam-dalam. Betapa menyesalnya ia kini. Bau melati semakin tidak wajar. Makin membuat pusing dan mual. Beberapa yang tidak kuat menghirup aroma kental itu akhirnya lemas dan pingsan. Pak Haji pingsan paling akhir.

"Pak, bangun! Sudah Mahrib. Ayo ke masjid." Bu Haji membangunkan suaminya yang tertidur selepas Ashar.

Buru-buru Pak Haji ke masjid dan mengecek kotak amal. Masih pada tempatnya. Pucat muka pria sepuh itu karena mimpi yang terus berkelebat di benaknya, dan seakan ia memimpin jamaah sholat Maghrib.

Usai magrib, Pak Haji dan beberapa jamaah membongkar kotak amal. Dari hasil yang didapat, sebagian dialokasikan untuk pembangunan, sebagian untuk kesejahteraan umat. Esok hari, pak haji buru-buru membeli sembako dengan uang kotak amal, ditambah uang pribadinya. Ia mendatangi rumah anak yatim piatu yang ada di dalam mimpi.

Tersuruk-suruk langkah Pak Haji membopong sekarung beras dan menenteng bingkisan. Beberapa warga menawarinya bantuan untuk membawakan karung beras, tapi Pak Haji menolak.

"Ini adalah kelalaianku! Aku membiarkan anak yatim piatu itu kelaparan. Aku sendiri yang harus memikulnya!" Sesampai di depan gubuk tua dan reyot di pinggir sungai, buru-buru pak Haji dan warga dengan bangga bangga membuka pintu gubuk yang hampir roboh itu, dan...... apa yang mereka saksikan? Ucil menangisi mbah Murti telah terbujur kaku di atas sajadah lusuh sambil memegangi perutnya... di hadapannya ada Al Qur'an besar dan lusuh yang masih terbuka pada surat Al Maun.

 

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ

 

1.  Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

2.  Itulah orang yang menghardik anak yatim,

3.  dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

4.  Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

5.  (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

6.  orang-orang yang berbuat riya,

7.  dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Innaa lillaahi wa innailaihi rooji'uuun. Selamat jalan mbah Murti. Tubuh rintihmu kini terbujur kaku tak berdaya. Tanganmu yang lihai memilah dan memilih barang yang bisa dimanfaatkan, kini tak bisa bergerak. Kakimu yang selalu lincah ke sana kemari menuju tempat sampah yang sekiranya terdapat kardus, kini tak mampu kau ajak kompromi. Pak Haji pun terkaget dan terpengarah, sosok yang selama ini mendampingi Ucil itu sudah tiada. Seakan tidak percaya bahwa kehadiran mbah Murti di kampungnya membuat hati dan mata batin tertutup kabut egoisme. Selama ini yang selalu dia banggakan kepadpa jamaah dengan mengumumkan perolehan jumlah yang fantastis, seakan sirna melayang entah ke mana. Bagaikan debu yang beterbangan ke atas, sekian detik hilang bersama angina. Ribuan, puluan ribu, ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta perolehan infaq masjid seakan tiada arti lagi, selama warga sekitar tidak merasakan nikmatnya sebutir nasi. Pak Haji menyesal semakin mendalam dengan kondisi Ucil dan mbah Murti. Ke mana selama ini kopyah putih yang selalu dikenakannya, jubah panjang menutupi seluruh badannya, bahkan tasbih yang tergenggam di tangannya seolah hanya sebagai hiasan semata, sementara masih ada warga sekitar jauh dari ketenteraman. Ah…. Apakah ada lagi mbah-mbah Murti lainnya di kampung ini yang belum kutengok kondisinya?

Adakah Ucil-Ucil lainnya yang selalu menemani nenek maupun kakeknya sebatang kara hingga ia lupa kondisi perutnya? Adakah gubuk-gubuk reyot lagi yang belum pernah kusambang? Adakah tumpukan kardus dan gelas air mineral kosong yang berserakan di dalam rumah sehingga menjadi sempit untuk ditempati?

Pak Hajipun memerintahkan warga untuk segera mengurus jenazah Mbah Murti. Warga semakin sibuk tatkala kamar mandi yang tidak layak pakai di belakang gubuk mbah Murti air mati. Ucilpun masih sesenggukan menangis akan kepergian orang yang tercinta. Selama ini hidupnya selalu dipenuhi oleh mbah Murti meskipun belum dikatakan lebih dari cukup. Namun, rasa syukur, masih ada mbah Murti yang setia menemani dan melayani kehidupannya.

Ucilpun berangsur-angsur larut untuk mengurus jenazah mbah Murti. Kain jarik mbah Murti yang selama ini tersimpan rapi di lemari kayu, disipkan sebagai alas. Diambil satu kain jarik bercorak batik khas daerah dan dihamparkan di dipan bambu yang biasa dipakai untuk duduk berdua dengan mbah Murti di kala senja menyapa. Setelah jenazah terbujur kaku di dipan berselimut kain putih, Ucil melantunkan doa serta membaca Quran di samping almarhumah. Beranjak waktu telah berlalu, jenazah siap disholatkan di masjid bersama jamaah yang sudah sedari menunggu setelah diumumkan melalui pengeras suara. Keranda dorong yang ditarik warga menuju masjid. Warga pun sekarang sadar, bahwa Ucil yang selama ini rajin beribadah di masjid, selalu membantu mbah Murti mencari sesuap nasi hasil dari berburu rongsokan demi rongsokan. Warga sudah tersadarkan bahwa Ucil sekarang menjadi anak sebatang kara. Tidak ada lagi keluarga yang menemani di kala hidupnya. Warga tersadarkan akan makna hidup saling peduli di antara sesame. Warga semakin peduli makna tepo seliro yang selama ini didengungkan para dai yang berceramah di masjid. Tidak sekadar didengarkan dari telinga kanan maupun kiri, namun merasuk ke dalam kalbu dan nurani. Kepedulian sangat berjalan dengan tingkan keimanan. Apabila iman yang dipupuk atas kesadaran, maka berjalanlah keseimbangan dalam kehidupan. Tiada lagi hidup cuek bebek.

Kini cucu kesayangan mbah Murti telah diasuh oleh pak Haji dan menjadi pengurus Masjid Besar al Muhsinin. Meskipun tugas yang diemban tidak seperti halnya orang-orang dewasa. Cukuplah menyapu dan mengepel masjid bagian luar, agar bersih dan suci untuk jamaah yang mengabdi ke Ilahi Rabbi. Masjid Besar al Muhsinin kini lebih ramai dari biasanya. Kehadiran Ucil yang selalu datang lebih dini, membantu pak Rahmat merawat masjid. Kehadiran Ucil membuat masjid semakin bergairah untuk beribadah. Tilawah sebagai penanda masuk sholat berjamaah, terdengar hingga ke ujung desa. Sebagai penanda waktu sholat akan tiba. Ucil kini mahir mengotak atik perangkat masjid. Pak Rahmat yang telaten mengajari Ucil agar jamaah semakin nyaman dalam beribadah.

Ucil seorang takmir kecil, mengurusi hal-hal kecil, namun dirasakan jamaah sangat besar dan bermanfaat. Apabila pak Rahmat sendiri yang membersihkan masjid, namun kehadiran Ucil tugas pak Rahmat semakin ringan. Ruang takmir kini menjadi ramai. Setiap sore Ucil juga menyiapkan perkakas TPQ masjid. Mulai dampar kecil, papan tulis, hingga spidol dan penghapus sudah tersedia sejak dini sebelum pengajar datang. Ruangan pojok yang dipakai juga sudah bersih, rapi, dan wangi.

Ucil anak kecil yang menjadi takmir masjid, kini dapat menikmati belajar dengan nikmat. Ketersediaan belajarnya dipenuhi oleh pak Rahmat. Semua alat tulis dan buku pelajaran lengkap dengan tas pinggang, terpampang rapi di ruangan takmir. Semangat belajar Ucil tinggi. Kesedihan yang ditinggal mbah Murti berangsur-angsur tertutupi dengan kegiatan masjid.

Mbah Murti…. Cucu kesayanganmu kini telah membahagiakanmu. Kehadirannya begitu bermanfaat bagi jamaah. Semoga arwahmu tenang di sisi Nya.

Ozan

Rumah Bau Melati part 2

 Kajian rutin setiap sholat Shubuh di pekan pertama diisi dengan kajian fiqh. Sementara di kajian shubuh di pekan ketiga diisi dengan kajian aktual sesuai dengan kondisi dan situasi saat ini. Di sore hari, dikhususkan untuk pembinaan anak-anak di sekitar masjid maupun masyarakat yang mau menitipkan anak untuk ngaji bersama di TPQ. Sehingga kegiatan masjid sejak Shubuh hingga Maghrib padat layaknya kendaraan di jalan. Hehehehe…. Setelah sholat Maghrib, di pekan kedua dan ke empat, Masjid Besar Al Muhsinin mengadakan kajian dengan mendatangkan ustadz atau penceramah dari luar masjid.

Pak Rohmatpun mematikan speaker masjid untuk persiapan menjelang sholat Jumat. Tiba waktu menjelang khotib naik mimbar, beliaupun mengumumkan hal-hal terkait dengan pelaksanaan sholat Jumat. Pak Rohmatpun, menyampaikan,

“Assalaamuálaikum wr wb

Bismilillahirahmaanirrahiim, Alhamdulillahirobbil aalamiin, wassolaaatu wassalaamu'alaa asyrofil anbiyaa-i wal mursaliin, sayyidinaa Muhammadin, wa'alaa aalihi wa'ashaabihi aj'maiin amma ba'du.

Yang kami hormati, Jamaah Masjid Besar Al Muhsinin.

Puji serta syukur marilah sama-sama kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat-Nya lah pada siang ini kita masih diberikan nikmat sehat, nikmat panjang umur, nikmat Iman dan nikmat Islam, sehingga kita masih dapat melaksanakan segala aktifitas kita, baik aktifitas duniawi maupun aktifitas ukhrowi. Mudah-mudahan segala amal ibadah yang kita kerjakan di berikan ganjaran pahala dan mendapatkan ridho Allah SWT.

Tidak lupa juga sholawat teriring salam semoga senantiasa selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw, kepada keluarganya, kepada sahabatnya dan kepada pengikutnya.

Hadirin Jamaat Sholat Jumát yang saya hormati, izinkanlah kami dari pengurus Masjid Besar Al Muhsinin, ingin menyampaikan beberapa maklumat.

Maklumat yang pertama yaitu ; Laporan Keuangan Masjid Besar Al Muhsinin

Saldo pada tanggal 2 Februari 2018 berjumlah Rp. 250.000.000,-

Pemasukan melalui kotak tromol pada tanggal  2 Februari 2018 berjumlah Rp. 10.500.000,-

Jumlah   Rp. 260.500.000,-

Kemudian Pengerluaran; untuk biaya peribadatan dan lain-lain sebesar Rp. 1.000.000,-

Saldo sampai dengan hari ini berjumlah ; Rp. 259.500.000,-

Maklumat yang kedua yaitu : Petugas Jumat pada Siang ini, Khotib dan Imam Insya Allah Akan disampaikan oleh almukarom Ust. Andri Ari, S.Ag. MA, dengan Tema ‘Kiat meningkatkan keimanan’ dan selaku petugas muadzin yaitu ust. Muhandis.

Maklumat yang ketiga ; kami menghimbau kepada Jamaah sekalian agar merapatkan dan mengisi shap terdepan, kemudia juga kami mohon agar mematikan handphone agar tidak mengganggu ibadah Jumat kita siang ini, dan juga tidak berkata-kata atau berbicara disaat khotib menyampaikan khutbahnya.

Selanjutnya marilah sama-sama kita baca surah Fatihah dengan harapan agar kita dan juga keluarga kita dirumah senantiasa diberikan kesehatan, dipanjangkan umur kita, dimudahkan rizki kita, dimudahkan segala urusan kita, dikuatkan Iman dan Islam kita, dan senantiasa selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin....

Illa hadiniyah wa kulli niatin sholehah wa illa hadratin Nabi Mustofa Muhammadin Rasululillahi shollallahu alaihi wasallam, alfaatihah......(baca surat al fatihah)

Hadirin, Jamaah Sholat Jumat yang kami hormati, demikianlah yang dapat kami sampaikan, Wassalaamuálaikum wr wb.

 

 

Setelah pak Rohmad menyampaikan maklumat pelaksanaan khutbah Jumat, selanjutnya khotib naik mimbar dengan mengucapkan salam, yang dilanjutkan dengan kumandang adzan Jumat. Adzan pun selesai hingga kalimat terakhir. Khotib pun menyampaikan wasiat untuk dirinya sendiri dan seluruh jamaah Jumat agar meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah, karena hanya bekal takwalah yang dapat menolong di hari kiamat nanti. Untuk khutbah saat ini, khotib menyampaikan tema tentang pentingnya menyantuni anak yatim piatu. Baik mereka yang berada jauh dari tempat kita, lebih-lebih anak yatim piatu itu di sekitar kita. Meskipun bukan saudara kita, setidaknya peduli terhadap anak yatim piatu sangat dianjurkan oleh Nabi. Digambarkan dengan dua jari yang menempel erat, seperti itulah kedekatan Nabi dengan anak yatim. Untaian hikmah yang disampaikan khotib telah mengaduk-aduk perasaan dan empati jamaah untuk menyayangi anak yatim. Dalam kondisi lapang maupun sempit. Insya Allah rezeki yang kita keluarkan akan menjaga kita di hari kiamat kelak. Itulah gambaran yang disampaikan khotib hari ini.

Di shaf ke tujuh, ada anak kecil bernama Ucil, dengan baju yang sudah usang serta sarung yang sudah hampir 2 tahunan tidak pernah ganti untuk dipakai sholat berjamaah. Ucil adalah anak kecil yang sejak lama diasuh mbah Marti. Mbah Marti hidup sebatang kara karena semua keluarga telah meninggalkan dirinya di sebuah gubuk peyot. Ucil masih SD, setiap harinya selalu membantu mbah Marti mengumpulkan barang rongsokan setiap hari selepas sekolah. Meskipun begitu, prestasi Ucil tidak jelek-jelek amat karena di malam harinya selalu menyempatkan diri untuk belajar malam. Ucil yang sedari tadi mendengarkan untaian khutbah Jumat tersentak hatinya, kenapa amanat demi amanat yang disampaikan khotib tidak pernah dilaksanakan oleh segenap takmir Masjid Besar Al Muhsinin. Bahkan infak Jumat pekan lalu yang diterima dari jamaah cukup besar. Andaikan sedikit saja yang dibagikan kepada fakir miskin dan anak yatim piatu, betapa bahagianya mereka. Namun, itu semua sirna ketika Ucil melihat semua ornamen yang terpampang di masjid, begitu kilau dan bercahayanya. Sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan apa yang ada di rumah mbah Murti dan Ucil. Jangankan ornamen, sekadar lampu yang menerangi rumahnya saja di malam hari, sudah bersyukur Ucil dan mbah Murti, meskipun nyala lampu rumahnya tidak seterang lampu kamar mandi masjid.

Usai sudah pelaksanaan sholat Jumat untuk hari ini, Ucil kembali ke rumah sekaligus mengingat-ingat kembali pesan dari khotib terkait pentingnya menyayangi dan menyantuni anak yatim piatu. Perjalanan ke gubuk membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit dari masjid jika ditempuh dengan jalan kaki. Iya, rumah Ucil bersama mbah Murti cukup jauh, setiap Jumat selalu berangkat lebih awal dibandingkan orang-orang sekitar masjid. Ia tidak ingin tertinggal sholat Jumat, meskipun berada di shof belakang. Bagi Ucil, mendapatkan pahala sholat Jumat adalah lebih utama dibandingkan dengan dia harus tertinggal ketika khotib sudah naik mimbar.

Sore itu, mbah Murti belum kembali dari pencarian barang bekas di tempat yang biasa ia lalui. Sementara sejak senja pagi pula, Ucil belum menikmati makanan secuil pun yang merasuki kerongkongkongannya. Hanya seteguk air putih yang sempat mampir di tenggorokannya seakan air bah lewat dan menerobos hamparan kawah kering. Ucil mencoba mengayuh besek (wadah makanan tradisional) yang terletak di atas tumpukan kayu di belakang rumahnya, berharap ada nasi yang bisa dimakan meskipun lauk tidak menemaninya. Namun, harapan itu sirna, besek yang sudah rusak itupun tidak ada sebutir nasi di dalamnya. Perut Ucil semakin perih dan sepanjang hari bunyi, menandakan rasa lapar yang sangat mendera. Mencoba keliling dari pojokan satu ke pojokan lainnya, siapa tau ada singkong rebus ataupun kacang, sekiranya sebutir, dua butir, atau lebih agar bisa mengisi perutnya. Namun lagi-lagi usahanya itupun muspro, tanpa hasil.

Ucilpun berangkat ke masjid, karena waktu telah mendekati sholat ashar. Tanpa berpikir panjang, ia berganti sarung satu-satunya yang dimiliki untuk dipakai sholat berjamaah. Semoga ketika di masjid, ia mendapati makanan agar perut yang seharian selalu memanggil pertanda lapar, dapat terhapus oleh sapuan makanan. Setelah tiba di masjid, ia dapati masjid yang masih sepi dari jamaah. Bahkan waktu kurang lima menit, yang biasanya pak Rahmat sudah tiba dan membersihkan masjid, saat itu belum terlihat. Timer masjid yang terpampang di dinding sebagai pertanda waktu sholat tibapun selalu berjalan. Tapi, pak Rahmat masih belum nongol juga. Akhirnya, Ucilpun mengambil air wudhu dan sholat sendiri di sisi teras sebelah barat. Karena tidak ada satupun jamaah yang dijumpai, Ucilpun asyik bercengkerama dengan Tuhannya secara pribadi. Salam kedua tiba, dan kembali Ucil menoleh ke sekitar masjid, masih sepi suasananya. Pikirnya, kemana selama ini orang-orang? Selepas sholat Jumat mereka lupa bahwa masih ada sholat Ashar. Tidak ada satupun jamaah sore ini. Ucilpun mengangkat tangan untuk berdoa, agar kehidupannya semakin sejahtera. Selepas berdoa, Ucilpun keliling masjid dari sisi utara hingga ke sisi selatan masjid. Bahkan, Ucilpun hanya sekali mengintip kotak amal yang ditaruh di bagian utara masjid. Membayangkan sekiranya ada recehan uang yang ngendon di dalamnya. Namun hati kecilnya tertahan oleh nasihat mbah Murti, meskipun miskin jangan sampai dalam darah yang mengalir di tubuh kita teraliri barang haram.

Ucilpun pulang. Karena waktu sudah mendekati hampir senja, mbah Murti pun tiba membawa rongsokan hasil petualangannya di kota. Batinnya, barang yang dibawa semoga dapat menggantikan makanan sehingga bisa dinikmati bersama cucu kesayangannya.

Maghrib pun tiba. Ucil yang sedari pagi belum makan, meminta izin ke mbah Surti untuk tidak jamaah di masjid. pusing yang mendera seharian dikarenakan belum makan, akhirnya mengharuskan Ucil berbaring sejenak di rumah. Saat Maghrib tiba, Ucil dan mbah Murtipun akhirnya bisa menikmati sepiring nasi lauk garam. Iya, hasil hari ini hanya bisa ditukar dengan beras yang tidak seberapa. Nun jauh di sana, suasana masjid sudah rame. Banyak jamaah yang menunaikan sholat maghrib. Baik orangtua, remaja, anak-anak, hingga bayi berumur lima bulan pun turut hadir di masjid. Pak Haji sendiri yang memimpin sholat jamaah saat itu. Selepas berdoa dan berdiri sholat sunnah, pak Haji pun masuk ruang takmir untuk mengecek segala sesuatunya. Tak terkecuali CCTV yang terpampang di masing-masing ujung masjid. Pak Rahmat yang sedari tadi tidak ada di masjid, pak Haji pun inisiatif mengecek CCTV sendiri. Namun tanpa disangka, ia menaruh curiga pada layar di sisi bawah kanan. Terlihat dengan jelas, ada anak kecil yang dicurigai telah mengincar kotak amal. Akhirnya, kotak amal yang sembari terekam dan terlihat di layar CCTV bersamaan dengan anak kecil yang mengintip kotak amal, pak Hajipun mengecek kotak amal tersebut.

bersambung....

Cerpen: Rumah Bau Melati

 RUMAH BAU MELATI

Pak Rahmat marbot Masjid Besar Al Muhsinin keliling area dalam untuk membersihkan jendela dan menyapu lantai masjid. Setelah dirasa bersih area dalam masjid, pak Rahmat pun menjinjing sapu dan alat pel menuju lantai 2 masjid. Beberapa al Quran yang masih berserakan di beberapa meja, beliau rapikan di tempat semula. Ketika menemukan sobekan kertas di ujung lantai 2, pak Rahmat bergegas membaca lembaran tersebut. Tertulis coretan tidak beraturan dari anak-anak TPQ Nurul Iman, yang berbunyi, Kelak di saat aku besar nanti, saya akan memberangkatkan haji orangtuaku. Di sana kami akan bersujud bersama untuk kembali dikumpulkan di surga Firdaus. Pak Rahmat pun meneteskan air matanya, terharu membaca sobekan kertas lusuh, namun penuh makna. Dalam hati beliau, semoga apa yang dicita-citakan anak tersebut dikabulkan oleh Allah SWT. Aamiin….

Dalam batin pak Rahmat, dirinya pun ingin menunaikan ibadah haji layaknya Pak Haji takmir masjid, yang mana sudah dua kali berangkat ke tanah suci bersama keluarga besarnya. Pak Haji yang memiliki bisnis jual beli barang rongsokan di beberapa kota ini, menjadi orang yang sangat disegani di kampong. Maka layak dia menjadi takmir masjid. Jikalau ibadah haji belum bisa ditunaikan pak Rahmat, suatu saat dia bisa berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umroh. Ingin rasanya memandang Kakbah yang selalu diidam-idamkan pak Rahmat. Bahkan gambar kakbah terpampang besar di rumah dan ruang takmir. Sehingga, menatap dan membayangkan kakbah hanya dengan gambar saja hati sudah merasa adem, apalagi jika bisa menatap secara langsung. Mengalir setetes demi tetes air mata pak Rahmat turun di dagunya.

Ia lupa bahwa hari ini adalah hari Jumat. Beberapa menit lagi semua harus disiapkan dengan rapi dan lancar. Jangan sampai jamaah merasa tidak nyaman di Masjid Besar Al Muhsinin. Lantai 2 masjid disapu dari ujung ke ujung agar debu yang menempel di lantai dapat tersapu dengan baik, maka beliau mengarahkan ke arah pintu sisi utara. Karena sisi timur terdapat lubang angin yang berfungsi sebagai ventilasi masjid lantai 2.

Kaca bening warna kebiru-biruan di masjid lantai 2 tak luput dari tangan gesitnya. Kanebo sebagai alat lap untuk membersihkan kaca, tidak lupa untuk dibawa. Sesekali tangan kirinya mengibaskan sulak agar debu terpinggirkan terlebih dahulu sebelum kanebo warna kuning dan cairan pembersih kaca siap meneruskan tugasnya. Gumpalan di kaca semakin terlihat kinclong, karena sapuan cairan pembersih yang dilap dengan kanebo. Setiap ujung kaca di jendela, kusen, bahkan angina-angin di atas jendela, tak pernah terlupakan pak Rahmat. Keringat bercucuran di punggung pak Rahmat. Ia bergegas menuju ke lantai 1 untuk mengecek tempat wudhu dan kamar mandi masjid. Sikat pembersih kerak dindingpun seakan menyambut kedatangan pak Rahmat. Dua pekan lamanya, dinding tempat wudhu belum dibersihkan, sehingga warnanya menjadi kekuning-kuningan, licin, dan sedikit menghitam. Barangkali dinding tempat wudhu terkena air berkali-kali, namun jarang sekali diperhatikan pak Rahmat. Kecekatan tangan dan mata yang tajam untuk memandang mana bagian yang perlu dibersihkan, pak Rahmat begitu sigap. Mencoba beberapa kali kran diperbaiki agar ketika air yang keluar menjadi maksimal. Ternyata ada kran air di tempat wudhu yang di ujungnya patah. Saat itu juga, pak Rahmat mengambil suku cadangan di tempat takmir dan menggantinya dengan yang baru.

Kamar mandi di ujung ditengoknya. Ternyata engsel pintu sedikit longgar, sehingga ketika pintu dibuka tutup bunyi krek krek. Ah… rasa-rasanya tugas pak Rahmat untuk hari ini cukup melelahkan. Ia kembali masuk ke ruang utama masjid dan lagi-lagi mengecek persiapan untuk sholat Jumat. Ruang mimbar yang terdapat mik duduk dinyalakan dan dites. Apakah bunyi yang dikeluarkan dari sound sudah maksimal atau belum. Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB, saatnya pak Rahmat menuju ruang takmir guna menyalakan speaker dan menyetel tilawah Al Quran. Seperti biasa, beliau mencari tilawah dari Quran surat Al Kahfi. Beliau percaya bahwasanya ketika surat Al Kahfi dibacakan, dijauhkan dari fitnah Dajjal. Mulut pak Rahmat mengikuti suara tilawah tersebut. Beberapa ayat pertama dihafalkannya, karena seringnya mendengarkan tilawah surat Al Kahfi.

Pak Hajipun datang pertama ke masjid untuk mengecek persiapan sholat Jumat hari ini. “Pak Rahmat, sudah siap masjidnya hari ini untuk menyambut jamaah sholat Jumat?” tanya pak Haji. Pak Haji itu sebutan dari Haji Abdul Hamid. Orang kampong lebih familiar memanggil pak Haji dibanding dengan nama aslinya. Beliau berasal dari kota besar di Kalimantan. Hijrah di kampong sudah 30 tahunan. Berawal dari beliau berdagang di kota dengan menjual akik khas Kalimantan. Berangsur-angsur dagangannya laris dan jadi rujukan pembeli, akik pak Haji pun ludes terbeli dan hanya menyisakan beberapa akik saja. Namun, dari hasil penjualan akik, pak Haji merasa belum puas dan cenderung masih kurang untuk menghidupi keluarganya. Bagaikan besar pasak daripada tiang. Pengeluaran di Jawa tidak sebanding jika di kota asalnya. Seringkali barang yang dibutuhkan pak Haji harganya mahal dan tidak terjangkau.

Suatu ketika Pak Haji berangkat ke pasar loak untuk mencari sebatang besi untuk menyambung ranjangnya yang sudah peyot karena sudah lama berkarat. Keliling di setiap lapak yang ada, belum juga ditemukan barang yang diinginkan. Akhirnya, ketemu lapak yang menjual barang rongsokan besi yang masih bisa dimanfaatkan. Tawaran demi tawaran kepada penjual besi, akhirnya disepakati harga yang sesuai kantong pak Haji. Sekembali dari lapak besi, pak Haji mencoba keliling lapak pasar loak, memikirkan apa yang sekiranya bisa dijaul belikan selain akik. Dasar pemikiran pak Haji adalah pedagang, akhirnya bertanya kembali ke penjual besi. “Berapa penjual barang rongsokan besi di pasar loak sini pak?” tanya pak Haji kepada penjual. “Baru saya pak,” jawab penjual besi. “Terus bagaimana pangsa pasar penjualan besi akhir-akhir ini?” tanyanya lagi. Si penjual besipun menjawab, “Alhamdulillah, selama saya berjualan di sini, cukup rame dan bisa menghidupi keluarga kami yang di rumah. Bahkan saya biasanya mengirimkan kelebihan uang ke orangtua di desa untuk membangun rumah.” Tanpa berpikir panjang, ide gila pak Haji mewujudkan jual beli besi rongsokan di kota yang belum dikenalnya serta belum ada satupun keluarga di sini, pak Haji mencoba menelusuri bagaimana arus perdagangan barang rongsokan besi. Baik dari pengepul hingga agen atau bahkan orang-orang yang setor dan jual kembali ke penjual besi. Singkat cerita, pak Haji mendirikan toko kecil-kecilan di depan rumahnya, meskipun rumahnya berantakan dengan barang-barang rongsokan. Setahun dua tahun, omset penjualan pak Haji semakin meningkat baik dari segi jumlah barang dan pembeli maupun orang-orang yang mau menjual besi yang tidak terpakai kepada pak Haji. Akhirnya, pak Haji sukses dan terkenal sebagai penjual besi rongsokan.

Berawal dari kesuksesan pak Haji menjual beli barang rongsokan besi yang sangat disegani di kota, beliaupun berinisiatif mendirikan sebuah tempat ibadah di kampong sekitar. Niat baik pak Haji disambut warga dengan antusias. Bagaimanapun juga, kampong sekitar masih harus berjalan jauh jika menunaikan ibadah sholat berjamaah. Akhirnya tempat ibadah yang diidam-idamkan warga akan segera terwujud. Dengan senang hati ada warga yang rela mewakafkan tanah untuk dijadikan masjid. Sementara material untuk membangun masjid, pak Hajilah yang mengusahakan dananya. Baik dari pasir, batu bata, semen, hingga besi diusahakan pak Haji agar menjadi Masjid Besar Al Muhsinin seperti saat ini. Masjid megah di pinggir jalan yang sangat strategis ini sering dikunjungi jamaah dari luar kota yang sedang singgah. Bahkan masjid yang cukup megah dan indah ini menjadi jujugan jamaah apabila tiba waktu berbuka puasa.

Kondisi Masjid Besar Al Muhsinin megah dan di antara masjid-masjid di wilayah Kedung Banteng kelurahan setempat. Kampong di pinggiran kota terbesar di Jawa ini, menjadikan kampong ini terkenal akan masjid yang megah dan artistik. Nuansa arab dipadukan dengan budaya lokal, menunjukkan betapa indah dan artistiknya masjid. Langit-langit masjid penuh dengan ukiran kaligrafi menarik, dengan warna keemasan yang cukup mencolok. Kubah dalam digambarkan seakan-akan langsung di bawah langit yang dihiasi dengan awan dan bintang. Sungguh, masjid yang sangat indah dan nyaman dimanfaatkan untuk menunaikan sholat berjamaah. Namun, di balik kemegahan dan artistiknya masjid, daerah di sekeliling masjid masih tergambar wilayah yang masih jauh dari kemakmuran. Warga sekitar yang kesehariannya sebagai buruh pabrik, karyawan kantor di beberapa ujung kota, serta ada sebagian dari mereka yang masih bergelut dengan mencari mata pencaharian memulung sampah. Namun, dengan kondisi yang beragam di area masjid tersebut, masyarakatnya tidak pernah melupakan sholat berjamaah di masjid, khususnya sholat Jumat berjamaah.


bersambung ....

Sabtu, 08 Januari 2022

Nikmat yang Sering Dilupakan

 NIKMAT YANG SERING DILUPAKAN


 Di antara nikmat besar yang sering dilalaikan manusia adalah nikmat mendapatkan waktu luang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ


“Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang.”[HR Bukhari] 


Kita bisa melihat kondisi diri kita, ketika kita sedang ada waktu luang. Kita justru menghabiskan waktu tersebut untuk hal-hal yang tidak ada manfaatnya, baik manfaat untuk kehidupan di dunia, lebih-lebih manfaat untuk kehidupan kita di akhirat kelak. Kita jutsru menghabiskan waktu untuk main game seharian, atau nonton serial film, atau mengecek timeline facebook dari ujung atas sampai ujung bawah dilihat dan dibaca satu-satu padahal tidak ada status yang berfaedah. 


Atau ngobrol di grup whatsapp sampai ke sana ke mari ratusan chat, yang terkadang membuat kita terjerumus ke dalam dosa besar berupa menggunjing aib saudara kita. Kondisi yang hampir kita tidak lakukan ketika kita sedang sibuk dengan urusan-urusan penting sehingga kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk sekedar istirahat.


Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan kita, bahwa di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah dengan meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ


“Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah (dia) meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.”

📗[HR Tirmidzi] 


Oleh karena itu, manfaatkanlah waktu untuk hal-hal yang bermanfaat. Demikian juga semua nikmat Allah Ta’ala yang lainnya. Jika tidak, bisa jadi Allah Ta’ala justru akan menguji kita dengan berbagai hal yang membahayakan diri kita sendiri. Bentuknya, justru kita menggunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang Allah Ta’ala haramkan.


Oleh karena itu, sungguh indah penjelasan yang disampaikan oleh Ahli Tafsir rahimahullah ketika beliau menjelaskan ayat,


وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ


“Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)-nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah).” 

📖(QS. Al-Baqarah [2]: 101)


Ketika Rasul datang kepada mereka yang membawa kitab yang membenarkan apa yang ada pada mereka, mereka jutsru mengingkarinya (bukannya bersyukur dan beriman atas nikmat tersebut), seolah-olah mereka tidak mengetahui (padahal mereka mengetahui kebenaran).




ولما كان من العوائد القدرية والحكمة الإلهية أن من ترك ما ينفعه، وأمكنه الانتفاع به فلم ينتفع، ابتلي بالاشتغال بما يضره، فمن ترك عبادة الرحمن، ابتلي بعبادة الأوثان، ومن ترك محبة الله وخوفه ورجاءه، ابتلي بمحبة غير الله وخوفه ورجائه، ومن لم ينفق ماله في طاعة الله أنفقه في طاعة الشيطان، ومن ترك الذل لربه، ابتلي بالذل للعبيد، ومن ترك الحق ابتلي بالباطل.


”Termasuk di antara keajaiban takdir dan hikmah ilahiyyah adalah barangsiapa yang meninggalkan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, padahal memungkinkan baginya untuk meraihnya (namun dia tidak mau berusaha meraihnya), maka dia akan mendapat ujian dengan disibukkan dalam hal-hal yang membahayakan dirinya. 


Barangsiapa yang meninggalkan ibadah kepada Allah, maka dia akan mendapat ujian berupa beribadah kepada berhala. Barangsiapa yang meninggalkan rasa cinta kepada Allah, takut, dan berharap kepada-Nya, maka dia akan mendapat ujian dengan mencintai, takut, dan berharap kepada selain Allah. 


Barangsiapa yang tidak membelanjakan hartanya dalam ketaatan kepada Allah, maka dia akan membelanjakannya dalam ketaatan kepada setan. Barangsiapa yang meninggalkan ketundukan kepada Allah, dia akan mendapat ujian dengan tunduk kepada hamba-Nya. Dan barangsiapa yang meninggalkan kebenaran, dia akan mendapat ujian dengan terjerumus dalam kebatilan.”

Menyiapkan Bekal


 

MENYIAPKAN BEKAL


Kehidupan  ini hanyalah sementara. Suatu saat semua yang bernyawa pasti akan mati dan kembali kepada pencipta-Nya. Anda tidak harus bekerja  sepanjang  hari sampai larut malam hingga mengorbankan jam istirahat. Cukup kerjakan semampu dan sewajarnya tanpa harus kehilangan momen berarti bersama keluarga. Hidup ini terlalu singkat. Cintai hidup ini tetapi jangan menganggap akan selamanya tinggal di dunia fana ini.  Tetap cadangkan bekal untuk kehidupan setelah hidup ini.


Beberapa orang mungkin pernah merasakan atau sedang menjalani fase kehidupan yang berat dan menyakitkan. Hidup seperti drama yang tak berkesudahan. Apalagi bagi mereka yang kurang bersyukur, pasti akan menganggap bahwa kehidupan ini sebagai sebuah kutukan berat. Namun, bangunlah keyakinan bahwa roda pasti berputar, tidak ada yang abaadi diduia ini, suka dan duka akan datang siih berganti.


Kita hidup di dunia, tidak lama. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda:


أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ


“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampui umur tersebut” .

(HR. Ibnu Majah: 4236).


Dan ternyata dalam waktu yang sebentar itu, kita memerlukan bekal yang banyak untuk mengarunginya. Bahkan kadang kita harus banting tulang demi mencari bekal untuk kehidupan ini. Jika untuk waktu +-70 tahun saja kita harus banting tulang untuk mencari bekalnya, lalu sudahkah kita banting tulang untuk kehidupan alam barzakh yang mungkin bisa sampai ribuan tahun?


Setelah alam barzakh juga kita harus dibangkitkan dan hidup dalam waktu yang sangat lama, satu harinya = 50 ribu tahun. Ingat, ketika itu tak ada yang berguna kecuali amal baik kita. Sungguh, kehidupan setelah kehidupan dunia ini jauh lebih lama, dan jauh lebih berat. Tentu itu memerlukan usaha mengumpulkan bekal yang jauh lebih banyak dan berkualitas.

Terdapat paling tidak ada tiga hal yang harus kita lakukan agar kita tidak terlena oleh kehidupan yang fana ini. 

Pertama, kita harus menyadari bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara, dan kehidupan akhiratlah yang kekal. Dalam kaitan ini Allah menerangkan: 


اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ


"Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.'' 

(QS Al-Hadid [57]: 20).


Kedua, menyadari bahwa apa pun yang kita miliki merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Adil dan Bijaksana. Kesadaran ini berdampak pada timbulnya sikap untuk selalu menjaga dan menunaikan hak-haknya dari apa yang kita miliki, seperti mengeluarkan zakat dan sedekahnya. Allah berfirman:  


خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ



"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui.''

 (QS At-Taubah 9: 103). 


Ketiga, sederhanalah dalam kehidupan. Kesederhanaan mengajarkan kita untuk selalu dapat mensyukuri setiap karunia yang Allah berikan. Kesederhanaan pun mengajari kita untuk tidak serakah.


Rasulullah menjelaskan keuntungan dari hidup sederhana dalam sabdanya, ''Barang siapa yang sederhana terhadap dunia, maka Allah mengajarkannya sesuatu yang tanpa belajar, dan memberinya petunjuk tanpa hidayah secara langsung dan telah menjadikannya melihat, dan Allah membukakan daripadanya kebutaan.'' 

(HR Abu Na'im dari Ali ra.).

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...