Selasa, 11 Januari 2022

Cerpen Dua Guru Terbaik

 DUA GURU TERBAIK

Karya: Izza

 “Ma, Naila berangkat dulu ya,”

“Iya, hati-hati ya sayang…” timpal mama.

*****

Sepeda kesayangan Naila pun sudah siap menemani ke sekolah. Meskipun jarak rumah Naila cukup jauh dari sekolah, perbekalan Naila pun tidak begitu banyak. Mama Naila hanya memberikan bekal makan siang secukupnya serta camilan bergizi buatan rumah.

“Assalamualaikum, Ma,”

“Waalaikumussalam, Naila,” “jangan lupa, bekalnya dimakan.”

“Iya, Mam.”

Seiring kicau burung beterbangan di angkasa serta dedaunan yang menyambut Naila sepanjang perjalanan, semangat Naila tidak pernah pudar untuk menimba ilmu. Sesekali Naila tersenyum tatkala disapa maupun menyapa orang yang dikenalnya.

Tepat pukul 06.45 WIB, Naila tiba di sekolah dengan aman dan nyaman. Naila menuju tempat parkir sepeda yang berada di ujung sekolah dengan diarahkan satpam sekolah yang bernama pak Rifai.

“Assalamualaikum, Pak,” sapa Naila.

“Waalaikumussalam, Naila. Silakan parkir di pojok ya.”

“Iya, Pak. Terima kasih.”

“Terima kasih kembali,” jawab pak Rifai.

Krrrrriiiiiinnnnnggggggg

Bel pun bunyi. Naila bergegas masuk kelas dan menempati kursi seperti biasa di samping Shafeea. Pelajaran hari ini adalah PIB (Praktek Ibadah) dan Tematik. Pak Roki yang sedari tadi menjelaskan materi Tematik dengan tema tumbuhan membuat Naila menjadi semringah. Bagaimana tidak, tumbuhan yang berada di sekitar rumah Naila kurang terawat, jadi ketika Pak Roki menjelaskan tentang tumbuhan dengan jenis dan perawatannya, Naila semakin tau betapa Maha BesarNya Allah menciptakan tumbuhan bagi manusia yang banyak manfaatnya.

Waktu istirahatpun tiba.

Naila mengeluarkan bekal makanan di dalam tas warna merah muda yang dibawa hari ini. Karena tas warna biru yang sepekan kemarin telah kotor karena debu menempel sepanjang perjalanan ke dan dari sekolah.

“Hai Fea, yuk makan siang bareng aku sekarang,” ajak Naila.

“Aku lagi ga enak makan Nai, pingin jajan di kantin sekolah,” ujar Shafeea. “Kenapa murung begitu?” tanya Naila. “Ibuku hanya mengasih uang jajan 2000 rupiah. Mana cukup uang segitu untuk beli di kantin sekolah. Paling-paling dapat sosis 1. Sementara aku tidak membawa bekal, karena aku tadi dibawain bekal oleh ibu aku ga mau,” seloroh Shafeea menjelaskan panjang lebar.

“Ibumu benar, kalau kamu sering jajan dan tanpa menyeleksi makanan yang kamu makan, maka akibatnya perut kamu sakit, dan tidak bisa sekolah. Jadi, ibumu sayang kamu. Agar kamu tidak sakit kalau jajan sembarangan.” “Begini saja, lebih baik kamu makan bersama aku saja.”

“Oke deh kalau seperti itu. Maaf ya Nai,”

“Iya, gapapa. Lagian bekalku cukup kok kalau kita makan bareng. Asli enak banget bikinan mamaku. Lain waktu, kamu main-main ke rumahku ya.”

“Oke Nai,” jawab Shafeea.

Sembari menikmati makan berdua, bu Rina berjalan menenteng tas hitamnya menyapa kami berdua. Sambil tersenyum, bu Rina pun berujar, “Selamat menikmati Naila dan Shafeea. Jangan lupa ya, sebentar lagi bel masuk akan bunyi. Makannya dipercepat ya,”

“Iya, Bu,” jawabku berbarengan dengan Fea.

Tidak berselang lama, bel masuk pun berdering kencang. Semua murid yang berada di luar kelas, berbondong-bondong menuju kelas masing-masing.

Hari ini tanggal 25 November 2021 yang bertepatan dengan Hari Guru Nasional 2021.

Bu Rina masuk kelas. Saatnya belajar Bahasa Indonesia.

“Assalamualaikum anak-anakku…. Bagaimana kabarnya hari ini?”

“Waalaikumussalam…. Alhamdulillah sehat, kuat dan semangat Bu,” serentak semua murid menjawab.

“Hari ini Ibu akan menjelaskan materi tentang puisi,”

“Puisi adalah karya sastra yang berisi tanggapan serta pendapat penyair mengenai berbagai hal. Pemikiran penyair ini kemudian dituangkan dengan menggunakan bahasa-bahasa apik serta memiliki struktur batin dan fisik khas penyair. Pemikiran penyair dituliskan dengan menggunakan beragam pemilihan kata yang indah, sehingga dapat memikat para pembaca. Puisi memiliki nilai estetika yang berbeda-beda bergantung penulis puisi. Setiap penyair biasanya memiliki kekhasan dalam menulis puisinya.” ujar bu Rani panjang lebar.

“Bagaimana, apakah kalian sudah paham?” tanyanya. “Paham, Bu,” semua murid serentak menjawab.

“Oke, sekarang kalian membuat puisi tentang hari guru ya. Hari ini tanggal 25 November 2021 adalah peringatan Hari Guru Nasional 2021. Sebagai bentuk penghormatan kepada guru, Ibu kasih tugas untuk membuat puisi. Sekarang kalian punya waktu kurang lebih lima belas menit. Jangan lupa tidak perlu panjang dan yang terpenting adalah kalian bisa memilih kosakata yang tepat untuk membuat puisi tersebut.”

“Siap Bu,” lagi-lagi semua murid menjawab serentak.

10 menit pun telah berlalu, bu Rina keliling ke meja satu persatu untuk membimbing pembuatan puisi. Kini tiba saatnya untuk beliau menunjuk siapa yang akan membacakan puisi di depan kelas.



bersambung ya....

4 komentar:

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...