Menggores Masa Depan
dengan Tulisan
Merencanakan masa depan berbasis “Al Qur’an”
Konsep masa depan
seperti yang terdapat pada Al Quran, hendaknya memperhatikan apa yang telah
diperbuat pada masa yang telah lalu untuk merencanakan hari esok (masa depan).
Sebagaimana termaktub dalam Al Quran surat Al Hasyr ayat 18, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Dari ayat di atas
dijelaskan bahwa hal yang utama yakni seorang hamba diminta untuk bertakwa
kepada Allah. Menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala
larangan-Nya dengan berbagai konsekwensinya. Perintah bertakwa kepada Allah ini
menjadi perhatian pertama bagi seorang hamba. Ketika sudah mengikrarkan diri
dengan meyakini bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, menciptakan segala
sesuatu yang ada di langit dan di bumi, maka syarat berikutnya yakni
menjalankan apapun yang diperintahkan Allah di dalam Al Quran, maupun yang
telah diajarkan Rasulullah SAW dengan mengikuti sunnah-sunnahnya.
Melalui berbagai
dalil dan bukti empirik pada diri Sahabat Nabi Muhammad SAW, diketahui tujuan
utama Islam adalah rahmatan lil alamiin (rahmat
bagi seluruh alam) dan kaffatan linnas (untuk
seluruh manusia). Kedua misi besar itu hanya bisa dicapai dengan adanya individu-individu
berakhlaq mulia. Pribadi penuh pesona, punya daya pikat serta daya undang yang
luar biasa hebat, hanya bisa dicapai dengan cara memahami dan mengamalkan Al
Quran. Itulah yang diperagakan para Sahabat dahulu. Maka, hanya orang-orang
tertentu, individu-individu yang mulia, ketika merenanakan sesuatu selalu
berlandaskan dan berbasis pada Al Quran. Segala rancangan, tahap, bahkan
tujuan, dan endingnya selalu berlandaskan pada Al Quran. Tidak dipungkiri,
kehidupannya selalu berlandaskan pada apa yang telah digariskan Allah sesuai
tuntunan di dalam Al Quran.
Perlu diketahui
bersama bahwa, banyak nilai-nilai dalam Al Quran yang belum diangkat ke
permukaan, sebagai resep-resep paling mujarab dalam membentuk kepribadian
manusia. Sebagai solusi terbaik dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan
bernegara. Implementasi nilai-nilai Al Quran yang diharap adalah bisa
melahirkan sosok yang jujur dan bertanggungjawab, di dalam menjalankan amanah
yang diberikan sehingga ia mampu memberikan sebuah solusi untuk rancangan masa
depan yang lebih baik.
Al Quran dapat
Memberikan Motivasi dan Semangat Hidup
Motivasi
berasal dari bahasa Inggris “motion” artinya gerakan atau sesuatu yang
bergerak. Motivasi secara umum adalah rangsangan atau dorongan/pembangkit yang
membuat manusia melakukan sesuatu. Motivasi bisa hadir melalui berbagai cara,
bisa melalui diri sendiri, orang lain, maupun objek-objek tertentu.
Motivasi memiliki
pengaruh yang kuat bagi seseorang untuk melalukan sesuatu atau memberikan
semangat yang selalu berhasil membuat keadaan seseorang menjadi lebih baik.
Tanpa sadar, setiap orang membutuhkan motivasi dan memiliki harapan baru berkat
motivasi tersebut. Dengan kekuatan motivasi, suasana hati dan perilaku
seseorang bisa berubah ke arah yang lebih positif. Seakan-akan telah menemukan
bahkan mendapatkan energi positif dari dalam diri dan direalisasikan dalam
suatu perubahan perilaku yang produktif.
Alhasil, jika kamu
ingin mendapatkan motivasi untuk diri sendiri, orang lain, ataupun yang lain,
kita bisa mendapatkannya melalui ayat-ayat Al Quran yang kit abaca.
Firman-firman Allah yang tertulis dalam Al Quran bisa kita jadikan motivasi
hidup. Ada beberapa ayat Al Quran yang bisa kita jadikan rujukan untuk bisa
membangkitkan motivasi hidup, diantaranya Al Quran surat Al Baqarah ayat 216
yang artinya “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan
boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui
dan kamu tidak mengetahui.” Ada juga di surat Al Baqarah ayat 286, yang artinya
“Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Pada ayat ini memberikan penjelasan singkat dan padat bahwasanya ketika kita
mendapatkan musibah, Allah tidak menurunkan suatu ujian atau cobaan kepada
hamba-Nya melainkan karena hamba tersebut mampu untuk menanggungnya.
Adapun di surat yang
lainnya, terdapat di surat Ath Thoriq ayat 2-3, yang artinya “Barangsiapa
bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya dan
memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barangsiapa yang
bertawakal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya. Sesungguhnya Allah
melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya.”
Melalui ayat ini, Allah akan menjanjikan kepada hamba-Nya bahwa ketika ia
bertakwa, maka apapun kesulitan yang dihadapi akan ada jalan keluar. Sesulit
persoalan apapun yang menimpanya, apabila ia bertakwa, maka solusi sudah ada di
depan mata. Selain itu, ketika solusi dan jalan keluar sudah ada di depan mata,
Allah sudah menyediakan rizki bagi hamba yang bertakwa. Rizki tidak hanya
berupa materi atau seringkali kita menyebut uang, tetapi yang namanya rizki
bisa jadi keluarga yang kita bangun selalu harmonis, anak menjadi enak
dipandang (qurrota ‘ayun), atau keluarga kita dalam kondisi sehat wal afiat.
Motivasi-motivasi
yang sebenarnya riil untuk kita nikmati bahkan yang sangat kita butuhkan
sebenarnya bukan hanya untaian kata demi kata, kalimat demi kalimat, atau
berjam-jam kita duduk mendengarkan para motivator berbicara di depan kita,
tetapi motivasi yang terbukti ampuh bahkan berdampak kepada masa depan kita
bukan hanya di dunia yakni di akhirat, adalah huruf demi huruf, kata demi kata,
dan ayat demi ayat yang terdapat di dalam Al Quran. Jadi, sebagai orang yang
beriman, sudah pantas dan layak jika ingin mendapatkan dorongan dan motivasi
yang terbaik adalah selalu membaca, mendalami, dan mengamalkan Al Quran.
Namun itu semua tidak
cukup untuk dipelajari sendiri, apabila tidak mampu mengerti, bahkan mendalami
semua ayat yang ada di dalam Al Quran. Seorang yang ahli, bisa juga seorang
ustadz, kiyai, ulama, bahkan kita membaca tafsirnya sebagai jalan dalam
mendalami dan mengerti lebih jauh bacaan, arti, dan makna dalam Al Quran. Oleh
karena itu, perlu adanya belajar Al Quran dengan orang yang memahami dan
mengerti AL Quran. Mendatangi majelis Quran, menghadiri kajian Al Quran adalah
salahsatu untuk mendapatkan motivasi dan dorongan hidup dalam keseharian kita.
Inilah keajaiban Al Quran. Kitab penyempurna di antara kitab-kitab yang pernah
diturunkan kepada para nabi-Nya.
Iqra’
Di dalam Al Quran
terdapat sebuah surat yang menganjurkan kita untuk selalu mendalami keagungan
Allah. Dalam hal ini bagaimana Allah menciptakan manusia, yang berasal dari
segumpal darah. Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad ketika
berada di goa hiro’. Yakni surat Al Alaq.
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي
خَلَقَ ١
خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ
٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣
ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ
٤
عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ
يَعۡلَمۡ ٥
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي
خَلَقَ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٱلَّذِي
عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ
Artinya,
1. Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah,
dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang
mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia
mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dari ayat di atas, dijelaskan bahwa Allah sebagai Kholiq
sang Pencipta, menciptakan manusia dari segumpal darah. Ini menandakan bahwa
Allah sangat berkuasa. Tidak ada yang bisa melebihiNya. Selain itu, Allah
mengajarkan kepada hambaNya yang mana hamba tersebut tidak mampu sama sekali
atas apa yang terjadi di dunia ini.
Selain kita diperintahkan untuk membaca, kita
diperintahkan untuk tidak menyombongkan diri. Karena sebagaimana ayat di atas,
kita tidak tahu sama sekali alias buta ketika kita lahir di bumi. Kesombongan
dan merasa bangga diri, tidak seharusnya dimiliki oleh manusia. Sungguh, ilmu
Allah sangat luas dan tidak ada yang menandingi.
Goresan tulisan merubah masa depan
Setelah
kita mempelajari satu demi satu apa yang sudah dijelaskan di dalam Al Quran,
dari penjelasan tulisan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, Allah yang
Maha Kuasa yang bisa merubah segalnya. Masa depa yang ada akan terjadi, belum
tentu dapat kita rasakan bahkan kita nikmati tatkala Allah sudah berkehendak
untuk memanggil hambaNya. Maka, manusia hanya berhak merencanakan dan Allah
yang menentukan.
Ketika
masa depan yang akan terjadi belum bisa kita nikmati, maka tugas manusia adalah
merencanakan dan mengatur strategi langkah apa yang harus dilakukan manusia ke
depannya. Bagaimana ketika kita masih tahap belajar di jenjang dasar, yakni di
Taman Kanak-kanan (TK) dan Sekolah Dasar (SD), seringkali guru kita menanyakan
‘apa cita-cita kalian di masa depan?’ banyak di antara para murid menjawab
dengan lantang dan penuh percaya diri, “saya mau menjadi polisi”, “saya mau
menjadi dokter”, “saya mau menjadi pilot”, dan sebagainya. Dari jawaban yang
polos tersebut, dapat ditarik kesimpulan, ternyata sejak kecil kita sudah
mempunyai gambaran apa yang akan kita inginkan ke depannya. Hal ini dilatarbelakangi
oleh apa yang terjadi di sekelilingnya. Maka tidak heran, apa yang dilihat
sebagai gambaran orang sukses, ia jawab dengan percaya diri, suatu saat ia akan
menjadi seperti dia.
Tidak hanya apa yang
dilihat sebenarnya jika ia ingin menjadi orang sukses di masa depannya. Lewat
tulisanpun kita mampu menjadi orang sukses, bahkan mampu merubah dunia dengan
tulisan. Seorang penulis wanita Indonesia, Helvy Tiana Rosa dalam sebuah acara
di Batam pernah mengatakan, “Jika
saat kita menulis nanti menghasilkan honor dan kita jadi terkenal itu adalah
bonus, yang menjadi poin penting adalah kita mampu mewariskan ilmu yang umurnya
lebih panjang dari usia kita. Dan itu merupakan bekal kita nanti saat di
akhirat.”
Dari
pernyataan tersebut, hal yang penting adalah bagaimana kita mewariskan sebuah
ilmu yang mana umur dai ilmu tersebut lebih panjang dari usia kita. Selain itu,
tulisan yang terdapat dalam ilmu tersebut bermanfaat di masa depan kita yakni
di akhirat. Sudah selayaknya kita mampu mengukir prestasi di dunia dengan
menelurkan ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Maka, goresan pena yang
terukir dalam sebuah tulisan, tidka hanya sekedar dinikmati dan lenyap begitu
saja tanpa membawa perubahan dalam diri manusia, tetapi tulisan dan goresan
pena kita mampu merubah masa depan dan bermanfaat baik untuk masa depan di
dunia dalam mengarungi kehidupan ini, serta dapat kita rasakan faedah dan
mendapatkan ganjaran atau pahala yang terus mengalir untuk kita, yakni berguna
untuk timbangan di akhirat kelak.
Masa
depan terus kita ukir dengan goresan tulisan, bisa jadi kita akan dikenang di
masa depan bahwa kita punya karya dan karya tersebut dapat dinikmati dan mampu
mengubah diri seseorang menjadi lebih baik. Ketika mulut kita tidak mampu
mengubah perilaku manusia, ketika tindakan kita tidak bisa merubah kebiasaan
manusia dari yang sebelumnya tidak baik, maka bisa jadi tulisan yang kita
goreskan mampu memnggetarkan jiwa yang paling dalam pada diri manusia, sehingga
tersentuh dan membawa perubahan menuju arah lebih baik.
Di
akhir tulisan ini, saya akan mengutip sebuah pernyataan dari Imam Al Ghozali,
“Jika kau bukan anak raja dan bukan anak ulama, maka menulislah.” Sungguh
menulis sangat besar dampaknya dan luas jangkauannya. Jadi, menggores masa
depan dengan tulisan adalah besar dampaknya dan luas jangkauannya.
Terima
kasih
Achmad
Fauzan
Profil
Penulis
Penulis
yang lahir di Kota Pahlawan Surabaya ini, sejak kecil memang hobi membaca.
Apapun buku bacaan yang dibelikan orangtuanya, tuntas. Selain hobi membaca,
kegemaran dalam memainkan si kulit bundar atau sepak bola sudah menjadi
permainan yang disukai hingga sekarang. Ditambah kegemaran dalam mengayuh
sepeda. Setiap hari Ahad pagi selalu menyempatkan diri bersepeda ria dengan
teman dan komunitasnya. Saat ini mengajar di SMP Ar-Rohmah Boarding School
Pesantren Hidayatullah Malang. Tepatnya di Desa Sumbersekar Kecamatan Dau
Kabupaten Malang. Asyik di dunia mengajar, tidak melupakan dalam hal
tulis-menulis. Akhirnya, beberapa tulisan pernah dimuat di media dan bahkan
dibukukan. Salah satu judul yang cukup menghentak yaitu, “Kelas (bukan)
Neraka”, pernah menjuarai di tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan
Pendidikan Pesantren Hidayatullah, yang diikuti dari ribuan penulis dan insan
pendidikan di bawah organisasi Hidayatullah.
Selain
kegemaran dalam olahraga dan membaca, penulis juga akan menelurkan sebuah
antologi cerita pendek (cerpen), karya SMP Ar-Rohmah Boarding School kelas IX
tahun pelajaran 2019/2020. Antologi cerpen tersebut akan dicetak pada tahun
2020 saat ini. Penulis yang dikaruniai dua anak perempuan yang bernama Rufaidah
Izzatul Islamy dan Zahrona Namira Ramadhani ini aktif di beberapa organisasi
kepemudaan, baik di wilayah (provinsi) maupun di daerah. Salah satunya menjadi
Pengurus WIlayah (PW) Pemuda Hidayatullah Jawa Timur.