Rabu, 04 Januari 2023

Terima Kasih karya Muhammad Mujahid Almughni

 Terima Kasih

Karya: Muhammad Mujahid Almughni

Pagi yang cerah telah datang dengan diawali oleh berbagai macam kejutan mulai dari terbitnya fajar, gradasi warna di sekeliling matahari hingga kicaun burung yang berbunyi seakan menambah sensasi pagi ini menjadi lebih memnbahagiakan.

Tak lupa juga dengan ayunan ombak obak laut yang juga tak mau kalah untuk menampilkan seni karyanya di pagi hari, dan dapat dapat dilihat dari sini terdapat banyak perbukitan yang hijau, yang di mana warna hijau adalah warna yang membuat hati kita semua nyaman akan keberadaannya.

Dan juga rumah-rumah yang sudah mulai membuka jendela dan pintu rumahnya untuk segera menuju ke luar guna melihat sensasi terbitnya matahari di pantai.

Untuk rumah mungkin bisa dibilang digunakan atau bisa dikatakan dialih fungsikan untuk penginapan para pengunjung wisata, mulai dari rumah yang berbentuk villa, hotel, maupun guest house. Tapi juga masih ada di sekitaran wilayah pantai ini yang masih berpenghuni, benduduk asli yang dimana mereka memanfaatkan kondisi geografis dengan bekerja sebagai pemilik hotel, villa, guest house, pemandu wisata, nelayan, maupun pekerja rumah makan.

Semuanya dijalani dengan senang, sehingga hidup mereka tenang, nyaman, dan makmur. Dari segi geografis, pantai ini jauh dari cuaca yang esktrem bahkan hampir satu abad, tidak ada bencana yang melanda di pantai, seperti: tsunami, gempa tektonik, atau angin badai. Meskipun ada, nelayan sekitar masih dapat menikmati keindahan alam di pantai, seperti hembusan angin yang cukup kencang.

Peradaban yang ada di pesisir pantai hingga zaman nenek moyang mereka menempati pertama, kultur budaya dan agama masih dipegang erat. Hal ini terlihat secara langsung religiusitas yang terbangun di masyarakat. Mulai peribadatan di tempat ibadah, hingga hubungan yang baik antar masyarakat. Maka, Allah masih menjaga wilayah tersebut dari marabahaya. Meskipun penduduk mayoritas adalah muslim, namun toleransi antar umat beragama tetap terjalin dengan baik.

Pantai yang saya maksud di atas adalah Pantai Papuma, yang terletak di Kota Jember Provinsi Jawa Timur. Keelokan pemandangan yang ada di sekitar pantai, membuat pantai Papuma sebagai jujugan para wisatawan lokal maupun internasional. Sunset dan sunrise di setiap pagi dan menjelang Maghrib, membuat pemandangan Pantai Papuma idola bagi pemburu matahari terbit dan terbenam. Sinar yang tampak dari kejauhan, seakan hadir di depan mata begitu dekat.

Saya adalah orang yang sangat menikmati keindagan pantai Papuma. Lebih tepatnya sebagai wahana healing melepas kepenatan dan kejenuhan. Di tengah kesibukan belajar bahkan mungkin sebagian orang mengisi masa rileks saat pekerjaan menumpuk.

Nama saya Feno Abdillah, telah berusia dua puluh tujuh tahun sudah menikmati anugrah Allah. Ketika masa sekolah dasar, saya bersekolah di SD Al Ibrah Kota Surabaya. Selanjutnya menapaki jenjang masa SMP dan SMA di kota yang sama. Kini, saya tinggal di Provinsi Jogjakarta, yang sering dibilang Paris Van Java. Masa selepas SMA, orangtua saya mengizinkan untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi di UII Jogjakarta.

Tatkala menjadi mahasiswa di universitas tersebut, saya menyempatkan diri untuk bekerja sebagai tambahan mencari kehidupan agar tidak selalu mengharap banyak dari orangtua. Setelah melalui lika-liku di kota gudeg, dengan izin Allah, amanah dan pekerjaan saya semakin maju dan berkembang pesat. Puncaknya, saya memiliki perusahaan sendiri di bidang otomotif. Meskipun karir selalu menanjak, namun kesendirianku yang membuatku asyik hingga menikmati pekerjaan dan pertemanan, jodohpun belum terpikirkan. Perjalanan kesuksesan tersebut, teriring doa dan restu dari malaikat tanpa sayap, yakni seorang ibu. Kini tepat tanggal 22 Desember 2025, rasa-rasanya ingin merayakan bersama orang yang telah membesar, mendidik, dan mendoakan saya di saat lapang dan sempit.

Berkat doa dan restu ibu, semua yang saya hadapi dan kerjakan menjadi lebih ringan. Bagaimanapun kesuksesan yang dibangun oleh seorang anak, tidak terlepas tetesan air mata yang selalu membasahi pipi seorang ibu. Setiap sujud dan angkatan tangan ketika berdoa, semua doa seakan tembus hingga ke sidrotul muntaha, semua terkabulkan. Maka, di balik keindahan pantai Papuma ini, ingin rasanya saya mempersembahkan sebuah puisi yang terindah untuk ibu.

Ibu…

Memelukmu adalah kenyamananku

Melukis senyummu adalah keinginanku

Mencintaimu sudah tentu kewajibanku

Namun terkadang

Melawanmu menjadi kebiasaanku

Bahkan ku menyiakanmu dan

Melupakanmu sebagai seorang ibu

Tanpa kusadari begitu teririsnya hatimu

Harusnya aku menjadi pelindung

Bukan menjadi anak yang tak tahu untung

Harusnya aku menjadi anak yang penurut

Bukan menjadi anak yang banyak nuntut

Aku masih sangat ingat

Ketika itu tak ada biaya untuk berangkat

Dari kampung menuju perkotaan yang padat

Waktu itu hujan begitu lebat

Kakimu kau paksa menapak

Hanya bermodal payung rusak

Ibu menjelajah rumah ke rumah dengan hati terisak

Tak peduli petir menyambar

Ibu tetap berjalan dengan sabar

Meski tubuhmu sudah gemetar

Ibu masih mengetuk pintu warga sekitar

Terimakasih sang pencipta

Kau beri aku seorang wanita tangguh

Yang selalu mengusap air mata

Ketika ku dilanda derita

Yang punya hati sebening permata

Dan yang menjadi mata air cinta

 

Bocah Nakal

Ku tatap wajahmu di keremangan malam

Wajah tuamu yang mulai kusam

Kulihat dengan jelas kerut keningmu

Yang dulu tak pernah tampak

Tanganmu yang kuat

Kian lemah seiring usia

Langkah mu yang dulu tegap

Kini rapuh dan membungkuk

Maafkan aku ibu

Di saat semua orang berfikir aku telah dewasa

Aku masih jadi bocah nakal pembuat ulah

Aku masih menyuguhkanmu cerita duka

Yang kelak akan jadi gurauan manja

Kala aku jadi anakmu yang berguna


        Demikian apa yang telah kupersembahkan melalui dedikasi pekerjaan untuk diri, keluarga, dan masyarakat, itu semua berkat doa dan restu dari seorang ibu. Kini di saat ibu masih ada, saya selalu menyempatkan datang meminta restu setulus-tulusnya, bahwa kehidupan saya di masa yang akan datang semakin ringan.

Apapun yang kuhadapi di masa sekarang, masa depan, baik kelancaran dan kesuksesan karir, itu berkat doa dari ibu. Terima kasih yang tak terhingga atas segala pengorbananmu selama ini, sejak kulahirkan hingga mampu berdiri di atas bumi tanpa meminta bantuan ke siapapun, sekali lagi berkat doa tulus dari ibu. Ingin rasanya melihatmu selalu ada di sampingku. Ingin rasanya menatapmu di saat kumembutuhkanmu. Namun, anakmu kini nun jauh di mata, hanya berharap selalu dan selalu doa restumu Ibu.


Aral rintang hingga badai menerjang, tidak membuat saya untuk pantang menyerah ke belakang. Ibu, saya sungguh beruntung memilikimu. Kini doakan saya menjadi anak yang selalu berbakti kepadamu dengan selalu membahagiakanmu. 

(Ed:Oz)

Hutan Baluran karya Asyam Hanif Ramadhan Al Ahmadi

 Hutan Baluran

Karya: Asyam Hanif Ramadhan Al Ahmadi

Hutan Baluran yang masuk kawasan Taman Nasional Baluran adalah salah satu taman nasional di Jawa Timur.

Taman nasional yang dikenal destinasi wisata ini, juga tersohor tentang mitos keangkerannya yang tepatnya di Hutan Baluran.

Hutan ini berada di Kabupaten Situbondo berbatasan dengan wilayah utara Kabupaten Banyuwangi. Hutan ini akan Anda lewati jika Anda menuju Banyuwangi dari arah Surabaya via jalur pantai utara.

Jalan yang membelah hutan ini sepanjang kurang lebih 25 km. Terdiri dari tanjakan, turunan, kelokan, blind spot dan hal-hal menantang lainnya.

Cukup ekstrimnya jalanan di hutan Baluran ini, tak jarang mengakibatkan kecelakaan terjadi di wilayah hutan ini.

Di atas adalah sekilas mengenai hutan baluran Situbondo-Banyuwangi.

Denpasar, 13 Desember 2018

Hari ini adalah hari terakhir dimana enam anak muda ini berlibur di Denpasar, Bali. Mereka telah menghabiskan liburannya di Bali. Sudah satu minggu lamanya mereka di kota ini. Tak terasa, mereka harus kembali ke kota mereka karena waktu liburan sudah hampir habis. Mereka akan pulang menuju Yogyakarta.

Mereka menggunakan mobil. Jadi melewati jalur darat. Tujuh orang tersebut adalah dua kakak perempuannya Bagus, satu kakak laki-laki Bagus, satu teman dekat kakak perempuan Bagus, satu kawan kakak perempuan Bagus, serta Bagus. Mereka menggunakan mobil.

Di perjalanan menuju Bali tidak ada hal yang ganjil apapun, sampai di Bali pun Bagus menikmati liburannya. Setelah enam hari Bagus bersama rombongannya di Bali, sampailah hari di mana Bagus dan rombongannya harus balik ke Jogja dan mereka bergerak pulang menuju ke pelabuhan Gili Manuk dari Denpasar siang harinya. Jadi mereka baru sampai ke pelabuhan itu hampir masuk waktu Maghrib. Dan sesampainya di sana, menyeberanglah mereka ke pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Ketika sudah sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi ini, kakak perempuannya si Bagus menelpon bapak mereka. Untuk memberi kabar “Kami dah sampai di Ketapang, jam tujuh malam.” Bapaknya Bagus mengatakan, “Oh ya udah, alhamdulillah. Sekarang kalian cari hotel atau penginapan di dekat situ ya! Kalau kalian lewat Alas Baluran malam-malam bapak nggak bolehin ya! Nginep sana aja nggak usah mbalik!”

Setelah menutup telepon, mereka waktu itu sempat bingung. Antara mau kembali dan bantah perintah bapak mereka atau mencari penginapan dan melanjutkan perjalan pulang di esok harinya. Berunding lah mereka.

Nah waktu itu, mereka berenam ini sepakat untuk bantah perintah bapaknya. Dan memutuskan untuk pulang karena memang kakak perempuan Bagus ini harus pergi ke kantor esoknya.

Mereka melanjutkan perjalanan.  Perjalanan dari pelabuhan Ketapang menuju ke Jogja melewati Alas Baluran. Nah ketika masuk area jalur Baluran, Bagus waktu itu duduk di paling belakang. Waktu selepas maghrib membuat jalur Alas Baluran sepi. Bagus yang duduk di belakang sempat melihat ada mobil tua, berhenti di pinggir jalan. Bagus mengamati mobil tersebut bahkan sampai membalikkan badannya untuk melihat lebih fokus ke arah mobil tua tersebut. Setelah Bagus perhatikan, ternyata dalam mobil itu ibu-ibu semua. Dan ibu-ibu ini diam semua. Badan tidak gerak. Mulutnya tidak gerak. Pandangan berdenyit kosong ke depan. Di saat itu, Bagus sempat nanya kepada kakak-kakak nya. “Kalian tengok gak mobil tua di pinggir itu?” Mereka semua menjawab. “Ya, kami lihat mobil tua itu.” Tapi, kakak-kakak Bagus itu langsung bilang, “Paling itu cuma mobil mogok itu Dek.” Beberapa menit kemudian. Bergantilah Bagus yang menyupir mobil rombongan tersebut. Sampingnya si Bagus adalah abangnya, kakak laki-lakinya. Lanjut di perjalanan. Masih di Alas Baluran.

Mereka bertemu mobil tua lagi. Berbeda dengan yang di tumpangi ibu-ibu tadi, yang dinaiki ibu-ibu tadi mobil tua berwarna hijau. Dan yang di depan mereka warna mobilnya merah banyak karatnya. Mobil tersebut jalannya pelan sekali. Dan sesekali mobil di depan mereka itu senganja ngerem- ngerem. Supaya mereka menabrak mobil tua di depan mereka. Atau nyuruh mereka melewati hutan dengan pelan-pelan juga. Itu kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Nah pada saat itu, Bagus yang mau menyalip mobil berkarat ini, sempat ragu karena memang jalan nya banyak tikungan. Tapi karena beberapa kali resek, mengerem dengan sengaja. Bagus pun kesal. Disaliplah mobil tua itu oleh Bagus, sedangkan abangnya marah ke sopir mobil tua tersebut. Sementara abangnya tidak melihat secara langsung sopir mobil.


 

Lanjut lagi perjalanan mereka. Nah, selama perjalanan ini Bagus ini merasa aneh. Karena  Bagus merasa perjalannya melewati jalur alas baluran ini lama sekali. Untuk keluar dari alas baluran ini, padahal sebelumnya pas perjalanan dari Jogja ke Bali tidak begitu lama. Namun, kali ini beda. Sangat lama sekali. Kok kita gak keluar keluar dari alas baluran ini ya? batin Bagus dalam hati.

Dan pada saat itu sekitar satu jam mereka tidak menemukan kendaraan lain yang melalui Alas Baluran itu. Hanya mereka yang melewati jalur tersebut. Sampai akhirnya, tidak lama kemudian mereka melihat  lagi, si mobil merah yang berkarat tadi ada di depan mereka.

Bercampur aduk rasanya hati Bagus, antara bingung dan takut. “Lho, tadi kan dah kusalip.” Dan Bagus yakin mobil itu tidak pernah menyalip dia lagi. Dan dipikir-pikir lagi sama si Bagus, “Harusnya mobil itu dah ketinggalan jauh sekali, orang jalannya pelan sekali.”

“Bang itu yang mobil  telah kita salip kan?”

“Eh, iya Dek. Kok dia bisa di depan kita.”

“Ada yang nyalib tadi, Bang?”

“GAK ADA. Coba kau salip dia! Penasaran aku nengok supirnya.” Abangku seperti mengerutkan dahi penasaran dengan mobil merah tersebut. 

Bagus pun menyalip dengan pelan-pelan. Meskipun laju, tidak seperti menyalip yang pertama kecepatan mobil Bagus dari sisi kanan. Penasaran Bagus dan abangnya siapa kira-kira yang mengendarai mobil merah. Disaat lagi nyalib itu, mereka sama-sama melihat ke sebelah kiri. Untuk melihat sia supir mobil tersebut. Dan saat itu, mereka melihat si sopir tersebut menatap balik ke arah mereka. Dengan seyuman yang lebar. Senyum lebar yang sampai pipi terobek. Dan sopir itu, Tinggi sekaliii. Sampai atap mobil itu tidak cukup. Bungkuk. Ya Allah.

Terkejutlah si Bagus dan Abangnya. Nah, si Bagus dan Abangnya keluar kata sumpah serampah, entah apa saja yang diucapkan. Teriak teriak. “SALIP, CEPET, SALIP MOBIL ITU DEKKK!” kata abangnya. Saking keras teriakan mereka, penumpang di belakangpun kaget. “Woy, kalian kenapa marah-marah ini!” Tapi Bagus dan Abangnya  tidak mau menjawab. Diam. Mereka shock. Gak mungkin manusia seperti itu. Setelah beberapa menit melanjutkan perjalanan, mereka melihat warung, dan mereka pun memutuskan untuk beristirahat di warung itu. Sekalian si Bagus dan Abangnya menenangkan diri sebentar setelah kejadian tadi.

Disaat mereka berhenti di warung, mereka bertemu dengan yang jaga warung tersebut. Ada ibu-ibu bersama anaknya. Nah Bagus dengan beberapa kakaknya turun dari mobil untuk ngopi. Dan ada juga beberapa yang tetap memilih untuk tidur di mobil. Terbayang wajah sopir mobil tua warna merah menyelimuti wajah Bagus.

Selang beberapa menit, mereka duduk-duduk di warung tersebut. Tiba-tiba ada satu mobil datang. Dan berhenti tepat di samping mobil si Bagus. Bukan mobil yang tadi. Mobil lain. Pengendara mobil yang baru datang ini, membuka kaca mobil. Orang tersebut bertanya, “Kenapa Mas, ada yang bisa saya bantu?” Bagus menjawab, “Gak papa pak.” Bingung juga mereka. Orang kami duduk di warung kopi malah nanyak kenapa.

Nah setelah sekitar setengah jam berlalu, di warung tersebut. Mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Nah, disini kakak perempuan si Bagus mau membayar makanan dan minuman di warung itu. “Mbak... Mbak..! Bayar bukk ibukk ... bayar”

Tapi ketika dipanggil, ibu penjaga warung tersebut tidak keluar. Suasana warung tersebut tiba-tiba sepi sekali. Kakak Bagus pun kebingungan. Diletakkanlah uang lima puluh ribu di meja. Jika itu ada kelebihan, semoga menjadi sedekah untuk mereka.

Rombongan pun masuk ke mobil. Untuk melanjutkan perjalanan pulang. Setelah mereka sudah jalan beberapa menit, teman kakak si Bagus ini baru sadar. “Kok handphone aku gak ada di mobil ini.” Barulah dia teringat. HPnya ketinggalan di warung tadi. Akhirnya putar balik mencari warung. Ketika perjalanan kembali mencari warung tadi, tidak terlihat sedikitpun keberadaan warung. Akhirnya HP teman kakak si Bagus dihubungi dan dilacak keberadaannya melalui sinyal.

Ketika sinyal terlacak, kagetlah mereka bahwa keberadaan sinyal ada di dalam bangunan roboh. Bertambah kagetlah rombongan Bagus. Sementara HP tadi merasa tertinggal di warung kopi pinggir jalan. Mereka turun dan langsung mencari keberadaan HP teman kakaknya.

Bagus menemukan HP teman kakaknya dan uang lima puluh ribu yang mereka pakai untuk membayar kopi di warung tadi dalam keadaan tertumpuk di atas batu. Tanpa berpikir panjang, diambillah HP dan uang tersebut. Di saat itu pula, bapak yang menemui kami di warung muncul lgi, bertanya kabar tentang kami seperti yang ditanyakan sebelumnya. Lagi-lagi jawaban kami sama.

        Di saat genting seperti itu, salah satu rombongan menelepon bapak untuk memastikan rombongan dalam keadaan sehat dan sedikit ada masalah. Meskipun sinyal di hutan terputus-putus, akhirnya tersambunglah telpon ke bapak. “Pak…. Maaf, kami ada masalah di sini. Beberapa kali mengalami kejadian di luar nalar. Mohon doa dan restu dari Bapak, agar perjalan pulang kami berjalan lancar.”

“Bagaimana, lanjut pulang?” “Ok, Bapak bantu doa dari rumah.” Memang, Bapak bisa membantu hal-hal demikian. Akhirnya, kami pun lancar ketika pulang. Alhamdulillah...

Semua aman dan selamat sampai tujuan. Yogyakarta. Perjalanan yang cukup menegangkan dan melelahkan membuat bulu kuduk berdiri. Smeoga dengan kejadian yang kami alami dapat hikmah.


Pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini Cuma satu. Jangan bantah omongan orang tua....

(Ed:Oz)

Malaikat Tak Bersayap karya Ahzami Nafiri Al Fatih Zakariyah

 Malaikat Tak Bersayap

Karya: Ahzami Nafiri Al Fatih Zakariyah

Kehidupan sangatlah singkat, banyak remaja sekarang kurang memanfaatkan waktu mudanya dengan baik. Terkadang aku juga merasa belum memanfaatkan waktu luang dengan benar, sejak kecil aku di latih untuk mandiri oleh orangtuaku. Namun, lain halnya dengan adikku berbanding terbalik denganku. Sewaktu kecil dia dimanja, aku menyadari karena aku sebagai kakak harus mengalah. Tapi terkadang aku sedih sejak kecil ibuku kerja di negeri orang, atau sering disebut TKW (tenaga kerja wanita). Aku menyadari semua, Allah berikan padaku adalah takdir, lewat itulah ibuku bisa menyekolahkan aku dan adikku.

Orang-orang sering bertanya “Kenapa ibumu masih di sana padahal kamu sudah besar?” Aku hanya tersenyum walaupun rasanya sedih. Dan semenjak bapakku meninggal, keluarga ibulah yang membiayaiku, beliau tidak lagi kerja disana, namun ibu membiayaiku lewat berjualan lauk di rumah. Aku belajar dari kehidupanku bahwa semua adalah titipan Allah dan semua yang kita miliki atas kekuasaannya.

26 April 2019

Aku tersadar dari lamunanku. Ternyata aku sendiri di kelas, entah kenapa aku rindu keluarga. Tiba tiba ada yang datang menghampiriku. ”Sya, tumben kamu nggak beli jajan,” ucap Laila, teman sebangkuku. ”Emm…enggak apa-apa La,” jawabku dengan senyuman. ”Besok kalau wisuda sama aku ya.” Sambil menawarkan jajan kepadaku. ”Siap La, entar sewaktu di acara bareng ya kita ngajak Dinar, Atul dan Fatimah,” dengan santainya aku mencomot jajan Laila.

“Pengumuman gaes ada brieving di mushola katanya suruh kumpul semua siswa kelas 12.” Salah satu temanku menginformasikan update untuk kelas 12.

“Anak-anak semua kumpul di mushola sekarang berkenaan satu minggu mendatang acara wisuda.” Pak Andika mengumumkan dengan speakernya. Setelah dua jam briefing aku langsung menelpon ibuku di warung bu Aminah. Aku membicarakan dengan beliau diadakannya wisuda di Masjid Agung Jawa Tengah. ”Sya hari minggu Ibu jemput kamu ke pondok ya, jangan lupa barang-barang disiapkan.” Begitulah kebiasaan seorang ibu mengingatkan anaknya. ”Duh jadi nggak sabar pulang ke rumah,” celetukku. Selesai menelpon aku melanjutkan aktivitasku seperti biasa. Karena aku masih mengenyam pendidikan di pesantren setiap pulang sekolah aku langsung ikut kegiatan mengaji.

04.26 WIB

Aku terbangun karena sudah Subuh, kumandang adzan membangunkanku untuk bergegas mengembil air wudhu. Hal yang sangat unik di pondok waktu Subuh, mengantuk ketika shalat Subuh termasuk aku juga pernah ketahuan mengentuk di depan pak kyai. Rasanya malu sekali ketika teringat itu.

Setelah selesai shalat berjamaah aku ditanya nadia teman sekamarku. ”Mbak Syaqila hari ini pulang ya?” ucap Nadia menyenggol lenganku dengan pena. ”Iya Nad, kan sebentar lagi acara gue lah”. Aku menjawab sambil menulis catatan ngaji. ”Nggak kerasa ya mbak bentar lagi udah mau lulus hehehehe..” kata Sinta teman seperjuanganku tapi berbeda angkatan. ”Emm… selesai ngaji kemas-kemas yuk, kan hari ini perpulangan kelas 12,” kataku. ”Kawan-kawan Abah Helmi udah datang,” salah seorang temanku yang duduk paling depan. Setelah kegiatan jamaah langsung ngaji kitab dengan Abah Helmi, yakni kitab yang beliau terangkan tafsir Al-Ibris karya K.H. Bisri Musthofa Rembang.

Seperti itulah kegiatanku di pondok, memang banyak cobaan yang aku alami disini, tapi aku percaya lewat berkidmat dengan pak kyai pasti ada berkahnya. Terkadang sebagian orang ada yang percaya ada yang tidak, aku sejak kecil sudah terbiasa jauh dengan orang tua. Namun, aku tidak berkecil hati Allah memberikan hidayah lewat aku di pondok pesantren. Ya, aku mencari sebuah kehidupan yang nyata, di sinilah aku mendapatkan sebuah arti tentang agama. Aku bersyukur seperti memiliki keluarga kedua di pondok, bagaimana tidak semua kehidupan dunia pesantren memang penuh kenangan, disini aku diajarkan cara beristiqomah, sabar, dan lain-lain.

“Nduk, bangun sudah jam empat ayo shalat Subuh, alarmmu itu bunyi terus.” Kata ibuku yang sedang membuka jendela kamarku. ”Hah Nduk? Lho aku ternyata udah pulang ke rumah?” Aku bertanya dengan diriku sendiri di dalam hati, ”Kamu ini sudah besar masih aja dibangunin ibu, di  pondok jangan kaya gini Sya.” Aku menjawab sambil membereskan tempat tidur. ”Bu jangan samakan pondok, ini kan di rumah… ada diskon bangunnya.” ”Besok acara wisuda, ibu kayaknya ngak bisa ikut Sya, ibu kan sekarang jualan.” Tapi aku tidak menjawab, langsung ke kamar mandi. ”Pagi-pagi udah bahas kek gitu, mana aku konek baru bangun,” gerutuku. Selesai shalat Subuh aku mengistiqomahkan mengaji walaupun di rumah, sudah hal biasa santri ketika selesai shalat murojaah hafalannya.

“Syaqila, ada telepon dari kawanmu Nduk,” kata ibu yang sedang masak air. ”Iya Bu.. sebentar.” Aku langsung bergegas mencari teleponnya. ”Halo, Assalamualaikum,” ”Waalaikumussalam, Sya jangan lupa hari Sabtu berangkat wisuda sebelum jam tujuh ya,” kata Laela. ”Insyallah La, aku on time tapi kan tergantung jalan rayanya kalau rame mungkin agak telat,” kataku. ”Iya juga ya rumahmu kan Kendal, ya semoga aja lancar dan on time.” ”Aminnn… terima kasih doanya La, semoga kamu juga lancar.” Tuttt…

“Yaaaaah, putus lagi sambungannya, belum juga salam.”

Aku langsung membantu ibuku yang sedang masak untuk dijual. ”Bu, besok acara wisuda sebelum jam tujuh.” Aku sambil menggoreng mendoan. ”Nanti disiapin seragamnya biar besok tinggal pakai,” ujara ibu. ”Bu bukan itu yang aku tanyain, masalahnya yang nganter ke sana siapa?” ”Besok kamu diantar sama mas Raffi ya, nanti Ibu yang bilang.” Ibu sibuk dengan masakannya.

Aku sedang menikmati suasana sore di perkampungan, aku berjalan menuju jalan raya. Dimana aku melewati sepanjang jalan kenangan selama tiga tahun, jalan yang penuh tantangan teringat waktu sekolah SMP. Ya memang pahit waktu pelepasan kelas sembilan. Entah kenapa aku takut terjadi hal yang sama, orangtuaku tidak bisa hadir di wisuda kemarin. Namun tak jadi kendala aku tetap berangkat ke wisuda, meskipun tidak ada yang hadir.

Hal yang sangat membuatku kurang semangat,  semenjak ayahku meninggal, keluarga ibuku mengajariku semangat untuk menjalani kehidupan. Aku teringat pesan ibuku sewaktu awal kelas 12. ”Sya, walaupun sekarang bapakmu tidak di sampingmu jangan sedih, semua terjadi atas kehendak Allah. Tugasmu sebagai anak berbakti kepada kedua orangtua, caranya bagaimana? Lewat doa lah yang bisa menguatkanmu nduk.”

“Sya … hello dari tadi lho aku panggil kamu, ada apa si?” Kata Syifa, dia adalah saudara dari ibu yang sering main bareng dari kecil. ”Nggak papa Syif aku cuma kepikiran nasihat ibu aja.” Aku menghentikan sepedaku karena sudah sampe rumah.

”Sya baju buat besok udah disiapain?”

”Iya Bu habis ini, aku siapain.”

”Bulek aku pamit pulang ya takut dicari ibu cari.”

”Fa, cepet sekali ke sininya nggak mau makan-makan dulu….” ”Nggak usah Bulek terima kasih.” Ibu memang mempunyai sifat yang ramah terhadap orang lain apalagi saudaranya sendiri, aku salut dengan beliau.

Hari ini adalah hari wisudaku dimana sebuah perjuangan selama tiga tahun aku di bangku Aliyah. Sesingkat ini putih abu-abuku sangat tidak terasa bagiku, aku sudah siap dengan baju seragam wisuda.

“Ibu berarti ngak ikut di acara wisudaku?” kataku dengan nada kecewa. ”Maafin ibu Sya, kamu kan tau ibu lagi jualan kalau ibu nggak jualan biaya sekolah untuk adikmu bagaimana?” ”Bu… ini sekali dalam seumur hidup, apa seenggaknya ibu ngertiin Syaqila sedikit aja.” Wajahku semakin menunduk terasa berat aku berangkat tanpa didampingi orangtua, padahal hari ini yang sangat berarti bagiku.

Tiba-tiba suara motor dari depan, ”Nah itu kamu dianter sama mas sepupu ya.” Kata ibuku sambil mengambil lauk untuk pembeli. ”Mas Raffi yang nganter?” ”Ayo Sya berangkat katanya sebelum jam tujuh.” Mas Raffi yang sudah siap dimotornya dengan suara lantangnya memanggilku..

Di perjalanan tak hentinya aku bersholawat, entah kenapa aku merasa kecewa dengan keputusan ibuku. Semenjak SD, MTS, sampai jenjang ini tanpa didampingi orang tua. Sedih pasti. Namun bagaimana lagi sudah menjadi takdirku. Ketika sudah sampai lokasi tepatnya di Masjid Agung Jawa Tengah. Perasaanku bercampur aduk, aku mengikuti acara tersebut dengan khidmat, semua berjalan dengan lancar. Ketika namaku dipanggil aku menumpahkan air mataku, bahwa benar-benar sudah berakhir masa Aliyahku. Aku menyalami semua guru-guru, karena jasa mereka yang  selalu memberiku doa dan semangat.

“Alhamdulillah mas Raffi aku lulus.” Aku langsung menghampiri mas Raffi yang sedang memvidiokanku waktu ke atas panggung. ”Sya setelah ini kan kamu nggak pulang langsung ke pondok, aku mau ngasih kamu sesuatu.” Sambil mengambil bingkisan dan surat. ”Dari siapa Mas?” Kataku sambil mengambil surat dari mas Raffi. ”Bukanya nanti ya.”

Untuk anakku tercinta,

Nduk, tak terasa kamu sudah besar. Ibu hanya bisa mendoakanmu, selalu menyemangatimu setiap waktu, namun kamu harus mengerti dari keadaan di keluarga kita. Allah selalu menguatkanmu dan juga menjagamu. Ibu ikhlas kalau kamu mengambil pilihan setelah lulus untuk mengabdi di pondok, dua bulan lagi ibu akan bekerja lagi di luar negeri. Tugasmu hanya mendoakan ibu dan belajar. Selagi ibu mampu membiayaimu sampai sampai jenjang yang lebih tinggi, kamu jangan seperti ibu, kamu harus melebihi ibu. Carilah ilmu sampai akhir hayatmu. Allah akan memberi jalan bagi orang yang mencari ilmu agama. Pesan ibu walaupun kamu tidak didampingi orangtuamu tetaplah tabah dan ikhlas. Kamu bisa berkhidmat untuk kyaimu. Lewat gurulah kamu tanamkan rasa khidmatmu, semoga Syaqila menjadi anak sholehah, manfaat buat orang lain, nggak boleh sedih terus semangat!!!

Aku benar-benar kaget ternyata ibu punya tujuan lain, terimakasih ibu selama ini kau selalu membimbingku, selama ini aku berprasangka denganmu. Aku sangat jahat menilai orangtuaku sendiri dengan sifat-sifat yang kotor. Aku janji aku akan berusaha semampuku untuk berkhidmat di pondok, kau bagaikan mutiaraku, kamu akan tetap bercahaya di kehidupanku.


Pesan yang ingin disampaikan dalam cerita di atas yakni teruslah berbuat kebaikan kepada orangtua. Jangan pernah sedikitpun suudzon terhadap orangtua.

(Ed:Ozan)

Perjalanan Terindah karya Ahmad Aziz Alhabsy

 Perjalanan Terindah

Karya: Ahmad Aziz Alhabsy

Di kesunyian, alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu, terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi. Mataku sedikit terbuka, pertanda mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB. Aku tetap terbaring, bukan berarti malas. Kuhayati setiap lirik musik yang kudengarkan, penuh dengan makna. Aku masih terbaring, kukumpulkan semangatku saat itu. Musik reff terdengar, semangatku semakin berkumpul. Kuterbangun dan langsung kubuka jendela kamarku. Angin pagi berhembus menyegarkan, walaupun memang masih gelap. Bibir ini berbisik, mengucapkan do’a tanda syukur atas dibangunkanya jasad ini dari alam yang tak kukenal. Aku siap melewati hari ini.

Aku berjalan menuju ruang makan, kulihat ibu telah menyiapkan makan sahur. Hari ini hari Senin, sudah menjadi amalan andalan kami untuk berpuasa setiap Senin dan Kamis. Aku tersenyum pada ibu, kuteruskan langkahku untuk membasuh muka, menyegarkan wajahku seusai bangun tidur. Berdua saja kami duduk di depan meja makan , aku dan ibuku.

“Sudah siapkah semua barangnya, Nak?”tanya ibuku.

“Tentu saja sudah, Bu. Tinggal berangkat saja,” jawabku.

“Hati-hati ya kalau sudah di sana. Terus hubungi ibu, takut terjadi apa-apa,” ucap ibuku dengan sedikit khawatir.

“Tenang saja, Bu. Lily bisa jaga diri kok, insya Allah,” ujarku.

“Baguslah kalau begitu. Seusai shalat Subuh, ayah akan langsung mengantarmu ke stasiun.”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Kulanjutkan membereskan apa saja yang harus ku bawa. Aku mungkin terlalu keasyikan, setelah shalat Subuh aku terdiam dan merenung. Bersama kesunyian aku membayangkan, mimpiku ternyata bisa terwujud. Dengan keadaan keluarga yang apa adanya, aku bisa kuliah tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun. Di dalam lamunanku, aku terkejut.

“Neng!” ucap ayahku dengan kerasnya.

“Iya Ayah?” jawabku kaget. “Ayo, sudah pukul lima. Nanti terlambat masuk kereta” ucap ayahku cemas.     “Oh, baiklah Ayah”.

Dengan menaiki motor yang begitu khas suaranya, kami mulai berangkat. Ibu tidak ikut mengantarku, katanya dia harus menjaga rumah. Lagipula tak bisa bila harus menaiki motor dengan tiga orang penumpang sambil membawa barang yang cukup banyak, sungguh hal yang mustahil.

“Jaga diri baik-baik, Nak. Banyak berdoa. Tetap semangat, jangan lupa ibadahnya,” nasehat ibu.

“Baik, Bu. Doakan saja Lily, semoga semuanya barakah bagi kehidupan Lily,” ucapku dengan mata yang cukup berkaca-kaca.

“Iya, Nak. Ibu pasti akan selalu mendoakanmu. Kalau begitu lekaslah, takut ketinggalan kereta,” ucap ibuku dengan air mata yang menetes.

“Kalau begitu kami berangkat dulu, Bu. Assalamu’alaikum,” ucap ayah. “Wa’alaikumussalam,” jawab ibu.

Aku pun bersalaman dengan ibu, begitupun ayah. Airmata membasahi pipi ibu. Aku mengerti, memang seperti itulah perasaan seorang ibu. Air mataku pun ikut terjatuh, hatiku luluh. Segera kubergegas menaiki motor sambil menghapuskan air mataku. Begitu dinginya Subuh itu. Namun untungnya aku tetap merasakan kehangatan, dari jaket pemberian ibuku dan dari hangatnya punggung ayahku.

Kereta beberapa menit lagi berangkat. Aku berlari dengan kencangnya bersama ayahku, membawa barang cukup berat. Tepat di depan pintu kereta aku berdiri.

“Hati-hati ya Nak. Kalau ada apa-apa hubungi ayah atau ibu. Banyak berdoa di jalan. Musafir doanya sangat mustajab. Kabari ayah kalua sudah sampai,” pesan ayah dengan suara lembutnya.

“Baik, Ayah. Doakan Lily ya,” ucapku tersenyum, namun dengan air mata yang menetes.

Ayah mengangguk. Aku masih tetap tersenyum. Tepat saat itu, kereta mulai berjalan. Aku pun masuk, kucari tempat duduk yang masih kosong, tepat di pinggir jendela. Kulihat ayahku masih berdiri, menunggu keberangkatan kereta hingga sampai jauh. Aku masih tetap tersenyum bersama linangan air mata. Ayahku, ibuku, dan juga desa yang kucintai ini pasti akan amat kurindukan. Di dalam hatiku aku semakin bertekad, aku harus bisa menggapai cita-citaku dengan baik. Ikhtiar dan do’a, sudah pasti harus kulakukan.

Perjalanan di dalam kereta memang amat membuatku nyaman, menurutku. Apalagi dengan duduk tepat di pinggir jendela. Di pagi hari yang cerah, pemandangan yang indah tentu sudah sangat cukup untuk menyegarkan penglihatan ini. Inilah salah satu tanda kekuasaanNya. Sesekali kuberanjak dari tempat dudukku, melangkah menuju pintu kereta. Angin berhembus, menerpa hijab biru mudaku, menggerakkan bibirku hingga akhirnya tersenyum reflex, tanpa sadar. Di depan mataku terlihat sawah yang terhampar luas. Langit biru, bersama para awan dan juga burung yang beterbangan semakin memperindah suasana ini.

“Maaf mbak, bisakah Anda menyingkir dulu dari sini?” ucap seorang lelaki berbaju merah dengan celana jins yang begitu rapi, ditambah dengan sepatu ala boybandnya yang senada dengan warna kaos. Aku sedikit hilang fikiran dengan gayanya  saat berbicara itu. Ditambah gaya pakaiannya yang seperti orang kota. Memang tampan, namun raut wajahnya seperti orang yang angkuh. Itulah pemikiranku, sebagai seseorang yang sederhana.

“Kalau ga mau, gimana?” ucapku sinis. “Maaf mbak, hati-hati kalau berdiri di situ, berbahaya.”

Aku terdiam. Di hatiku terjadi perdebatan. Aku menganggapnya orang kota yang angkuh, namun setelah kulihat ternyata ucapannya sangat lembut. Aku bingung, namun saat itu aku lebih mamilih sinis kembali padanya. Orang kota dengan gaya seperti itu pastilah sombong, dan terkadang selalu menyakiti hati orang-orang yang sederhana, apalagi perempuan sepertiku. Bila dia memang berlaku baik padaku, dia pasti memiliki maksud yang tidak baik. Seperti apa yang dikatakan orang-orang di sekitarku, dan juga sesuai dengan pengalaman pribadiku, bahwa laki-laki yang terlihat angkuh namun memiliki wajah yang tampan, pastilah dia selalu menyakiti hati seorang wanita.

“Maaf mbak, berbahaya berdiri di situ, saya hanya memberi tahu.”

“Lagipula….,” aku memotong ucapannya.

“Maaf ya Mas, kalau bahaya ya biar saja. Lagipula berbahaya buat saya, bukan buat Mas!” ucapku semakin sinis. “Tapi mba….”

“Tapi apa? Jangan paksa saya dong!” ucapku dengan lebih sinis lagi.

“Maaf Mbak, silakan jika mau tetap berdiri di situ. Tapi…” ucapnya.

“Tapi apa?” sentakku. Aku tahu ini tidak baik, tapi aku tetap pada pendirianku yaitu berlaku sinis kepada laki-laki, apalagi yang belum kukenal. “Mohon maaf sekali Mbak, kalau saya sudah kelewatan, silakan kalau Mbak berdiri lagi di situ,” ucapnya dengan sopan.

Aku cukup malu sebenarnya. Dia begitu lembut padaku, tapi aku malah menyentaknya. Akupun menjauhi pintu kereta itu dan kembali ke tempat dudukku. Dia pun melewatiku.

          “Makasih, Mbak,” ucap lelaki itu sambal tersenyum kecil. Aku pun melangkah, dalam hati aku masih ingin tetap berdiri di sana. Kutengok ke arah belakangku, kulihat lelaki itu malah berdiri di tempat di       mana aku berdiri tadi kemudian tersenyum. Aku sedikit kesal, kemudian aku pun menghampirinya.

“Katanya mau lewat, nyatanya kamu malah berdiri di situ!” teriakku kepadanya.

“Oh, iya maaf Mbak. Cuma mau berdiri sebentar, sekarangpun mau ke gerbong sebelah. Sekali lagi maaf ya, Mbak,” ucapnya dengan begitu ramah. Dia pun berjalan meninggalkan gerbong yang kutempati, menuju gerbong sebelah. Aku terdiam. Aku pun berdiri kembali di pintu kereta sambil melihat pemandangan dari setiap jalan yang kulewati. Akupun dapat tersenyum kembali dengan melihat semua itu.

Dari pagi sampai siang, gerbong yang kutempati memang penuh. Namun ternyata lama-kelamaan, penumpang satu persatu turun dari kereta. Gerbong mulai kosong, maklumlah memang tujuan yang kutuju adalah stasiun pemberhentian akhir, jadi aku harus tetap duduk di kereta hingga stasiun akhir, yaitu Malang. Cukup sepi juga. Aku masih tetap asik melihat pemandangan sambil duduk di kursi dekat jendela kereta. Aku merenung dan terkadang tersenyum sendiri. Kulihat kembali lelaki berkaos merah tadi, duduk di dekat pintu gerbong sambil memegang kamera SLRnya. Dia memotret segala yang ada di sekitarnya, dan dia seperti memotret ke arahku. Rasa suudzon mulai muncul kembali di dalam hatiku, sepertinya dia hendak mengambil foto wajahku. Aku pun beranjak dari tempatku, dan langsung menghampirinya.

“Kamu memfotoku? Buat apa, kamu orang asing, berani-beraninya mengambil fotoku!” ucapku dengan nada yang cukup tinggi. Dia hanya terdiam. Aku pun merebut SLR di tangannya. Kulihat foto-foto yang tadi dia ambil. Ternyata bukan fotoku, ada beberapa foto yang kulihat  dan itu adalah foto-foto pemandangan di sepanjang jalan yang telah dilewati.

Seketika itu dia merebut kembali SLRnya dengan wajah yang sinis. Aku amat tak berkutik waktu itu. Dia sepertinya kesal padaku. Aku terdiam, aku merasa amat bersalah.

“Maaf, Mas,” ucapku. Tanpa melihat wajahnya, aku langsung berlari ke tempat dudukku. Aku malu, mengapa aku harus suudzon kepadanya, ditambah lagi kejadian tadi pagi saat aku menyentaknya. Semakin aku mengingatnya, semakin ku merasa bersalah padanya. Perjalanan masih jauh, aku belum shalat Dhuhur. Biarlah, mungkin nanti bisa diqashar. Kereta berhenti di sebuah stasiun, menunggu penumpang yang akan segera masuk. Sesekali pengamen dan para pedagang masuk. Seorang anak kecil datang menghampiri penumpang dan memberikan amplop yang bertuliskan sesuatu. Anak kecil yang seharusnya menempuh pendidikan di sekolah, kini harus menyambung hidupnya demi sesuap nasi dan berharap ada yang empati kepadanya. Aku bersyukur, kehidupanku lebih baik daripadanya yang harus mencari nafkah sendiri. Sementara aku masih bergantung kepada orangtuaku.


Pesan yang terdapat dalam cerita tersebut yakni jangan suudzon kepada orang yang tidak kita kenal. Waspada boleh.

(ed:Ozan)

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...