Selasa, 11 Januari 2022

Cerpen "Dua Guru Terbaik"

 “Naila…. Silakan maju untuk membacakan puisimu. Murid-murid lainnya silakan dengar dan simak pembacaan puisi Naila ya,” ujar Bu Rina. Naila pun maju ke depan kelas dan membacakan puisi.

Guruku

Lautan samudera yang luas ini

Tidak sebanding dengan ilmu yang kamu berikan kepada kami

Betapa pentingnya ilmu yang kamu ajari

Membuat kami semakin mengerti

Semakin memahami makna ilmu Ilahi

Terima kasih telah membimbing dan mengajari kami

Tatkala kesulitan mendera dalam diri ini

Berkatmu kami bisa membaca, menulis, dan mengaji

Terima kasih guru kami

Plok… plok…. Plok…. Suara tepuk tangan semua murid dan bu Rina menyambut puisi Naila. Bu Rina pun sempat terpesona bahkan hampir meneteskan air mata. “Terima kasih Naila. Puisimu menyentuh hati Ibu. Kamu pandai membaca dan memilih kosakata yang bagus. Cara membaca puisimu sungguh indah. Sekali lagi berikan tepuk tangan untuk Naila.” Plok plok plok, suara gemuruh tepuk tangan menghiasi kelas Naila.

“Itu tadi puisi dari Naila tentang guru. Silakan siapa lagi yang akan membacakan puisi tentang guru di depan kelas?” tangan bu Rina diangkat ke atas sebagai pertanda mengajak murid untuk berani berekspresi membacakan puisi di depan kelas.

“Saya, Bu,” jawab Zaima sembari mengangkat tangan juga. “Silakan maju ke depan Zaima. Mohon yang lainnya diam sejenak untuk mendengarkan pembacaan puisi dari Zaima,”

Zaima pun maju ke depan. Dengan langkah percaya diri membawa sobekan kertas, Zaima sambuil menghembuskan nafas kecil untuk menghilangkan rasa nervous.

Sepeda Ontel Butut

Kayuhan kakimu kini tak sekuat dulu lagi

Roda yang mengitari bumi kini telah menipis

pertanda waktunya untuk diganti

Meskipun begitu semangatmu tidak pernah berhenti mendidik kami

Jarak yang kau tempuh ratusan mil dari rumah mini

Kami tau, baju usangmu itu sudah termakan usia

Tas yang kau tenteng setiap hari sudah berubah warna

Ditambah dengan rambut yang sudah menua

Namun, semangat mengajar kami mengalahkan usiamu

Seakan masih ada cahaya untuk di masa depan bagi kami semua

Guruku…. Sepatu yang kini kau pakai telah terlalu sempit

Guruku…. Kacamata yang kenakan kini telah buram

Semangatmulah yang membuatku ingin menjadi orang sukses di kemudian hari

Semangatmulah yang membuatku ingin menjadi orang bermanfaat di masa mendatang

Semangatmulah yang membuatku ingin menjadi kebanggaan bagi Negara

Doaku untukmu guruku

Selalu sehat dan kuat dalam membimbing muridmu

 

Terhenyak dan terdiam bahkan terpukau seisi kelas. Air mata bu Rini kini benar-benar membasahi pipinya. Tak henti-hentinya tisu yang di atas meja diambil satu persatu untuk menyeka air mata. Ruangan seakan hening dan tak mampu lagi untuk mengucapkan kata demi kata. Terperangah semua mata. Bulu kuduk seakan berdiri, merinding dalam setiap hentakan alunan yang mendera kelas. Tepuk tangan diawali oleh Haris, diikuti semua murid dan bu Rina. Bahkan bu Rina tak mampu menimpali puisi Zaima. Cukuplah pertanda derasnya air yang mengalir dari kelopak mata sebagai jawabannya.

Kriiiiiiiiinggggggggggg….. bel pun berdering kencang. Membuyarkan segala lamunan kami semua. Romi sebagai ketua kelas berdiri menyiapkan anggotanya untuk persiapan berdoa selesai belajar.

Kini Naila pun beranjak ke rumah untuk istirahat dan bersih-bersih diri. Seperti biasa, tidak lupa sepeda kesayangannya setia menemani perjalanan Naila menuju rumah.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumussalam, Alhamdulillah anak Ibu yang sholihah sudah datang.”

“Selamat Hari Guru, Ibu,”

“Lho…. Ibu kan bukan guru, Nai,” jawab ibu Naila.

“Memang Ibu bukan profesinya sebagai guru, tapi berkat Ibu lah aku bisa seperti ini. Ibu adalah guru pertamaku di dunia. Ibu adalah guru segala guru di dunia ini. Aku bisa karena Ibu telah mendidik aku dari kecil hingga besar serta mengajariku menjadi anak baik. Terima kasih Ibu. Aku cinta Ibu,” jawab Naila.

“Terima kasih kembali sayangku,” pelukan hangat dari ibu sembari air matanya menetes di rambut Naila. Menandakan ibu Naila menangis terharu.

Kini Naila paham betapa bahagianya dikelilingi orang-orang baik. Di rumah ada Ibu yang selalu setia menemani tatkala ayahnya tugas di luar kota. Di sekolah ada teman-teman Naila yang sangat baik yang asyik diajak ngobrol setiap saat, bahkan di kala kesulitan mendera di kelas. Begitupun para guru di sekolah. Semua adalah orang-orang baik yang dikirimkan Allah menjadi pendidik di sekolah kami. Sungguh karunia Allah sangat besar kepada kita semua. Tidak hanya materi, namun dikelilingi orang-orang baik.

Terima kasih dua guruku terbaik. Ibu dan guru-guruku di sekolah.

Selamat Hari Guru Nasional 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...