Kamis, 20 Oktober 2022

Tempe Idamanku

 Tempe Idamanku



Machmud. Nama singkat yang sangat melekat dalam kehidupanku. Setiap pukul 02.30, sebelum ayam berkokok pertanda waktu mulai pagi, bapakku beranjak dari tempat tidur langsung menuju kamar mandi. Setelah membasuh kaki, tangan, muka untuk menghilangkan kantuk, diawali dengan membaca doa sebelum wudhu, tersapu rata seluruh bagian tubuh. Meskipun bulan masih mengintip di waktu dini hari, sementara matahari esok belum menunjukkan batang hidungnya, bapakku keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaian yang melekat dengan sarung dan koko. Tidak lupa kopyah hitam yang sedikit lusuh terpatri dalam rambut yang sudah mulai memutih. Sajadah terhampar di lantai. Gerakan urutan sholat mulai takbiratul ihram hingga salam, diiringi suara lirihnya. Beranjak rokaat terakhir, keheningan di pagi hari yang bersua dengan Tuhannya di kala sujud lamanya, senantiasa berbisik di bumi dan terdengar di langit. Sujud penuh khidmat. Percakapan seorang hamba dengan Tuhan. Diangkat tubuh rentanya untuk tasyahud akhir. Tibalah salam. Terangkat tangan ke atas sembari meneteskan air mata senajan mendoakan seluruh keluarga menjadi anak yang sukses.

Kembali ke belakang untuk mengecek kayu bakar yang telah dinyalakan setelah terbangun sebelum menunaikan sholat tahajud. Api yang sudah mengecil, dicoba ditiup perlahan dengan memasukkan kayu sedikit demi sedikit. Gas elpiji berwarna hijau maupun pink, belum menampakkan diri saat itu. Sehingga kesetiaan kayu bakar untuk menanak kedelai menjadi matang masih dirasakan bau kepulan asap. Hingga dua puluh menit lamanya kedelai itu belum menguning sempurna, jangan sampai api hilang begitu saja. Terjaga hingga panas dan gelembung air yang menguap di panci besar pertanda sudah mulai matang. Tangan tidak diam begitu saja. Masih ada olahan kedelai yang telah ditaburi ragi sejak sore itu, dicampur agar senyawa kimia telah mengikat dan merekat. Ketika masih panas, terbantu dengan kipas angin kecil di samping hamparan tempat pengadukan tempe. Setelah dingin, satu persatu daun pisang yang tersedia siap membungkus tempe agar tetap segar. Satu persatu ukuran kecil berwarna hijau itu kini telah terisi tempe.

Terdengar suara adzan dari masjid Jadidah. Suara khas itu memanggil para jamaah untuk segera menuju masjid. Panggilan tersebut mengantarkan bapak untuk bergegas ke masjid. Selepas shubuh, sepeda jengki atau yang dikenal dengan sepeda keboh, dengan obrok kayu di kanan kiri telah siap untuk diisi tempe. Mulai ukuran besar, sedang, hingga kecil tertata rapi mulai bawah hingga atas. “Van, ayo dorong ke depan. Biar bapak kuat melewati jembatan kayu di atas sungai itu.” Pintanya kepadaku. Iya, rumah kami di depan sungai kecil sebelum jalan raya. Sehingga sebagai penyambung dari rumah ke jalan, maka dibuatlah jembatan kayu. Setelah beranjak dari depan mataku, kayuhan bapak menuju pasar untuk menjajakan tempe di pasar, emak sudah menyiapkan masakan di dapur.

Sholat tahajud bapak telah terdengar dalam rumah. Suara seraknya ingin sekali membangunkan keluarga kami. Namun, bapak tidak secara langsung untuk membangunkan kami, sehingga suara takbirotul ihram, rukuk, I’tidal, sampai sujud terdengar. Agar kami yang masih terbuai mimpi bangun untuk menghadap ilahi rabbi.

“Emak, tempe yang sudah dibungkus ditaruh di mana?” tanyaku kepada emak. Emak panggilan kepada ibu. Bagiku sosok emak juga pantang mengeluh apalagi menyerah. Pukul 06.00 WIB, sarapan telah tersedia di meja. Hari ini lauk istimewa. Telur bali. Bagiku sangat istimewa. Telur bali bikinan emak seakan tidak ada duanya. “Taruh saja di pojok pintu, tapi jangan sampai menghalangi jalan untuk keluar masuk,” jawab emak. Tas pinggang berwarna merah dengan gambar sang hero pujaan film masa kecilku, telah dipenuhi buku tulis dan buku paket yang hampir sama setiap harinya. Sepatu mirip para kungfu master identik putih di bawahnya, kukenakan untuk sekolah dengan tali yang hampir putus di bagian atasnya.

Selepas pulang sekolah, kutaruh tas dan sepatuku di tempatnya, kuambil kelereng di lemari pakaian warna coklat. Di sana hamparan kelereng dari berbagai warna dan ukurannya, kuambil dan kulempar ke dinding dengan mencari siapa kelereng yang terjauh untuk memulai. Di kala asyik bermain kelereng, sepeda bapakku tiba. Kusambut dengan tangan penuh debu serta bau sinar matahari di kaos hijauku, kusambut tangan rentanya dan kucium telapak tangan tersebut. Kudorong sepeda hingga masuk di halaman rumah. Obrok kayu yang di sana sini telah banyak yang patah, kuambil telenan dan pisau di dalamnya, serta plastik kresek putih sebagai wadah jualan tempe. Kulihat hari ini tidak ada sisa tempe. Hatiku senang dan riang. Begitupun wajah bapakku, meskipun peluh keringat membasahi punggung dan dahinya. Kupindahkan berdua dengan bapak obrok kayu itu di ruang belakang. Esok terpakai kembali.

“Alhamdulillah ya pak, tempenya sudah habis,” ujarku. “Alhamdulillah patut disyukuri nak. Semoga rezeki hari ini berkah dan dapat dibuat tabungan untuk sekolah lanjutanmu.” Mendengar jawaban tersebut, sontak mata yang tadi basah dengan keringat karena bermain kelereng, sekarang basah karena air mata. Perjuangan menjual tempe yang tidak seberapa keuntungannya, namun bagi bapak sedikit demi sedikit apabila disyukuri maka akan berlipat-lipat. “Jangan lupa, habis bermain, bantu emak di rumah. Jangan main terus,” lanjutnya.

Bagiku tempe olahan bapak luar biasa enak. Tidak ada campuran selain ragi yang sudah terukur dan sesuai takaran. Ternyata banyak pelanggan bapak yang kehabisan stok ketika bapak berdagang di pasar. Setelah aku tanyakan ke bapak, hampir para pelanggan bapak adalah penjual nasi di rumah maupun pasar itu sendiri. Kata penjual nasi, tempe bapak ketika digoreng atau digodok, rasanya enak dan harum. Apakah efek dari daun pisang atau…? Entahlah, bagiku tempe bapak terenak di dunia. Tempe olahan bapak tidak semua dijual. Sehingga ada yang disisakan untuk kami. Entah dimasak untuk campuran sayur atau sekadar digoreng dengan bumbu kecap sedikit pedas.

Tabungan bapak sudah mulai banyak dari hasil jerih payahnya menjual tempe di pasar. Emak berjanji kepadaku, jika tabungan bapak sudah mencukupi, aku akan dibelikan baju untuk persiapan masuk pondok. Bapak sembari selesai melepas lelah, tidak pernah melupakan pendidikan anaknya. Ada Koran bekas sisa pembungkus tempe, dibaca sekilas ada profil pondok pesantren yang berada di ujung kota Surabaya. Dibaca berkali-kali agar tahu maksud dan tujuan berita tersebut, dipanggilah aku di hadapan beliau. “Nanti bapak pondokkan di sini ya. Di sini sepertinya bagus tempat pendidikannya serta biayanya sangat terjangkau.” “Njih Pak,” jawabku. Tibalah waktu berangkat ke pondok. Meskipun dalam batinku, masa bermain dengan teman di halaman belakang rumah milik masyarakat setempat dengan bermain bola dan sekadar menerbangkan layangan di sore hari. Kini seakan masa bermain itu sudah selesai. Tekad bapak yang sangat membara demi pendidikan anaknya, rela mengeluarkan biaya dan tenaga. Iringan doa dan air mata dari kedua orangtuaku, mengantarkanku ke gerbang pondok. Di sana disambut seorang ustadz dan santri yang sembari menunggu santri baru.

Tempe bapak semakin hari semakin banyak penggemarnya. Institusi kantor pun tidak ketinggalan. Sehingga sebelum bapak berangkat ke pasar, diantarlah terlebih dahulu ke kantor. Sehingga setiap harinya bapak mengolah kedelai menjadi tempe cukup banyak. Teringat bagaimana mesin pengolah tempe yang masih manual. Sebelum berpindah ke mesin dengan menyambungkan colokan listrik. Sehingga ketika kedelai dimasukkan mesin dan tempe tidak tersisa, maka cukup dicabut colokan tersebut. Namun, mesin pengolah tempe bapak yang digerakkan tangan dengan putaran kiri ke kanan, menjadikan tangan seperti atlet binaraga. Tangan seakan getot dan kuat hingga muncul lekukan di lengan.

Rezeki yang didapatkan hasil penjualan tempe dapat menyekolahkan kami sekeluarga. Kakak-kakak serta adikku sudah beranjak lulus hingga sekolah lanjutan atas. Bagi bapak, pendidikan sangat penting. Orang akan terpandang apabila memiliki riwayat pendidikan. Sehingga, kelak di antara kami ada yang bisa menjadi seorang guru. Didikan serta asuhan bapak yang tegas, menjadikan kami menjadi anak yang kuat, baik mental dan fisiknya. Tidak terbuai dengan materi, karena memang bagiku cukup untuk semua kebutuhan. Bertahun-tahun mengolah kedelai menjadi tempe, tidak membaut bapak patah arang. Justru ketika mendengar anaknya mendapatkan nilai yang bagus serta laporan dari guru bahwa anaknya tidak bermasalah, bagi bapak itu semua anugerah yang tidak bisa ditulis dengan kata-kata.

Tempe idaman bapak memang istimewa. Tatkala aku kembali ke pondok di saat masa liburan selesai, emak tidak lupa membawakanku olahan tempe. Sambel tempe. Iya… selain olahan tempe bali, sambel tempe buatan emak sangat maknyus. Bahkan, tempe bisa diolah menjadi keringan tempe yang dapat disimpan hingga dua pekan lamanya. Saat teringat bapak maupun emak ketika berada di pondok, kubawa keringan tempe sebagai kudapan di kala perut memanggil penanda lapar. Bahkan, kakakku pun tidak lupa ketika berangkat kerja, bekal di dalam tepak makanan ada olahan tempe emak.

Tempe mengantarkan keluarga kami merasakan pendidikan yang layak. Di antara keluarga kami sudah ada yang telah menyelesaikan studi kuliah hasil dari jualan tempe. Bagiku tempe bapak sebagai inspirasi untuk tetap berkreasi dan mensyukuri nikmatNya. Bahwa, sekecil apapun bentuk rasa syukur, bagi Sang Pencipta akan ditambah rezekinya.

Kini teringat bapak yang ahli mengolah kedelai menjadi tempe. Jasa bapak mulai terbangun di dini hari hingga siang yang panas, telah kurasakan. Ketegasan terpancar di wajahnya serta senyum merekah yang selalu kulihat, kini selalu terngiang di kala hati ingin menyendiri. Betapa berat pekerjaanmu kala itu, namun tidak pernah terlihat wajah lelah putus asa.

Rabu, 19 Oktober 2022

Sajadah Biru

 SAJADAH BIRU



Malam berbalut bintang yang memesona dan dipadukan dengan temaram rembulan yang sedikit malu untuk menampakkan kecantikannya. Hembusan angin yang lembut mendorong pohon bambu memainkan bunyi yang iramanya merdu dan syahdu. Gesekan antar bambu menghasilkan suara yang nyaris tak tergantikan di kota. Seiring alunan irama bamboo, nun jauh di sana gedung pencakar langit dengan sombongnya menampakkan diri seakan-akan dirinya lah yang paling gagah di muka bumi. Padahal, lampu yang menyorot di sekitar gedung yang menjulang tinggi, berasal dari pembangkit listrik yang berada di Desa Sumberpatih. Iya, desa ini menyediakan pemandangan yang asri dipadu hamparan sawah yang menghijau kekuning-kuningan. Selain itu, di pojok desa terdapat pembangkit listrik yang dibangun pemerintah provinsi untuk menambah daya kekuatan listrik bagi PJU (Penerangan Jalan Umum).

Burung yang hilir mudik terbang dari satu pohon ke pohon lainnya, menambah suasana desa tersebut menjadi daerah yang layak untuk dipakai tempat istirahat dari kepenatan pekerjaan. Meskipun jarak tempuh ke kota hampir 10 kilometeran, desa ini tidak serta merta meninggalkan kesejukannya meskipun orang kota memasang AC di perkantoran, apartemen, maupun rumah. Maka, layaknya desa pada umumnya, Desa Sumberpatih menyajikan keelokan budaya dan kesahajaan warganya.

Hari Kamis, 20 Oktober 2010 keheningan Desa Sumberpatih pecah di malam itu. Kentongan di Balai Desa Sumberpatih berkali-kali dipukul oleh pak Andre hingga tiga kali nada. Intonasi pukulan kentongan yang seirama, menandakan ada berita meninggal dunia. Berbondong-bondong warga menuju sumber suara tersebut, dan menanyakan siapakah yang telah dipanggil oleh Sang Maha Kuasa. Tua, muda, bapak, ibu, bahkan nenek yang rumahnya terdekat dari balai desa, tidak ketinggalan untuk menuju ke balai desa. Meskipun acara TV diisi sinetron yang saat ini digemari oleh emak-emak, dimatikan seketika, dan bergegas menuju ke balai desa.

Pak Andre menaruh tongkat pemukul di tempat kentongan balai desa, dan menemui warga yang sudah berkumpul. “Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…. Pangapunten Bapak/Ibu, kulo aturaken Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.... Mbah Min sedho, terose putune  mas Amik wau, sak niki tasik ten rumah sakit Mardhi Seger Bapak/Ibu, jadi mohon keikhlasannya dan permintaan maaf dari keluarga Mbah Min,” kata Pak Andre kepada warga. “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun….” Warga pun spontan melafalkan kalimat istirja’. Beberapa warga bergegas menuju kediaman Mbah Min untuk menyiapkan perkakas pemandian dan pemakaman. Pak Andre menyarankan ke warga terkait tenda takziah untuk dibawa serta menggunakan kendaraan bak terbuka menuju rumah mbah Min.

Warga bahu membahu mengambil keranda di Musholla An Nuur dekat balai desa. Sebagian mereka pergi ke kota untuk membeli perlengkapan pemakaman seperti kain mayat, maisan, kayu dan kapur barus. Deruman motor cak Aji memecahkan telinga ketika starter pertamanya. Motor butut keluaran 1991 masih melaju kencang di kisaran 60km/jam. Cak Aji sudah tau betul, di mana tempat membeli perlengkapan tersebut. Ditemani sahabat karibnya, Cak Ali, mereka mengenakan helm full face layaknya pembalap melaju menuju toko Langgeng Jaya. Dentuman mesin motor mereka masih terdengar meskipun jarak pandang sudah tidak terlihat, justru yang tersisa adalah asap oli motor yang lama tidak diganti. Bagi cak Aji, meskipun motor butut, yang penting tarikan dan sensasi suara mesin begitu menggoda.

Iya, kabar meninggalnya mbah Min sangat menghentakkan warga Desa Sumberpatih. Bagaimana tidak, sosok yang suka menolong warga dan rajin beribadah ini dipanggil oleh sang Maha Kuasa. Sudah beberapa hari ini, Mbah Min berbaring di rumah sakit dikarenakan umur yang sudah senja. Selain itu juga, ada riwayat diabetes yang selalu setia menemani kehidupan Mbah Min. Hampir sepekan lamanya, cucu kesayangan mas Amik selalu mendampingi Mbah Min di rumah sakit. Tidak pernah sekalipun mas Amik meninggalkan nenek yang merawatnya sejak kecil, dikala orangtuanya bekerja serabutan di luar kota. Hanya ketika sholat wajib, mas Amik izin sejenak ke Mbah Min untuk menunaikan sholat berjamaah di rumah sakit. Menyuapi, menyelimuti, bahkan memijat kaki sebagai bentuk kasih sayang mas Amik agar Mbah Min lekas bugar kembali dan beraktivitas seperti dulu lagi.

Mbah Min adalah sosok wanita tua yang disegani karena kebaikannya. Setiap ada warga yang kesulitan biaya pendidikan, sekecil apapun baginya untuk warga di Desa Sumberpatih, Mbah Min selalu terdepan dalam membantu. Tak ayal, warga merasa kehilangan Mbah Min yang murah senyum dan ringan tangan. Pernah sekali datang ke rumahku untuk sekadar mengantarkan nasi. Mbah Min datang membawa nasi dari pasar, karena di sana telah bertemu dengan orang yang pernah dibantu beliau. Nasi yang diberikan ke Mbah Min ada dua kotak, sehingga yang satu kotak diantar ke rumahku dan satunya lagi dibawa pulang. Kebetulan rumah Mbah Min berjarak lima rumah dari rumahku. Entah hal tersebut yang keberapa kalinya beliau mengantar nasi meskipun di rumahku ibu telah menanak nasi. Sehingga, bagi ibu, Mbah Min adalah sosok orangtua yang seakan menggantikan nenekku yang meninggal di saat aku masih 6 bulan di gendongan ibuku.

Mbah Min, itulah panggilannya. Sebagaimana yang kuketahui selama ini, nama asli beliau adalah Minarsih. Sesepuh desa selain kakek dan nenekku yang telah lama dipanggil di haribaanNya. Putra-putri Mbah Min sudah lama meninggalkan desa menuju kota idaman masing-masing. Meskipun anak-anaknya tidak ada yang menemani di usia senjanya, Mbah Min tidak pernah mengeluh dan menyerah dengan kondisinya. Masih ada cucu kesayangannya, yakni mas Amik. Baginya, selama masih bisa beribadah dan membantu sesama adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa.

Suatu ketika Mbah Min berangkat terlebih dahulu ke musholla sambil menenteng rantang dari rumahnya. Setelah tiba di depan pintu musholla, Mbah Min mengeluarkan beberapa apem yang telah dibuatnya untuk ditaruh di meja musholla. Tak ayal warga yang berangkat ke musholla dan selesai menunaikan sholat jamaah, mengambil satu per satu apem yang telah dihidangkan Mbah Min. Apem, cucur, atau jajanan lainnya yang sering kujumpai di pasar, seringkali kujumpai sudah berada rapi di atas meja musholla. Semua itu bikinan Mbah Min. Mbah Min mudanya adalah penjual jajanan pasar yang cukup laris di pasar. Orang pasar pasti kenal dengan Mbah Min, selain orangnya ramah ketika menjual jajanan, rasanya pun enak dan murah harganya.

Konon menurut cerita dari mulut ke mulut, jajanan Mbah Min sudah menyebar hingga ke luar desa. Hajatan, acara pernikahan, khitanan, hingga gawe besar di kecamatan yang diselenggarakan pemerintah daerah, jajanan Mbah Min sudah dirasakan oleh banyak orang. Tak ayal tetangga kanan kirinya pun turut membantu Mbah Min agar pesanan sesuai dengan jadwal. Agar batas pengambilan sesuai pemesanan dapat dilayani dengan tepat waktu. Setiap bulan, pasti ada pelanggan yang memesan jajanan buatan Mbah Min. Seakan, rezeki selalu menghampiri Mbah Min dari Allah melalui pemesan jajanan tradisional.

“Pak Naryo…. kerandanya apa sudah diambil di musholla?” tanya pak Andre. “Tadi ada beberapa remaja yang dikoordinir oleh mas Hasto sedang menuju ke musholla pak,” jawab pak Naryo. Jarak rumah Mbah Min dengan musholla lumayan jauh, hampir 500 meter. Maka, Hasto dan teman-temannya bergegas ke musholla untuk mengangkut keranda. Musholla An Nuur adalah satu-satunya tempat ibadah di desa Sumberpatih. Masjid Al Ukhuwah yang saat ini sedang tahap pembangunan, masih belum layak dijadikan tempat ibadah. Karena pembangunannya masih 50 persen tahap penyelesaian. Meskipun begitu, bagi almarhumah sejauh apapun tempat ibadah seakan begitu dekat ingin berjumpa dengan Rabbnya, sedekat sajadah birunya. Sajadah biru. Ketika berangkat ke musholla, Mbah Min tidak pernah lupa membawa sajadah biru. Meskipun sudah usang, baginya teman setia yang selalu mendampingi untuk bertemu Rabb Semesta Alam. Sajadah peninggalan almarhum Mbah Sutiyo, suami tercintanya. Mbah Sutiyo ketika ke musholla, sajadah biru lah yang disampirkan di pundak tuanya.

Mbah Sutiyo selalu berangkat terlebih dahulu dibandingkan warga ketika waktu sholat tiba. Ketika waktu adzan tiba, suara mbah Sutiyo terdengar serak-serak karena sudah senja. Warga mengenali betul suara itu, sehingga warga seantero desa terasa terpanggi agar menunaikan sholat berjamaah. Mbah Sutiyo seorang muadzin desa. Keseharian beliau dihabiskan di musholla untuk berdzikir dan tilawah Alquran. Sesekali Mbah Sutiyo dan mas Amik membantu Mbah Min membawa jajanan yang dihidangkan di musholla.

Setiap matahari akan muncul dan menyinari desa Sumberpatih, Mbah Sutiyo sudah berganti pakaian untuk ke kebun dan memotong daun pisang yang sudah lebar. Beberapa daun berjatuhan terkena sabetan parang yang dibawa Mbah Sutiyo. Setelah terkumpul beberapa lembar yang dirasa cukup, dibawa pulanglah untuk diberikan ke Mbah Min. Sementara daun pisang tergeletak rapi, tangan Mbah Sutiyo menggoyang dan menarik batang singkong. Beliau tau pohon singkong yang sudah menghasilkan singkong besar dan lebat di bawah tanah. Sementara mas Amik sudah siap untuk berangkat sekolah di MA KH. Muh. Salim desa Sumberpatih.

Keranjang di samping onthelnya sudah terisi oleh daun pisang dan singkong. Singkong besar dan lebat isinya membuat hati Mbah Sutiyo semringah. Membayangkan tangan istri tercinta menguliti singkong untuk dijadikan jajanan yang nikmat. Sebenarnya di kebun Mbah Sutiyo ada beberapa pohon kelapa yang siap panen juga, namun dengan usia renta dan tubuh yang tidak sekuat masa mudanya, Mbah Sutiyo selalu memanggil  mas Amik untuk memanjat pohon kelapa. Karenanya pohon kelapa itu dilewati begitu saja oleh Mbah Sutiyo. Lain halnya ketika tubuh Mbah Sutiyo masih kuat, maka setinggi apapun pohon kelapa, seakan bukan rintangan baginya. Selain mengambil kelapa, daun pohon kelapapun dijatuhkan untuk dimanfaatkan sebagai anyaman atau pembungkus jajan. Sehingga, beragam manfaat pohon kelapa dapat dirasakan bagi keluarga Mbah Sutiyo.

Sajadah biru yang dibawa Mbah Min ke musholla telah mengingatkan betapa sosok laki-laki yang telah menemaninya selama setengah abad. Mbah Sutiyo adalah sosok sederhana dan tegas dalam bertindak. Oleh karenanya, didikan Mbah Sutiyo kepada anak-anaknya begitu membekas di hati Mbah Min. Anak pertamanya kini telah bekerja di perusahaan surat kabar dengan menjadi direksi pemasaran. Sesekali si sulung menyempatkan pulang sekadar membawa oleh-oleh dari kota sekaligus mengajak putri semata wayangnya. Sementara anak kedua dari Mbah Sutiyo dan Mbah Min diajak oleh suaminya menetap di luar Jawa. Justru dari anak kedua inilah, perekonomian Mbah Min cukup terbantu. Apalagi kehadiran mas Amik di sisi mereka cukup membantu. Meskipun putri dan suaminya jarang menemuinya, setidaknya selalu mentransfer uang kepada mereka melalui mas Amik. Anak keduanya sudah dikarunia tiga anak. Anak pertama mas Amik, kedua dan ketiga ikut bersama kedua orangtuanya. Terakhir si bungsu yang sudah menikah 2 tahun lalu, kini tinggal di Jawa Tengah dan belum dikaruniai anak hingga sekarang. Maka cucu Mbah Sutiyo dan Mbah Min berjumlah empat.

Sajadah biru Mbah Min yang diletakkan pada shof pertama di jamaah putri, sudah menjadi rahasia umum bahwa tempat tersebut milik Mbah Min. Sehingga jamaah putri yang sholat di musholla selalu paham dan memposisikan diri untuk menempati  tempat selain sajadah biru Mbah Min. Meskipun di musholla telah disediakan mukena dan sajadah, Mbah Min tidak pernah alpa untuk membawa sendiri sajadah biru. Bahkan Mbah Min telah mengenakan mukena warna putih telur dari rumah menuju musholla.

“Pak Naryo jangan lupa juga untuk menyediakan gentong yang terisi air,” ujar pak Andre. Pak Andre adalah Ketua RT ku. Entah sudah ke berapa tahun beliau menjabat ketua RT di tempatku. Akupun juga tidak tahu, bagaimana ceritanya pak Andre menjabat ketua RT begitu lama. Ibuku hanya bilang, sudah tidak ada sosok yang layak dan mampu seperti pak Naryo. Sawah yang membentang luas di desa kami, konon milik pak Andre. “Sudah siap gentong dan gayung, pak Andre,” jawab pak Naryo.

Setelah cak Aji dan cak Ali datang membawa perlengkapan mayat, merekapun menuju rumah Mbah Min. Maisan yang dibawa dari toko, langsung diletakkan di depan rumah almarhum, dan cak Ali langsung bergegas mengambil pensil untuk menulis nama almarhumah. Kuas kecil dan cat warna hitam berada di samping maisan. Agar ketika tulisan nama dan tanggal kematian tertulis dengan benar, giliran kuas kecil yang menebali sebagai tanda bahwa maisan tersebut adalah Mbah Min.

Bunyi sirine ambulan terdengar dari kejauhan. Pak Achmad berada di depan ambulan sebagai pembuka jalan sepanjang perjalanan, telah tampak di depanku. Berarti ambulan tersebut mengantarkan jenazah Mbah Min dari rumah sakit yang ditemani mas Amik. Pak Achmad memarkir motornya di samping rumahku, karena di kediaman almarhumah sudah banyak pelayat yang sedari menunggu kedatangan Mas Amik dan jenazah Mbah Min. Wargapun bergegas mendekati ambulan untuk mengangkat peti jenazah Mbah Min untuk diantarkan terakhir kalinya menuju ruang tamu almarhumah. Sementara ibu-ibu yang melayat silih berganti membawa nampan berisi beras maupun gula untuk ditaruh di ruang belakang sebagai bentuk membantu keluarga almarhumah.

Pak Andre pun berdiri dan membawa toa untuk mengumumkan kepada warga agar siap-siap untuk menyolati almarhumah di musholla. Namun, sembari menunggu kedatangan keluarga besarnya yang hingga kini masih dalam perjalanan, wargapun mengambil air wudhu untuk persiapan sholat jenazah. Sehingga, ketika putra-putrinya sudah datang, mereka sudah siap untuk menyolati jenazah. Ketika tiba putra-putrinya dari kota masing-masing, wargapun mengangkat peti jenazah menuju musholla untuk disholati bersama. Silih berganti jamaah untuk menyolati jenazah almarhumah, dikarenakan musholla yang kecil itu tidak bisa menampung banyak jamaah. Setelah dirasa tidak ada lagi yang menyolati jenazah, kini warga mengantarkan ke tempat terakhir almarhumah yakni pemakaman Islam desa Sekarpatih. Liang lahat yang telah digali sebelumnya sudah siap untuk menyambut peti jenazah Mbah Min. Pelayatpun duduk dan mendoakan almarhumah yang dipimpin oleh mudin setempat.

Putra-putrinya sudah mengikhlaskan kepergian orangtua yang selalu mendidik dan membimbing di kala kecilnya. Kepergian ibu mereka di kehidupannya seolah menjadi nasihat bahwa tugas dan kewajiban itu kini ada pundak putra-putrinya untuk melanjutkan bimbingan kepada cucu Mbah Min. Keempat cucu Mbah Min menangis tersedu ditinggal seorang nenek yang begitu ramah dan dekat dengan mereka. Cucu-cucu Mbah Min masih ingat betul tatkala lebaran Idul Fitri tiba, Mbah Min selalu menjadi jujukan pertama kali oleh warga sekitar. Sehingga rumah nenek mereka penuh kehadiran warga untuk sungkem kepada nenek mereka. Bagi warga, Mbah Min adalah sesepuh desa Sekarpatih yang patut diteladani dan disegani.

Kini, kehadiran sosok sesepuh yang murah senyum dan baik hati ini telah tiada selama-lamanya. Namun, kehadirannya masih dirasakan seantero desa dengan peninggalan sajadah biru di musholla An Nuur. Sajadah biru itu tertata rapi di lemari musholla, sebagai kenangan terindah almarhumah akan kebaikan tiada tara. Semoga Mbah Min layak menempati surga dan berkumpul dengan orang-orang shaleh seperti beliau. Kini Mbah Min tersenyum telah menemui suami tercinta Mbah Sutiyo dan Rabbnya. Sajadah biru menjadi saksi betapa Mbah Min sebagai ibu, nenek, dan orangtua bagi warga Sekarpatih yang kebaikannya akan selalu diingat. Selamat jalan Mbah Min.


By: Oz4N

Selasa, 18 Oktober 2022

Impianku Harapanku

 Impianku Harapanku

Karya: Izza

Editor: Oz4N

Alhamdulillahilladzi ahyaana ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nushur. Terimakasih Yaa Allah pada hari ini aku dibangunkan dalam keadaan sehat wal afiat dan penuh semangat. Sambil menggerak-gerakkan badan, aku berusaha merapikan tempat tidur. Dari menata sprei yang aku tarik sana tarik sini lalu menaruh bantal dan guling di tempat seperti biasanya. Setelah selesai merapikan tempat tidur, aku meliuk-liukkan badan dan menggeleng-gelengkan kepala sambil berdoa dalam hati semoga hari ini lebih baik dan lebih menyenangkan. Waktu menunjukkan pukul 04:00 WIB, ini artinya persiapan untuk sholat shubuh. Kulanjutkan berjalan menuju kamar mandi, berniat buang air kecil, bersih-bersih anggota badan dan berwudhu. Bismillah ini aku belajar disiplin dan berusaha istiqomah dalam beribadah. Semoga Allah SWT memudahkan segala niat baik ini. Sambil menunggu sholat subuh, aku diminta umi untuk mengulang hafalanku. Waktupun berlalu hingga tiba saatnya sholat subuh.  Aku melanjutkan aktifitasku di pagi itu.

Ceritanya, saat itu aku duduk di kelas lima sekolah dasar semester dua. Kata orangtuaku, aku mulai diminta memikirkan dan merencanakan dalam memilih sekolah lanjutan setelah lulus dari SD nanti. Aku sudah mantap untuk memilih sekolah lanjutan, yakni di SMP Ar-Rohmah Putri “Boarding School”. Namun, menurut umi pada awalnya aku disuruh untuk memilih sesuai dengan hati nuraniku. Meskipun aku juga tidak paham, sekolah mana yang akan aku tuju. Bagiku, karena aku sekolah di SD Alam Ar-Rohmah, maka aku memilih sekolah yang kukenal. Apalagi, setiap harinya aku melihat secara langsung SMP Ar-Rohmah Putri. Sehingga sudah tidak memikirkan lagi, mau ke mana sekolah lanjutan nanti.

Aku duduk di bangku SD kelas enam. Aku di kelas 6A, yang mana kelasku khusus kelas tahfidz. Sehingga keseharianku selain belajar akademik pada umumnya, aku juga menghafal dan mengulang hafalan Quran. Ketika pulang sekolah, aku selalu masuk di dalam kampus SMP Ar-Rohmah Putri, karena umiku bekerja di dalam kampus tersebut. Aku banyak tau, bagaimana keseharian santriwati beraktivitas sejak pagi hingga siang bahkan sore hari. Sejak hari Senin sampai Sabtu. Selain aktivitas keseharian, akupun mengetahui di mana kelas, asrama, kantin, hingga tempat kolam renang. Apalagi di awal-awal pandemi, aku pernah merasakan berenang di tempat tersebut. Posisinya ada di bawah asrama bagian belakang. Airnya pun jernih dan tempatnya aman untuk anak-anak.

Abi dan umi sudah mantap untuk mendaftarkan aku di SMP Ar-Rohmah Putri. Awal bulan Agustus 2021, abi dan uami mendaftarkanku di SMP Ar-Rohmah Putri. Baik dari uang pendaftaran hingga mengisi link dan mengirim berkas secara online. Pilihan abi dan umi yaitu di kelas tahfidz, dengan target hafalan 10 juz.

Dengan usaha dan ikhtiar yang dilakukan abi dan umiku, ternyata membuahkan hasil bahwa aku mendapatkan panggilan untuk mengikuti tes dan interview di sekolah lanjutan yang aku pilih. Hatiku senang dan semangat untuk mengikuti tes.

Hari ini adalah hari yang spesial dan sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Hari yang sangat membahagiakan sekaligus menegangkan buatku karena aku akan tes di sekolah SMP Ar-Rohmah Putri 1. Persiapan demi persiapan aku lakukan. Buku demi buku yang dibelikan abi, baik buku olimpiade ataupun mata pelajaran sekolah dasarku kubuka kembali untuk kupelajari. Hampir setiap hari umi selalu mengingatkanku untuk belajar dan belajar. Khususnya Matematika dan Bahasa Indonesia. Menurutku pelajaran yang hampir membuatku pusing untuk menjawab pertanyaan yang disajikan. Perlahan-lahan kubuka kembali buku Matematikaku, hampir tidak pernah luput dari coretan pensil mungilku. Bagaimana tidak, setiap kali mengerjakan soal latihan di buku paket, goresan pensilku yang dibantu abi tidak pernah luput dari angka-angka. Operasi hitung pecahan, kecepatan dan debit, skala, bangun ruang, pengumpulan dan penyajian data kubaca dan kuhitung kembali. Siapa tahu, soal yang muncul berkaitan dengan materi tersebut. Itu baru Matematika. Belum lagi Bahasa Indonesia. Membaca dan memahami bacaan butuh ketelitian lebih mendalam. Kata abi, kalau belajar Bahasa Indonesia, bukan seperti belajar Matematika yang sudah pasti jawabannya. Karena, setiap kali membandingkan antara pilihan a, b, c, dan d hampir semuanya mirip. Maka butuh ketelitian lagi. Entah mencocokkan bacaan atau sekadar mengutip kata maupun kalimat. Selain itu aku juga diajari abi bagaimana tips menjawab soal bahasa Indonesia. Kebetulan abiku guru Bahasa Indonesia di SMP Ar-Rohmah. Sehingga membuatku sedikit terbantu untuk belajar Bahasa Indonesia. Itulah manfaatnya punya abi guru…. hehehehehe

Selain mempelajari mata pelajaran sesuai yang diujikan, aku diajari abi bagaimana cara menjawab pertanyaan ketika wawancara. Kata abi, tidak perlu gugup dan panik. Namun apa daya, setelah tiba waktu tes, ternyata yang diwawancarai hanya ortuku. Akupun merasa lega. Saat umi ditelpon, bayangku adalah kapan tiba giliranku untuk diwawancarai. Eh…. Kata umi, cukup umi saja mbak, karena mbak hanya mengerjakan soal dan menghafal sesuai ketentuan. “Alhamdulillah, mbak Izza setiap harinya belajar selalu ditemani saya Usth. Kadang setor hafalan satu lembar dua lembar setelah sholat,” jawab umiku disaat ditanya bagaimana keseharianku ketika di rumah masalah menghafal Quran. Kini giliranku untuk menyetor hafalan dengan cara direkam. Dua hari sebelum direkam, akupun menghafal Quran surat Yunus ayat 98 hingga ayat 106. Satu lembar jumlahnya. Alhamdulillah tiba saatnya direkam oleh abi. Mataku ditutup dengan slayer. Abipun menuntunku untuk fokus dan menghadap ke kamera. Beberapa kali abi memberhentikanku, karena sempat melompati kata. Sehingga harus diulang lagi dari awal. Tanpa halangan, akupun menuntaskan hafalan surat Yunus tersebut. Selanjutnya abi mengirimkan file hafalanku ke link yang sudah disediakan oleh Artri (julukan SMP Ar-Roh Putri). Tes akademik (Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA) sudah. Tes hafalan Quran surat Yunus ayat 98-106 sudah. Tes tilawah sudah. Namun ada satu tes lagi yang menurutku asing. Bahkan tidak kupahami sama sekali. Yakni tes minat dan bakat. Ternyata kata abi, tes minat bakat itu sesuai apa yang ada di pikiran kita untuk jawabannya. Jawabannya sesuai apa yang cocok bagi kita. Meskipun pilihan jawabannya hampir-hampir mirip. Alhamdulillah, aku pun menuntaskannya meskipun dibantu abi untuk menjawabnya. Karena memang membingungkan dan tidak kupahami.

Pagi pun sudah menjelang. Singkat kata singkat cerita, aku bertanya kepada abi hasil tes. Hari yang kunantikan pun tiba lagi, yakni pengumuman hasil seleksi PSB (Penerimaan Santri Baru) SMP Ar-Rohmah Putri. Berikut adalah pengumumannya:

Tentang HASIL TES SELEKSI PENERIMAAN SANTRI BARU YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM AR-ROHMAH PUTRI TAHUN AJARAN 2022/2023

Menimbang : Bahwa dalam rangka penerimaan santri baru YPI Ar-Rohmah Putri Malang, perlu diadakan tes seleksi.

Mengingat : Tes yang diadakan oleh panitia seleksi penerimaan santri baru tahun ajaran 2022/2023

Memperhatikan : Hasil rapat ketua panitia tes seleksi penerimaan santri baru bersama tim Pendidikan Menengah dan Dewan Yayasan YPI Ar-Rohmah Putri

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

Pertama : Nama-nama yang terlampir dinyatakan DITERIMA dalam tes seleksi penerimaan santri baru YPI Ar-Rohmah Putri Malang tahun ajaran 2022/2023.

Kedua : Keputusan ini disampaikan kepada orang tua dan peserta tes seleksi serta kepada pihak yang berkepentingan untuk diketahui dan diperhatikan dengan sebaik- baiknya

Ketiga : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, jika di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

Keempat : Keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat.

Alhamdulillah dari sekian halaman yang ada, namaku tercantum. Akupun sangat senang. Sesuai pilihan abi dan umi, aku diterima di program tahfidz. Itu adalah momen terindah, aku diterima sebagai santriwati SMP Ar-Rohmah Putri program Tahfidz. Semoga apa yang kucita-citakan, serta yang diharapkan abi dan umi dapat terwujud di masa depan. Aku ingin menjadi hafidz Quran serta berprestasi di akademik. Cita-cita menjadi dokter yang hafidz Quran. Ya Allah mudahkanlah aku untuk menuntut ilmu dan menghafal Quran. Aamin yaa Robbal alamiin. Terima kasih abi, umi, adik, dan keluarga besarku di Surabaya dan Temanggung. I Love You all.

Penantian Dua Tahun

 Penantian Dua Tahun

Karya: Izza

editor: Oz4N

Rufaidah adalah wanita mulia, yang memperoleh kemuliaan dari orang mulia. Betapa tidak, ia adalah perawat wanita pertama dalam sejarah Islam. Karena kerja kerasnya membantu pasukan Islam dalam medan pertempuran, ia memperoleh kehormatan dari manusia mulia, Rasulullah . Nabi agung itu berkenan melilitkan kalung di leher perempuan yang selalu hadir dalam setiap pertempuran. Anugerah dari Rasulullah itu sangat berkesan, dan ia berwasiat kalung itu harus dikubur bersama jasadnya. Rufaidah, namanya begitu harum, dan  diabadikan sebagai istilah pos kesehatan dalam Islam (Khaimah Islam). Ialah wanita yang memiliki tempat khusus bagi pejuang Islam. Siapakah Rufaidah? Nama lengkapnya adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Wanita ini berasal dari Bani (marga) Aslam, salah satu marga dari suku Khazraj di Madinah.  Dalam salah satu sumber disebutkan bahwa ia bernama Ku’aibah binti Sa’ad (lihat Usud al-Gabah (Raja Rimba), VIII: 252).

Rufaidah dilahirkan di Yatsrib (kini dikenal sebagai Madinah al Munawwarah –pent.) dan tumbuh di sana sebelum hijrah. Ia termasuk kelompok muslim pertama dari Bani Aslam. Pada saat Rasulullah diizinkan oleh Allah SWT untuk berhijrah, Rufaidah termasuk di antara para muslimah kaum Ansar yang menyambut Sang Rasul dengan tabuhan rebana dan kendang serta iringan  lagu yang sangat terkenal dan abadi (Tala’al Badru ‘Alaina). Ketika agama Islam sudah menyelimuti Madinah, Rufaidah berkonsentrasi pada pekerjaan paramedic (keperawatan) yang diwarisi dari para leluhurnya. Saat itu ia melakukan perawatan dan penyembuhan terhadap masyarakat muslim yang menderita sakit. Ia mendirikan kemah pengobatan di samping Masjid Nabawi (lihat ibn Ishaq).

Dari keterangan dua paragraf di atas, aku kutip dari sebuah buku karya Ahmad Syauqi alFanjari dengan judul Rufaidah. Aku ingin sekali menulis tentang nama tersebut. Kenapa aku ingin sekali menuliskan nama tersebut, karena berkaitan dengan nama yang kusandang dari kedua orangtuaku. Iya, namaku adalah Rufaidah Izzatul Islamy. Putri dari abi Achmad Fauzan dan umi Azizah. Ceritanya adalah sebagai berikut, let’s check it out….

Bermula dari abiku berkunjung pada sebuah pameran buku di Kota Malang, yang memang seringkali diadakan pada saat liburan sekolah. Abi dan umi berkunjung ke sana karena promosi acara tersebut sangat gencar. Bagaimana tidak, melalui sebuah broadcast SMS, WA, banner dan spanduk terpampang di mana-mana. Rasa penasaran abi untuk mengunjungi acara tersebut, mengharuskan mencari waktu yang tepat agar dapat menikmati acara dengan senyaman mungkin. Ternyata abiku berangkat di sore hari selepas dari kantor (bekerja di Humas/hubungan masyarakat). Abi dan umi adalah sosok yang gemar membaca buku, sehingga mereka selalu mencari buku yang sekiranya cocok dan menarik. Bahkan ketika aku belum lahir di dunia, abi dan umiku tinggal di perumahan daerah Soekarno Hatta kota Malang bersama eyang uti dan kakung, abi dan umi selalu menyempatkan membaca buku. Maka, tatkala ada acara pameran buku, abipun sangat antusias untuk mendatanginya.

Singkat cerita di acara pameran buku, umi melihat sebuah buku kecil dan bersampul warna putih dengan sketsa seorang wanita berhijab. Ketika diambil dan dibaca di bagian sinopsis, umiku tertarik untuk membuka buku tersebut dari lembar pertama dan selanjutnya. Dirasa isinya menarik, akhirnya buku dengan jumlah 196 halaman, terbeli untuk dibawa pulang. Disamping buku tersebut, orangtuaku membeli beberapa buku dan barang lainnya yang sekiranya juga menarik. Khususnya umiku, tertarik membeli jilbab.

Abiku berasal dari Surabaya, sementara umiku berasal dari sebuah desa di kabupaten yang asri dan sejuk daerahnya, yakni Temanggung. Konon, pernikahan abi dan umi sudah memasuki tahun kedua. Sehingga, kata orangtua abi dan umi, mereka mengharapkan cucu kesayangannya yang nun jauh dari dua kota tersebut. Aku tinggal di kota Malang, sehingga penantian itu sangat lama bagi Bapak, Emak, dan mbah Kakungku. Sementara nenekku telah meninggal, ibu dari umiku. Akhirnya, abi dan umi mendatangi dokter satu ke dokter lainnya untuk konsultasi sekaligus berobat agar mendapat keturunan. Sudah beberapa dokter rekomendasi dari keluarga, tetangga, hingga teman. Namun, kata umi masih belum ada tanda-tanda kalau hamil. Tapi ada yang menarik dari cerita umi setelah menunaikan sholat maghrib, bahwa umi membaca sebuah buku tentang keajaiban bersedekah. Dari buku tersebut, umi mempraktikkan apa yang disampaikan penulis. Bahwa ketika kita sedang menghadapi masalah maupun keinginan kita ingin diwujudkan oleh Allah, maka dianjurkan untuk bersedekah. Akhirnya, umi mengajak abi keliling kota Malang untuk mencari para abang becak yang sedang mangkal untuk menunggu penumpang. Umilah yang selalu menunjukkan tempat para abang becak berada. Ketika umi memberikan sedekah ke abang becak, umi meminta untuk didoakan diberikan keturunan. Senyum merekah dan doa dari mereka seakan pertanda optimisnya umi atas semakin dekat harapan dan cita-citanya.

Atas takdir Allah, selain berikhtiar ke beberapa dokter dan bidan terdekat, akhirnya hari yang dinantikan umi tiba. Kabar gembira di pagi hari, umi tersenyum lega. Akhirnya harapan itu menjadi kenyataan di depan mata. Umi hamil. Setiap harinya aku dijaga, dicek, bahkan selalu dikonsultasikan ke dokter terkait perkembanganku dari hari ke hari, dari bulan ke bulan. Betapa bahagianya abi dan umiku. Setelah sekian lama, akhirnya aku berada di samping abi dan umiku. Ketika berusia delapan bulan, umiku sudah was-was. Bagaimana tidak, kata umi aku begitu aktif di dalam perut. Tendang sana tendang sini. Kata umi, seakan-akan tiada hari untuk selalu bergerak aktif di dalam perut. Pada saat menjelang kelahiran, umi diantar abi ke bidan untuk kontrol sekaligus menunggu detik-detik kebahagiaan. Umi sudah seharian berada di rumah bidan dekat rumah, namun masih belum ada tanda-tanda aku keluar. Hari berikutnya pun sama. Bahkan kata perawat yang membantu bidan tersebut, akan lahir di hari itu juga. Umi merasa kesakitan, sampai dibantu suntikan untuk meredam rasa sakit tersebut. Akhirnya, abi yang tidak tega melihat umi kesakitan, akhirnya menelepon rumah sakit di daerah Soekarno Hatta Malang agar dijemput di rumah bidan. Bidan pun menyetujuinya. Seftelah sholat dhuhur ambulan tiba dan tepat berada di depan rumah bidan. Tanpa menunggu waktu lama, umipun dibawa ke rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut.

Setelah tiba di rumah sakit, abi diminta dokter untuk menunggu di luar. Karena abi belum sholat dhuhur, akhirnya abi menuju musholla rumah sakit di lantai dasar untuk menunaikan sholat. Sembari berdoa agar aku dan umi selamat dan sehat. Tepat tanggal 17 Januari 2010, lahirlah aku di dunia ini. Tangisanku yang kencang kata umi membuat hati beliau menjadi bahagia. Air mata umi meleleh seketika itu juga menyaksikanku digendong oleh dokter yang menangani umi secara cesar. Setelah aku keluar dan dibersihkan, aku ditempatkan di sisi umi sebelah kanan. Abipun diperkenankan masuk untuk melafalkan adzan di telinga sisi kanan. Air mata abipun tumpah dan mengalir di pipinya. Tak kuat menahan haru dan perjuangan umi.

Aku lahir di dunia dengan diberi nama Rufaidah Izzatul Islamy. Terinspirasi dari cerita yang sesuai dengan judul buku “Rufaidah”. Abi dan umi berharap, suatu saat aku dapat memberikan manfaat kepada orang lain dalam bidang kedokteran. Bagaimana tidak, perjuangan umi di saat pertama kali hamil hingga melahirkan begitu luar biasa. Mulai tidak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari, rasa capek dan lelah, hingga tangisan bahkan antara hidup dan mati di saat melahirkan. Itu semua perjuangan seorang ibu yang patut kita hormati setiap saat. Bahkan di setiap sholatku, tidak pernah kulupakan doa untuk umi dan abi. Begitu hebatnya perjuangan umi ketika melahirkanku hingga aku bisa menjadi anak yang mandiri. Akupun juga bersyukur, setiap hari aku selalu dibimbing untuk selalu giat belajar, ngaji, dan mendampingi adikku Zahrona. Sekali lagi, aku berterima kasih kepada umi dan abi atas doa, bimbingan, dan arahan selama ini kepadaku. Yang patut aku syukuri pula, abi dan umi selalu mendukungku untuk terus berprestasi, baik di perlombaan-perlombaan IPA dan menghafal Quran. Aku kini duduk di kelas 5 SD Alam Ar-Rohmah, di kelas tahfidz. Setiap harinya menghafal Quran dan belajar pelajaran pada umumnya. Selain itu, aku dibimbing dan didampingi belajar tatkala ada lomba esok harinya. Meskipun di sekolah aku juga diikutkan pembinaan olimpiade. Di beberapa perlombaan yang kuikuti, Alhamdulillah aku bisa menjadi juara. Mulai tingkat kecamatan, Jawa dan Bali, hingga nasional. Itu semua berkat arahan dan bimbingan abi, umi, serta ustadzah.

Terima kasih umi dan abi, doaku selalu kutujukan kepadamu di setiap sholatku. Semoga umi dan abi selalu diberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan hidup. Allahumma fighfirlii wa liwaa lidhayya warham humaa kamaa rabbayaa nii shoghiroon. "Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orangtuaku. Baik umi maupun abiku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku di waktu kecil."

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...