Selasa, 21 Juli 2020

Menjadikan Pesantren sebagai Solusi

Menjadikan Pesantren sebagai Solusi
Ada sebuah kalam dari salah satu sahabat Umar ibnu Khattab yakni إِنَّ فِى الْعُزْلَةِ رَاحَةً مِنْ خُلَطَاءِ السُّوْءِ  artinya sesungguhnya di dalam uzlah itu menentramkan hati dari pada bergaul dengan orang yang tidak baik tingkah lakunya. Akhir-akhir ini pergaulan di masyarakat apalagi yang didominasi anak muda adalah jauh dari pada nilai-nilai Islami. Bagaimana pergaulan anak zaman milenial sudah semakin tidak terkontrol. Ditambah lagi dengan tayangan-tayangan yang kurang mendidik. Sebagai contoh pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan tanpa batas dan usia. Sejak SMP bahkan SD, anak zaman sekarang sudah mengenal istilah pacaran. Sudah berani menyatakan rasa sayangnya kepada orang lain dengan dilandasi nafsu. Belum lagi ketika kita menyaksikan di beberapa media cetak maupun elektronik, tawuran antar pelajar bahkan antar sekolah, yang lebih ngeri lagi adalah sudah teracuni dengan barang haram yang telah dilarang di negeri ini yakni Narkoba. Dari beberapa contoh di atas, orang tua dan pendidik dibuat pusing tujuh keliling dengan penanganan hal-hal semacam itu.
Media sosial turut membantu bagaimana menyebarkan konten-konten yang sama sekali tidak bermanfaat. Mulai video porno, youtube yang penuh dengan acara prank, dan lain sebagainya. Beragam permasalahan tersebut acapkali disikapi dengan acuh tak acuh. Seringkali keluhan orang tua atau pendidik manakala anak usia dini sudah dipegangi yang namanya HP (Hand Phone). Alat canggih yang selalu tidak terlupakan untuk dibawa kemana-mana. Harga yang cukup terjangkau oleh semua kalangan sudah dilengkapi berbagai fitur dan aplikasi yang mendukung. Sudah tidak zamannya lagi, ketika anak tidak menggunakan HP. Di berbagai tempat dan waktu, kita mendapati anak kecil ramai-ramai mojok menggunakan HP dan asyik dengan sendirinya. Ada yang bermain game dengan beragam permainan yang ada baik game online atau game offline, atau mereka asyik berselancar ke youtube yang menghadirkan tayangan apa saja yang kita inginkan. Tanpa control dan sikap tidak peduli dari sebagian orang tua tatkala anak tidak mengganggu aktivitas orang tua, maka jalan satu-satunya adalah memberikan dan memfasilitasi HP. Tayangan, acara, dan beragam konten yang ada di youtube, dengan mengetik apa yang kita inginkan, maka muncul video yang kita harapkan.
Inilah makna bagaimana beruzlah dari pada bergaul dengan yang tidak baik tingkah lakunya. Bagaimana caranya? Cara terbaik yakni ketika anak diberikan sebuah tanggungjawab dan aktivitas yang mendukung untuk mengembangkan kreativitasnya. Tidak sekedar menghabiskan waktu dengan teman-temannya dengan kegiatan tanpa manfaat, tapi memanfaatkan waktu sedemikian rupa untuk terus mengasah mental dan rohani. Mengembangkan bakat dan minat melalui kegiatan sekolah, mengaji dan menghafal Quran serta memahami makna yang terkandung di dalamnya, serta belajar dengan terstruktur di sekolah. Inilah yang ditawarkan oleh LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang. Kesempatan baik tidak terbuang percuma, maka keluhan dan permasalahan orang tua yakni bagaimana anaknya menjadi orang yang bermanfaat di sekitarnya dan untuk masa depannya bahkan bisa menghindarkan dari siksa api neraka. Waktu sedemikian rupa yang tersusun rapi di pesantren serta kegiatan yang mendukung kreativitas anaknya, menjadikan ketenangan bagi orangtua masa kini. Lantas apa yang ditawarkan oleh pesantren yang berlokasi di ujung Kabupaten Malang berbatasan dengan Kota Wisata Batu ini? Kesempatan kali ini, kami akan mengutip apa yang disampaikan oleh Pembina LPI Ar-Rohmah Ust. Dr. ali Imron, M.Ag. yakni, menjadikan pesantren sebagai solusi. Apa solusi yang ditawarkan? Melalui lembaga pendidikan SMP-SMA Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, hadir memberikan solusi bagi orangtua di masa milenial, yakni:
1.       Adab dan akhlak
Sebagaimana pada tulisan di atas tadi, seringkali kita jumpai ketika anak sedang asyik bersama teman-temannya dan berselancar di dunia maya, kita dapati bahwa anak tersebut pada dasarnya menikmati kebersamaan dan saling mempercayai dengan temannya dibandingkan menyelesaikan permasalahan kepada orangtuanya. Sehingga ketika kebersamaan dan saling percaya ke sesama teman yang dipengaruhi oleh HP, maka hilanglah kebersamaan dengan orangtua dan keluarga. Sikap acuh dan tepo seliro yang senantiasa dijaga orangtuanya turun temurun seakan sirna tatkala perkataan dan tindak tanduk anaknya tidak sekalipun menunjukkan adab dan akhlak yang baik. Ketika memanggil orangtua atau orang yang lebih tua dengan panggilan yang tidak sesuai nama bahkan seringkali panggilan bro dan sebagainya. Atau tatkala anak melewati di depan orangtua/orang yang lebih tua, tanpa sungkan dan ucapan permisi lagi, bahkan ada yang lari sekencang-kencangnya walaupun jarak yang cukup dekat dengan mereka. Inilah yang ingin ditawarkan pesantren untuk menjaga adab dan akhlak yang diwarisi oleh para Nabi dan ulama agar terus terus terjaga. Maka hal penting adalah ketika menanamkan adab dan akhlak sejak dini sebelum menuntut ilmu. Maka, adab perlu dipahamkan, dicontohkan, dan dibiasakan.
2.       Tahfidz Al Quran
Al Quran adalah kitab suci bagi umat Islam.  Al Quran berisi petunjuk untuk hidup manusia. Menghafal al Quran termasuk ibadah sebagai tujuan hidup dalam Islam jika dilakukan ikhlas karena Allah dan bukan untuk mengharapkan pujian di dunia sebagaimana fungsi al Quran dalam kehidupan dan keajaiban al Quran di dunia.
Bahkan salah satu ciri orang yang berilmu menurut standar al Quran, adalah mereka yang memiliki hafalan al Quran sebagai cara dan bentuk manfaat membaca al Quran setiap hari . Allah berfirman, “Bahkan, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata, yang ada di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. al-Ankabut: 49). Di SMP-SMA Ar-Rohmah menawarkan pendidikan integral yang memadukan antara pendidikan Agama yang didesain dengan mengacu Sistematika Wahyu dari Hidayatullah sekaligus pendalaman Al Quran dan menghafalkannya serta pendidikan Nasional (Diknas). Maka keseharian anak selain belajar pelajaran umum yang ada di sekolah, mereka kembali ke asrama untuk belajar mendalami al Quran dan menghafalkannya. Dengan target 30 Juz untuk kelas Takhasus, 15 juz untuk kelas tahfidz, dan 5 juz untuk kelas regular.
3.       Dasar bahasa asing
Ketika memasuki masa 4.0 seperti saat ini, kita dihadapkan pada kemajuan teknologi dan kemampuan berbahasa. Maka, SMP-SMA Ar-Rohmah menawarkan pendidikan integral yang terpadu antara pendidikan agama, pendidikan nasional, dan mengembangkan dengan menggunakan bahasa asing. Hal ini penting sebagai dasar dalam mengarungi peradaban masa depan. Jika mampu menguasai bahasa, maka diharapkan mampu bersaing di dunia pendidikan, usaha, dan lain sebagainya. Program bahasa asing yang diterapkan di SMP-SMA Ar-Rohmah diharapkan dapat memacu untuk terus bersaing. Adapun program bahasa asing, diaplikasikan di sekolah dengan menggunakan bahasa Inggris, sementara pendalaman bahasa Arab di asrama.
4.       Matrikulasi mata pelajaran
Apa itu matrikulasi? Program matrikulasi diartikan sebagai kegiatan pemenuhan kompetensi peserta didik agar kesenjangan antara muatan/substansi dan pengalaman belajar (learning experience) dari kurikulum yang berbeda dapat dipenuhi sesuai dengan kompetensi yang harus dipenuhi. Artinya, mata pelajaran yang memenuhi subtansi dan pengalaman belajar lebih diutamakan dan tidak menafikan mata pelajaran yang lainnya. Sehingga anak lebih focus untuk belajar yang diharapkan dapat memenuhi apa yang diinginkan untuk pembelajaran yang akan dating sesuai dengan komptensi yang dimiliki.
Adapun matrikulasi pelajaran yang ada di SMP-SMA Ar-Rohmah yakni mata pelajaran yang mengacu akan kompetensi siswa sekaligus mengasah mental spiritualnya. Maka pendalaman mata pelajaran sangat penting untuk memacu siswa lebih intens.
Demikian beberapa hal yang ditawarkan oleh LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah melalui program pendidikan yang ada yakni SMP-SMA Ar-Rohmah. Anak didik tidak hanya diajarkan mata pelajaran yang umum diajarkan di sekolah, tetapi juga diajarkan dan pendalaman bahasa asing yang intens serta mendapatkan pembelajaran yang menitikberatkan mental spiritual melalui kegiatan-kegiatan yang ada di pesantren. Life skills diasah sedemikian rupa dengan tidak melupakan ruhani, perpaduan yang sangat dibutuhkan bagi anak didik untuk mengarungi masa depan. Maka, pesantren sebagai solusi untuk orangtua adalah solusi yang terbaik untuk saat ini. Di Ar-Rohmah anak akan dididik menjadi anak yang Takwa, Cerdas, dan Mandiri. (Ozan)

Karakter yang Integral


Karakter yang Integral

Pendidikan pada dasarnya untuk menumbuhkan kepekaan diri dan menemukan dirinya sendiri sehingga terbentuk karakter yang utuh. Pendidikan karakter tidak dapat dibentuk semata-mata dengan keluasan dan kedalaman intelektual, tetapi perlu diberi keteladanan dan latihan, terutama oleh lingkungan keluarga. (KH. M. Cholil Nafis, PhD. _penulis buku “Fikih Keluarga”_)

Dalam sebuah buku “Mendidik Karakter dengan Karakter” karya Ida S. Wijayanti pada bagian 2 yang berjudul Jalan Pikiran Anak yakni, suatu hari, karena ribut di dalam kelas, murid-murid di sebuah sekolah mendapat hukuman dari guru. Agar hukuman itu mendidik, sang guru menugaskan murid-muridnya menjumlahkan angka dari 1 sampai 100. Ketika murid-murid lain sedang sibuk menjumlah, tidak sampai satu menit seorang anak berjalan ke arah guru dan menyerahkan hasil hitungannya. Ternyata jawaban anak tersebut benar yaitu 5050. Tentu saja guru heran, lalu bertanya bagaimana ia bisa menjumlah dengan secepat itu. Anak tersebut menjawab, “Mudah saja, 1 ditambah 100 sama dengan 101. 2 ditambah 99 sama dengan 101. 3 ditambah 88 sama dengan 101. Ada 50 pasangan angka yang seperti itu. Saya kalikan 101 dengan 50 maka hasilnya 5050.” Anak tersebut kemudian tumbuh menjadi seorang yang sangat pandai dalam memecahkan persoalan matematika. Dunia kemudian mengenalnya dengan nama Carl Friedrich Gauss (1777-1855), ahli matematika dan ilmuwan dari Jerman. Ia banyak memberi sumbangan pikiran di bidang analisis, geometri, relativitas, dan energi atom. Cara yang dilakukan Gauss kecil dalam memecahkan soal matematika tentu saja bukan cara yang diajarkan oleh gurunya. Ia menemukan pemecahan matematika itu sendiri. Anak-anak dengan jalan pikirannya, ternyata mampu menciptakan pemecahan soal yang sebelumnya tak terpikirkan oleh orang dewasa.

Itulah gambaran bagaimana Gauss mampu berpikir dan menciptakan jalannya sendiri dalam memahami berbagai persoalan. Bisa jadi cara atau jalan mereka memang tidak sama sperti yang dipakai oleh orang dewasa. Selama ini, kadang anak dianggap bodoh atau salah karena cara menyelesaikan masalahnya berbeda dengan hasil pikiran orang dewasa. Tak jarang, anak dalam keadaan sedih karena hasil pekerjaannya dianggap salah karena cara yang ditempuh anak tidak sama dengan yang diajarkan guru. Anak-anak ibarat benih pohon, meskipun bagus dan berkualitas, ia tidak akan tumbuh sempurna jika ditanam di lahan yang tandus. Segenius apa pun Gauss, kalau tidak didukung oleh guru, orangtua, dan lingkungannya, ia tidak akan menjadi orang yang hebat.

Untuk menjadi orang yang berkualitas dan menjadi rahmat bagi alam semesta, ia membutuhkan lingkungan yang mendukung, yaitu orangtua dan guru yang menghargai cara berpikirnya. Biarlah anak-anak pelajari sendiri, diri, dan dunia ini, dengan cara pandang mereka sendiri. Namun, yang sangat urgen dalam menuntut ilmu yakni bagaimana ilmu tersebut bermanfaat dan berkah bagi dirinya sendiri, keluarga, hingga masyarakat luas. Artinya, pendidikan yang berkualitas yakni bagaimana lingkungan yang mendukung, orangtua, dan guru saling memberikan manfaat dan berkesinambungan. Manfaat dalam arti memberikan sebuah keberkahan dan berguna ilmu yang didapatkan di lingkungan tersebut, orangtua dan guru mendukung dalam proses pembelajaran, serta dapat dirasakan bagaimana manfaat ilmu yang telah dipelajari. Adapun berkesinambungan, yakni semua stakeholder pendidikan murid, orangtua, guru, dan lingkungan saling mendukung dalam proses pembelajaran. Murid mendapatkan ilmu dari gurunya, guru memberikan ilmu yang tidak hanya mentransfer ilmu tapi memberikan pembelajaran hidup yang bernilai untuk masa depan si murid, orangtua juga mendukung proses pembelajaran dengan memenuhi kebutuhan murid, dan lingkungan yang mendukung untuk terciptanya suasana yang beriman “bersih, indah, aman, dan nyaman” dalam belajar.

Inilah yang ditawarkan oleh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang, dalam pendidikan SMP-SMA Ar-Rohmah Boarding School. Proses integral antara pendidikan formal yang dilaksanakan di sekolah, serta pembelajaran yang ada di asrama. Sinergi sekolah dan asrama yang selama ini terjadi saling memenuhi kebutuhan pendidikan karakter bagi si anak. Pembelajaran yang dimulai sejak sebelum bangun tidur di tiga malam pertama yakni ketika anak melakukan sholat lail dengan sujud dan rukuk untuk beribadah kepada Allah, dilanjutkan dengan sholat shubuh berjamaah yang diikuti dzikir pagi. Tidak cukup sampai di situ, anak akan mendapatkan proses pembelajaran al Quran setelahnya dengan belajar dan menelaah serta setoran hafalan. Proses kemandirian di asrama dimulai dengan memanfaatkan waktu untuk bersih-bersih kamar dan lingkungan sekitar sebelum bersih-bersih diri (mandi). Setelah siap dengan seragam sekolahnya, anak berangkat ke ruang makan untuk sarapan bersama untuk mendapatkan asupan gizi yang seimbang agar proses pembelajaran di kelas menjadi semangat. Perpaduan mata pelajaran umum dan agama yang ada di kelas, membuat anak semakin paham akan ilmu Allah. Di sekolah diajarkan bagaimana memahami dan menjelaskan arti ilmu Allah dalam kehidupan kita. Iqra bismirabbik sangat ditekankan dalam menuntut ilmu. Selepas sekolah anak-anak diajak untuk bersosialisasi dengan berolahraga bersama di asrama sebelum melanjutkan pendalaman dan setor hafalan di sore hari dan menjelang istirahat malam. Inilah gambaran pendidikan integral antara proses sekolah dan asrama di Ar-Rohmah.

Ketika proses pembelajaran itu didukung oleh lingkungan yang bersih, indah, dan aman maka proses pembelajaran akan semakin nyaman. Lingkungan yang bersih dan indah berdampak pada kesehatan jiwa dan raga serta berpikir lebih fresh. Lingkungan yang nyaman berdampak pada ketenangan ketika menuntut ilmu. Tidak ada rasa khawatir dan cemas ketika belajar. Penopang tiga unsur lingkungan tersebut sangat dibutuhkan ketika menuntut ilmu. Bagaimana dalam pembahasan kitab-kitab para salafus sholih, hal utama yang dibahas tentang thoharoh. Begitu pentingnya pembahasan tentang thoharoh atau kebersihan, dikarenakan selain bersih hati, pikiran, dan tindaktanduknya, maka kebersihan lingkungan perlu diperhatikan dengan saksama. Ketika lingkungan tidak mendukung dalam hal ini kebersihan, maka yang terjadi adalah kesumpekan, keruwetan, dan kejumudan. Lingkungan yang tidak bersih berdampak pada bagaimana sikap kita menyelesaikan sebuah permasalahan.

Kehadiran LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang dalam hal ini SMP-SMA Ar-Rohmah yang didukung oleh SDM yang unggul dan kompeten di bidangnya, juga lingkungan yang bersih, indah, dan nyaman. Maka pilihan sebuah tempat untuk menimba ilmu sangat cocok di pesantren yang terletak di Desa Sumbersekar Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Semoga jerih payah semua stakeholder LPI Ar-Rohmah mendapat keberkahan dan perlindungan dari Allah. (Ozan)


Mengapa Saya Menulis

Mengapa Saya Menulis

Masa pandemi seperti saat ini, ketika dunia pendidikan dan hampir sektor berhenti bahkan ada yang harus merumahkan karyawannya ratusan hingga ribuan dikarenakan perekonomian mandek, maka sistem bekerja dari rumah atau yang sering dikenal dengan WFH adalah solusi alternatif. 
Mengapa dibilang alternatif? Karena ketika bekerja seperti biasa, dampak yang akan menimpa sangat rentan. diantaranya terpapar virus Covid-19 yang hingga detik ini masih ada dan nyata.
Tidak hanya bekerja dari rumah yang saat ini terjadi di masa pandemi, bahkan belajar dari rumah pun sudah terjadi beberapa bulan terakhir ini. BDR atau Belajar Dari Rumah adalah solusi alternatif selain bekerja dari rumah untuk memutus rantai penyebaran virus. Sehingga, apapun yang dipelajari dari pendidik dapat dinikmati bersama muridnya melalui belajar daring (dalam jaringan). Dengan memanfaatkan berbagai macam aplikasi yang ada.

Tatkala belajar dari rumah dan bekerja dari rumah sudah dijalankan, perekenomian perlu tumbuh seiring ekonomi yang menurun drastis. Dikarenakan proses produksi dalam sebuah perusahaan belum berjalan lancar. Maka, ketika sektor ekonomi mulai menurun, pemerintah dalam hal ini Kementerian Ekonomi mencanangkan pekerjaan dapat dilanjutkan dengan melalui protokol kesehatan. Proses screening ketika masuk perusahaan cukup ketat, bahkan diwajibkan untuk menggunakan masker dan melalui pengecekan suhu tubuh serta pemberian hand sanitizer. 

Mengapa Saya Menulis sebagai jawaban atas pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan secara langsung di sekolah, perusahaan, maupun peribadatan, maka menulis juga bisa menuangkan sebuah ide dan gagasan untuk membaca sebuah kejadian yang saat ini melanda dunia. Apapun bisa menjadi sebuah tulisan asal dengan kehatia-hatian dan etika dalam membuat berita. Tidak mengandung unsur penipuan dan perundungan menjadi titik awal untuk menulis. Hoaks yang selama ini beredar luas, sangat mengganggu ketika tidak diimbangi dengan menelusuri secara langsung berita tersebut. 

Tulisan ini mungkin sederhana, karena sebagai awal untuka memulai sebuah ide dan gagasan besar untuk dapat direalisasikan ke depannya. Maka, mengapa saya menulis sebagai jawaban untuk memberikan solusi atas berita yang beredar di masyarakat tanpa adanya sumber yang jelas.

terima kasih coach Akbar Zainuddin atas bimbingannya.

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...