Selasa, 21 Juli 2020
Menjadikan Pesantren sebagai Solusi
Karakter yang Integral
Karakter yang Integral
Pendidikan pada
dasarnya untuk menumbuhkan kepekaan diri dan menemukan dirinya sendiri sehingga
terbentuk karakter yang utuh. Pendidikan karakter tidak dapat dibentuk
semata-mata dengan keluasan dan kedalaman intelektual, tetapi perlu diberi
keteladanan dan latihan, terutama oleh lingkungan keluarga. (KH. M. Cholil
Nafis, PhD. _penulis buku “Fikih Keluarga”_)
Dalam sebuah
buku “Mendidik Karakter dengan Karakter” karya Ida S. Wijayanti pada bagian 2
yang berjudul Jalan Pikiran Anak yakni,
suatu hari, karena ribut di dalam kelas, murid-murid di sebuah sekolah mendapat
hukuman dari guru. Agar hukuman itu mendidik, sang guru menugaskan
murid-muridnya menjumlahkan angka dari 1 sampai 100. Ketika murid-murid lain
sedang sibuk menjumlah, tidak sampai satu menit seorang anak berjalan ke arah
guru dan menyerahkan hasil hitungannya. Ternyata jawaban anak tersebut benar
yaitu 5050. Tentu saja guru heran, lalu bertanya bagaimana ia bisa menjumlah
dengan secepat itu. Anak tersebut menjawab, “Mudah saja, 1 ditambah 100 sama
dengan 101. 2 ditambah 99 sama dengan 101. 3 ditambah 88 sama dengan 101. Ada
50 pasangan angka yang seperti itu. Saya kalikan 101 dengan 50 maka hasilnya
5050.” Anak tersebut kemudian tumbuh menjadi seorang yang sangat pandai dalam
memecahkan persoalan matematika. Dunia kemudian mengenalnya dengan nama Carl
Friedrich Gauss (1777-1855), ahli matematika dan ilmuwan dari Jerman. Ia banyak
memberi sumbangan pikiran di bidang analisis, geometri, relativitas, dan energi
atom. Cara yang dilakukan Gauss kecil dalam memecahkan soal matematika tentu
saja bukan cara yang diajarkan oleh gurunya. Ia menemukan pemecahan matematika
itu sendiri. Anak-anak dengan jalan pikirannya, ternyata mampu menciptakan
pemecahan soal yang sebelumnya tak terpikirkan oleh orang dewasa.
Itulah gambaran
bagaimana Gauss mampu berpikir dan menciptakan jalannya sendiri dalam memahami
berbagai persoalan. Bisa jadi cara atau jalan mereka memang tidak sama sperti
yang dipakai oleh orang dewasa. Selama ini, kadang anak dianggap bodoh atau
salah karena cara menyelesaikan masalahnya berbeda dengan hasil pikiran orang
dewasa. Tak jarang, anak dalam keadaan sedih karena hasil pekerjaannya dianggap
salah karena cara yang ditempuh anak tidak sama dengan yang diajarkan guru. Anak-anak
ibarat benih pohon, meskipun bagus dan berkualitas, ia tidak akan tumbuh
sempurna jika ditanam di lahan yang tandus. Segenius apa pun Gauss, kalau tidak
didukung oleh guru, orangtua, dan lingkungannya, ia tidak akan menjadi orang
yang hebat.
Untuk menjadi
orang yang berkualitas dan menjadi rahmat bagi alam semesta, ia membutuhkan
lingkungan yang mendukung, yaitu orangtua dan guru yang menghargai cara
berpikirnya. Biarlah anak-anak pelajari sendiri, diri, dan dunia ini, dengan
cara pandang mereka sendiri. Namun, yang sangat urgen dalam menuntut ilmu yakni
bagaimana ilmu tersebut bermanfaat dan berkah bagi dirinya sendiri, keluarga,
hingga masyarakat luas. Artinya, pendidikan yang berkualitas yakni bagaimana
lingkungan yang mendukung, orangtua, dan guru saling memberikan manfaat dan
berkesinambungan. Manfaat dalam arti memberikan sebuah keberkahan dan berguna
ilmu yang didapatkan di lingkungan tersebut, orangtua dan guru mendukung dalam
proses pembelajaran, serta dapat dirasakan bagaimana manfaat ilmu yang telah
dipelajari. Adapun berkesinambungan, yakni semua stakeholder pendidikan murid,
orangtua, guru, dan lingkungan saling mendukung dalam proses pembelajaran.
Murid mendapatkan ilmu dari gurunya, guru memberikan ilmu yang tidak hanya
mentransfer ilmu tapi memberikan pembelajaran hidup yang bernilai untuk masa
depan si murid, orangtua juga mendukung proses pembelajaran dengan memenuhi
kebutuhan murid, dan lingkungan yang mendukung untuk terciptanya suasana yang
beriman “bersih, indah, aman, dan nyaman” dalam belajar.
Inilah yang
ditawarkan oleh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah
Malang, dalam pendidikan SMP-SMA Ar-Rohmah Boarding School. Proses integral
antara pendidikan formal yang dilaksanakan di sekolah, serta pembelajaran yang
ada di asrama. Sinergi sekolah dan asrama yang selama ini terjadi saling
memenuhi kebutuhan pendidikan karakter bagi si anak. Pembelajaran yang dimulai
sejak sebelum bangun tidur di tiga malam pertama yakni ketika anak melakukan
sholat lail dengan sujud dan rukuk untuk beribadah kepada Allah, dilanjutkan
dengan sholat shubuh berjamaah yang diikuti dzikir pagi. Tidak cukup sampai di
situ, anak akan mendapatkan proses pembelajaran al Quran setelahnya dengan
belajar dan menelaah serta setoran hafalan. Proses kemandirian di asrama
dimulai dengan memanfaatkan waktu untuk bersih-bersih kamar dan lingkungan
sekitar sebelum bersih-bersih diri (mandi). Setelah siap dengan seragam
sekolahnya, anak berangkat ke ruang makan untuk sarapan bersama untuk mendapatkan
asupan gizi yang seimbang agar proses pembelajaran di kelas menjadi semangat.
Perpaduan mata pelajaran umum dan agama yang ada di kelas, membuat anak semakin
paham akan ilmu Allah. Di sekolah diajarkan bagaimana memahami dan menjelaskan
arti ilmu Allah dalam kehidupan kita. Iqra bismirabbik sangat ditekankan dalam
menuntut ilmu. Selepas sekolah anak-anak diajak untuk bersosialisasi dengan
berolahraga bersama di asrama sebelum melanjutkan pendalaman dan setor hafalan
di sore hari dan menjelang istirahat malam. Inilah gambaran pendidikan integral
antara proses sekolah dan asrama di Ar-Rohmah.
Ketika proses
pembelajaran itu didukung oleh lingkungan yang bersih, indah, dan aman maka proses
pembelajaran akan semakin nyaman. Lingkungan yang bersih dan indah berdampak
pada kesehatan jiwa dan raga serta berpikir lebih fresh. Lingkungan yang nyaman
berdampak pada ketenangan ketika menuntut ilmu. Tidak ada rasa khawatir dan
cemas ketika belajar. Penopang tiga unsur lingkungan tersebut sangat dibutuhkan
ketika menuntut ilmu. Bagaimana dalam pembahasan kitab-kitab para salafus
sholih, hal utama yang dibahas tentang thoharoh.
Begitu pentingnya pembahasan tentang thoharoh
atau kebersihan, dikarenakan selain bersih hati, pikiran, dan tindaktanduknya,
maka kebersihan lingkungan perlu diperhatikan dengan saksama. Ketika lingkungan
tidak mendukung dalam hal ini kebersihan, maka yang terjadi adalah kesumpekan,
keruwetan, dan kejumudan. Lingkungan yang tidak bersih berdampak pada bagaimana
sikap kita menyelesaikan sebuah permasalahan.
Kehadiran LPI
Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah Malang dalam hal ini SMP-SMA Ar-Rohmah yang
didukung oleh SDM yang unggul dan kompeten di bidangnya, juga lingkungan yang
bersih, indah, dan nyaman. Maka pilihan sebuah tempat untuk menimba ilmu sangat
cocok di pesantren yang terletak di Desa Sumbersekar Kecamatan Dau Kabupaten
Malang. Semoga jerih payah semua stakeholder LPI Ar-Rohmah mendapat keberkahan
dan perlindungan dari Allah. (Ozan)
Mengapa Saya Menulis
Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta
Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...
-
Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...
-
Ajang Seleksi FLS3N 2025 Tingkat SMP Kabupaten Malang Digelar Meriah di SMPN 1 Kepanjen Malang, 21 Juni 2025 — Dinas Pendidikan Pemerintah...
-
Momentum Qurban... Rijalul dakwah Rabbani sebelum jihad dan qital sesungguhnya harus bisa dan terlatih menggerakkan pisau tajamnya ke leh...
