Kamis, 03 Juli 2025

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (setelah ASAJ/Asesmen Sumatif Akhir Jenjang), aku sudah menghitung hari karena kami sekeluarga akan melakukan perjalanan dari Malang ke Yogyakarta. 


Aku, Zahrona—anak kelas lima yang penuh semangat, akan pergi bersama kakakku tercinta, Mbak Izza, serta Abi dan Umi. Kami akan menginap beberapa hari di rumah Pak Dhe Yat di daerah Kaliurang, Pakem, Sleman.


Pagi itu, jam sepuluh tepat, mobil kami mulai bergerak dari rumah. Abi bilang, kita tidak lewat jalan tol agar bisa menikmati suasana pedesaan dan perjalanan yang lebih tenang. Rutenya lewat Kota Wisata Batu, Pujon, lalu menyusuri perbukitan Ngantang dan Kasembon. Aku senang sekali karena pemandangannya indah: sawah yang luas, bukit-bukit hijau, dan udara yang sejuk sekali. Kami sempat berhenti di tepi jalan untuk salat Duhur dan makan siang. Angin semilir membuat suasana makan siang jadi lebih nikmat.


Perjalanan yang cukup panas dengan deru mesin kendaraan sisi kanan, kiri, dan depan, akhirnya kami melewati hutan Saradan yang sejuk dan rindang dan istirahat sejenak. Kami juga melintasi daerah Caruban yang mulai panas udaranya. Setelah cukup lama menempuh jalan darat, akhirnya kami sampai di Sragen sekitar jam empat sore. 


Dari sana, kami naik tol hingga keluar di Klaten. Aku tidur selama di tol dan terbangun ketika mobil mulai memasuki jalan kecil menuju daerah Pakem.


Sekitar jam delapan malam, kami sampai di rumah Pak Dhe Yat. Udara malam di Kaliurang begitu dingin, tapi menyegarkan. Pak Dhe dan Budhe menyambut kami dengan senyum hangat. Setelah makan malam dan sholat berjamaah, aku langsung masuk kamar dan tidur dengan nyenyak.


Hari Rabu: Memancing dan Malioboro

Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun dan ikut sholat Subuh bersama Abi, Umi, dan Mbak Izza. Setelah itu, aku murajaah hafalan surat Al Baqoroh yang sedang aku pelajari. Lalu, setelah sarapan, Abi mengajakku dan Mbah Kakung untuk memancing di blumbang milik Pak Dhe yang penuh ikan nila dan lele.


Aku memegang joran dengan semangat, dan tak lama kemudian, kailku disambar ikan nila kecil. Aku berteriak kegirangan, dan semua tertawa. Kata Abi, “Memancing itu melatih kesabaran dan syukur.” 


Melon—program sekolahku yang artinya Meaning Long Vacation, di mana aku harus tetap menjaga ibadah, belajar, dan memurajaah hafalan Al Quran selama liburan.


Jam sepuluh, kami diajak Abi dan Umi ke sebuah tempat makan bernama Kopi Klotok. Di sana, aku makan nasi telur dadar yang lezat sekali. Abi dan Umi menikmati kopi dan pisang goreng sambil duduk lesehan menghadap hamparan sawah. Angin bertiup pelan, dan aku merasa damai meskipun cuaca agak terik dan cukup ramai pengunjung.


Sore harinya, sekitar jam lima, kami semua—termasuk Pak Dhe, Budhe, Mbak Fani, dan Putra—berangkat ke Malioboro. Suasananya ramai sekali, tapi seru. Banyak penjual batik, gelang, dan jajanan. Aku membeli gantungan kunci bertuliskan “Jogja Istimewa” untuk teman-teman sekolahku. Sementara mbak Izza berburu baju yang sepadan dengan bawahan. Lampu-lampu jalan membuat Malioboro tampak indah sekali malam itu. Kami pulang sekitar jam sembilan malam dan langsung istirahat.


Hari Kamis: Petualangan Merapi



Keesokan paginya, Abi dan Umi berjalan pagi menyusuri Pakem dan sempat mampir ke pasar Pakem. Aku dan Mbak Izza tinggal di rumah dan asyik bermain HP. Setelah sarapan, jam sembilan, kami sekeluarga pergi ke Ledok Sambi, sebuah tempat wisata alam yang hanya sekitar 1,5 kilometer dari rumah Pak Dhe.



Di sana, aku sempat menyewa skuter, namun kubatalkan karena skuternya tidak seidela dengan tinggiku. Tapi aku ganti bermain air di sungai kecil, menyeberangi jembatan, dan melihat anak-anak lain berhamburan di sungai. Sebelumnya, selain bermain air, di Ledok Sambi aku menaiki flying fox yang jaraknya lumayan panjang. Umi, Abi dan rombongan lain berjalan kaki menyusuri tangga ke bawah dan merekam aku dan mbak Izza meluncur mulus di atas. “Alam mengajarkan kita banyak hal: ketenangan, keindahan, dan rasa syukur,” batinku. Kami tidak lama di Ledok Sambi, selain pengunjung semakin ramai juga tubuhku basah dan kedinginan. Akhirnya kami kembali ke rumah pak dhe Yat.


Jam dua, kami naik jeep wisata Lava Tour Merapi setelah tiba di depan rumah pak dhe. Sopir jeep-nya adalah teman pak dhe. Ia bercerita banyak tentang letusan Gunung Merapi. Kami dibawa ke Museum Mbah Marijan, tempat mengenang tokoh juru kunci Gunung Merapi. Lalu, kami ke Petilasan dan melihat tempat tinggal Mbah Marijan sebelum dan sesudah erupsi.




Aku juga melihat Batu Alien yang bentuknya aneh sekali, lalu melintasi Kalikuning dengan jeep. Jeep-nya berjalan sangat cepat dan menabrak air sungai. Airnya muncrat ke atas dan membasahi kami semua. Rasanya seperti naik roller coaster! Aku tertawa dan menjerit senang.


Jam lima sore kami pulang ke rumah Pak Dhe. Setelah mandi dan sholat Maghrib, kami makan malam bersama. Kemudian, setelah sholat Isya, kami bersiap melanjutkan perjalanan ke Temanggung untuk mengantar Mbah Kakung. Perjalanan malam hari terasa tenang. Aku tertidur di kursi tengah dengan mbak Izza dan Umi sementara di depan abi dan mbah Kakung.

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...