Senin, 17 Agustus 2020

Pujian itu adalah Ujian, Larangan Memuji Berlebihan

Pujian itu adalah Ujian, Larangan Memuji Berlebihan

Diriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seseorang yang memuji temannya di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian beliau bersabda,

وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قطعت عنق صاحبك – مرارا-. إِذا كانِ أَحَدُكُمْ مادِحاً صَاحِبَهُ لاَ مَحالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلاناً وَاللهُ حَسِيْبُهُ وَلا أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَداً

"Celaka kamu, kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu -berulang-ulang-. Kalaupun salah seorang di antara kalian harus memuji temannya maka hendaknya dia mengatakan: ‘Aku mengira dia seperti itu dan Allah lah yang menghisabnya, aku tidak memuji siapapun di hadapan Allah’.” [HR. Muslim]

Beberapa Pelajaran yang Terdapat dalam Hadits :

1⃣ Hakikat pujian adalah ujian, karena fitnah (ujian) itu bisa berupa ujian kebaikan maupun keburukan.

2⃣ Pujian adalah ujian berupa kebaikan, karena ketika kita dipuji, bisa jadi kita akan merasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan kita lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah, kemudian kita merasa hebat dan sombong serta lupa bersyukur. Kagum terhadap diri sendiri merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan.

3⃣ Kita lebih butuh do'a daripada pujian, karena biasanya pujian dapat menipu diri kita.

Sufyan bin Uyainah berkata,

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ : ﻻ ﻳَﻐُﺮُّ ﺍﻟﻤَﺪﺡُ ﻣَﻦ ﻋَﺮَﻑَ ﻧﻔﺴَﻪُ

“Para ulama mengatakan, bahwa pujian orang tidak akan menipu orang yang tahu diri (tahu bahwa ia tidak sebaik itu dan banyak aib serta dosa).”

4⃣ Dalam riwayat lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sangat tegas memerintahkan agar memberi hukuman kepada orang yang terlalu sering dan berlebihan memuji orang lain.

Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَمَرَنَا رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَحْثُوَ فِي وُجُوْهِ الْمَدَّاحِيْنَ التُّرَابَ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke wajah-wajah orang yang berlebihan dalam memuji.” [HR. Muslim]

5⃣ Apakah tidak boleh memuji orang sama sekali? Jawabannya adalah boleh sesekali memuji jika ada maslahat, misalnya dapat menimbulkan motivasi dan kebaikan pada orang tersebut.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin memberi rincian hukum memuji dan membolehkan hal tersebut jika ada maslahat, beliau berkata,

أن يكون في مدحه خير وتشجيع له على الأوصاف الحميدة والأخلاق الفاضلة، فهذا لا بأس به؛ لأنه تشجيع لصاحبه

“Jika pada pujian terdapat kebaikan dan motivasi baginya atas sifatnya yang terpuji dan akhlak yang mulia, hal ini tidak mengapa karena bisa memberikan motivasi kepada orang tersebut.”

6⃣ Agar kita tidak tertipu oleh pujian tersebut sehingga membuat kita menjadi sombong, hendaknya kita membaca do'a berikut ini ketika dipuji.

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻻَ ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧِﻲْ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ، ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟِﻲْ ﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮْﻥَ ‏ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲْ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﻈُﻨُّﻮْﻥَ

“Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan.” [HR. Bukhari]

Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an :

Allah Ta’ala berfirman,

ﻭَﻧَﺒْﻠُﻮﻛُﻢ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓِﺘْﻨَﺔً ﻭَﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’: 35)

5 Keutamaan Bermajelis Taklim

5 Keutamaan Bermajelis Taklim 


1.Dimudahkan jalannya menuju surga

Orang yang keluar dari rumahnya menuju masjid untuk menuntut ilmu syar’i, maka ia sedang menempuh jalan menuntut ilmu. Padahal Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga” (HR. At Tirmidzi no. 2682, Abu Daud no. 3641, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

2. Mendapatkan ketenangan, rahmat dan dimuliakan para Malaikat

Orang yang mempelajari Al Qur’an di masjid disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapat ketenangan, rahmat dan pemuliaan dari Malaikat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699).

3. Merupakan jihad fi sabilillah

Orang yang berangkat ke masjid untuk menuntut ilmu syar’i dianggap sebagai jihad fi sabilillah. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن دخَل مسجِدَنا هذا لِيتعلَّمَ خيرًا أو يُعلِّمَه كان كالمُجاهِدِ في سبيلِ اللهِ ومَن دخَله لغيرِ ذلكَ كان كالنَّاظرِ إلى ما ليس له

“Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) untuk mempelajari kebaikan atau untuk mengajarinya, maka ia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa yang memasukinya bukan dengan tujuan tersebut, maka ia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan miliknya” (HR. Ibnu Hibban no. 87, dihasankan Al Albani dalam Shahih Al Mawarid, 69).

4. Dicatat sebagai orang yang shalat hingga kembali ke rumah

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu), maka selama ia berada di majelis ilmu dan selama ada di masjid, ia terus dicatat sebagai orang yang sedang shalat hingga kembali ke rumah.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا تَوضَّأَ أحدُكُم في بيتِهِ ، ثمَّ أتَى المسجدَ ، كان في صلاةٍ حتَّى يرجعَ ، فلا يفعلْ هكَذا : و شبَّكَ بينَ أصابعِهِ

“Jika seseorang berwudhu di rumah, kemudian mendatangi masjid, maka ia terus dicatat sebagai orang yang shalat hingga ia kembali. Maka janganlah ia melakukan seperti ini.. (kemudian beliau mencontohkan tasybik dengan jari-jarinya)” (HR. Al Hakim no. 744, Ibnu Khuzaimah, no. 437, dishahihkan Al Albani dalam Irwaul Ghalil, 2/101).

5. Dicatat amalannya di ‘illiyyin

Jika seorang berangkat ke masjid berniat untuk shalat, kemudian setelah shalat ada pengajian (majelis ilmu) hingga waktu shalat selanjutnya (semisal pengajian antara maghrib dan isya), maka ia terus dicatat amalan kebaikan yang ia lakukan di masjid, di ‘illiyyin.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

صلاةٌ في إثرِ صلاةٍ لا لغوَ بينَهما كتابٌ في علِّيِّينَ

“Seorang yang setelah selesai shalat (di masjid) kemudian menetap di sana hingga shalat berikutnya, tanpa melakukan laghwun (kesia-siaan) di antara keduanya, akan dicatat amalan tersebut di ‘illiyyin” (HR. Abu Daud no. 1288, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Dijelaskan oleh Syaikh Sulaiman bin Amir Ar Ruhaili hafizhahullah:

والكتاب في العلِّيِّينَ كتاب لا يكسر و يفتح إلى يوم القيامة محفوظ لا ينقص منه شيئ

“Catatan amal di ‘illiyyin adalah catatan amal yang tidak akan rusak dan tidak akan dibuka hingga hari kiamat, tersimpan awet, tidak akan terkurangi sedikit pun”

Semoga Allah Ta’ala menambahkan semangat kepada kita berjamaah untuk terus menuntut ilmu syar’i bersumber kepada Al Quran dan As Sunnah, terutama di zaman penuh Syubuhat dan penuh fitnah ini hingga kita husnul khatimah. 

Aamiin Yaa Robbalalamiin

Wallahualam Bissawab

Manfaat Teman yang Sholih

Manfaat Teman yang Sholih


Diriwayatkan dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholeh dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Beberapa Pelajaran yang Terdapat dalam Hadits :

1⃣ Imam Al-Ghazali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfah Al-Ahwadzi, 7: 94)

Teman yang sholeh punya pengaruh untuk menguatkan iman dan terus istiqamah karena kita akan terpengaruh dengan kelakuan baiknya hingga semangat untuk beramal. Sebagaimana kata pepatah Arab,

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ

“Yang namanya sahabat bisa menarik (mempengaruhi).”

2⃣ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344)

3⃣ Ahli hikmah juga menuturkan,

يُظَنُّ بِالمرْءِ مَا يُظَنُّ بِقَرِيْنِهِ

“Seseorang itu bisa dinilai dari orang yang jadi teman dekatnya.”

Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang sholeh.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ

“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8: 435)

Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang sholeh, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang sholeh dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang sholeh lainnya.

‘Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”

Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thir Al-Anfas min Hadits Al-Ikhlas, hlm. 466)

4⃣ Manfaat Berteman dengan Orang Sholeh :

1- Dia akan mengingatkan kita untuk beramal shalih, juga saat terjatuh dalam kesalahan.

Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaan kamu seperti itu?” Wanita itu menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.”

Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abu Darda’ berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.

Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman lagi berkata padanya, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah.” Lalu mereka shalat bersama-sama. Setelah itu, Salman berkata kepadanya,

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“

Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari, no. 1968).

2- Dia akan mendo'akan kita dalam kebaikan.

Dari Shafwan bin ‘Abdillah bin Shafwan –istrinya adalah Ad Darda’ binti Abid Darda’-, beliau mengatakan,

“Aku tiba di negeri Syam. Kemudian saya bertemu dengan Ummu Ad-Darda’ (ibu mertua Shafwan, pen) di rumah. Namun, saya tidak bertemu dengan Abu Ad-Darda’ (bapak mertua Shafwan, pen). Ummu Ad-Darda’ berkata, “Apakah engkau ingin berhaji tahun ini?” Aku (Shafwan) berkata, “Iya.” Ummu Darda’ pun mengatakan, “Kalau begitu do’akanlah kebaikan pada kami karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,”

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”

Shafwan pun mengatakan, “Aku pun bertemu Abu Darda’ di pasar, lalu Abu Darda’ mengatakan sebagaimana istrinya tadi. Abu Darda’ mengatakan bahwa dia menukilnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim, no. 2733)

Saat kita tasyahud, kita seringkali membaca bacaan berikut,

السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ

“Assalaamu ‘alainaa wa ‘ala ‘ibadillahish shalihiin (artinya: salam untuk kami dan juga untuk hamba Allah yang shalih).”

Disebutkan dalam lanjutan hadits,

فَإِنَّكُمْ إِذَا قُلْتُمُوهَا أَصَابَتْ كُلَّ عَبْدٍ لِلَّهِ صَالِحٍ فِى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ

“Jika kalian mengucapkan seperti itu, maka doa tadi akan tertuju pada setiap hamba Allah yang shalih di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari, no. 831 dan Muslim, no. 402).

Sholihin adalah bentuk plural dari sholeh. Ibnu Hajar berkata, “Sholeh sendiri berarti,

الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده وَتَتَفَاوَت دَرَجَاته

“Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. Kedudukan sholeh pun bertingkat-tingkat.” (Fath Al-Bari, 2: 314).

3- Teman dekat yang baik akan dibangkitkan bersama kita pada hari kiamat.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

قِيلَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ قَالَ « الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ »

“Ada yang berkata pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ada seseorang yang mencintai suatu kaum, namun ia tak pernah berjumpa dengan mereka.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640)

5⃣ Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kita teman yang sholeh di dunia dan akhirat. Aamiin 🤲

Tema Hadits yang Berkaitan dengan Al-Qur'an :

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap wajah-Nya.”  (QS. Al-Kahfi: 28)

Kamis, 06 Agustus 2020

Bersabar

 BERSABAR



Tetap bersabar dalam menjalani berbagai cobaan hidup


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِا لصَّبْرِ وَا لصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ


"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 153)


Rasulullah SAW bersabda,


 عَنْ أُمِّ العَلاَءِ قَالَتْ : عَادَنِيْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مَرِيْضَةً، فَقَالَ : اَبْشِرِىْ يَا أُمِّ العَلاَءِ، فَإِنِّ مَرَضَ المُسْلِمِ يُذْ هِِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْ هِبُ النَّارُ خَببَثَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ 


“Dari Ummu Al-Ala’, dia berkata :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk-ku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. ‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak”. [HR Abu Daud No.3092].


Sabar memiliki kedudukan yang agung di dalam islam, sehingga hanya orang-orang yang benar-benar mendidik dirinyalah yang sanggup untuk bersabar.

Allah berfirman:


وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35


“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Lawanlah (kejahatan itu) dengan perbuatan yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang memiliki bagian yang besar.”

(QS. Fushilat: 34-35).


Cara bersabar adalah:


1. Memperkuat keyakinan bahwa musibah yang menimpa kita adalah bagian dari takdir Allah, dan Allah tidaklah menakdirkan sesuatu kecuali untuk sebuah hikmah yang mungkin tidak kita ketahui.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَا لُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ


"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)


2. Musibah adalah bentuk ujian yang Allah berikan kepada hambaNya, yang jika kita melaluinya maka Allah akan mengangkat derajat kita. Maka, ketahuilah jika kita marah dengan musibah tersebut sejatinya kita marah kepada Allah ﷻ.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


اَحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ


"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?"

(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 2)


3. Ketika kita paham bahwa musibah yang menimpa merupakan takdir Allah, dan Allah ridha musibah itu menimpa kita, maka hendaklah kita juga ridha terhadap apa yang Allah ridhai.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam


مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ


“Tidaklah suatu kelelahan, sakit, kesedihan, kegundahan, bahkan tusukan duri sekali pun, kecuali akan menjadi penghapus dosa baginya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


4. Apapun musibah yang menimpa kita, itu tidaklah lebih besar daripada musibah yang menimpa rasulullah ﷺ dan orang – orang sholih sebelum kita. 


Rasulullah ﷺ bersabda:


أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً اْلأَنِبْيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ


"Manusia yang paling dashyat cobaannya adalah para nabi kemudian orang yang dibawahnya lalu orang-orang yang dibawahnya lagi.”

(HR. Tirmdzi No. 2398).


5. Selalu mengingat bahwa musibah yang menimpa kita disebabkan oleh dosa yang kita perbuat, maka jangan kita menambah dosa tersebut dengan emosi, seharusnya kita langsung bertaubat kepada Allah ketika tertimpa musibah. 


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


وَمَاۤ اَصَا بَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ ۗ 


"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."

(QS. Asy-Syura 42: Ayat 30)


6. Mengingat balasan yang Allah berikan kepada orang – orang yang bersabar:


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


وَجَزٰٓ ؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۚ فَمَنْ عَفَا وَاَ صْلَحَ فَاَ جْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ


"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim."

(QS. Asy-Syura 42: Ayat 40)


Itulah diantara faktor seseorang itu bisa bersabar. Namun, tidak bisa kita pungkiri bahwa sabar itu berat, sehingga kita harus terus mendidik diri kita dan memaksanya agar bisa bersabar, karena latihan kesabaran itu juga butuh kepada kesabaran, dan selalu minta kepada Allah agar Dia menjadikan kita termasuk hamba – hambanya yang bersabar.


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:


فَا سْتَقِمْ كَمَاۤ اُمِرْتَ وَمَنْ تَا بَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

"Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan."

(QS. Hud 11: Ayat 112)

Rabu, 05 Agustus 2020

Lahirkan Generasi Takwa, Cerdas, dan Mandiri yang Memiliki Adab Tinggi

Lahirkan Generasi Takwa, Cerdas, dan Mandiri yang Memiliki Adab Tinggi



Dalam menyambut tahun baru Islam, 1 Muharram 1442, Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang memiliki tagline ‘Semangat Baru, Satukan Visi’ dengan tema ‘Melahirkan Generasi Takwa, Cerdas, dan Mandiri yang Memiliki Adab Tinggi.’

Semangat baru dalam hal ini adalah sebagai presentasi ajaran baru di tengah pandemi covid19 yang melanda hampir di seluruh negeri, bahkan dunia pada umumnya. Yang mana semangat baru di sini sebagai jawaban atas pendidikan yang saat ini stagnan, bahkan harus diawali pembelajaran di dari rumah, namun pendidikan yang mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik, lebih maju, dan berperadaban Islam.

Di LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, kami yakin bahwa pendidikan bukan persoalan mengumpulkan informasi dan pengetahuan sebanyak-banyaknya, namun persoalan membentuk pemikiran dan bersiap menghadapi kehidupan sesungguhnya. Olehnya, LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang didesain bukan hanya sebagai tempat transfer ilmu, namun sekaligus transfer nilai, transfer adab, dan transfer kemandirian. Santri, guru, pengasuh, dan seluruh SDM dibimbing serta diantarkan untuk mengenal, memahami, mempraktikkan, dan menikmati Islam sebagai pedoman hidup yang nyata, bukan hanya teori dan ceramah di kelas maupun mimbar. Inilah yang dimaksud Membangun Peradaban Islam yang menjadi visi besar Hidayatullah, yaitu upaya untuk memanifestasikan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Sebagai lembaga pendidikan yang berbasis Islam, yang mana kurikulum yang didesain dapat mengimplementasikan semua peradaban dalam lingkup kecil yakni SMP-SMA Ar-Rohmah. Perlu diketahui bersama, bahwa dunia saat ini sedang meratap, bahkan menjerit. Mereka sekarang berada di persimpangan jalan antara mau meninggalkan sains dan teknologi yang saat ini sedang didewa-dewakan, tetapi tidak dapat disangkal bahwa terlalu banyak problema sekarang ini yang tidak bisa diatasi dengan sains dan teknologi.

Hadirnya LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang saat ini melalui dunia pendidikannya di bawah naungan organisasi Hidayatullah, harapannya adalah bagaimana anak didik yang dibina, diajari, bahkan seharian didampingi dengan kurikulum integral perpaduan kurikulum Nasional dan Hidayatullah, mampu melahirkan generasi yang bertakwa kepada Allah dengan indikasi ruhiyah dan akidah yang benar, kecerdasan akal yang gemilang mampu membawa peradaban yang lebih baik serta mencari solusi yang terarah dalam bimbingan Allah dan Rasulnya sebagaiana yang terkandung di dalam Al Quran dan Sunnah, serta kemandirian yang mengantarkan anak didik untuk tetap istiqomah di jalan Allah dan hanya berharap/bergantung hanya kepada Allah Subhallahu wa ta’ala.

Hal-hal yang demikian perlu diimbangi dengan pemahaman ulumuddin, ilmu umum, maupun keterampilan yang baik. Pemahaman akan agama tidak sampai mengantarkan anak didik hingga melawan ketentuan dan kekuasaan Allah. Tetapi, semakin dia berilmu semakin takut dan tunduk kepada Allah. Semakin berilmu, semakin bermanfaat dan menambah berkah bagi diri dan sesama. Penunjang kegiatan yang sudah dirancang menjadikan anak didik dalam hal ini santri SMP-SMA Ar-Rohmah memiliki fisik yang tagguh, kuat, dan mampu menghadapi segala permasalahan yang ada.

Pada tahun pelajaran 2020-2021 saat ini, hal yang mendasar dalam sebuah pendidikan adalah adab dan akhlak. Maka, titik dasar visi pendidikan Ar-Rohmah untuk tahun ini dan ke depannya, bagaiamana adab dan akhlak sebagai tolok ukur, tatkala tolok ukur pendidikan yang selalu jadi acuan (UNBK) sudah dihapus. Adab dan akhlak tidak dapat dipisahkan sebagaimana dua sisi koin, saling melengkapi. Setiap santri diproses agar memahami nilai-nilai yang digariskan Islam dan memiliki skills yang dibutuhkan untuk mengaplikasikannya, melalui sistem akademik, halakah pembinaan, Gerakan Pandu Hidayatullah (GPH), dan panduan adab dan akhlak di kelas.  Maka, ketika santri yang dinayatakan lulus dari SMP-SMA Ar-Rohmah selain menjadi generasi yang Takwa, Cerdas, dan Mandiri, santri juga memiliki dasar disiplin, hidup bersih, dan berakhlakul karimah.

Menyongsong tahun baru Islam 1442 H, LPI Ar-Rohmah dengan tagline mengusung ‘Semangat Baru. Satukan Visi’ dengan tema ‘Melahirkan Generasi Takwa, Cerdas, dan Mandiri yang Memiliki Adab Tinggi’. Semoga Tahun Baru Islam 1442 H dapat membawa perubahan bangsa ini menjadi lebih baik ke depannya. Sekaligus melahirkan pemimpin yang amanah, jujur, dan mampu menyejahterahkan ummat, khususnya kaum muslimin. Kelak lahirlah prototipe pemimpin-pemimpin dunia sekaliber para sahabat Nabi, Shalahuddin Al Ayyubi, atau Muhammad Al Fatih dari LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang. Aaminn yaa robbal alamiin

Selamat Tahun Baru Islam

1 Muharram 1442 H

 

 





Selasa, 04 Agustus 2020

Menggores Masa Depan dengan Tulisan

Menggores Masa Depan dengan Tulisan


Merencanakan masa depan berbasis “Al Qur’an”

Konsep masa depan seperti yang terdapat pada Al Quran, hendaknya memperhatikan apa yang telah diperbuat pada masa yang telah lalu untuk merencanakan hari esok (masa depan). Sebagaimana termaktub dalam Al Quran surat Al Hasyr ayat 18,  yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa hal yang utama yakni seorang hamba diminta untuk bertakwa kepada Allah. Menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan berbagai konsekwensinya. Perintah bertakwa kepada Allah ini menjadi perhatian pertama bagi seorang hamba. Ketika sudah mengikrarkan diri dengan meyakini bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, menciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, maka syarat berikutnya yakni menjalankan apapun yang diperintahkan Allah di dalam Al Quran, maupun yang telah diajarkan Rasulullah SAW dengan mengikuti sunnah-sunnahnya.

Melalui berbagai dalil dan bukti empirik pada diri Sahabat Nabi Muhammad SAW, diketahui tujuan utama Islam adalah rahmatan lil alamiin (rahmat bagi seluruh alam) dan kaffatan linnas (untuk seluruh manusia). Kedua misi besar itu hanya bisa dicapai dengan adanya individu-individu berakhlaq mulia. Pribadi penuh pesona, punya daya pikat serta daya undang yang luar biasa hebat, hanya bisa dicapai dengan cara memahami dan mengamalkan Al Quran. Itulah yang diperagakan para Sahabat dahulu. Maka, hanya orang-orang tertentu, individu-individu yang mulia, ketika merenanakan sesuatu selalu berlandaskan dan berbasis pada Al Quran. Segala rancangan, tahap, bahkan tujuan, dan endingnya selalu berlandaskan pada Al Quran. Tidak dipungkiri, kehidupannya selalu berlandaskan pada apa yang telah digariskan Allah sesuai tuntunan di dalam Al Quran.

Perlu diketahui bersama bahwa, banyak nilai-nilai dalam Al Quran yang belum diangkat ke permukaan, sebagai resep-resep paling mujarab dalam membentuk kepribadian manusia. Sebagai solusi terbaik dalam kehidupan sosial bermasyarakat dan bernegara. Implementasi nilai-nilai Al Quran yang diharap adalah bisa melahirkan sosok yang jujur dan bertanggungjawab, di dalam menjalankan amanah yang diberikan sehingga ia mampu memberikan sebuah solusi untuk rancangan masa depan yang lebih baik.

Al Quran dapat Memberikan Motivasi dan Semangat Hidup

Motivasi berasal dari bahasa Inggris “motion” artinya gerakan atau sesuatu yang bergerak. Motivasi secara umum adalah rangsangan atau dorongan/pembangkit yang membuat manusia melakukan sesuatu. Motivasi bisa hadir melalui berbagai cara, bisa melalui diri sendiri, orang lain, maupun objek-objek tertentu.

Motivasi memiliki pengaruh yang kuat bagi seseorang untuk melalukan sesuatu atau memberikan semangat yang selalu berhasil membuat keadaan seseorang menjadi lebih baik. Tanpa sadar, setiap orang membutuhkan motivasi dan memiliki harapan baru berkat motivasi tersebut. Dengan kekuatan motivasi, suasana hati dan perilaku seseorang bisa berubah ke arah yang lebih positif. Seakan-akan telah menemukan bahkan mendapatkan energi positif dari dalam diri dan direalisasikan dalam suatu perubahan perilaku yang produktif.

Alhasil, jika kamu ingin mendapatkan motivasi untuk diri sendiri, orang lain, ataupun yang lain, kita bisa mendapatkannya melalui ayat-ayat Al Quran yang kit abaca. Firman-firman Allah yang tertulis dalam Al Quran bisa kita jadikan motivasi hidup. Ada beberapa ayat Al Quran yang bisa kita jadikan rujukan untuk bisa membangkitkan motivasi hidup, diantaranya Al Quran surat Al Baqarah ayat 216 yang artinya “Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.” Ada juga di surat Al Baqarah ayat 286, yang artinya “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Pada ayat ini memberikan penjelasan singkat dan padat bahwasanya ketika kita mendapatkan musibah, Allah tidak menurunkan suatu ujian atau cobaan kepada hamba-Nya melainkan karena hamba tersebut mampu untuk menanggungnya.

Adapun di surat yang lainnya, terdapat di surat Ath Thoriq ayat 2-3, yang artinya “Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya. Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya.” Melalui ayat ini, Allah akan menjanjikan kepada hamba-Nya bahwa ketika ia bertakwa, maka apapun kesulitan yang dihadapi akan ada jalan keluar. Sesulit persoalan apapun yang menimpanya, apabila ia bertakwa, maka solusi sudah ada di depan mata. Selain itu, ketika solusi dan jalan keluar sudah ada di depan mata, Allah sudah menyediakan rizki bagi hamba yang bertakwa. Rizki tidak hanya berupa materi atau seringkali kita menyebut uang, tetapi yang namanya rizki bisa jadi keluarga yang kita bangun selalu harmonis, anak menjadi enak dipandang (qurrota ‘ayun), atau keluarga kita dalam kondisi sehat wal afiat.

Motivasi-motivasi yang sebenarnya riil untuk kita nikmati bahkan yang sangat kita butuhkan sebenarnya bukan hanya untaian kata demi kata, kalimat demi kalimat, atau berjam-jam kita duduk mendengarkan para motivator berbicara di depan kita, tetapi motivasi yang terbukti ampuh bahkan berdampak kepada masa depan kita bukan hanya di dunia yakni di akhirat, adalah huruf demi huruf, kata demi kata, dan ayat demi ayat yang terdapat di dalam Al Quran. Jadi, sebagai orang yang beriman, sudah pantas dan layak jika ingin mendapatkan dorongan dan motivasi yang terbaik adalah selalu membaca, mendalami, dan mengamalkan Al Quran.

Namun itu semua tidak cukup untuk dipelajari sendiri, apabila tidak mampu mengerti, bahkan mendalami semua ayat yang ada di dalam Al Quran. Seorang yang ahli, bisa juga seorang ustadz, kiyai, ulama, bahkan kita membaca tafsirnya sebagai jalan dalam mendalami dan mengerti lebih jauh bacaan, arti, dan makna dalam Al Quran. Oleh karena itu, perlu adanya belajar Al Quran dengan orang yang memahami dan mengerti AL Quran. Mendatangi majelis Quran, menghadiri kajian Al Quran adalah salahsatu untuk mendapatkan motivasi dan dorongan hidup dalam keseharian kita. Inilah keajaiban Al Quran. Kitab penyempurna di antara kitab-kitab yang pernah diturunkan kepada para nabi-Nya.

 


 

Iqra’

Di dalam Al Quran terdapat sebuah surat yang menganjurkan kita untuk selalu mendalami keagungan Allah. Dalam hal ini bagaimana Allah menciptakan manusia, yang berasal dari segumpal darah. Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad ketika berada di goa hiro’. Yakni surat Al Alaq.

 

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ  ١  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ  ٢  ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ  ٣  ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ  ٤ 

عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ  ٥

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ 

 

Artinya,

1.    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

2.    Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3.    Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

4.    Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

5.    Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dari ayat di atas, dijelaskan bahwa Allah sebagai Kholiq sang Pencipta, menciptakan manusia dari segumpal darah. Ini menandakan bahwa Allah sangat berkuasa. Tidak ada yang bisa melebihiNya. Selain itu, Allah mengajarkan kepada hambaNya yang mana hamba tersebut tidak mampu sama sekali atas apa yang terjadi di dunia ini.

Selain kita diperintahkan untuk membaca, kita diperintahkan untuk tidak menyombongkan diri. Karena sebagaimana ayat di atas, kita tidak tahu sama sekali alias buta ketika kita lahir di bumi. Kesombongan dan merasa bangga diri, tidak seharusnya dimiliki oleh manusia. Sungguh, ilmu Allah sangat luas dan tidak ada yang menandingi.

Goresan tulisan merubah masa depan

Setelah kita mempelajari satu demi satu apa yang sudah dijelaskan di dalam Al Quran, dari penjelasan tulisan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, Allah yang Maha Kuasa yang bisa merubah segalnya. Masa depa yang ada akan terjadi, belum tentu dapat kita rasakan bahkan kita nikmati tatkala Allah sudah berkehendak untuk memanggil hambaNya. Maka, manusia hanya berhak merencanakan dan Allah yang menentukan.

Ketika masa depan yang akan terjadi belum bisa kita nikmati, maka tugas manusia adalah merencanakan dan mengatur strategi langkah apa yang harus dilakukan manusia ke depannya. Bagaimana ketika kita masih tahap belajar di jenjang dasar, yakni di Taman Kanak-kanan (TK) dan Sekolah Dasar (SD), seringkali guru kita menanyakan ‘apa cita-cita kalian di masa depan?’ banyak di antara para murid menjawab dengan lantang dan penuh percaya diri, “saya mau menjadi polisi”, “saya mau menjadi dokter”, “saya mau menjadi pilot”, dan sebagainya. Dari jawaban yang polos tersebut, dapat ditarik kesimpulan, ternyata sejak kecil kita sudah mempunyai gambaran apa yang akan kita inginkan ke depannya. Hal ini dilatarbelakangi oleh apa yang terjadi di sekelilingnya. Maka tidak heran, apa yang dilihat sebagai gambaran orang sukses, ia jawab dengan percaya diri, suatu saat ia akan menjadi seperti dia.

Tidak hanya apa yang dilihat sebenarnya jika ia ingin menjadi orang sukses di masa depannya. Lewat tulisanpun kita mampu menjadi orang sukses, bahkan mampu merubah dunia dengan tulisan. Seorang penulis wanita Indonesia, Helvy Tiana Rosa dalam sebuah acara di Batam pernah mengatakan, “Jika saat kita menulis nanti menghasilkan honor dan kita jadi terkenal itu adalah bonus, yang menjadi poin penting adalah kita mampu mewariskan ilmu yang umurnya lebih panjang dari usia kita. Dan itu merupakan bekal kita nanti saat di akhirat.”

Dari pernyataan tersebut, hal yang penting adalah bagaimana kita mewariskan sebuah ilmu yang mana umur dai ilmu tersebut lebih panjang dari usia kita. Selain itu, tulisan yang terdapat dalam ilmu tersebut bermanfaat di masa depan kita yakni di akhirat. Sudah selayaknya kita mampu mengukir prestasi di dunia dengan menelurkan ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Maka, goresan pena yang terukir dalam sebuah tulisan, tidka hanya sekedar dinikmati dan lenyap begitu saja tanpa membawa perubahan dalam diri manusia, tetapi tulisan dan goresan pena kita mampu merubah masa depan dan bermanfaat baik untuk masa depan di dunia dalam mengarungi kehidupan ini, serta dapat kita rasakan faedah dan mendapatkan ganjaran atau pahala yang terus mengalir untuk kita, yakni berguna untuk timbangan di akhirat kelak.

Masa depan terus kita ukir dengan goresan tulisan, bisa jadi kita akan dikenang di masa depan bahwa kita punya karya dan karya tersebut dapat dinikmati dan mampu mengubah diri seseorang menjadi lebih baik. Ketika mulut kita tidak mampu mengubah perilaku manusia, ketika tindakan kita tidak bisa merubah kebiasaan manusia dari yang sebelumnya tidak baik, maka bisa jadi tulisan yang kita goreskan mampu memnggetarkan jiwa yang paling dalam pada diri manusia, sehingga tersentuh dan membawa perubahan menuju arah lebih baik.

Di akhir tulisan ini, saya akan mengutip sebuah pernyataan dari Imam Al Ghozali, “Jika kau bukan anak raja dan bukan anak ulama, maka menulislah.” Sungguh menulis sangat besar dampaknya dan luas jangkauannya. Jadi, menggores masa depan dengan tulisan adalah besar dampaknya dan luas jangkauannya.

Terima kasih

Achmad Fauzan


 

Profil Penulis

Penulis yang lahir di Kota Pahlawan Surabaya ini, sejak kecil memang hobi membaca. Apapun buku bacaan yang dibelikan orangtuanya, tuntas. Selain hobi membaca, kegemaran dalam memainkan si kulit bundar atau sepak bola sudah menjadi permainan yang disukai hingga sekarang. Ditambah kegemaran dalam mengayuh sepeda. Setiap hari Ahad pagi selalu menyempatkan diri bersepeda ria dengan teman dan komunitasnya. Saat ini mengajar di SMP Ar-Rohmah Boarding School Pesantren Hidayatullah Malang. Tepatnya di Desa Sumbersekar Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Asyik di dunia mengajar, tidak melupakan dalam hal tulis-menulis. Akhirnya, beberapa tulisan pernah dimuat di media dan bahkan dibukukan. Salah satu judul yang cukup menghentak yaitu, “Kelas (bukan) Neraka”, pernah menjuarai di tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Dewan Pendidikan Pesantren Hidayatullah, yang diikuti dari ribuan penulis dan insan pendidikan di bawah organisasi Hidayatullah.

Selain kegemaran dalam olahraga dan membaca, penulis juga akan menelurkan sebuah antologi cerita pendek (cerpen), karya SMP Ar-Rohmah Boarding School kelas IX tahun pelajaran 2019/2020. Antologi cerpen tersebut akan dicetak pada tahun 2020 saat ini. Penulis yang dikaruniai dua anak perempuan yang bernama Rufaidah Izzatul Islamy dan Zahrona Namira Ramadhani ini aktif di beberapa organisasi kepemudaan, baik di wilayah (provinsi) maupun di daerah. Salah satunya menjadi Pengurus WIlayah (PW) Pemuda Hidayatullah Jawa Timur.

 




 

 

 


Generasi 554

Generasi 554


Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Maidah: 54)

Kaum Terbaik, Generasi Pilihan Allah, Generasi 554 Jadikan Dirimu Bagian Dari Mereka

Ayat ini dikenal dengan ayat generasi 554 karena berada pada surah ke 5 (surah al-Maidah) ayat ke 54. Ayat ini menyebutkan tentang generasi terbaik yang Allah pilih untuk menjadi penolong agama-Nya, tatkala orang-orang berpaling dari memperjuangkan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Islam akan senantiasa jaya, ada atau tanpa keberadaan kita dalam barisan perjuangan ini. Maka kita harus mengambil peran dalam perjuangan demi kejayaan Islam untuk menyelamatkan diri kita. Sebab jika tidak, Islam akan meninggalkan kita dengan kejayaannya, sedangkan kita terpuruk dalam lembah kehinaan yang dapat membinasakan.

Pada kesempatan kali ini, kami akan menyingkap makna yang terkandung dalam ayat tersebut, sebagaimana telah dijelaskan oleh Pembina LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang pada acara Rapat Kerja LPI Ar-Rohmah hari Jumat, 12 Juni 2020. Beliau memaparkan bahwa, jika ingin menjadi generasi yang Allah janjikan pada sebagaimana termaktub pada ayat tersebut, maka seorang santri sebagai generasi pelanjut para ulama memiliki hal-ahl sebagai berikut:

1.     Visioner

Sebagaimana para pendahulu Negara tercinta kita, khususnya para ulama yang memperjuangkan negeri ini dari penjajah, mereka memiliki visi yang jelas dan terukur. Apa visi mereka? Menjadikan negeri ini sebagai negeri yang merdeka dan terbebas dari cengkeraman para penajajah yang selain ingin menguasai Indonesia juga mereka ingin menyebarkan paham dan agama nasrani. Maka, tidak heran seorang santri memiliki visi yang jelas ketika ingin memasuki bahkan belajar di pesantren. Tidak sekedar belajar ilmu pasti sebagaimana ilmu-ilmu pada umumnya, atau menghafal beberapa hadits dan kitab yang ada, tetapi kehadiran santri ketika belajar di pesantren, maka jelas tujuan dan visinya. Yakni, kelak mereka akan menjadi dan menyiapkan diri sebagai seorang pemimpin yang mana bekal pendidikan umum dibarengi pendidikan agama. Pendidikan tersebut dibarengi dengan adab dan akhlak terpuji. Kelak bekal mereka dalam memimpin negeri ini sebagaimana visi LPI Ar-Rohmah yakni mencetak generasi yang Takwa, Cerdas, dan Mandiri. Visi harus jelas, tujuan harus jelas, dan meraihnya penuh perjuangan dan kesungguhan. Mustahil bila ingin menjadi seorang pemimpin tidak memiliki visi yang jelas.

2.     Berjiwa juang tinggi

Ketika santri sudah jelas visi yang akan diraihnya di masa depan dengan kesungguhan dan keseriusan, maka pantaslah jika visi tersebut harus diraih dengan keistiqomahan yang tinggi. Kesehariannya tertata rapi, jadwalnya terposisi dengan pasti, dan hidupnya terarah dengan aksi. Santri sebagai cikal bakal dalam memimpin bangsa ini, maka selain memiliki visi, yakni memiliki jiwa juang yang tinggi. Kemalasan yang menghampiri di setiap saat, akan perlahan-lahan surut apabila dalam jiwa santri tertempa ketaatan. Taat dalam menjalani kegiatan di pesantren, jiwa juang tinggi yang dimiliki santri akan menjiwai dalam hati, pikiran, dan perilakunya. Kontrol ketaatan inilah urgensi dalam jiwa santri. Sepantasnya sikap taat ini muncul untuk menstimulus jiwa santri dalam meraih cita-cita. Berjiwa juang tinggi sangat dibutuhkan sebagai bekal ke mana arah visi dan tujuan akan direngkuhnya. Jangan sampai kalah dengan berbagai alasan yang ada. Entah itu jauh dari orangtua, fasilitas, maupun teman sekelilingnya.

3.     Sabar dan pantang menyerah

Ketika dihadapkan pada sebuah permasalahan yang ada, santri mampu menghadapinya. Tidak keluh kesah bahkan berputus asa, sampai-sampai harus mengadu ke orangtua. Menuntut ilmu penuh kesabaran dan waktu yang panjang. Tidak cukup dipelajari hanya hitungan hari, bulan, maupun tahun. Maka santri Ar-Rohmah ketika menuntut ilmu di pesantren, tak lain harus memiliki jiwa sabar dan pantang menyerah. Keberadaan orangtua yang jauh dari mata, keluarga yang tidak setiap saat dijumpainya, atau bahkan binatang kesayangannya pun tidak luput akan kasih sayangnya di rumah, santri akan terus berjuang untuk meraih cita-cita demi kemuliaan Islam di negeri ini. Sabar dalam menuntut ilmu, sabar jauh dari ayah dan ibu, sabar dalam menghadapi teman yang tidak satu tujuan, maka itulah kunci sukses seorang santri untuk meraih masa depan yang cemerlang.

4.     Disiplin dan mandiri

Beragam aktivitas yang ada di pesantren Ar-Rohmah, menjadikan santri disiplin waktu dan mandiri dari segala aspek. Bila di rumah selalu dilayani oleh orang tua ataupun pembantu, di pesantren dikerjakan secara mandiri. Apabila di rumah ketika ada baju kotor yang habis dipakai bermain bola, di pesantren sedcara reflex baju yang dipakai otomatis akan dicuci dan dikerjakan sendiri. Kunci sukses sebagai seorang pemimpin yakni, waktu yang Allah berikan kepadanya dapat dimanfaatkan dengan sebagik-baiknya serta bermafaat bagi orang yang ada di sekitarnya. Tersusun rapi, terstruktur rapi, serta menghargai waktu adalah kunci meraih apa yang diinginkan. Disiplin dan mandiri terus terpupuk dalam jiwa santri.

5.     Berani dan bertanggungjawab

Pertama kali calon santri ketika akan menjadi santri Ar-Rohmah, melalui tahap ujian dan wawancara. Kesiapan dalam memasuki era baru yang jauh dari hiruk pikuk kesenangan dunia, menjadikan santri harus berani mengambil tugas mulia yakni menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Ebrani jauh dari keluarga tercinta, khususnya orang tua yang melayani setiap saat, butuh proses tingkat tinggi, yakni berani mengambil peran kemandirian sebagaimana orang tua mereka yang sukses pastinya ditempa dengan beragam masalah dan problematikanya. Apapun masalah yang terjadi di sekelilingnya, tidak menjadikan putus asa. Problematika yang dihadapi di sekelilingnya, tidak menjadikan jiwa kerdil dalam dirinya. Tentu setiap jiwa pasti mempunyai masalah dan problematikanya masing-masing. Santri Ar-rohmah berani dan bertanggungjawab kepada Allah, orangtua, dan masyarakat pada umumnya bahwa tugas mulia yang akan diemban di kemudian hari, harus diimbangi sikap berani dan bertanggungjawab.

6.     Kreatif dan inovatif

Keterbatasan fasilitas dan kelengkapan yang ada, mencetak santri untuk terus kreatif dan inovatif. Walaupun di luar sebagaimana yang diketahuinya, semua fasilitas yang mendukung, bukan berarti menjadikan jiwa mampu berkreasi dan berinovasi. Maka santri Ar-Rohmah yakin seyakin-yakinnya bahwa ide brilian tidak cukup hanya dipikirkan saja, tapi perlu diaplikasikan dalam bentuk karya nyata.

7.     Ikhlas mengabdi

Kunci untuk menjadikan jiwa generasi muda saat ini yakni terus istiqomah dalam kebaikan dan kesabaran yang diikhtiari dengan ikhlas mengabdi. Terjun ke masyarakat adalah langkah awal dalam mengabdi, sosialisasi di masyarakat adalah langkah awal dalam berbakti. Maka, ketika santri dinyatakan lulus dari pesantren, tumbuh keikhlasan dan keridhoan untuk mengabdi di masyarakat.

Demikian, kriteria generasi 554 yang terkandung dalam surat Al Maidah ayat 54. Semoga kita menjadi santri yang siap memikul amananah Allah di muka bumi sebagai hamba dan khalifahNya.  (cak Ozan)


Sekolah para "Penggubah Dunia"

Sekolah para “Penggubah Dunia”


Pendidikan adalah senjata utama untuk memecahkan hampir semua yang kita hadapi di kehidupan sehari-hari. Mengutip ungkapkan populer Nelson Mandela; Education is the most powerful weapon which you can use to change the world (pendidikan adalah senjata paling hebat yang kamu dapat gunakan untuk mengubah dunia).

Saat ini terbukti perubahan sekolah pada abad 21 menghadapi tantangan yang lebih kompleks dengan berkembangnya teknologi informasi. Tuntutan perubahan dunia yang begitu dinamis mendorong semua element harus mampu beradaptasi sesuai perkembangan zaman. Jadi apa yang harus kita lakukan demi meningkatkan kualitas generasi muda yang unggul? Apa yang harus dilakukan sekolah untuk menghadapi perkembangan zaman?

Pada sebuah rapat kerja LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, Pembina LPI Ar-Rohmah Ust. DR. KH. Ali Imron, M.Ag. mengatakan bahwa jika sekolah ini menjadi penggubah dunia, maka setidaknya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a.      Santri memiliki passion yang kuat “Change the World”

Bagi kalangan yang belum memahami bagaimana peran serta seorang santri bagi Negara ini, maka jika ingin menyekolahkan anaknya maka akan disekolahkan di sekolah negeri. Anggapan bahwa, apabila anaknya dimasukkan ke pesantren, maka yang terjadi adalah tidak berkembangnya pemikiran pada anaknya. Inilah stigma yang selama ini jika hanya pesantren sebagai tempat yang kolot. Perlu diketahui bahwa, para pemimpin negeri ini yang sukses menjalankan roda kepemimpinannya, maka akan kita temui bahwa santri sangat berperan bagi negeri ini bahkan untuk dunia. Oleh karena itu, menjadikan santri memiliki passion yang kuat. Yang ada dalam pikiran dan hati mereka, selain mempelajari kitab dan buku yang ada di pesantren, yakni bagaimana bias merubah dunia menjadi lebih baik.

Gairah ini perlu disikapi dan diimplementasikan dalam jiwa santri, tidak mungkin mereka akan menjadi seorang pemimpin, apabila di dalam pikiran dan hati mereka tidak ada semangat untuk menjadi seorang pemimpin. Mereka ditempa 24 jam dalam sebuah kegiatan menjauhkan mereka dari hal-hal yang kurang bermanfaat. Setiap pagi sebelum shubuh, dibangunkan untuk menunaikan sholat malam sebagai ikhtiar jalan satu-satunya untuk mencurahkan persoalan dan mencari jalan solusi adalah kepada Allah. Dilanjutkan dengan sholat shubuh, ngaji, persiapan sekolah, hingga malam pun masih penuh dengan kegiatan. Jadi, pesantren adalah tempat solusi mencetak seorang santri untuk merubah dunia.

b.      Mereka (santri) sekolah untuk mengasah rasa ingin tahu, merangsang imajinasi, dan berolah kreativitas, dan daya cipa

Ketika santri sudah merasakan bagaimana sudah mencurahkan segala persoalan kepada Allah, maka mereka akan merasakan bagaimana santri diasah untuk memiliki rasa ingin tahu. Apa hakikat sebenarnya belajar di sebuah pesantren? Apa keuntungannya tinggal di pesantren? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul ketika pertama kali santri menginjakkan kaki di pesantren. Bayangan mereka, apabila tinggal di pesantren, maka yang terjadi adalah tempat tinggal yang kumuh, jorok, bahkan gatalan. Namun, ketika merasakan dan mengetahui sudut demi sudut yang ada di LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, mereka merasakan betul bagaimana tatanan setiap sudut sangat diperhatikan. Selain itu, pergaulan yang ada di pesantren dengan beragam latar belakang santri dari berbagai daerah, membuat jiwa santri memiliki rasa ingin tahu seperti apa teman saya, guru saya, ustadz saya, dan lain sebagainya.

Ketika di rumah, segala aktivitas bahkan mungkin fasilitas sangat mendukung, tetapi yang dihadapi saat ini ketika masuk pesantren, semua fasilitas yang ada di rumah tidak dijumpainya, maka timbullah rasa kreativitas, imajinasi, dan daya cipta yang tinggi dari seorang santri. Oleh karenanya, fasilitas yang terbatas tidak menjadikan alasan untuk menciptakan kreativitas. Santri yang kreatif, cerdas, dan berdaya cipta tinggi, tidak menjadikan fasilitas sebagai tolok ukur. Justru, yang ada di benak seorang santri adalah bagaimana dengan kegiatan yang padat serta fasilitas yang ada menjadikan daya piker menjadi berkembang, maju, dan bervisioner ke depan. Sehingga, diharapkan kelak mereka ketika tiba saatnya untuk terjun ke masyarakat menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitarnya.

c.       Sekolah tidak tercerabut dari lingkungan masyarakatnya, santri bukan enclave tetapi mereka hadir untuk menjadi solusi bagi persoalan riil masyarakatnya

Setelah memiliki passion yang kuat yakni santri penggubah dunia, serta memiliki daya cipta, imajinasi, dan kreativitas yang tinggi, maka ketika dihadapkan sebuah permasalahan yang terjadi di masyarakat, santri sudah memiliki bekal yang kuat dan tahan banting bahkan ia menjadi problem solver di masyarakat. Tidak hanya sebagai pelengkap atau objek di masyarakat, tetapi santri memiliki solusi yang tepat, hebat, serta jitu ketika dihadapkan persoalan-persoalan.

Inilah pentingnya pendidikan di pesantren. Wadah terbaik untuk mengasah dan mendidik santri sesuai arahan visi yang ada di Ar-Rohmah. Santri tidak lagi terganggu dengan kegiatan yang sepadan dengan kegiatan pemuda pada umumnya, tetapi disibukkan dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat. Santri tidak terkontaminasi hal-hal yang tidak baik, tetapi santri mendapatkan asupan yang bergizi berupa didikan mental yang kuat, spiritualitas yang hebat, asah kepekaan yang tinggi serta kreativitas yang cemerlang di tempat yang serba terbatas. Hadirnya santri sebagai problem solver di masyarakat, diharapkan sebagai pengubah wajah masyarakat yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam, maka kehadiran santri adalah bagaikan oase di padang pasir.

Semoga santri SMP-SMA Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai pembawa penawar kebaikan di sekitarnya. Kehadiran santri Ar-Rohmah adalah menjadikan solusi jitu, acuan serta harapan bangsa dan Negara. (Ozan)


Penting Satu Jam Setelah Shubuh

PENTING SATU JAM SETELAH SUBUH

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam besabda yang artinya:

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)

Para ulama menjelaskan bahwa empat rakaat yang dimaksud dalam hadits qudsi ini adalah shalat dhuha. Dan Rasulullah ketika mengerjakan shalat dhuha, beliau memang biasa mengerjakannya empat rakaat dan maksimal delapan rakaat. Hadits qudsi ini menunjukkan salah satu keutamaan shalat dhuha dalam kaitannya dengan tercukupinya kebutuhan dan rezeki. Bahwa siapa yang mengerjakan shalat dhuha empat rakaat, maka kebutuhannya sepanjang hari akan tercukupi.

Al Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala menukilkan perkataan guru beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala. Kata Staikhul Islam, “Pendapat yang aku yakini bahwasanya 4 rakaat dalam hadits tersebut adalah sholat sunnah fajar dan sholat shubuh. Maka barangsiapa yang diberikan taufiq oleh Allah subhanahu wa Ta’ala untuk bisa mengerjakan sholat sunnah 2 rakaat sebelum shubuh dan mengerjakan dua rakaat sholat subuh di awal pagi hari, maka dia akan diberikan kecukupan oleh Allah di sepanjang harinya, dia senantiasa dijaga oleh Allah dan dia senantiasa dalam jaminan Allah.

Jika begitu besar apa yang didapatkan ketika mengerjakan empat rakaat di awal hari, maka nikmat mana yang kita dustakan? Sementara waktu yang kita miliki begitu berharga, jangan sampai tidak dimanfaatkan, apalagi terbuang percuma. Kenikmatan di pagi hari hari bagaikan ayam yang sedang mencari rezeki dengan cara mencari makanan di sekitarnya. Ayam tersebut seakan-akan tidak mau ketinggalan pakanan yang ada di depan mereka dinikmati oleh ayam yang lainnya.

Lantas, apa saja kah yang perlu kita kerjakan ketika pagi telah menyongsong? Bagaimanapun juga waktu di pagi hari tatkala matahari akan asyik mengintip di dunia ini, perlu sekiranya kita melakukan hal-hal sebagai berikut, agar tujuan hidup kita semakin jelas. Diantaranya adalah:

1.      Tidak tidur setelah shubuh

Karena di pagi hari pintu rezeki dibuka selebar-lebarnya layaknya ayam mencari pakan di sekitarnya, maka tidak layak manusia setelah shubuh langsung meneruskan aktivitas tidurnya. Menurut penelitian, ketika tubuh kita terbangun di waktu shubuh, di saat itulah organ tubuh kita seketika aktif untuk melakukan gerakan dengan kembali sempurna setelah sebagian tubuh kita istirahat sejenak. Sehingga kegiatan tubuh menjadi stabil kembali. Banyak aktivitas yang bisa kita lakukan agar tubuh tidak kembali menikmati pulau kasur, diantaranya olahraga, menulis, menghafal, atau kegiatan lainnya.

 

2.      Membiasakan mandi sebelum atau sesudah shubuh

Apakah Anda ingin menjadi awet muda? Pasti jawabannya iya. Siapapun pasti menginginkan tubuh menjadi awet muda, tidak sekedar umurnya, tapi fisik tubuh kita selalu fit dan segar. Saran kedua yakni dianjurkan untuk mandi sebelum atau sesudah shubuh, selain tubuh kita fresh juga membuat pergerakan kulit yang tersentuh oleh air kembali bergerak dan semakin aktif. Rasa kantuk dan lelah seketika hilang ketika tubuh merasakan kesegaran air di pagi hari. Boleh dicoba…. hehehe

3.      Sarapan

Sarapan dalam hal ini yakni apabila tidak sedang dalam kondisi puasa wajib atau sunnah. Membiasakan makan di waktu pagi walaupun hanya sedikit. Karena membuat sel-sel otak, sistem pencernaan serta sistem imun di tubuh kita bekerja dengan baik. Makan roti seirispun tidak masalah, atau minum susu, kopi, teh tidak masalah. Terpenting, usahakan makan dan minum meski sedikit.

4.      Membaca Al Quran, Dzikir, dan  Sholawat

Hal yang pertama dan utama bahkan yang penting yakni mengingat kepada Allah dengan sungguh-sungguh, tidak meninggalkan masjid dengansecepat mungkin. Maksudnya, dianjurkan untuk membaca Quran. Selembar dua lembar atau lebih, tapi membiasakan untuk terus membaca Quran. Syukur-syukur memahami makna yang terkandung di dalam Al Quran. Selain membaca Al Quran, dianjurkan untuk berdzikir di pagi hari sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah membaca Adzkarus Shobah. Selain berisi dzikir dan doa yang terkandung dalam Adzkarus Shobah, dalam dzikir pagi juga banyak sekali manfaat arti dan maknanya. Jika tubuh kita selalu diasupi dengan makanan yang bergizi, maka tidak melupakan makanan hati perlu diperhatikan yakni berdzikir. Ketika hari Jumat telah tiba, dianjurkan untuk membaca Al Quran, terlebih Quran surat Al Kahfi, selain membaca surat Al Kahfi, kita dianjurkan untuk membaca sholawat sebanyak-banyaknya. inilah makanan rohani yang kita butuhkan di pagi hari, agar fisik dan akal kita maupun hati kita tetap tenang dalam menjalani hidup ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang istiqomah dan selalu dalam lindungan Allah.

Demikian hal-hal yang bisa kita lakukan dalam kegiatan pagi setelah sholat shubuh, bisa dilakukan satu jam atau lebih agar hidup kita tertata dan bermanfaat serta memiliki tujuan yang jelas.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).

 Ozan

 


Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...