Kajian rutin setiap sholat Shubuh di pekan pertama diisi dengan kajian fiqh. Sementara di kajian shubuh di pekan ketiga diisi dengan kajian aktual sesuai dengan kondisi dan situasi saat ini. Di sore hari, dikhususkan untuk pembinaan anak-anak di sekitar masjid maupun masyarakat yang mau menitipkan anak untuk ngaji bersama di TPQ. Sehingga kegiatan masjid sejak Shubuh hingga Maghrib padat layaknya kendaraan di jalan. Hehehehe…. Setelah sholat Maghrib, di pekan kedua dan ke empat, Masjid Besar Al Muhsinin mengadakan kajian dengan mendatangkan ustadz atau penceramah dari luar masjid.
Pak Rohmatpun mematikan speaker masjid
untuk persiapan menjelang sholat Jumat. Tiba waktu menjelang khotib naik
mimbar, beliaupun mengumumkan hal-hal terkait dengan pelaksanaan sholat Jumat.
Pak Rohmatpun, menyampaikan,
“Assalaamuálaikum wr wb
Bismilillahirahmaanirrahiim,
Alhamdulillahirobbil aalamiin, wassolaaatu wassalaamu'alaa asyrofil anbiyaa-i
wal mursaliin, sayyidinaa Muhammadin, wa'alaa aalihi wa'ashaabihi aj'maiin amma
ba'du.
Yang kami hormati, Jamaah Masjid Besar
Al Muhsinin.
Puji serta syukur marilah sama-sama
kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat-Nya lah pada
siang ini kita masih diberikan nikmat sehat, nikmat panjang umur, nikmat Iman
dan nikmat Islam, sehingga kita masih dapat melaksanakan segala aktifitas kita,
baik aktifitas duniawi maupun aktifitas ukhrowi. Mudah-mudahan segala amal
ibadah yang kita kerjakan di berikan ganjaran pahala dan mendapatkan ridho Allah
SWT.
Tidak lupa juga sholawat teriring salam
semoga senantiasa selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw, kepada
keluarganya, kepada sahabatnya dan kepada pengikutnya.
Hadirin Jamaat Sholat Jumát yang saya
hormati, izinkanlah kami dari pengurus Masjid Besar Al Muhsinin, ingin
menyampaikan beberapa maklumat.
Maklumat yang pertama yaitu ; Laporan
Keuangan Masjid Besar Al Muhsinin
Saldo pada tanggal 2 Februari 2018
berjumlah Rp. 250.000.000,-
Pemasukan melalui kotak tromol pada
tanggal 2 Februari 2018 berjumlah Rp.
10.500.000,-
Jumlah
Rp. 260.500.000,-
Kemudian Pengerluaran; untuk biaya
peribadatan dan lain-lain sebesar Rp. 1.000.000,-
Saldo sampai dengan hari ini berjumlah
; Rp. 259.500.000,-
Maklumat yang kedua yaitu : Petugas
Jumat pada Siang ini, Khotib dan Imam Insya Allah Akan disampaikan oleh
almukarom Ust. Andri Ari, S.Ag. MA, dengan Tema ‘Kiat meningkatkan keimanan’
dan selaku petugas muadzin yaitu ust. Muhandis.
Maklumat yang ketiga ; kami menghimbau
kepada Jamaah sekalian agar merapatkan dan mengisi shap terdepan, kemudia juga
kami mohon agar mematikan handphone agar tidak mengganggu ibadah Jumat kita
siang ini, dan juga tidak berkata-kata atau berbicara disaat khotib
menyampaikan khutbahnya.
Selanjutnya marilah sama-sama kita baca
surah Fatihah dengan harapan agar kita dan juga keluarga kita dirumah
senantiasa diberikan kesehatan, dipanjangkan umur kita, dimudahkan rizki kita,
dimudahkan segala urusan kita, dikuatkan Iman dan Islam kita, dan senantiasa
selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin....
Illa hadiniyah wa kulli niatin sholehah
wa illa hadratin Nabi Mustofa Muhammadin Rasululillahi shollallahu alaihi
wasallam, alfaatihah......(baca surat al fatihah)
Hadirin, Jamaah Sholat Jumat yang kami
hormati, demikianlah yang dapat kami sampaikan, Wassalaamuálaikum wr wb.
Setelah pak Rohmad menyampaikan
maklumat pelaksanaan khutbah Jumat, selanjutnya khotib naik mimbar dengan
mengucapkan salam, yang dilanjutkan dengan kumandang adzan Jumat. Adzan pun
selesai hingga kalimat terakhir. Khotib pun menyampaikan wasiat untuk dirinya
sendiri dan seluruh jamaah Jumat agar meningkatkan keimanan dan ketakwaan
kepada Allah, karena hanya bekal takwalah yang dapat menolong di hari kiamat
nanti. Untuk khutbah saat ini, khotib menyampaikan tema tentang pentingnya
menyantuni anak yatim piatu. Baik mereka yang berada jauh dari tempat kita,
lebih-lebih anak yatim piatu itu di sekitar kita. Meskipun bukan saudara kita,
setidaknya peduli terhadap anak yatim piatu sangat dianjurkan oleh Nabi.
Digambarkan dengan dua jari yang menempel erat, seperti itulah kedekatan Nabi
dengan anak yatim. Untaian hikmah yang disampaikan khotib telah mengaduk-aduk
perasaan dan empati jamaah untuk menyayangi anak yatim. Dalam kondisi lapang
maupun sempit. Insya Allah rezeki yang kita keluarkan akan menjaga kita di hari
kiamat kelak. Itulah gambaran yang disampaikan khotib hari ini.
Di shaf ke tujuh, ada anak kecil
bernama Ucil, dengan baju yang sudah usang serta sarung yang sudah hampir 2
tahunan tidak pernah ganti untuk dipakai sholat berjamaah. Ucil adalah anak
kecil yang sejak lama diasuh mbah Marti. Mbah Marti hidup sebatang kara karena
semua keluarga telah meninggalkan dirinya di sebuah gubuk peyot. Ucil masih SD,
setiap harinya selalu membantu mbah Marti mengumpulkan barang rongsokan setiap
hari selepas sekolah. Meskipun begitu, prestasi Ucil tidak jelek-jelek amat
karena di malam harinya selalu menyempatkan diri untuk belajar malam. Ucil yang
sedari tadi mendengarkan untaian khutbah Jumat tersentak hatinya, kenapa amanat
demi amanat yang disampaikan khotib tidak pernah dilaksanakan oleh segenap
takmir Masjid Besar Al Muhsinin. Bahkan infak Jumat pekan lalu yang diterima
dari jamaah cukup besar. Andaikan sedikit saja yang dibagikan kepada fakir
miskin dan anak yatim piatu, betapa bahagianya mereka. Namun, itu semua sirna
ketika Ucil melihat semua ornamen yang terpampang di masjid, begitu kilau dan
bercahayanya. Sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan apa yang ada di
rumah mbah Murti dan Ucil. Jangankan ornamen, sekadar lampu yang menerangi
rumahnya saja di malam hari, sudah bersyukur Ucil dan mbah Murti, meskipun
nyala lampu rumahnya tidak seterang lampu kamar mandi masjid.
Usai sudah pelaksanaan sholat Jumat
untuk hari ini, Ucil kembali ke rumah sekaligus mengingat-ingat kembali pesan
dari khotib terkait pentingnya menyayangi dan menyantuni anak yatim piatu.
Perjalanan ke gubuk membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit dari masjid
jika ditempuh dengan jalan kaki. Iya, rumah Ucil bersama mbah Murti cukup jauh,
setiap Jumat selalu berangkat lebih awal dibandingkan orang-orang sekitar
masjid. Ia tidak ingin tertinggal sholat Jumat, meskipun berada di shof
belakang. Bagi Ucil, mendapatkan pahala sholat Jumat adalah lebih utama
dibandingkan dengan dia harus tertinggal ketika khotib sudah naik mimbar.
Sore itu, mbah Murti belum kembali dari
pencarian barang bekas di tempat yang biasa ia lalui. Sementara sejak senja
pagi pula, Ucil belum menikmati makanan secuil pun yang merasuki
kerongkongkongannya. Hanya seteguk air putih yang sempat mampir di
tenggorokannya seakan air bah lewat dan menerobos hamparan kawah kering. Ucil
mencoba mengayuh besek (wadah makanan tradisional) yang terletak di atas
tumpukan kayu di belakang rumahnya, berharap ada nasi yang bisa dimakan
meskipun lauk tidak menemaninya. Namun, harapan itu sirna, besek yang sudah
rusak itupun tidak ada sebutir nasi di dalamnya. Perut Ucil semakin perih dan
sepanjang hari bunyi, menandakan rasa lapar yang sangat mendera. Mencoba
keliling dari pojokan satu ke pojokan lainnya, siapa tau ada singkong rebus
ataupun kacang, sekiranya sebutir, dua butir, atau lebih agar bisa mengisi
perutnya. Namun lagi-lagi usahanya itupun muspro, tanpa hasil.
Ucilpun berangkat ke masjid, karena
waktu telah mendekati sholat ashar. Tanpa berpikir panjang, ia berganti sarung
satu-satunya yang dimiliki untuk dipakai sholat berjamaah. Semoga ketika di
masjid, ia mendapati makanan agar perut yang seharian selalu memanggil pertanda
lapar, dapat terhapus oleh sapuan makanan. Setelah tiba di masjid, ia dapati
masjid yang masih sepi dari jamaah. Bahkan waktu kurang lima menit, yang
biasanya pak Rahmat sudah tiba dan membersihkan masjid, saat itu belum
terlihat. Timer masjid yang terpampang di dinding sebagai pertanda waktu sholat
tibapun selalu berjalan. Tapi, pak Rahmat masih belum nongol juga. Akhirnya,
Ucilpun mengambil air wudhu dan sholat sendiri di sisi teras sebelah barat.
Karena tidak ada satupun jamaah yang dijumpai, Ucilpun asyik bercengkerama
dengan Tuhannya secara pribadi. Salam kedua tiba, dan kembali Ucil menoleh ke
sekitar masjid, masih sepi suasananya. Pikirnya, kemana selama ini orang-orang?
Selepas sholat Jumat mereka lupa bahwa masih ada sholat Ashar. Tidak ada
satupun jamaah sore ini. Ucilpun mengangkat tangan untuk berdoa, agar
kehidupannya semakin sejahtera. Selepas berdoa, Ucilpun keliling masjid dari
sisi utara hingga ke sisi selatan masjid. Bahkan, Ucilpun hanya sekali
mengintip kotak amal yang ditaruh di bagian utara masjid. Membayangkan
sekiranya ada recehan uang yang ngendon di dalamnya. Namun hati kecilnya
tertahan oleh nasihat mbah Murti, meskipun miskin jangan sampai dalam darah
yang mengalir di tubuh kita teraliri barang haram.
Ucilpun pulang. Karena waktu sudah
mendekati hampir senja, mbah Murti pun tiba membawa rongsokan hasil
petualangannya di kota. Batinnya, barang yang dibawa semoga dapat menggantikan
makanan sehingga bisa dinikmati bersama cucu kesayangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar