Selasa, 11 Januari 2022

Cerpen: Rumah Bau Melati

 RUMAH BAU MELATI

Pak Rahmat marbot Masjid Besar Al Muhsinin keliling area dalam untuk membersihkan jendela dan menyapu lantai masjid. Setelah dirasa bersih area dalam masjid, pak Rahmat pun menjinjing sapu dan alat pel menuju lantai 2 masjid. Beberapa al Quran yang masih berserakan di beberapa meja, beliau rapikan di tempat semula. Ketika menemukan sobekan kertas di ujung lantai 2, pak Rahmat bergegas membaca lembaran tersebut. Tertulis coretan tidak beraturan dari anak-anak TPQ Nurul Iman, yang berbunyi, Kelak di saat aku besar nanti, saya akan memberangkatkan haji orangtuaku. Di sana kami akan bersujud bersama untuk kembali dikumpulkan di surga Firdaus. Pak Rahmat pun meneteskan air matanya, terharu membaca sobekan kertas lusuh, namun penuh makna. Dalam hati beliau, semoga apa yang dicita-citakan anak tersebut dikabulkan oleh Allah SWT. Aamiin….

Dalam batin pak Rahmat, dirinya pun ingin menunaikan ibadah haji layaknya Pak Haji takmir masjid, yang mana sudah dua kali berangkat ke tanah suci bersama keluarga besarnya. Pak Haji yang memiliki bisnis jual beli barang rongsokan di beberapa kota ini, menjadi orang yang sangat disegani di kampong. Maka layak dia menjadi takmir masjid. Jikalau ibadah haji belum bisa ditunaikan pak Rahmat, suatu saat dia bisa berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umroh. Ingin rasanya memandang Kakbah yang selalu diidam-idamkan pak Rahmat. Bahkan gambar kakbah terpampang besar di rumah dan ruang takmir. Sehingga, menatap dan membayangkan kakbah hanya dengan gambar saja hati sudah merasa adem, apalagi jika bisa menatap secara langsung. Mengalir setetes demi tetes air mata pak Rahmat turun di dagunya.

Ia lupa bahwa hari ini adalah hari Jumat. Beberapa menit lagi semua harus disiapkan dengan rapi dan lancar. Jangan sampai jamaah merasa tidak nyaman di Masjid Besar Al Muhsinin. Lantai 2 masjid disapu dari ujung ke ujung agar debu yang menempel di lantai dapat tersapu dengan baik, maka beliau mengarahkan ke arah pintu sisi utara. Karena sisi timur terdapat lubang angin yang berfungsi sebagai ventilasi masjid lantai 2.

Kaca bening warna kebiru-biruan di masjid lantai 2 tak luput dari tangan gesitnya. Kanebo sebagai alat lap untuk membersihkan kaca, tidak lupa untuk dibawa. Sesekali tangan kirinya mengibaskan sulak agar debu terpinggirkan terlebih dahulu sebelum kanebo warna kuning dan cairan pembersih kaca siap meneruskan tugasnya. Gumpalan di kaca semakin terlihat kinclong, karena sapuan cairan pembersih yang dilap dengan kanebo. Setiap ujung kaca di jendela, kusen, bahkan angina-angin di atas jendela, tak pernah terlupakan pak Rahmat. Keringat bercucuran di punggung pak Rahmat. Ia bergegas menuju ke lantai 1 untuk mengecek tempat wudhu dan kamar mandi masjid. Sikat pembersih kerak dindingpun seakan menyambut kedatangan pak Rahmat. Dua pekan lamanya, dinding tempat wudhu belum dibersihkan, sehingga warnanya menjadi kekuning-kuningan, licin, dan sedikit menghitam. Barangkali dinding tempat wudhu terkena air berkali-kali, namun jarang sekali diperhatikan pak Rahmat. Kecekatan tangan dan mata yang tajam untuk memandang mana bagian yang perlu dibersihkan, pak Rahmat begitu sigap. Mencoba beberapa kali kran diperbaiki agar ketika air yang keluar menjadi maksimal. Ternyata ada kran air di tempat wudhu yang di ujungnya patah. Saat itu juga, pak Rahmat mengambil suku cadangan di tempat takmir dan menggantinya dengan yang baru.

Kamar mandi di ujung ditengoknya. Ternyata engsel pintu sedikit longgar, sehingga ketika pintu dibuka tutup bunyi krek krek. Ah… rasa-rasanya tugas pak Rahmat untuk hari ini cukup melelahkan. Ia kembali masuk ke ruang utama masjid dan lagi-lagi mengecek persiapan untuk sholat Jumat. Ruang mimbar yang terdapat mik duduk dinyalakan dan dites. Apakah bunyi yang dikeluarkan dari sound sudah maksimal atau belum. Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB, saatnya pak Rahmat menuju ruang takmir guna menyalakan speaker dan menyetel tilawah Al Quran. Seperti biasa, beliau mencari tilawah dari Quran surat Al Kahfi. Beliau percaya bahwasanya ketika surat Al Kahfi dibacakan, dijauhkan dari fitnah Dajjal. Mulut pak Rahmat mengikuti suara tilawah tersebut. Beberapa ayat pertama dihafalkannya, karena seringnya mendengarkan tilawah surat Al Kahfi.

Pak Hajipun datang pertama ke masjid untuk mengecek persiapan sholat Jumat hari ini. “Pak Rahmat, sudah siap masjidnya hari ini untuk menyambut jamaah sholat Jumat?” tanya pak Haji. Pak Haji itu sebutan dari Haji Abdul Hamid. Orang kampong lebih familiar memanggil pak Haji dibanding dengan nama aslinya. Beliau berasal dari kota besar di Kalimantan. Hijrah di kampong sudah 30 tahunan. Berawal dari beliau berdagang di kota dengan menjual akik khas Kalimantan. Berangsur-angsur dagangannya laris dan jadi rujukan pembeli, akik pak Haji pun ludes terbeli dan hanya menyisakan beberapa akik saja. Namun, dari hasil penjualan akik, pak Haji merasa belum puas dan cenderung masih kurang untuk menghidupi keluarganya. Bagaikan besar pasak daripada tiang. Pengeluaran di Jawa tidak sebanding jika di kota asalnya. Seringkali barang yang dibutuhkan pak Haji harganya mahal dan tidak terjangkau.

Suatu ketika Pak Haji berangkat ke pasar loak untuk mencari sebatang besi untuk menyambung ranjangnya yang sudah peyot karena sudah lama berkarat. Keliling di setiap lapak yang ada, belum juga ditemukan barang yang diinginkan. Akhirnya, ketemu lapak yang menjual barang rongsokan besi yang masih bisa dimanfaatkan. Tawaran demi tawaran kepada penjual besi, akhirnya disepakati harga yang sesuai kantong pak Haji. Sekembali dari lapak besi, pak Haji mencoba keliling lapak pasar loak, memikirkan apa yang sekiranya bisa dijaul belikan selain akik. Dasar pemikiran pak Haji adalah pedagang, akhirnya bertanya kembali ke penjual besi. “Berapa penjual barang rongsokan besi di pasar loak sini pak?” tanya pak Haji kepada penjual. “Baru saya pak,” jawab penjual besi. “Terus bagaimana pangsa pasar penjualan besi akhir-akhir ini?” tanyanya lagi. Si penjual besipun menjawab, “Alhamdulillah, selama saya berjualan di sini, cukup rame dan bisa menghidupi keluarga kami yang di rumah. Bahkan saya biasanya mengirimkan kelebihan uang ke orangtua di desa untuk membangun rumah.” Tanpa berpikir panjang, ide gila pak Haji mewujudkan jual beli besi rongsokan di kota yang belum dikenalnya serta belum ada satupun keluarga di sini, pak Haji mencoba menelusuri bagaimana arus perdagangan barang rongsokan besi. Baik dari pengepul hingga agen atau bahkan orang-orang yang setor dan jual kembali ke penjual besi. Singkat cerita, pak Haji mendirikan toko kecil-kecilan di depan rumahnya, meskipun rumahnya berantakan dengan barang-barang rongsokan. Setahun dua tahun, omset penjualan pak Haji semakin meningkat baik dari segi jumlah barang dan pembeli maupun orang-orang yang mau menjual besi yang tidak terpakai kepada pak Haji. Akhirnya, pak Haji sukses dan terkenal sebagai penjual besi rongsokan.

Berawal dari kesuksesan pak Haji menjual beli barang rongsokan besi yang sangat disegani di kota, beliaupun berinisiatif mendirikan sebuah tempat ibadah di kampong sekitar. Niat baik pak Haji disambut warga dengan antusias. Bagaimanapun juga, kampong sekitar masih harus berjalan jauh jika menunaikan ibadah sholat berjamaah. Akhirnya tempat ibadah yang diidam-idamkan warga akan segera terwujud. Dengan senang hati ada warga yang rela mewakafkan tanah untuk dijadikan masjid. Sementara material untuk membangun masjid, pak Hajilah yang mengusahakan dananya. Baik dari pasir, batu bata, semen, hingga besi diusahakan pak Haji agar menjadi Masjid Besar Al Muhsinin seperti saat ini. Masjid megah di pinggir jalan yang sangat strategis ini sering dikunjungi jamaah dari luar kota yang sedang singgah. Bahkan masjid yang cukup megah dan indah ini menjadi jujugan jamaah apabila tiba waktu berbuka puasa.

Kondisi Masjid Besar Al Muhsinin megah dan di antara masjid-masjid di wilayah Kedung Banteng kelurahan setempat. Kampong di pinggiran kota terbesar di Jawa ini, menjadikan kampong ini terkenal akan masjid yang megah dan artistik. Nuansa arab dipadukan dengan budaya lokal, menunjukkan betapa indah dan artistiknya masjid. Langit-langit masjid penuh dengan ukiran kaligrafi menarik, dengan warna keemasan yang cukup mencolok. Kubah dalam digambarkan seakan-akan langsung di bawah langit yang dihiasi dengan awan dan bintang. Sungguh, masjid yang sangat indah dan nyaman dimanfaatkan untuk menunaikan sholat berjamaah. Namun, di balik kemegahan dan artistiknya masjid, daerah di sekeliling masjid masih tergambar wilayah yang masih jauh dari kemakmuran. Warga sekitar yang kesehariannya sebagai buruh pabrik, karyawan kantor di beberapa ujung kota, serta ada sebagian dari mereka yang masih bergelut dengan mencari mata pencaharian memulung sampah. Namun, dengan kondisi yang beragam di area masjid tersebut, masyarakatnya tidak pernah melupakan sholat berjamaah di masjid, khususnya sholat Jumat berjamaah.


bersambung ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...