SANG GURU YANG DIRINDU
Pagiku
cerahku matahari bersinar
Ku
gendong tas merahku di pundak
Slamat
pagi semua, Ku nantikan dirimu
Di
depan kelasmu menantikan kami
Guruku
tersayang, Guru tercinta
Tanpamu
apa jadinya aku
Tak
bisa baca tulis, mengerti banyak hal
Guruku
terima kasihku
Nyatanya
diriku kadang buatmu marah
Namun
segala maaf kau berikan
Lirik
lagu Guruku Tersayang ini seakan-akan menjadi lagu pengantar di setiap
pergelaran acara atau peringatan Hari Guru Nasional. Lagu ciptaan penyanyi
kondang Melly Goeslow ini menandakan bahwa bagaimana sosok guru yang
diidam-idamkan muridnya di kelas. Ketika guru berada di depan kelas, dia
menantikan muridnya yang sedang berada di luar kelas untuk menyalami satu
persatu muridnya. Inilah gambaran guru yang memberikan keteladanan bagi
muridnya. Bahkan dalam lirik tersebut juga disebutkan, begitu besarnya jasa
seorang guru, murid yang tidak bisa membaca dan menulis, sekarang lebih pandai
membaca dan menulis. Itu semua berkat seorang guru. Betapa besar jasa guru bagi
murid. Meskipun guru terkadang dibuat marah oleh muridnya karena berbagai hal,
gurupun rela dan ikhlas untuk memaafkan. Kelak, dikala pengabdian seorang guru
bermanfaat di masa depan, sang muridpun pasti kembali ke guru untuk mengucapkan
terima kasih. Kemarahan seorang guru bukan diartikan sebagai bentuk
ketidaksayangan guru kepada muridnya, namun di balik marahnya guru tersimpan
sejuta asa dan harapan, bahwa apa yang dilakukan muridnya saat itu salah, ia
pasti menegur sebagai bentuk rasa sayang guru.
Sejak
detik pertama kelahirannya, manusia adalah makhluk pembelajar. Lihatlah
bagaimana ketika bayi belajar, selalu ada rasa antusias semangat belajar. Ia
belajar dengan seluruh indranya. Saat ia melihat benda baru di sekelilingnya,
ia pelajari dengan sungguh-sungguh. Ia amati dengan seluruh matanya, ia raba
seluruh permukaan benda tersebut, ia pukul-pukul untuk mendengar suaranya, ia
cium baunya, ia remas-remas untuk merasakan bagaimana kelenturan/kekerasan
benda, bahkan ia jilat untuk mengetahui rasanya, tidak perduli apa pun jenis
benda itu. Karena itu, proses pendidikan harusnya menjadi hal yang
membahagiakan, baik bagi setiap anak maupun guru atau orangtua. Karena
anak-anak sesungguhnya menyukai belajar. Namun yang sering kali terjadi,
kegiatan belajar mengajar menjadi hal yang tidak menyenangkan bahkan kadang
menjadi pemicu stres dan keterpaksaan. Padahal, sebuah riset membuktikan bahwa
dalam keadaan stress, otak tidak dapat bekerja secara maksimal.
Dalam
masa sekarang, bagaimana proses pembelajaran berlangsung secara online atau dalam jaringan (daring),
guru pun masih perhatian dan peduli kepada muridnya. Guru, sebagai ujung tombak
proses pendidikan menjadi salah satu pihak yang paling tertantang di tengah
krisis ini. Kualitas pendidikan secara nasional saat ini tergantung pada
kemampuan guru dalam beradaptasi dengan model pembelajaran dalam jaringan
(daring). Posisi ini yang mengakibatkan guru tidak luput dari berbagai kritik
yang disampaikan oleh sebagian wali murid yang merasa terbebani dengan pembelajaran
daring. Mengapa demikian? Banyak orangtua yang menganggap tempat belajar adalah
di sekolah. Saat bel berbunyi itulah tanda dimulainya pembelajaran. Namun,
belajar yang sesungguhnya adalah dilakukan selama detik kehidupan anak. anak
belajar dari apa pun yang dilihat, didengar, diraba, dicium, dan dirasakan.
Guru
karena mengajar merupakan profesi yang sangat mulia. Pendapat ini didasarkan
pada dalil aqli dan naqli. Dalil aqli-nya, Imam Ghazali memberikan perumpamaan
dengan membandingkan status antara dua profesi, yaitu tukang emas dan tukang
kulit. Menurut Imam Ghazali, profesi tukang emas statusnya lebih mulia
dibanding profesi tukang kulit, karena barang yang dikerjakan berbeda
derajatnya. Menurut Imam Ghazali, barang yang wujud di permukaan bumi ini yang
paling mulia adalah manusia dan bagian dari manusia itu yang paling mulia
adalah jiwanya, sedangkan tugas seorang guru adalah mengembangkan, menyempurnakan,
menghiasi, menyucikan, dan membimbingnya untuk dapat mendekat kepada Allah Yang
Maha Agung dan Maha Mulia. Atas dasar pertimbangan ini, maka profesi guru
menduduki status yang sangat mulia, jika tidak boleh dikatakan paling mulia.
Sedangkan
dalil naqli terkait mengajar sebagai profesi yang sangat mulia. Imam Ghazali
menyandarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW: innamaa bu’itstu mu’alliman, yang
maksudnya kurang lebih: saya ini (Nabi Muhammad) sebenarnya diutus sebagai
seorang guru. Berdasarkan hadis ini, Imam Ghazali menyimpulkan bahwa profesi
guru merupakan warisan dari misi kerasulan. Status sebagai misi kerasulan
inilah yang menyebabkan mengajar menjadi profesi yang sangat mulia.
Namun,
hemat penulis, status kemuliaan ini bukan sesuatu yang given atau otomatis
dimiliki oleh setiap orang yang berprofesi sebagai guru. Status ini butuh
diperjuangkan dengan menunaikan tugas-tugas guru secara baik dan bertanggung
jawab. Guru yang dapat menunaikan tugas secara baik dan bertanggung jawab
adalah guru yang mampu merefleksikan sifat-sifat kenabian dalam menunaikan
tugas keprofesiannya sebagai guru, yaitu amanah, fatanah, sidik, dan tablig.
Singkat kata, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh guru untuk menyandang
predikat sebagai pewaris misi kerasulan tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam
uraian berikut ini.
Pertama,
amanah, yaitu sikap dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Mengajar adalah
pengambilan keputusan. Maksudnya, sejatinya kegiatan mengajar adalah kumpulan
dari rangkaian beberapa keputusan yang diambil oleh guru. Menurut Profesor
Djaali terkait sifat amanah ini, guru itu ibarat hakim, tidak boleh mengambil
vonis yang keliru. Jika guru memberikan nilai atas dasar kasihan dan tidak
sesuai dengan kemampuan siswa yang sebenarnya, maka guru tersebut ibarat hakim
yang menjatuhkan vonis yang keliru. Berarti guru tersebut tidak amanah. Karena
keputusan yang diambil guru tersebut ibarat vonis hakim. Jika salah, maka
akibatnya fatal. Hal ini sangat menentukan bagi seorang guru, apakah mampu
bersikap amanah di dalam pembelajaran maupun penilaian untuk muridnya. Maka,
sikap amanah ini mampu menunjukkan kapasitas dan kapabilitas seorang guru.
Kapasitas mengajar sebagai bentuk amanah misi kerasulan kepada muridnya, dan
kapabilitas sebagai guru yang dapat mampu dan dapat dipercaya sebagai sosok
guru yang bisa digugu dan ditiru.
Kedua,
fatanah, yaitu cerdas, berwawasan masa depan. Profesi guru harus didukung
dengan kemauan kuat untuk menjadi pribadi pembelajar sepanjang hayat, sehingga
guru menjelma menjadi pribadi yang berwawasan masa depan. Guru berwawasan masa
depan adalah guru yang memiliki pengetahuan tentang tantangan yang akan
dihadapi murid-muridnya kelak, sehingga guru mampu memberikan pembelajaran yang
bermakna untuk membekali murid-muridnya supaya bisa menyelesaikan tugas-tugas
yang akan diembannya di kemudian hari. Guru berwawasan masa depan ini sejalan
dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya,“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan
zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya
mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman
kalian.” Artinya, ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya
menyesuaikan dengan kondisi sekarang dan kehidupan masa depan. Dari hadist
tersebut, sudah sangat jelas bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini serba
berubah. Sesuatu yang hari ini istimewa, tapi pada 10 atau 20 tahun mendatang
bisa jadi hanya hal yang biasa-biasa saja. Sesuatu yang hari ini mustahil, bisa
jadi pada 10 atau 20 tahun mendatang adalah hal yang sangat mudah sekali.
Ketiga,
guru harus memiliki sifat sidik, yaitu jujur. Pada dasarnya, semua profesi
harus ditunaikan dengan penuh kejujuran. Menurut Quraisy Shihab (2007), sidik
berarti orang yang selalu membenarkan tuntutan Ilahi dengan pembenaran melalui
ucapan yang dibuktikan dengan pengamalan. Artinya, guru yang sidik adalah guru
yang selaras antara ucapan dan tindakannya. Ucapan dan tindakan guru akan
dijadikan rujukan bagi siswa dalam bertindak dan mengambil keputusan. Karena
itu, agar guru terus mengembangkan pengetahuannya dalam Ilmu Pengetahuan, dan
mengajarkan anak- anak sesuai dengan kepentingan masa yang akan datang, bukan
masa kini apalagi masa lalu. Ketika zaman berubah tentu tantangannyapun
berubah, baik itu tantangan untuk bertahan hidup, tantangan dalam pergaulan,
tantangan dalam menuntut ilmu serta tantangan-tantangan lainnya. Perubahan zaman
inipun berdampak pada perubahan cara kita mendidik dan berkomunikasi dengan
anak.
Keempat,
tablig, menyampaikan, yaitu guru harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik
supaya pesan yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik oleh murid dan
masyarakat pada umumnya. Komunikasi di sini tidak sebatas pada komunikasi
verbal, juga berkaitan dengan kemampuan dalam menuangkan ide dan gagasan dalam
bentuk karya tulis, serta kemampuan menggunakan metode pembelajaran yang tepat
bagi tumbuh kembangnya murid. Sehingga murid mampu menerjemahkan apa yang telah
disampaikan guru melalui lisan dan tulisannya. Pengaruh dalam komunikasi sangat
dahsyat, bagaimana tidak, seorang guru akan menerapkan apa yang telah diajarkan
seorang guru, seorang murid akan melaksanakan apa yang diperintahkan seorang
guru, seorang murid akan menyampaikan apa yang telah digariskan oleh guru.
Jadi, dalam pembelajaran guru dengan murid, komunikasi adalah poin penting.
Salah mengucapkan juga akan mengakibatkan kesalahan dalam menerima informasi.
Salah mengucapkan juga dapat memengaruhi kesalahan dalam tindakan.
Kehati-hatian dalam berkomunikasi adalah sifat yang harus dimiliki seorang
guru.
Suatu
ketika penulis mendapatkan WA dari salah satu alumni. Selepas menunaikan jamaah
sholat Maghrib, notifikasi WA di HP dari nomor yang tidak terdeteksi atau nomor
baru.
“Assalamualaikum.
Ustadz Fauzan ini Adriano dari angkatan Valiant,” sapanya
“Waalaikumussalam.
Iya mas,” jawabku kepada mas Adriano.
“Bagaimana
ustadz kabarnya?” sapanya kembali. Penulis balas dan tanya kembali, “Alhamdulillah
sehat wal afiat mas. Bagaimana kabar mas Adriano?”
“Alhamdulillah,”
jawabnya.
Tidak
lama kemudian, WA dikirimkan kembali ke penulis, dengan kalimat “Ustadz, terima
kasih motivasinya insyaallah akan saya ingat hingga dewasa.” Bagi penulis,
kalimat tersebut adalah ungkapan yang bagaikan petir di malam hari. Bagaimana
tidak, tanpa ada hujan dan kilatan di malam itu, tertulis balasan seperti yang
dikirimkan Adriano. Setelah merenung dan mengingat kembali, apa yang telah
penulis sampaikan saat itu, sehingga membuatnya masih mengingat kembali pesan
yang telah berlalu. Seakan apa yang sudah disampaikan kepada murid, hal
tersebut hilang seiring berlalunya waktu. Namun, bagi seorang murid, apa yang
disampaikan apabila itu baik dan berkesan, akan menjadi berharga di masa depan.
Akhirnya, penulis mencoba menyampaikan bahwa, kesuksesan tidak lahir dari kerja
kerasnya, namun di dalamnya ada doa dari orangtua maupun orang yang peduli
untuknya. Di ujung percakapan kami, Adriano
mencoba menyampaikan ke penulis, jika kelak pensiun atau berhenti mengajar,
untuk memberitahukan kepadanya. Entah, dalam benak ini masih bertanya-tanya,
ada gerangan apa yang membuat dia mengungkapkan kalimat seperti itu. Namun,
bukan itu yang menjadi kecamuk dalam pikiran penulis, tapi ungkapan betapa
ingatannya Adriano mengingatkan penulis bahwa, apapun yang kita sampaikan
kepada murid, itulah yang akan diingat.
Adapula
memori indah yang terjadi dalam kehidupan penulis. Suatu ketika datang walisantri
ke rumah pada sore hari menjelang maghrib. Kedatangannya tanpa diduga karena
memang belum ada perjanjian untuk datang ke rumah. Dikarenakan menjelang
maghrib, maka obrolan ringanpun antara penulis dan keluarga kecilnya. Sebut
saja namanya Fikri. Santri yang ditemani ayah bundanya itu datang dengan
ekspresi datar. Bahkan cenderung cemberut. Mimik muka anak kelas tujuh itu,
menandakan bahwa dirinya ada masalah. Bunda dengan ekspresi kecemasan,
mengenalkan Fikri dan siapa keluarganya. Ketika adzan maghrib berkumandang,
onbrolan kami pun terhenti. Bersama-sama menuju masjid terdekat untuk
menunaikan jamaah maghrib sesekali ayahnya mengungkapkan banyak terima kasih
atas kesediaan waktu untuk dikunjungi. Ayah Fikripun tak luput juga meminta
maaf atas kesempatan waktu yang diberikan kepada keluarganya dengan kunjungan
ke rumah seakan mengganggu waktu penulis di hari Ahad. Setelah menunaikan
jamaah di masjid Ramadhan, kami pun kembali ke rumah untuk melanjutkan obrolan
seputar Fikri.
Kesempatan
pertama diutarakan oleh bunda Fikri. “Ustadz, sebenarnya kami sudah mengajak
Fikri berbicara dari hati ke hati. Sudah beberapa kali kami mencoba mengungkap,
apa sebab dia selama ini menjadi murung ketika sudah waktunya KP (Kunjungan
Panjang),” “Selama ini kami menuruti apa kemauan dia. Entah dibelikan sepatu
baru, baju baru, bahkan permintaan yang selama ini sebenarnya ada di kamarnya,
kami pun membelikan kembali.” Wajah Fikri kembali memberikan kode kepada
bundanya, bahwa apa yang disampaikan itu percuma, tanpa ada efek. Mungkin, dia
mengisyaratkan kepada bundanya bahwa, meskipun disampaikan kepada orang lain,
permasalahan yang dihadapi tidak akan pernah selesai. Iya, Fikri adalah santri
kelas 7, sementara penulis adalah guru kelas 9 yang selama ini belum mengenal
lebih jauh santri di kelas bawah. Namun, yang menjadi catatan penulis adalah
rumah tinggal Fikri dan keluarga kecilnya adalah satu wilayah di perumahan
penulis. Singkat cerita, bahwa Fikri sedang mengalami prundungan di asrama.
Sehingga, beberapa kali dia selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya di
asrama. Tidak ketinggalan, seringkali pula barang miliknya sering dipinjam
tanpa sepengatahuan Fikri. Setelah panjang lebar bunda, ayah, dan Fikri
bercerita, masalah yang dihadapinya di asrama maupun di sekitarnya, maka giliran
penulis untuk menjawab, meskipun itu bukan jawaban yang memuaskan.
Di
akhir obrolan kami, teh hangat dan sepiring pisang goreng hangat menemani
obrolan kami, tanpa dikomando, Fikripun mencoba mengingat-ingat sebuah kejadian
yang tak dapat dilupakan. Ketika dia
tidur, ada temannya yang dengan sengaja mengoleskan balsam di tangannya.
Sehingga, ketika ada yang mencoba mengitik-ngitik
hidungnya, FIkripun reflek menggaruk hidung. Akhirnya, terbangun Fikri dari
tidurnya, karena ada yang dirasakan di hidungnya panas yang tak terkira.
Seketika itu tawapun menggelegar seisi kamar. Teman-teman Fikri tertawa lepas
menandakan kepuasan dengan mengerjai Fikri. Di saat itu pula, Fikri bangkit
untuk berontak dan marah kepada teman-temannya, meskipun dia tidak tahu siapa
pelakunya.
Penulis
mencoba mengurai satu demi satu permasalahan yang dihadapi Fikri. Karena
tanggungjawab sebagai pendidik, terpanggil jiwa ini untuk mengurai lebih dalam
permasalahan yang dihadapi Fikri. Akhirnya, sebuah solusi yang ditawarkan kepada
keluarga Fikri yakni, untuk tetap bersabar sekaligus menyampaikan permasalahan
tersebut kepada Kepala Asrama. Esoknya, penulis mencoba menemui kepala asrama
dan teman sekamarnya. Bak gayung bersambut, teman-teman Fikri mengakui bahwa
keisengan tersebut muncul karena teman-temannya merasa ada yang tidak enak
hati, ketika pinjam barang ke Fikri, namun sikap yang dihadapi justru
sebaliknya. Akhirnya timbul dendam kepada Fikri. Ketika semua permasalahan
Fikri dan keluarganya disampaikan kepada teman-temannya, dengan penuh
penyesalan, bahwa apa yang sudah dilakukan merupakan kesalahan dan tidak akan
diakerjakan lagi. Mereka pun mendatangi Fikri untuk meminta maaf atas semua
perbuatan yang telah diperbuatnya. Syukur Alhamdulillah, Fikripun memaafkan dan
teman-temannya kembali berteman dengannya.
Permasalahan
yang menurut penulis diselesaikan dengan kekeluargaan sekaligus komunikasi yang
baik, semua menjadi mudah dan menenangkan. Di sisi lain, jiwa Fikri perlu
kematangan dalam bersosialisasi sekaligus menerima bahwa kehidupan berasrama
yang jamak ditemukan di sebuah pesantren, sering terjadi. Di manapun tempatnya,
permasalah itu selalu ada. Apalagi dalam sebuah komunitas yang plural. Tidak
diketahui karakter dan wataknya sejak awal. Dalam sebuah buku Easy to Love, Difficult to Discipline karya
Becky A. Bailey Ph.D, mengatakan bahwa, “Every
conflict offers an opportunity to teach” yang artinya “Inilah kesempatan
untuk mendidik dan membuat mereka belajar.” Bahwasanya pada saat konflik
terjadi, kita sebagai orangtua bisa memilih: menganggapnya sebagai peluang
untuk mendidik anak atau kesempatan untuk menyalahkan dan menghukum mereka.
Artinya, setiap permasalahan yang ada perlu disikapi dengan bijak. Jangan
sampai tigma untuk menyalahkan atau bahkan menghukum tanpa mengetahui sebab
permasalahan. Akhirnya, kita dapat memanfaatkan kejadian tersebut sebagai
proses untuk mendidik mereka, kita dapat meningkatkan kemampuan anak dalam
banyak hal, diantaranya memahami hak dan kewajiban; membedakan salah dan benar;
memupuk rasa empati; dan membangun kemampuan dalam memecahkan persoalan
sekaligus menjalin komunikasi yang baik. Dengan demikian, ketika suatu saat
mereka menghadapi konflik lagi, mereka akan dapat menyelesaikannya tanpa campur
tangan orangtua.
Maka,
menjadi guru yang dirindukan dan dicontoh serta dijadikan panutan bagi seorang
murid, mutlak ada dalam sosok seorang guru. Karakter murid terbentuk oleh
sebuah lingkungan di sekitarnya, baik perilaku, tindakan, dan ucapan dari guru
maupaun teman sebayanya. Guru yang dirindukan tidak hanya sekadar menyampaikan
atau mentransfer ilmu semata, tetapi guru yang dirindukan adalah guru yang
mampu memberikan spirit dan motivasi kepada muridnya. Jika sekadar mentransfer
ilmu tanpa memberikan motivasi, bagaikan seseorang makan hanya sekadar kenyang
tanpa memberikan manfaat makanan yang dikonsumsinya.
Di
era yang serba instan dan mudah didapatkan, ilmu dapat dengan mudah dicari.
Melalui sebuah perangkat bernama google, semua
akan lebih cepat dan mudah didapatkan. Apa yang hendak kita cari dalam
perangkat tersebut, hitungan sepersekian detik, informasi yang kita inginkan
langsung dapat kita temukan. Era digitial 4.0 memudahkan orang untuk belajar
secara mandiri di dunia maya. Era modern begitu mudahnya dapat kita temukan
semua informasi begitu cepat, tepat, dan lengkap. Namun, yang perlu diingat
adalah bagaimana seorang murid dapat merasakan sentuhan dari gurunya. Sentuhan
itu yang tidak dapat kita temukan di perangkat google, lebih-lebih sentuhan ruhani.
Menjadi
guru yang dirindukan tidak sekadar dia hadir di kelas dan bertatap muka, serta
selesai apabila waktu menunjukkan bel bunyi tanda selesai pembelajaran. Menjadi
guru yang dirindukan tidak sekadar datang memberikan materi bejubel kepada
muridnya, dan memberikan tugas sesuai yang diinginkan. Menjadi guru yang
dirindukan tidak sekadar mendikte apa yang dibacakan guru dari buku panduan
untuk ditulis murid. Namun, menjadi guru yang dirindukan adalah dia mampu
mendampingi, melindungi, bahkan menjadi partner kerjasama dalam belajar. Tugas
berat seorang guru menyiapkan muridnya untuk menjadi anak yang tidak hanya
pintar akademik, tetapi menjadikan murid memiliki daya saing, mampu
berkomunikasi yang baik, dan daya juang yang tinggi, sebagai impian dan
pegangan murid di masa yang akan datang.