“Naila…. Silakan maju untuk membacakan puisimu. Murid-murid lainnya silakan dengar dan simak pembacaan puisi Naila ya,” ujar Bu Rina. Naila pun maju ke depan kelas dan membacakan puisi.
Guruku
Lautan samudera yang luas ini
Tidak sebanding dengan ilmu yang kamu
berikan kepada kami
Betapa pentingnya ilmu yang kamu ajari
Membuat kami semakin mengerti
Semakin memahami makna ilmu Ilahi
Terima kasih telah membimbing dan
mengajari kami
Tatkala kesulitan mendera dalam diri
ini
Berkatmu kami bisa membaca, menulis,
dan mengaji
Terima kasih guru kami
Plok… plok…. Plok…. Suara tepuk tangan
semua murid dan bu Rina menyambut puisi Naila. Bu Rina pun sempat terpesona
bahkan hampir meneteskan air mata. “Terima kasih Naila. Puisimu menyentuh hati
Ibu. Kamu pandai membaca dan memilih kosakata yang bagus. Cara membaca puisimu
sungguh indah. Sekali lagi berikan tepuk tangan untuk Naila.” Plok plok plok,
suara gemuruh tepuk tangan menghiasi kelas Naila.
“Itu tadi puisi dari Naila tentang
guru. Silakan siapa lagi yang akan membacakan puisi tentang guru di depan
kelas?” tangan bu Rina diangkat ke atas sebagai pertanda mengajak murid untuk
berani berekspresi membacakan puisi di depan kelas.
“Saya, Bu,” jawab Zaima sembari
mengangkat tangan juga. “Silakan maju ke depan Zaima. Mohon yang lainnya diam
sejenak untuk mendengarkan pembacaan puisi dari Zaima,”
Zaima pun maju ke depan. Dengan langkah
percaya diri membawa sobekan kertas, Zaima sambuil menghembuskan nafas kecil
untuk menghilangkan rasa nervous.
Sepeda Ontel Butut
Kayuhan kakimu kini tak sekuat dulu
lagi
Roda yang mengitari bumi kini telah
menipis
pertanda waktunya untuk diganti
Meskipun begitu semangatmu tidak pernah
berhenti mendidik kami
Jarak yang kau tempuh ratusan mil dari
rumah mini
Kami tau, baju usangmu itu sudah
termakan usia
Tas yang kau tenteng setiap hari sudah
berubah warna
Ditambah dengan rambut yang sudah menua
Namun, semangat mengajar kami mengalahkan
usiamu
Seakan masih ada cahaya untuk di masa
depan bagi kami semua
Guruku…. Sepatu yang kini kau pakai
telah terlalu sempit
Guruku…. Kacamata yang kenakan kini
telah buram
Semangatmulah yang membuatku ingin
menjadi orang sukses di kemudian hari
Semangatmulah yang membuatku ingin
menjadi orang bermanfaat di masa mendatang
Semangatmulah yang membuatku ingin
menjadi kebanggaan bagi Negara
Doaku untukmu guruku
Selalu sehat dan kuat dalam membimbing
muridmu
Terhenyak dan terdiam bahkan terpukau
seisi kelas. Air mata bu Rini kini benar-benar membasahi pipinya. Tak
henti-hentinya tisu yang di atas meja diambil satu persatu untuk menyeka air
mata. Ruangan seakan hening dan tak mampu lagi untuk mengucapkan kata demi
kata. Terperangah semua mata. Bulu kuduk seakan berdiri, merinding dalam setiap
hentakan alunan yang mendera kelas. Tepuk tangan diawali oleh Haris, diikuti
semua murid dan bu Rina. Bahkan bu Rina tak mampu menimpali puisi Zaima.
Cukuplah pertanda derasnya air yang mengalir dari kelopak mata sebagai jawabannya.
Kriiiiiiiiinggggggggggg….. bel pun
berdering kencang. Membuyarkan segala lamunan kami semua. Romi sebagai ketua
kelas berdiri menyiapkan anggotanya untuk persiapan berdoa selesai belajar.
Kini Naila pun beranjak ke rumah untuk
istirahat dan bersih-bersih diri. Seperti biasa, tidak lupa sepeda
kesayangannya setia menemani perjalanan Naila menuju rumah.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam, Alhamdulillah anak
Ibu yang sholihah sudah datang.”
“Selamat Hari Guru, Ibu,”
“Lho…. Ibu kan bukan guru, Nai,” jawab
ibu Naila.
“Memang Ibu bukan profesinya sebagai
guru, tapi berkat Ibu lah aku bisa seperti ini. Ibu adalah guru pertamaku di
dunia. Ibu adalah guru segala guru di dunia ini. Aku bisa karena Ibu telah
mendidik aku dari kecil hingga besar serta mengajariku menjadi anak baik.
Terima kasih Ibu. Aku cinta Ibu,” jawab Naila.
“Terima kasih kembali sayangku,”
pelukan hangat dari ibu sembari air matanya menetes di rambut Naila. Menandakan
ibu Naila menangis terharu.
Kini Naila paham betapa bahagianya
dikelilingi orang-orang baik. Di rumah ada Ibu yang selalu setia menemani
tatkala ayahnya tugas di luar kota. Di sekolah ada teman-teman Naila yang
sangat baik yang asyik diajak ngobrol setiap saat, bahkan di kala kesulitan
mendera di kelas. Begitupun para guru di sekolah. Semua adalah orang-orang baik
yang dikirimkan Allah menjadi pendidik di sekolah kami. Sungguh karunia Allah
sangat besar kepada kita semua. Tidak hanya materi, namun dikelilingi
orang-orang baik.
Terima kasih dua guruku terbaik. Ibu
dan guru-guruku di sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar