Selasa, 11 Januari 2022

Rumah Bau Melati part 2

 Kajian rutin setiap sholat Shubuh di pekan pertama diisi dengan kajian fiqh. Sementara di kajian shubuh di pekan ketiga diisi dengan kajian aktual sesuai dengan kondisi dan situasi saat ini. Di sore hari, dikhususkan untuk pembinaan anak-anak di sekitar masjid maupun masyarakat yang mau menitipkan anak untuk ngaji bersama di TPQ. Sehingga kegiatan masjid sejak Shubuh hingga Maghrib padat layaknya kendaraan di jalan. Hehehehe…. Setelah sholat Maghrib, di pekan kedua dan ke empat, Masjid Besar Al Muhsinin mengadakan kajian dengan mendatangkan ustadz atau penceramah dari luar masjid.

Pak Rohmatpun mematikan speaker masjid untuk persiapan menjelang sholat Jumat. Tiba waktu menjelang khotib naik mimbar, beliaupun mengumumkan hal-hal terkait dengan pelaksanaan sholat Jumat. Pak Rohmatpun, menyampaikan,

“Assalaamuálaikum wr wb

Bismilillahirahmaanirrahiim, Alhamdulillahirobbil aalamiin, wassolaaatu wassalaamu'alaa asyrofil anbiyaa-i wal mursaliin, sayyidinaa Muhammadin, wa'alaa aalihi wa'ashaabihi aj'maiin amma ba'du.

Yang kami hormati, Jamaah Masjid Besar Al Muhsinin.

Puji serta syukur marilah sama-sama kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat-Nya lah pada siang ini kita masih diberikan nikmat sehat, nikmat panjang umur, nikmat Iman dan nikmat Islam, sehingga kita masih dapat melaksanakan segala aktifitas kita, baik aktifitas duniawi maupun aktifitas ukhrowi. Mudah-mudahan segala amal ibadah yang kita kerjakan di berikan ganjaran pahala dan mendapatkan ridho Allah SWT.

Tidak lupa juga sholawat teriring salam semoga senantiasa selalu tercurah kepada baginda Nabi Muhammad saw, kepada keluarganya, kepada sahabatnya dan kepada pengikutnya.

Hadirin Jamaat Sholat Jumát yang saya hormati, izinkanlah kami dari pengurus Masjid Besar Al Muhsinin, ingin menyampaikan beberapa maklumat.

Maklumat yang pertama yaitu ; Laporan Keuangan Masjid Besar Al Muhsinin

Saldo pada tanggal 2 Februari 2018 berjumlah Rp. 250.000.000,-

Pemasukan melalui kotak tromol pada tanggal  2 Februari 2018 berjumlah Rp. 10.500.000,-

Jumlah   Rp. 260.500.000,-

Kemudian Pengerluaran; untuk biaya peribadatan dan lain-lain sebesar Rp. 1.000.000,-

Saldo sampai dengan hari ini berjumlah ; Rp. 259.500.000,-

Maklumat yang kedua yaitu : Petugas Jumat pada Siang ini, Khotib dan Imam Insya Allah Akan disampaikan oleh almukarom Ust. Andri Ari, S.Ag. MA, dengan Tema ‘Kiat meningkatkan keimanan’ dan selaku petugas muadzin yaitu ust. Muhandis.

Maklumat yang ketiga ; kami menghimbau kepada Jamaah sekalian agar merapatkan dan mengisi shap terdepan, kemudia juga kami mohon agar mematikan handphone agar tidak mengganggu ibadah Jumat kita siang ini, dan juga tidak berkata-kata atau berbicara disaat khotib menyampaikan khutbahnya.

Selanjutnya marilah sama-sama kita baca surah Fatihah dengan harapan agar kita dan juga keluarga kita dirumah senantiasa diberikan kesehatan, dipanjangkan umur kita, dimudahkan rizki kita, dimudahkan segala urusan kita, dikuatkan Iman dan Islam kita, dan senantiasa selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin....

Illa hadiniyah wa kulli niatin sholehah wa illa hadratin Nabi Mustofa Muhammadin Rasululillahi shollallahu alaihi wasallam, alfaatihah......(baca surat al fatihah)

Hadirin, Jamaah Sholat Jumat yang kami hormati, demikianlah yang dapat kami sampaikan, Wassalaamuálaikum wr wb.

 

 

Setelah pak Rohmad menyampaikan maklumat pelaksanaan khutbah Jumat, selanjutnya khotib naik mimbar dengan mengucapkan salam, yang dilanjutkan dengan kumandang adzan Jumat. Adzan pun selesai hingga kalimat terakhir. Khotib pun menyampaikan wasiat untuk dirinya sendiri dan seluruh jamaah Jumat agar meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah, karena hanya bekal takwalah yang dapat menolong di hari kiamat nanti. Untuk khutbah saat ini, khotib menyampaikan tema tentang pentingnya menyantuni anak yatim piatu. Baik mereka yang berada jauh dari tempat kita, lebih-lebih anak yatim piatu itu di sekitar kita. Meskipun bukan saudara kita, setidaknya peduli terhadap anak yatim piatu sangat dianjurkan oleh Nabi. Digambarkan dengan dua jari yang menempel erat, seperti itulah kedekatan Nabi dengan anak yatim. Untaian hikmah yang disampaikan khotib telah mengaduk-aduk perasaan dan empati jamaah untuk menyayangi anak yatim. Dalam kondisi lapang maupun sempit. Insya Allah rezeki yang kita keluarkan akan menjaga kita di hari kiamat kelak. Itulah gambaran yang disampaikan khotib hari ini.

Di shaf ke tujuh, ada anak kecil bernama Ucil, dengan baju yang sudah usang serta sarung yang sudah hampir 2 tahunan tidak pernah ganti untuk dipakai sholat berjamaah. Ucil adalah anak kecil yang sejak lama diasuh mbah Marti. Mbah Marti hidup sebatang kara karena semua keluarga telah meninggalkan dirinya di sebuah gubuk peyot. Ucil masih SD, setiap harinya selalu membantu mbah Marti mengumpulkan barang rongsokan setiap hari selepas sekolah. Meskipun begitu, prestasi Ucil tidak jelek-jelek amat karena di malam harinya selalu menyempatkan diri untuk belajar malam. Ucil yang sedari tadi mendengarkan untaian khutbah Jumat tersentak hatinya, kenapa amanat demi amanat yang disampaikan khotib tidak pernah dilaksanakan oleh segenap takmir Masjid Besar Al Muhsinin. Bahkan infak Jumat pekan lalu yang diterima dari jamaah cukup besar. Andaikan sedikit saja yang dibagikan kepada fakir miskin dan anak yatim piatu, betapa bahagianya mereka. Namun, itu semua sirna ketika Ucil melihat semua ornamen yang terpampang di masjid, begitu kilau dan bercahayanya. Sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan apa yang ada di rumah mbah Murti dan Ucil. Jangankan ornamen, sekadar lampu yang menerangi rumahnya saja di malam hari, sudah bersyukur Ucil dan mbah Murti, meskipun nyala lampu rumahnya tidak seterang lampu kamar mandi masjid.

Usai sudah pelaksanaan sholat Jumat untuk hari ini, Ucil kembali ke rumah sekaligus mengingat-ingat kembali pesan dari khotib terkait pentingnya menyayangi dan menyantuni anak yatim piatu. Perjalanan ke gubuk membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit dari masjid jika ditempuh dengan jalan kaki. Iya, rumah Ucil bersama mbah Murti cukup jauh, setiap Jumat selalu berangkat lebih awal dibandingkan orang-orang sekitar masjid. Ia tidak ingin tertinggal sholat Jumat, meskipun berada di shof belakang. Bagi Ucil, mendapatkan pahala sholat Jumat adalah lebih utama dibandingkan dengan dia harus tertinggal ketika khotib sudah naik mimbar.

Sore itu, mbah Murti belum kembali dari pencarian barang bekas di tempat yang biasa ia lalui. Sementara sejak senja pagi pula, Ucil belum menikmati makanan secuil pun yang merasuki kerongkongkongannya. Hanya seteguk air putih yang sempat mampir di tenggorokannya seakan air bah lewat dan menerobos hamparan kawah kering. Ucil mencoba mengayuh besek (wadah makanan tradisional) yang terletak di atas tumpukan kayu di belakang rumahnya, berharap ada nasi yang bisa dimakan meskipun lauk tidak menemaninya. Namun, harapan itu sirna, besek yang sudah rusak itupun tidak ada sebutir nasi di dalamnya. Perut Ucil semakin perih dan sepanjang hari bunyi, menandakan rasa lapar yang sangat mendera. Mencoba keliling dari pojokan satu ke pojokan lainnya, siapa tau ada singkong rebus ataupun kacang, sekiranya sebutir, dua butir, atau lebih agar bisa mengisi perutnya. Namun lagi-lagi usahanya itupun muspro, tanpa hasil.

Ucilpun berangkat ke masjid, karena waktu telah mendekati sholat ashar. Tanpa berpikir panjang, ia berganti sarung satu-satunya yang dimiliki untuk dipakai sholat berjamaah. Semoga ketika di masjid, ia mendapati makanan agar perut yang seharian selalu memanggil pertanda lapar, dapat terhapus oleh sapuan makanan. Setelah tiba di masjid, ia dapati masjid yang masih sepi dari jamaah. Bahkan waktu kurang lima menit, yang biasanya pak Rahmat sudah tiba dan membersihkan masjid, saat itu belum terlihat. Timer masjid yang terpampang di dinding sebagai pertanda waktu sholat tibapun selalu berjalan. Tapi, pak Rahmat masih belum nongol juga. Akhirnya, Ucilpun mengambil air wudhu dan sholat sendiri di sisi teras sebelah barat. Karena tidak ada satupun jamaah yang dijumpai, Ucilpun asyik bercengkerama dengan Tuhannya secara pribadi. Salam kedua tiba, dan kembali Ucil menoleh ke sekitar masjid, masih sepi suasananya. Pikirnya, kemana selama ini orang-orang? Selepas sholat Jumat mereka lupa bahwa masih ada sholat Ashar. Tidak ada satupun jamaah sore ini. Ucilpun mengangkat tangan untuk berdoa, agar kehidupannya semakin sejahtera. Selepas berdoa, Ucilpun keliling masjid dari sisi utara hingga ke sisi selatan masjid. Bahkan, Ucilpun hanya sekali mengintip kotak amal yang ditaruh di bagian utara masjid. Membayangkan sekiranya ada recehan uang yang ngendon di dalamnya. Namun hati kecilnya tertahan oleh nasihat mbah Murti, meskipun miskin jangan sampai dalam darah yang mengalir di tubuh kita teraliri barang haram.

Ucilpun pulang. Karena waktu sudah mendekati hampir senja, mbah Murti pun tiba membawa rongsokan hasil petualangannya di kota. Batinnya, barang yang dibawa semoga dapat menggantikan makanan sehingga bisa dinikmati bersama cucu kesayangannya.

Maghrib pun tiba. Ucil yang sedari pagi belum makan, meminta izin ke mbah Surti untuk tidak jamaah di masjid. pusing yang mendera seharian dikarenakan belum makan, akhirnya mengharuskan Ucil berbaring sejenak di rumah. Saat Maghrib tiba, Ucil dan mbah Murtipun akhirnya bisa menikmati sepiring nasi lauk garam. Iya, hasil hari ini hanya bisa ditukar dengan beras yang tidak seberapa. Nun jauh di sana, suasana masjid sudah rame. Banyak jamaah yang menunaikan sholat maghrib. Baik orangtua, remaja, anak-anak, hingga bayi berumur lima bulan pun turut hadir di masjid. Pak Haji sendiri yang memimpin sholat jamaah saat itu. Selepas berdoa dan berdiri sholat sunnah, pak Haji pun masuk ruang takmir untuk mengecek segala sesuatunya. Tak terkecuali CCTV yang terpampang di masing-masing ujung masjid. Pak Rahmat yang sedari tadi tidak ada di masjid, pak Haji pun inisiatif mengecek CCTV sendiri. Namun tanpa disangka, ia menaruh curiga pada layar di sisi bawah kanan. Terlihat dengan jelas, ada anak kecil yang dicurigai telah mengincar kotak amal. Akhirnya, kotak amal yang sembari terekam dan terlihat di layar CCTV bersamaan dengan anak kecil yang mengintip kotak amal, pak Hajipun mengecek kotak amal tersebut.

bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...