Selasa, 11 Januari 2022

Rumah Bau Melati part 3

 Namun, tanpa disangka, kotak amalpun kosong. Tanpa satupun rupiah. Tadi siang selepas Jumat, pak Haji tidak bisa menemani pak Rahmat untuk mengecek semua kotak amal masjid, sehingga ia lupa kalau kotak amal sudah diamankan hasil pemasukannya oleh pak Rahmat. Namun, pak Haji sudah menaruh curiga, bahwa anak kecil itulah yang telah mengambil uang kotak amal masjid. Ia mengetahui wajah itu karena tidak asing baginya. Akhirnya pak Hajipun mengajak serta jamaah yang ada menuju rumah Ucil. Setelah Waktu Magrib yang menegangkan. Orang-orang bergerak menuju rumah kosong setelah pencuri kotak amal lari ke dalam bangunan reot untuk bersembunyi.

Pencuri sialan!

Dia harus ditangkap dan diadili!

Rombongan massa itu saling sahut-menyahut, menumpahkan sumpah serapah, sesekali salah satu di antara mereka meneriakkan takbir. Mereka makin dekat. Semerbak melati dibawa angin dari arah rerimbunan pepohonan di halaman yang terbilang seperti gubug. Rumah bau melati. Konon sering ada penampakan wanita yang melayang-layang mengitari rumah mbah Murti dan Ucil. Ia terbang sambil tertawa cekikian.

Namun, kali ini siapa yang peduli bau melati? Siapa yang peduli penampakan hantu wanita? Orang beramai-ramai. Bahkan di dalam rombongan itu ada Pak Haji, mana mungkin wanita itu berani menampakkan diri? Bau melati makin kental. Kian menusuk hidung. Wangi sekaligus mendatangkan ketenangan yang mengerikan. Tak berapa lama kemudian orang-orang telah sampai di halaman rumah.

"Allahhu akbar!" Pak Haji mengucap takbir. Pandangannya menatap tajam ke awang-awang. Sementara warga yang lainya senyap. Beberapa gemetaran, ada juga yang mulutnya sampai menganga.

Perempuan itu muncul, melambung-lambung di antara dua pepohonan rimbun.

"Mengapa tak ke masjid? Mengapa tak mengumandangkan azan Isya? Bangsaku sudah bersiap menutup telinga, beberapa sudah bersembunyi di tempat pembuangan yang kedap dan bau," sergah wanita yang wajahnya tertutup rambut panjang.

"Kami mau menangkap pencuri kotak amal!" jawab Pak Haji sedikit gemetar.

"Tidak bisa! Dia mencari perlindungan di rumah kami! Wajib bagi kami untuk melindunginya!"

"Setan terkutuk! Sudah terkutuk, sukanya membela bandit yang kelakuannya terkutuk!"

"Kamu lebih terkutuk! Kalian semua terkutuk!" Lecutan kata itu diiringi tawa cekikikan. Bau melati bertebaran. "Biar aku bacakan kamu ayat-ayat Allah! Lekas-lekaslah terbakar dan enyah kamu ke neraka!"

Pak Haji membaca ayat kursi. Warga berdzikir bersama-sama. Dengung suara dzikir terdengar bagai segerombolan lebah. Tak lekas terbakar, wanita itu malah menirukan bacaan ayat kursi secara fasih. "Bagaimana bisa ayat suci itu menghiasi lisanmu, bahkan tiap hari kamu membaca berjuz-juz Quran, tapi tak satu pun yang terselip di hati?" ucap wanita yang kini duduk di atas dahan pohon beringin.

"Apa maksudmu, setan busuk?"

"Aku tahu dia bukan pencuri kotak amal. Dia cuman anak-anak. Dia yatim. Kini bertambah jadi piatu. Hanya mbah tua yang selalu setia menemaninya setiap hari dan sepanjang waktu. Bagaimana bisa penderitaan anak ini luput dari jangkauan kalian?"

Semua terdiam. Pak Haji makin jengkel.

"Tapi, bukan berarti dia boleh mencuri!" teriak pak Haji. “Dia bukan pencuri!!!” jawab wanita itu.

"Kamu mengumumkan kas masjid yang puluhan juta itu melalui pengeras suara. Sementara anak ini kelaparan. Hidupnya kini miskin papa! Lalu ke mana saja kas yang puluhan juta itu? Mengapa yang kalian pentingkan hanya pembangunan masjid saja?"

"Kalau masjidnya bagus dan nyaman, ibadah jadi tenang." Pak Haji masih membela diri meski nada bicaranya makin melunak.

"Masjid kalian makin megah, makin nyaman, tapi, Allah yang kalian sembah itu kelaparan, kehausan, sedang kalian tak mau menggubrisnya."

"Kurang ajar! Beraninya kamu merendahkan Allah. Mana mungkin Allah lapar dan kehausan!" Pak Haji kembali menaikkan suara. Telunjuknya mengacung ke atas, tasbihnya terlihat melilit di pergelangan tangan.

"Dalam setiap jiwa yang kelaparan dan kehausan, Allah begitu dekat. Apa kalian tak pernah mengasah hati nurani?" Wanita itu kembali cekikikan.

Perkataan terakhir wanita itu membuat hati Pak Haji melunak secara kaffah. Dahulu, di pondok pesantren, ia kerap mendengar hadits qudsi tersebut. Mengapa kini ia malah melupakannya? Tertunduk Pak Haji dalam-dalam. Betapa menyesalnya ia kini. Bau melati semakin tidak wajar. Makin membuat pusing dan mual. Beberapa yang tidak kuat menghirup aroma kental itu akhirnya lemas dan pingsan. Pak Haji pingsan paling akhir.

"Pak, bangun! Sudah Mahrib. Ayo ke masjid." Bu Haji membangunkan suaminya yang tertidur selepas Ashar.

Buru-buru Pak Haji ke masjid dan mengecek kotak amal. Masih pada tempatnya. Pucat muka pria sepuh itu karena mimpi yang terus berkelebat di benaknya, dan seakan ia memimpin jamaah sholat Maghrib.

Usai magrib, Pak Haji dan beberapa jamaah membongkar kotak amal. Dari hasil yang didapat, sebagian dialokasikan untuk pembangunan, sebagian untuk kesejahteraan umat. Esok hari, pak haji buru-buru membeli sembako dengan uang kotak amal, ditambah uang pribadinya. Ia mendatangi rumah anak yatim piatu yang ada di dalam mimpi.

Tersuruk-suruk langkah Pak Haji membopong sekarung beras dan menenteng bingkisan. Beberapa warga menawarinya bantuan untuk membawakan karung beras, tapi Pak Haji menolak.

"Ini adalah kelalaianku! Aku membiarkan anak yatim piatu itu kelaparan. Aku sendiri yang harus memikulnya!" Sesampai di depan gubuk tua dan reyot di pinggir sungai, buru-buru pak Haji dan warga dengan bangga bangga membuka pintu gubuk yang hampir roboh itu, dan...... apa yang mereka saksikan? Ucil menangisi mbah Murti telah terbujur kaku di atas sajadah lusuh sambil memegangi perutnya... di hadapannya ada Al Qur'an besar dan lusuh yang masih terbuka pada surat Al Maun.

 

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ

 

1.  Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

2.  Itulah orang yang menghardik anak yatim,

3.  dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

4.  Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

5.  (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

6.  orang-orang yang berbuat riya,

7.  dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Innaa lillaahi wa innailaihi rooji'uuun. Selamat jalan mbah Murti. Tubuh rintihmu kini terbujur kaku tak berdaya. Tanganmu yang lihai memilah dan memilih barang yang bisa dimanfaatkan, kini tak bisa bergerak. Kakimu yang selalu lincah ke sana kemari menuju tempat sampah yang sekiranya terdapat kardus, kini tak mampu kau ajak kompromi. Pak Haji pun terkaget dan terpengarah, sosok yang selama ini mendampingi Ucil itu sudah tiada. Seakan tidak percaya bahwa kehadiran mbah Murti di kampungnya membuat hati dan mata batin tertutup kabut egoisme. Selama ini yang selalu dia banggakan kepadpa jamaah dengan mengumumkan perolehan jumlah yang fantastis, seakan sirna melayang entah ke mana. Bagaikan debu yang beterbangan ke atas, sekian detik hilang bersama angina. Ribuan, puluan ribu, ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta perolehan infaq masjid seakan tiada arti lagi, selama warga sekitar tidak merasakan nikmatnya sebutir nasi. Pak Haji menyesal semakin mendalam dengan kondisi Ucil dan mbah Murti. Ke mana selama ini kopyah putih yang selalu dikenakannya, jubah panjang menutupi seluruh badannya, bahkan tasbih yang tergenggam di tangannya seolah hanya sebagai hiasan semata, sementara masih ada warga sekitar jauh dari ketenteraman. Ah…. Apakah ada lagi mbah-mbah Murti lainnya di kampung ini yang belum kutengok kondisinya?

Adakah Ucil-Ucil lainnya yang selalu menemani nenek maupun kakeknya sebatang kara hingga ia lupa kondisi perutnya? Adakah gubuk-gubuk reyot lagi yang belum pernah kusambang? Adakah tumpukan kardus dan gelas air mineral kosong yang berserakan di dalam rumah sehingga menjadi sempit untuk ditempati?

Pak Hajipun memerintahkan warga untuk segera mengurus jenazah Mbah Murti. Warga semakin sibuk tatkala kamar mandi yang tidak layak pakai di belakang gubuk mbah Murti air mati. Ucilpun masih sesenggukan menangis akan kepergian orang yang tercinta. Selama ini hidupnya selalu dipenuhi oleh mbah Murti meskipun belum dikatakan lebih dari cukup. Namun, rasa syukur, masih ada mbah Murti yang setia menemani dan melayani kehidupannya.

Ucilpun berangsur-angsur larut untuk mengurus jenazah mbah Murti. Kain jarik mbah Murti yang selama ini tersimpan rapi di lemari kayu, disipkan sebagai alas. Diambil satu kain jarik bercorak batik khas daerah dan dihamparkan di dipan bambu yang biasa dipakai untuk duduk berdua dengan mbah Murti di kala senja menyapa. Setelah jenazah terbujur kaku di dipan berselimut kain putih, Ucil melantunkan doa serta membaca Quran di samping almarhumah. Beranjak waktu telah berlalu, jenazah siap disholatkan di masjid bersama jamaah yang sudah sedari menunggu setelah diumumkan melalui pengeras suara. Keranda dorong yang ditarik warga menuju masjid. Warga pun sekarang sadar, bahwa Ucil yang selama ini rajin beribadah di masjid, selalu membantu mbah Murti mencari sesuap nasi hasil dari berburu rongsokan demi rongsokan. Warga sudah tersadarkan bahwa Ucil sekarang menjadi anak sebatang kara. Tidak ada lagi keluarga yang menemani di kala hidupnya. Warga tersadarkan akan makna hidup saling peduli di antara sesame. Warga semakin peduli makna tepo seliro yang selama ini didengungkan para dai yang berceramah di masjid. Tidak sekadar didengarkan dari telinga kanan maupun kiri, namun merasuk ke dalam kalbu dan nurani. Kepedulian sangat berjalan dengan tingkan keimanan. Apabila iman yang dipupuk atas kesadaran, maka berjalanlah keseimbangan dalam kehidupan. Tiada lagi hidup cuek bebek.

Kini cucu kesayangan mbah Murti telah diasuh oleh pak Haji dan menjadi pengurus Masjid Besar al Muhsinin. Meskipun tugas yang diemban tidak seperti halnya orang-orang dewasa. Cukuplah menyapu dan mengepel masjid bagian luar, agar bersih dan suci untuk jamaah yang mengabdi ke Ilahi Rabbi. Masjid Besar al Muhsinin kini lebih ramai dari biasanya. Kehadiran Ucil yang selalu datang lebih dini, membantu pak Rahmat merawat masjid. Kehadiran Ucil membuat masjid semakin bergairah untuk beribadah. Tilawah sebagai penanda masuk sholat berjamaah, terdengar hingga ke ujung desa. Sebagai penanda waktu sholat akan tiba. Ucil kini mahir mengotak atik perangkat masjid. Pak Rahmat yang telaten mengajari Ucil agar jamaah semakin nyaman dalam beribadah.

Ucil seorang takmir kecil, mengurusi hal-hal kecil, namun dirasakan jamaah sangat besar dan bermanfaat. Apabila pak Rahmat sendiri yang membersihkan masjid, namun kehadiran Ucil tugas pak Rahmat semakin ringan. Ruang takmir kini menjadi ramai. Setiap sore Ucil juga menyiapkan perkakas TPQ masjid. Mulai dampar kecil, papan tulis, hingga spidol dan penghapus sudah tersedia sejak dini sebelum pengajar datang. Ruangan pojok yang dipakai juga sudah bersih, rapi, dan wangi.

Ucil anak kecil yang menjadi takmir masjid, kini dapat menikmati belajar dengan nikmat. Ketersediaan belajarnya dipenuhi oleh pak Rahmat. Semua alat tulis dan buku pelajaran lengkap dengan tas pinggang, terpampang rapi di ruangan takmir. Semangat belajar Ucil tinggi. Kesedihan yang ditinggal mbah Murti berangsur-angsur tertutupi dengan kegiatan masjid.

Mbah Murti…. Cucu kesayanganmu kini telah membahagiakanmu. Kehadirannya begitu bermanfaat bagi jamaah. Semoga arwahmu tenang di sisi Nya.

Ozan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...