Namun, tanpa disangka, kotak amalpun kosong. Tanpa satupun rupiah. Tadi siang selepas Jumat, pak Haji tidak bisa menemani pak Rahmat untuk mengecek semua kotak amal masjid, sehingga ia lupa kalau kotak amal sudah diamankan hasil pemasukannya oleh pak Rahmat. Namun, pak Haji sudah menaruh curiga, bahwa anak kecil itulah yang telah mengambil uang kotak amal masjid. Ia mengetahui wajah itu karena tidak asing baginya. Akhirnya pak Hajipun mengajak serta jamaah yang ada menuju rumah Ucil. Setelah Waktu Magrib yang menegangkan. Orang-orang bergerak menuju rumah kosong setelah pencuri kotak amal lari ke dalam bangunan reot untuk bersembunyi.
Pencuri sialan!
Dia harus ditangkap dan diadili!
Rombongan massa itu saling
sahut-menyahut, menumpahkan sumpah serapah, sesekali salah satu di antara
mereka meneriakkan takbir. Mereka makin dekat. Semerbak melati dibawa angin
dari arah rerimbunan pepohonan di halaman yang terbilang seperti gubug. Rumah
bau melati. Konon sering ada penampakan wanita yang melayang-layang mengitari
rumah mbah Murti dan Ucil. Ia terbang sambil tertawa cekikian.
Namun, kali ini siapa yang peduli bau
melati? Siapa yang peduli penampakan hantu wanita? Orang beramai-ramai. Bahkan
di dalam rombongan itu ada Pak Haji, mana mungkin wanita itu berani menampakkan
diri? Bau melati makin kental. Kian menusuk hidung. Wangi sekaligus
mendatangkan ketenangan yang mengerikan. Tak berapa lama kemudian orang-orang
telah sampai di halaman rumah.
"Allahhu akbar!" Pak Haji
mengucap takbir. Pandangannya menatap tajam ke awang-awang. Sementara warga
yang lainya senyap. Beberapa gemetaran, ada juga yang mulutnya sampai menganga.
Perempuan itu muncul, melambung-lambung
di antara dua pepohonan rimbun.
"Mengapa tak ke masjid? Mengapa
tak mengumandangkan azan Isya? Bangsaku sudah bersiap menutup telinga, beberapa
sudah bersembunyi di tempat pembuangan yang kedap dan bau," sergah wanita
yang wajahnya tertutup rambut panjang.
"Kami mau menangkap pencuri kotak
amal!" jawab Pak Haji sedikit gemetar.
"Tidak bisa! Dia mencari
perlindungan di rumah kami! Wajib bagi kami untuk melindunginya!"
"Setan terkutuk! Sudah terkutuk,
sukanya membela bandit yang kelakuannya terkutuk!"
"Kamu lebih terkutuk! Kalian semua
terkutuk!" Lecutan kata itu diiringi tawa cekikikan. Bau melati
bertebaran. "Biar aku bacakan kamu ayat-ayat Allah! Lekas-lekaslah
terbakar dan enyah kamu ke neraka!"
Pak Haji membaca ayat kursi. Warga
berdzikir bersama-sama. Dengung suara dzikir terdengar bagai segerombolan
lebah. Tak lekas terbakar, wanita itu malah menirukan bacaan ayat kursi secara
fasih. "Bagaimana bisa ayat suci itu menghiasi lisanmu, bahkan tiap hari
kamu membaca berjuz-juz Quran, tapi tak satu pun yang terselip di hati?"
ucap wanita yang kini duduk di atas dahan pohon beringin.
"Apa maksudmu, setan busuk?"
"Aku tahu dia bukan pencuri kotak
amal. Dia cuman anak-anak. Dia yatim. Kini bertambah jadi piatu. Hanya mbah tua
yang selalu setia menemaninya setiap hari dan sepanjang waktu. Bagaimana bisa
penderitaan anak ini luput dari jangkauan kalian?"
Semua terdiam. Pak Haji makin jengkel.
"Tapi, bukan berarti dia boleh
mencuri!" teriak pak Haji. “Dia bukan pencuri!!!” jawab wanita itu.
"Kamu mengumumkan kas masjid yang
puluhan juta itu melalui pengeras suara. Sementara anak ini kelaparan. Hidupnya
kini miskin papa! Lalu ke mana saja kas yang puluhan juta itu? Mengapa yang
kalian pentingkan hanya pembangunan masjid saja?"
"Kalau masjidnya bagus dan nyaman,
ibadah jadi tenang." Pak Haji masih membela diri meski nada bicaranya
makin melunak.
"Masjid kalian makin megah, makin
nyaman, tapi, Allah yang kalian sembah itu kelaparan, kehausan, sedang kalian
tak mau menggubrisnya."
"Kurang ajar! Beraninya kamu
merendahkan Allah. Mana mungkin Allah lapar dan kehausan!" Pak Haji
kembali menaikkan suara. Telunjuknya mengacung ke atas, tasbihnya terlihat
melilit di pergelangan tangan.
"Dalam setiap jiwa yang kelaparan
dan kehausan, Allah begitu dekat. Apa kalian tak pernah mengasah hati nurani?"
Wanita itu kembali cekikikan.
Perkataan terakhir wanita itu membuat
hati Pak Haji melunak secara kaffah. Dahulu, di pondok pesantren, ia kerap
mendengar hadits qudsi tersebut. Mengapa kini ia malah melupakannya? Tertunduk
Pak Haji dalam-dalam. Betapa menyesalnya ia kini. Bau melati semakin tidak
wajar. Makin membuat pusing dan mual. Beberapa yang tidak kuat menghirup aroma
kental itu akhirnya lemas dan pingsan. Pak Haji pingsan paling akhir.
"Pak, bangun! Sudah Mahrib. Ayo ke
masjid." Bu Haji membangunkan suaminya yang tertidur selepas Ashar.
Buru-buru Pak Haji ke masjid dan
mengecek kotak amal. Masih pada tempatnya. Pucat muka pria sepuh itu karena
mimpi yang terus berkelebat di benaknya, dan seakan ia memimpin jamaah sholat
Maghrib.
Usai magrib, Pak Haji dan beberapa
jamaah membongkar kotak amal. Dari hasil yang didapat, sebagian dialokasikan
untuk pembangunan, sebagian untuk kesejahteraan umat. Esok hari, pak haji
buru-buru membeli sembako dengan uang kotak amal, ditambah uang pribadinya. Ia
mendatangi rumah anak yatim piatu yang ada di dalam mimpi.
Tersuruk-suruk langkah Pak Haji
membopong sekarung beras dan menenteng bingkisan. Beberapa warga menawarinya
bantuan untuk membawakan karung beras, tapi Pak Haji menolak.
"Ini adalah kelalaianku! Aku membiarkan anak yatim
piatu itu kelaparan. Aku sendiri yang harus memikulnya!" Sesampai di depan
gubuk tua dan reyot di pinggir sungai, buru-buru pak Haji dan warga dengan
bangga bangga membuka pintu gubuk yang hampir roboh itu, dan...... apa yang
mereka saksikan? Ucil menangisi mbah Murti telah terbujur kaku di atas sajadah
lusuh sambil memegangi perutnya... di hadapannya ada Al Qur'an besar dan lusuh
yang masih terbuka pada surat Al Maun.
أَرَءَيۡتَ
ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ
عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن
صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ
1.
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2.
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3.
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
5.
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6.
orang-orang yang berbuat riya,
7.
dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
Innaa lillaahi wa innailaihi
rooji'uuun. Selamat jalan mbah Murti. Tubuh rintihmu kini terbujur kaku tak
berdaya. Tanganmu yang lihai memilah dan memilih barang yang bisa dimanfaatkan,
kini tak bisa bergerak. Kakimu yang selalu lincah ke sana kemari menuju tempat
sampah yang sekiranya terdapat kardus, kini tak
mampu kau ajak kompromi. Pak Haji pun terkaget dan terpengarah, sosok yang
selama ini mendampingi Ucil itu sudah tiada. Seakan tidak percaya bahwa
kehadiran mbah Murti di kampungnya membuat hati dan mata batin tertutup kabut
egoisme. Selama ini yang selalu dia banggakan kepadpa jamaah dengan mengumumkan
perolehan jumlah yang fantastis, seakan sirna melayang entah ke mana. Bagaikan
debu yang beterbangan ke atas, sekian detik hilang bersama angina. Ribuan,
puluan ribu, ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta perolehan
infaq masjid seakan tiada arti lagi, selama warga sekitar tidak merasakan
nikmatnya sebutir nasi. Pak Haji menyesal semakin mendalam dengan kondisi Ucil
dan mbah Murti. Ke mana selama ini kopyah putih yang selalu dikenakannya, jubah
panjang menutupi seluruh badannya, bahkan tasbih yang tergenggam di tangannya
seolah hanya sebagai hiasan semata, sementara masih ada warga sekitar jauh dari
ketenteraman. Ah…. Apakah ada lagi mbah-mbah Murti lainnya di kampung ini yang
belum kutengok kondisinya?
Adakah Ucil-Ucil lainnya yang selalu
menemani nenek maupun kakeknya sebatang kara hingga ia lupa kondisi perutnya?
Adakah gubuk-gubuk reyot lagi yang belum pernah kusambang? Adakah tumpukan
kardus dan gelas air mineral kosong yang berserakan di dalam rumah sehingga
menjadi sempit untuk ditempati?
Pak Hajipun memerintahkan warga untuk segera
mengurus jenazah Mbah Murti. Warga semakin sibuk tatkala kamar mandi yang tidak
layak pakai di belakang gubuk mbah Murti air mati. Ucilpun masih sesenggukan
menangis akan kepergian orang yang tercinta. Selama ini hidupnya selalu
dipenuhi oleh mbah Murti meskipun belum dikatakan lebih dari cukup. Namun, rasa
syukur, masih ada mbah Murti yang setia menemani dan melayani kehidupannya.
Ucilpun berangsur-angsur larut untuk
mengurus jenazah mbah Murti. Kain jarik mbah Murti yang selama ini tersimpan
rapi di lemari kayu, disipkan sebagai alas. Diambil satu kain jarik bercorak
batik khas daerah dan dihamparkan di dipan
bambu yang biasa dipakai untuk duduk berdua dengan mbah Murti di kala senja
menyapa. Setelah jenazah terbujur kaku di dipan berselimut kain putih, Ucil
melantunkan doa serta membaca Quran di samping almarhumah. Beranjak waktu telah
berlalu, jenazah siap disholatkan di masjid bersama jamaah yang sudah sedari
menunggu setelah diumumkan melalui pengeras suara. Keranda dorong yang ditarik
warga menuju masjid. Warga pun sekarang sadar, bahwa Ucil yang selama ini rajin
beribadah di masjid, selalu membantu mbah Murti mencari sesuap nasi hasil dari
berburu rongsokan demi rongsokan. Warga sudah tersadarkan bahwa Ucil sekarang
menjadi anak sebatang kara. Tidak ada lagi keluarga yang menemani di kala
hidupnya. Warga tersadarkan akan makna hidup saling peduli di antara sesame.
Warga semakin peduli makna tepo seliro yang
selama ini didengungkan para dai yang berceramah di masjid. Tidak sekadar
didengarkan dari telinga kanan maupun kiri, namun merasuk ke dalam kalbu dan
nurani. Kepedulian sangat berjalan dengan tingkan keimanan. Apabila iman yang
dipupuk atas kesadaran, maka berjalanlah keseimbangan dalam kehidupan. Tiada
lagi hidup cuek bebek.
Kini cucu kesayangan mbah Murti telah
diasuh oleh pak Haji dan menjadi pengurus Masjid Besar al Muhsinin. Meskipun
tugas yang diemban tidak seperti halnya orang-orang dewasa. Cukuplah menyapu
dan mengepel masjid bagian luar, agar bersih dan suci untuk jamaah yang
mengabdi ke Ilahi Rabbi. Masjid Besar al Muhsinin kini lebih ramai dari
biasanya. Kehadiran Ucil yang selalu datang lebih dini, membantu pak Rahmat
merawat masjid. Kehadiran Ucil membuat masjid semakin bergairah untuk
beribadah. Tilawah sebagai penanda masuk sholat berjamaah, terdengar hingga ke
ujung desa. Sebagai penanda waktu sholat akan tiba. Ucil kini mahir mengotak
atik perangkat masjid. Pak Rahmat yang telaten mengajari Ucil agar jamaah
semakin nyaman dalam beribadah.
Ucil seorang takmir kecil, mengurusi
hal-hal kecil, namun dirasakan jamaah sangat besar dan bermanfaat. Apabila pak
Rahmat sendiri yang membersihkan masjid, namun kehadiran Ucil tugas pak Rahmat
semakin ringan. Ruang takmir kini menjadi ramai. Setiap sore Ucil juga
menyiapkan perkakas TPQ masjid. Mulai dampar kecil, papan tulis, hingga spidol
dan penghapus sudah tersedia sejak dini sebelum pengajar datang. Ruangan pojok
yang dipakai juga sudah bersih, rapi, dan wangi.
Ucil anak kecil yang menjadi takmir
masjid, kini dapat menikmati belajar dengan nikmat. Ketersediaan belajarnya
dipenuhi oleh pak Rahmat. Semua alat tulis dan buku pelajaran lengkap dengan
tas pinggang, terpampang rapi di ruangan takmir. Semangat belajar Ucil tinggi.
Kesedihan yang ditinggal mbah Murti berangsur-angsur tertutupi dengan kegiatan
masjid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar