Selasa, 16 Maret 2021

SANG GURU YANG DIRINDU

 SANG GURU YANG DIRINDU

Pagiku cerahku matahari bersinar

Ku gendong tas merahku di pundak

Slamat pagi semua, Ku nantikan dirimu

Di depan kelasmu menantikan kami

 

Guruku tersayang, Guru tercinta

Tanpamu apa jadinya aku

Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal

Guruku terima kasihku

 

Nyatanya diriku kadang buatmu marah

Namun segala maaf kau berikan

 

Lirik lagu Guruku Tersayang ini seakan-akan menjadi lagu pengantar di setiap pergelaran acara atau peringatan Hari Guru Nasional. Lagu ciptaan penyanyi kondang Melly Goeslow ini menandakan bahwa bagaimana sosok guru yang diidam-idamkan muridnya di kelas. Ketika guru berada di depan kelas, dia menantikan muridnya yang sedang berada di luar kelas untuk menyalami satu persatu muridnya. Inilah gambaran guru yang memberikan keteladanan bagi muridnya. Bahkan dalam lirik tersebut juga disebutkan, begitu besarnya jasa seorang guru, murid yang tidak bisa membaca dan menulis, sekarang lebih pandai membaca dan menulis. Itu semua berkat seorang guru. Betapa besar jasa guru bagi murid. Meskipun guru terkadang dibuat marah oleh muridnya karena berbagai hal, gurupun rela dan ikhlas untuk memaafkan. Kelak, dikala pengabdian seorang guru bermanfaat di masa depan, sang muridpun pasti kembali ke guru untuk mengucapkan terima kasih. Kemarahan seorang guru bukan diartikan sebagai bentuk ketidaksayangan guru kepada muridnya, namun di balik marahnya guru tersimpan sejuta asa dan harapan, bahwa apa yang dilakukan muridnya saat itu salah, ia pasti menegur sebagai bentuk rasa sayang guru.

Sejak detik pertama kelahirannya, manusia adalah makhluk pembelajar. Lihatlah bagaimana ketika bayi belajar, selalu ada rasa antusias semangat belajar. Ia belajar dengan seluruh indranya. Saat ia melihat benda baru di sekelilingnya, ia pelajari dengan sungguh-sungguh. Ia amati dengan seluruh matanya, ia raba seluruh permukaan benda tersebut, ia pukul-pukul untuk mendengar suaranya, ia cium baunya, ia remas-remas untuk merasakan bagaimana kelenturan/kekerasan benda, bahkan ia jilat untuk mengetahui rasanya, tidak perduli apa pun jenis benda itu. Karena itu, proses pendidikan harusnya menjadi hal yang membahagiakan, baik bagi setiap anak maupun guru atau orangtua. Karena anak-anak sesungguhnya menyukai belajar. Namun yang sering kali terjadi, kegiatan belajar mengajar menjadi hal yang tidak menyenangkan bahkan kadang menjadi pemicu stres dan keterpaksaan. Padahal, sebuah riset membuktikan bahwa dalam keadaan stress, otak tidak dapat bekerja secara maksimal.

Dalam masa sekarang, bagaimana proses pembelajaran berlangsung secara online atau dalam jaringan (daring), guru pun masih perhatian dan peduli kepada muridnya. Guru, sebagai ujung tombak proses pendidikan menjadi salah satu pihak yang paling tertantang di tengah krisis ini. Kualitas pendidikan secara nasional saat ini tergantung pada kemampuan guru dalam beradaptasi dengan model pembelajaran dalam jaringan (daring). Posisi ini yang mengakibatkan guru tidak luput dari berbagai kritik yang disampaikan oleh sebagian wali murid yang merasa terbebani dengan pembelajaran daring. Mengapa demikian? Banyak orangtua yang menganggap tempat belajar adalah di sekolah. Saat bel berbunyi itulah tanda dimulainya pembelajaran. Namun, belajar yang sesungguhnya adalah dilakukan selama detik kehidupan anak. anak belajar dari apa pun yang dilihat, didengar, diraba, dicium, dan dirasakan.

Guru karena mengajar merupakan profesi yang sangat mulia. Pendapat ini didasarkan pada dalil aqli dan naqli. Dalil aqli-nya, Imam Ghazali memberikan perumpamaan dengan membandingkan status antara dua profesi, yaitu tukang emas dan tukang kulit. Menurut Imam Ghazali, profesi tukang emas statusnya lebih mulia dibanding profesi tukang kulit, karena barang yang dikerjakan berbeda derajatnya. Menurut Imam Ghazali, barang yang wujud di permukaan bumi ini yang paling mulia adalah manusia dan bagian dari manusia itu yang paling mulia adalah jiwanya, sedangkan tugas seorang guru adalah mengembangkan, menyempurnakan, menghiasi, menyucikan, dan membimbingnya untuk dapat mendekat kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Atas dasar pertimbangan ini, maka profesi guru menduduki status yang sangat mulia, jika tidak boleh dikatakan paling mulia.

Sedangkan dalil naqli terkait mengajar sebagai profesi yang sangat mulia. Imam Ghazali menyandarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW: innamaa bu’itstu mu’alliman, yang maksudnya kurang lebih: saya ini (Nabi Muhammad) sebenarnya diutus sebagai seorang guru. Berdasarkan hadis ini, Imam Ghazali menyimpulkan bahwa profesi guru merupakan warisan dari misi kerasulan. Status sebagai misi kerasulan inilah yang menyebabkan mengajar menjadi profesi yang sangat mulia.

Namun, hemat penulis, status kemuliaan ini bukan sesuatu yang given atau otomatis dimiliki oleh setiap orang yang berprofesi sebagai guru. Status ini butuh diperjuangkan dengan menunaikan tugas-tugas guru secara baik dan bertanggung jawab. Guru yang dapat menunaikan tugas secara baik dan bertanggung jawab adalah guru yang mampu merefleksikan sifat-sifat kenabian dalam menunaikan tugas keprofesiannya sebagai guru, yaitu amanah, fatanah, sidik, dan tablig. Singkat kata, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh guru untuk menyandang predikat sebagai pewaris misi kerasulan tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam uraian berikut ini.

Pertama, amanah, yaitu sikap dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Mengajar adalah pengambilan keputusan. Maksudnya, sejatinya kegiatan mengajar adalah kumpulan dari rangkaian beberapa keputusan yang diambil oleh guru. Menurut Profesor Djaali terkait sifat amanah ini, guru itu ibarat hakim, tidak boleh mengambil vonis yang keliru. Jika guru memberikan nilai atas dasar kasihan dan tidak sesuai dengan kemampuan siswa yang sebenarnya, maka guru tersebut ibarat hakim yang menjatuhkan vonis yang keliru. Berarti guru tersebut tidak amanah. Karena keputusan yang diambil guru tersebut ibarat vonis hakim. Jika salah, maka akibatnya fatal. Hal ini sangat menentukan bagi seorang guru, apakah mampu bersikap amanah di dalam pembelajaran maupun penilaian untuk muridnya. Maka, sikap amanah ini mampu menunjukkan kapasitas dan kapabilitas seorang guru. Kapasitas mengajar sebagai bentuk amanah misi kerasulan kepada muridnya, dan kapabilitas sebagai guru yang dapat mampu dan dapat dipercaya sebagai sosok guru yang bisa digugu dan ditiru.

Kedua, fatanah, yaitu cerdas, berwawasan masa depan. Profesi guru harus didukung dengan kemauan kuat untuk menjadi pribadi pembelajar sepanjang hayat, sehingga guru menjelma menjadi pribadi yang berwawasan masa depan. Guru berwawasan masa depan adalah guru yang memiliki pengetahuan tentang tantangan yang akan dihadapi murid-muridnya kelak, sehingga guru mampu memberikan pembelajaran yang bermakna untuk membekali murid-muridnya supaya bisa menyelesaikan tugas-tugas yang akan diembannya di kemudian hari. Guru berwawasan masa depan ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya,“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.” Artinya, ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi sekarang dan kehidupan masa depan. Dari hadist tersebut, sudah sangat jelas bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini serba berubah. Sesuatu yang hari ini istimewa, tapi pada 10 atau 20 tahun mendatang bisa jadi hanya hal yang biasa-biasa saja. Sesuatu yang hari ini mustahil, bisa jadi pada 10 atau 20 tahun mendatang adalah hal yang sangat mudah sekali.

Ketiga, guru harus memiliki sifat sidik, yaitu jujur. Pada dasarnya, semua profesi harus ditunaikan dengan penuh kejujuran. Menurut Quraisy Shihab (2007), sidik berarti orang yang selalu membenarkan tuntutan Ilahi dengan pembenaran melalui ucapan yang dibuktikan dengan pengamalan. Artinya, guru yang sidik adalah guru yang selaras antara ucapan dan tindakannya. Ucapan dan tindakan guru akan dijadikan rujukan bagi siswa dalam bertindak dan mengambil keputusan. Karena itu, agar guru terus mengembangkan pengetahuannya dalam Ilmu Pengetahuan, dan mengajarkan anak- anak sesuai dengan kepentingan masa yang akan datang, bukan masa kini apalagi masa lalu. Ketika zaman berubah tentu tantangannyapun berubah, baik itu tantangan untuk bertahan hidup, tantangan dalam pergaulan, tantangan dalam menuntut ilmu serta tantangan-tantangan lainnya. Perubahan zaman inipun berdampak pada perubahan cara kita mendidik dan berkomunikasi dengan anak.

Keempat, tablig, menyampaikan, yaitu guru harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik supaya pesan yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik oleh murid dan masyarakat pada umumnya. Komunikasi di sini tidak sebatas pada komunikasi verbal, juga berkaitan dengan kemampuan dalam menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk karya tulis, serta kemampuan menggunakan metode pembelajaran yang tepat bagi tumbuh kembangnya murid. Sehingga murid mampu menerjemahkan apa yang telah disampaikan guru melalui lisan dan tulisannya. Pengaruh dalam komunikasi sangat dahsyat, bagaimana tidak, seorang guru akan menerapkan apa yang telah diajarkan seorang guru, seorang murid akan melaksanakan apa yang diperintahkan seorang guru, seorang murid akan menyampaikan apa yang telah digariskan oleh guru. Jadi, dalam pembelajaran guru dengan murid, komunikasi adalah poin penting. Salah mengucapkan juga akan mengakibatkan kesalahan dalam menerima informasi. Salah mengucapkan juga dapat memengaruhi kesalahan dalam tindakan. Kehati-hatian dalam berkomunikasi adalah sifat yang harus dimiliki seorang guru.

Suatu ketika penulis mendapatkan WA dari salah satu alumni. Selepas menunaikan jamaah sholat Maghrib, notifikasi WA di HP dari nomor yang tidak terdeteksi atau nomor baru.

“Assalamualaikum. Ustadz Fauzan ini Adriano dari angkatan Valiant,” sapanya

“Waalaikumussalam. Iya mas,” jawabku kepada mas Adriano.

“Bagaimana ustadz kabarnya?” sapanya kembali. Penulis balas dan tanya kembali, “Alhamdulillah sehat wal afiat mas. Bagaimana kabar mas Adriano?”

“Alhamdulillah,” jawabnya.

Tidak lama kemudian, WA dikirimkan kembali ke penulis, dengan kalimat “Ustadz, terima kasih motivasinya insyaallah akan saya ingat hingga dewasa.” Bagi penulis, kalimat tersebut adalah ungkapan yang bagaikan petir di malam hari. Bagaimana tidak, tanpa ada hujan dan kilatan di malam itu, tertulis balasan seperti yang dikirimkan Adriano. Setelah merenung dan mengingat kembali, apa yang telah penulis sampaikan saat itu, sehingga membuatnya masih mengingat kembali pesan yang telah berlalu. Seakan apa yang sudah disampaikan kepada murid, hal tersebut hilang seiring berlalunya waktu. Namun, bagi seorang murid, apa yang disampaikan apabila itu baik dan berkesan, akan menjadi berharga di masa depan. Akhirnya, penulis mencoba menyampaikan bahwa, kesuksesan tidak lahir dari kerja kerasnya, namun di dalamnya ada doa dari orangtua maupun orang yang peduli untuknya.  Di ujung percakapan kami, Adriano mencoba menyampaikan ke penulis, jika kelak pensiun atau berhenti mengajar, untuk memberitahukan kepadanya. Entah, dalam benak ini masih bertanya-tanya, ada gerangan apa yang membuat dia mengungkapkan kalimat seperti itu. Namun, bukan itu yang menjadi kecamuk dalam pikiran penulis, tapi ungkapan betapa ingatannya Adriano mengingatkan penulis bahwa, apapun yang kita sampaikan kepada murid, itulah yang akan diingat.

Adapula memori indah yang terjadi dalam kehidupan penulis. Suatu ketika datang walisantri ke rumah pada sore hari menjelang maghrib. Kedatangannya tanpa diduga karena memang belum ada perjanjian untuk datang ke rumah. Dikarenakan menjelang maghrib, maka obrolan ringanpun antara penulis dan keluarga kecilnya. Sebut saja namanya Fikri. Santri yang ditemani ayah bundanya itu datang dengan ekspresi datar. Bahkan cenderung cemberut. Mimik muka anak kelas tujuh itu, menandakan bahwa dirinya ada masalah. Bunda dengan ekspresi kecemasan, mengenalkan Fikri dan siapa keluarganya. Ketika adzan maghrib berkumandang, onbrolan kami pun terhenti. Bersama-sama menuju masjid terdekat untuk menunaikan jamaah maghrib sesekali ayahnya mengungkapkan banyak terima kasih atas kesediaan waktu untuk dikunjungi. Ayah Fikripun tak luput juga meminta maaf atas kesempatan waktu yang diberikan kepada keluarganya dengan kunjungan ke rumah seakan mengganggu waktu penulis di hari Ahad. Setelah menunaikan jamaah di masjid Ramadhan, kami pun kembali ke rumah untuk melanjutkan obrolan seputar Fikri.

Kesempatan pertama diutarakan oleh bunda Fikri. “Ustadz, sebenarnya kami sudah mengajak Fikri berbicara dari hati ke hati. Sudah beberapa kali kami mencoba mengungkap, apa sebab dia selama ini menjadi murung ketika sudah waktunya KP (Kunjungan Panjang),” “Selama ini kami menuruti apa kemauan dia. Entah dibelikan sepatu baru, baju baru, bahkan permintaan yang selama ini sebenarnya ada di kamarnya, kami pun membelikan kembali.” Wajah Fikri kembali memberikan kode kepada bundanya, bahwa apa yang disampaikan itu percuma, tanpa ada efek. Mungkin, dia mengisyaratkan kepada bundanya bahwa, meskipun disampaikan kepada orang lain, permasalahan yang dihadapi tidak akan pernah selesai. Iya, Fikri adalah santri kelas 7, sementara penulis adalah guru kelas 9 yang selama ini belum mengenal lebih jauh santri di kelas bawah. Namun, yang menjadi catatan penulis adalah rumah tinggal Fikri dan keluarga kecilnya adalah satu wilayah di perumahan penulis. Singkat cerita, bahwa Fikri sedang mengalami prundungan di asrama. Sehingga, beberapa kali dia selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya di asrama. Tidak ketinggalan, seringkali pula barang miliknya sering dipinjam tanpa sepengatahuan Fikri. Setelah panjang lebar bunda, ayah, dan Fikri bercerita, masalah yang dihadapinya di asrama maupun di sekitarnya, maka giliran penulis untuk menjawab, meskipun itu bukan jawaban yang memuaskan.

Di akhir obrolan kami, teh hangat dan sepiring pisang goreng hangat menemani obrolan kami, tanpa dikomando, Fikripun mencoba mengingat-ingat sebuah kejadian yang tak dapat dilupakan. Ketika dia tidur, ada temannya yang dengan sengaja mengoleskan balsam di tangannya. Sehingga, ketika ada yang mencoba mengitik-ngitik hidungnya, FIkripun reflek menggaruk hidung. Akhirnya, terbangun Fikri dari tidurnya, karena ada yang dirasakan di hidungnya panas yang tak terkira. Seketika itu tawapun menggelegar seisi kamar. Teman-teman Fikri tertawa lepas menandakan kepuasan dengan mengerjai Fikri. Di saat itu pula, Fikri bangkit untuk berontak dan marah kepada teman-temannya, meskipun dia tidak tahu siapa pelakunya.

Penulis mencoba mengurai satu demi satu permasalahan yang dihadapi Fikri. Karena tanggungjawab sebagai pendidik, terpanggil jiwa ini untuk mengurai lebih dalam permasalahan yang dihadapi Fikri. Akhirnya, sebuah solusi yang ditawarkan kepada keluarga Fikri yakni, untuk tetap bersabar sekaligus menyampaikan permasalahan tersebut kepada Kepala Asrama. Esoknya, penulis mencoba menemui kepala asrama dan teman sekamarnya. Bak gayung bersambut, teman-teman Fikri mengakui bahwa keisengan tersebut muncul karena teman-temannya merasa ada yang tidak enak hati, ketika pinjam barang ke Fikri, namun sikap yang dihadapi justru sebaliknya. Akhirnya timbul dendam kepada Fikri. Ketika semua permasalahan Fikri dan keluarganya disampaikan kepada teman-temannya, dengan penuh penyesalan, bahwa apa yang sudah dilakukan merupakan kesalahan dan tidak akan diakerjakan lagi. Mereka pun mendatangi Fikri untuk meminta maaf atas semua perbuatan yang telah diperbuatnya. Syukur Alhamdulillah, Fikripun memaafkan dan teman-temannya kembali berteman dengannya.

Permasalahan yang menurut penulis diselesaikan dengan kekeluargaan sekaligus komunikasi yang baik, semua menjadi mudah dan menenangkan. Di sisi lain, jiwa Fikri perlu kematangan dalam bersosialisasi sekaligus menerima bahwa kehidupan berasrama yang jamak ditemukan di sebuah pesantren, sering terjadi. Di manapun tempatnya, permasalah itu selalu ada. Apalagi dalam sebuah komunitas yang plural. Tidak diketahui karakter dan wataknya sejak awal. Dalam sebuah buku Easy to Love, Difficult to Discipline karya Becky A. Bailey Ph.D, mengatakan bahwa, “Every conflict offers an opportunity to teach” yang artinya “Inilah kesempatan untuk mendidik dan membuat mereka belajar.” Bahwasanya pada saat konflik terjadi, kita sebagai orangtua bisa memilih: menganggapnya sebagai peluang untuk mendidik anak atau kesempatan untuk menyalahkan dan menghukum mereka. Artinya, setiap permasalahan yang ada perlu disikapi dengan bijak. Jangan sampai tigma untuk menyalahkan atau bahkan menghukum tanpa mengetahui sebab permasalahan. Akhirnya, kita dapat memanfaatkan kejadian tersebut sebagai proses untuk mendidik mereka, kita dapat meningkatkan kemampuan anak dalam banyak hal, diantaranya memahami hak dan kewajiban; membedakan salah dan benar; memupuk rasa empati; dan membangun kemampuan dalam memecahkan persoalan sekaligus menjalin komunikasi yang baik. Dengan demikian, ketika suatu saat mereka menghadapi konflik lagi, mereka akan dapat menyelesaikannya tanpa campur tangan orangtua.

Maka, menjadi guru yang dirindukan dan dicontoh serta dijadikan panutan bagi seorang murid, mutlak ada dalam sosok seorang guru. Karakter murid terbentuk oleh sebuah lingkungan di sekitarnya, baik perilaku, tindakan, dan ucapan dari guru maupaun teman sebayanya. Guru yang dirindukan tidak hanya sekadar menyampaikan atau mentransfer ilmu semata, tetapi guru yang dirindukan adalah guru yang mampu memberikan spirit dan motivasi kepada muridnya. Jika sekadar mentransfer ilmu tanpa memberikan motivasi, bagaikan seseorang makan hanya sekadar kenyang tanpa memberikan manfaat makanan yang dikonsumsinya.

Di era yang serba instan dan mudah didapatkan, ilmu dapat dengan mudah dicari. Melalui sebuah perangkat bernama google, semua akan lebih cepat dan mudah didapatkan. Apa yang hendak kita cari dalam perangkat tersebut, hitungan sepersekian detik, informasi yang kita inginkan langsung dapat kita temukan. Era digitial 4.0 memudahkan orang untuk belajar secara mandiri di dunia maya. Era modern begitu mudahnya dapat kita temukan semua informasi begitu cepat, tepat, dan lengkap. Namun, yang perlu diingat adalah bagaimana seorang murid dapat merasakan sentuhan dari gurunya. Sentuhan itu yang tidak dapat kita temukan di perangkat google, lebih-lebih sentuhan ruhani.

Menjadi guru yang dirindukan tidak sekadar dia hadir di kelas dan bertatap muka, serta selesai apabila waktu menunjukkan bel bunyi tanda selesai pembelajaran. Menjadi guru yang dirindukan tidak sekadar datang memberikan materi bejubel kepada muridnya, dan memberikan tugas sesuai yang diinginkan. Menjadi guru yang dirindukan tidak sekadar mendikte apa yang dibacakan guru dari buku panduan untuk ditulis murid. Namun, menjadi guru yang dirindukan adalah dia mampu mendampingi, melindungi, bahkan menjadi partner kerjasama dalam belajar. Tugas berat seorang guru menyiapkan muridnya untuk menjadi anak yang tidak hanya pintar akademik, tetapi menjadikan murid memiliki daya saing, mampu berkomunikasi yang baik, dan daya juang yang tinggi, sebagai impian dan pegangan murid di masa yang akan datang.

Hal ini yang pernah diajarkan guru dari Muhammad Al Fatih, yaitu Syaikh Aaq Syamsuddin, yang setiap hari dan selalu mendampingi Muhammad Al Fatih untuk terus semangat, semangat, dan semangat dalam menuntut ilmu. Di beberapa kesempatan, Syaikh Aaq juga memberikan motivasi kepada Muhammad Al Fatih agar di setiap kesempatan pembelajarannya mengingatkan bahwa suatu saat dia yang bisa menaklukkan benteng Konstantinopel seperti yang dibisyarahkan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wassallam. Tidak heran, mental dan kepribadian Muhammad Al Fatih sangat tangguh di usia mudanya. Ketika ayahnya Murad meminta untuk menjadi panglima penaklukkan Konstatinopel, Sultan Muhammad Al Fatih sudah matang dan tegar untuk memimpin pasukannya. Sehingga Syaikh Aaq Syamsuddin adalah guru yang dirindukan Muhammad Al Fatih. Guru spiritual dan motivasi dalam dirinya. Guru yang selalu hadir di saat gundah gulana melanda di dirinya. Guru yang mampu memberikan solusi setiap permasalahan yang dihadapinya. Sosok guru yang ideal bagi murid yang istimewa. Kesimpulannya adalah jadilah sosok guru yang dirindu oleh anak didik. Menjadi suri tauladan dan contoh di setiap tindakan. Menjadi idola dikala anak didik kehilangan arah.

4 Cara Jalin Hubungan Baik dengan Allah

 4 Cara Jalin Hubungan Baik dengan Allah 

 

Untuk bisa menjalin hubungan terbaik dengan Allah ada beberapa cara. 4 cara jalin hubungan baik dengan Allah ini selalu bergandengan, meliputi taubat, sabar, syukur, dan istiqomah.


Cara Pertama, Taubat


Salah satu sebab orang itu bermasalah adalah dosa, yang membuat hubungan dengan Allah kurang harmonis. Kisah Nabi Adam yang taat kepada Allah dan menjalankan semua perintah Allah. Allah memberikan kehidupan yang enak, semua tercukupi. Tetapi ketia Nabi Adam melanggar aturan Allah, maka langsung seluruh kenikmatan yang dirasakan dicabut oleh Allah.


Orang yang banyak dosa itu, kebanyakan karena menjauhi Allah. Cara mendekatnya adalah taubat. Sebaiknya kita dapat memperbanyak istighfar dan meminta ampun kepada Allah, seperti dicontohkan Rasulullah. 

“Demi Allah, sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali,”  (hadits riwayat Bukhari).


Cara Kedua, Sabar


Setiap orang hidup itu pasti tidak mulus. Ada masalah-masalah yang membuat kita harus sabar. Ada sabar yang komplit yakni sabar menjalankan perintah karena semua bentuk perintah Allah harus dengan kesabaraan. Misalnya perintah orang laki-laki shalatnya di masjid dan bisa istiqamah. Jika tidak sabar maka akan sulit dikerjakan.


Selanjutnya, sabar menjauhi larangan Allah dan menghadapi musibah. Jika kita sabar dan ridha dengan musibah yang diberikan, maka musibah itu akan dikurangi.

 

Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.


Cara Ketiga, Bersyukur


Syarat untuk menjalin hubungan terbaik dengan Allah berikutnya adalah dengan bersyukur. Bersyukur itu memikirkan nikmatnya Allah. 

“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari nikmat Allah,” (Quran Surat Ibrahim ayat 34.)


Cara Keempat, Istiqamah


Jika kita ingin dicintai Allah, maka istiqamahlah. Dikisahkan, dari Aisyiah ra berkata, Nabi pernah ditanya, manakah amal yang paling baik dicintai Allah? “Beliau bersabda, yang dilakukan secara terus menerus meskipun sedikit. Beliau bersabda lagi, dan lakukanlah amal-amal itu, sekadar kalian sanggup melakukannya,” (hadits riwayat Bukhari).


Orang itu terkadang berbuat baik namun tidak terprogram, semua kadang-kadang. Misalnya, apa kamu shalat malam? Iya pernah kadang-kadang. Padahal amal yang dicintai Allah itu tidak banyak, namun yang dikerjakan secara berkesinambungan, terus-menerus.


Ia menegaskan, istiqamah itu berat dan harus mujahadah, yaitu berjuang dengan sungguh-sungguh. Berbuat baik itu harus dipaksa, jika ingin istiqamah shalat malam harus bisa mengalahkan kantuk. 


Selain mujahadah, diperlukan juga muraqabah, selalu terus-menerus merasa diawasi. Hal itu harus dimunculkan pada diri sendiri bahwa Allah selalu mengawasi dan kita tidak bisa sembunyi dari Nya.


Semoga 4 cara jalin hubungan yang baik dengan Allah, yang telah dijelaskannya dapat selalu dilakukan sehingga hidup menjadi lebih bermakna.

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...