RUMAH BAU MELATI
Pak Rahmat marbot Masjid Besar Al
Muhsinin keliling area dalam untuk membersihkan jendela dan menyapu lantai
masjid. Setelah dirasa bersih area dalam masjid, pak Rahmat pun menjinjing sapu
dan alat pel menuju lantai 2 masjid. Beberapa al Quran yang masih berserakan di
beberapa meja, beliau rapikan di tempat semula. Ketika menemukan sobekan kertas
di ujung lantai 2, pak Rahmat bergegas membaca lembaran tersebut. Tertulis
coretan tidak beraturan dari anak-anak TPQ Nurul Iman, yang berbunyi, Kelak di
saat aku besar nanti, saya akan memberangkatkan haji orangtuaku. Di sana kami
akan bersujud bersama untuk kembali dikumpulkan di surga Firdaus. Pak Rahmat
pun meneteskan air matanya, terharu membaca sobekan kertas lusuh, namun penuh
makna. Dalam hati beliau, semoga apa yang dicita-citakan anak tersebut
dikabulkan oleh Allah SWT. Aamiin….
Dalam batin pak Rahmat, dirinya pun
ingin menunaikan ibadah haji layaknya Pak Haji takmir masjid, yang mana sudah
dua kali berangkat ke tanah suci bersama keluarga besarnya. Pak Haji yang
memiliki bisnis jual beli barang rongsokan di beberapa kota ini, menjadi orang
yang sangat disegani di kampong. Maka layak dia menjadi takmir masjid. Jikalau
ibadah haji belum bisa ditunaikan pak Rahmat, suatu saat dia bisa berangkat ke
tanah suci untuk menunaikan ibadah umroh. Ingin rasanya memandang Kakbah yang
selalu diidam-idamkan pak Rahmat. Bahkan gambar kakbah terpampang besar di
rumah dan ruang takmir. Sehingga, menatap dan membayangkan kakbah hanya dengan
gambar saja hati sudah merasa adem, apalagi jika bisa menatap secara langsung.
Mengalir setetes demi tetes air mata pak Rahmat turun di dagunya.
Ia lupa bahwa hari ini adalah hari
Jumat. Beberapa menit lagi semua harus disiapkan dengan rapi dan lancar. Jangan
sampai jamaah merasa tidak nyaman di Masjid Besar Al Muhsinin. Lantai 2 masjid
disapu dari ujung ke ujung agar debu yang menempel di lantai dapat tersapu
dengan baik, maka beliau mengarahkan ke arah pintu sisi utara. Karena sisi
timur terdapat lubang angin yang berfungsi sebagai ventilasi masjid lantai 2.
Kaca bening warna kebiru-biruan di
masjid lantai 2 tak luput dari tangan gesitnya. Kanebo sebagai alat lap untuk
membersihkan kaca, tidak lupa untuk dibawa. Sesekali tangan kirinya mengibaskan
sulak agar debu terpinggirkan terlebih dahulu sebelum kanebo warna kuning dan
cairan pembersih kaca siap meneruskan tugasnya. Gumpalan di kaca semakin
terlihat kinclong, karena sapuan cairan pembersih yang dilap dengan kanebo.
Setiap ujung kaca di jendela, kusen, bahkan angina-angin di atas jendela, tak
pernah terlupakan pak Rahmat. Keringat bercucuran di punggung pak Rahmat. Ia
bergegas menuju ke lantai 1 untuk mengecek tempat wudhu dan kamar mandi masjid.
Sikat pembersih kerak dindingpun seakan menyambut kedatangan pak Rahmat. Dua
pekan lamanya, dinding tempat wudhu belum dibersihkan, sehingga warnanya
menjadi kekuning-kuningan, licin, dan sedikit menghitam. Barangkali dinding
tempat wudhu terkena air berkali-kali, namun jarang sekali diperhatikan pak
Rahmat. Kecekatan tangan dan mata yang tajam untuk memandang mana bagian yang
perlu dibersihkan, pak Rahmat begitu sigap. Mencoba beberapa kali kran
diperbaiki agar ketika air yang keluar menjadi maksimal. Ternyata ada kran air
di tempat wudhu yang di ujungnya patah. Saat itu juga, pak Rahmat mengambil
suku cadangan di tempat takmir dan menggantinya dengan yang baru.
Kamar mandi di ujung ditengoknya.
Ternyata engsel pintu sedikit longgar, sehingga ketika pintu dibuka tutup bunyi
krek krek. Ah… rasa-rasanya tugas pak Rahmat untuk hari ini cukup melelahkan.
Ia kembali masuk ke ruang utama masjid dan lagi-lagi mengecek persiapan untuk
sholat Jumat. Ruang mimbar yang terdapat mik duduk dinyalakan dan dites. Apakah
bunyi yang dikeluarkan dari sound sudah maksimal atau belum. Waktu menunjukkan
pukul 10.30 WIB, saatnya pak Rahmat menuju ruang takmir guna menyalakan speaker
dan menyetel tilawah Al Quran. Seperti biasa, beliau mencari tilawah dari Quran
surat Al Kahfi. Beliau percaya bahwasanya ketika surat Al Kahfi dibacakan,
dijauhkan dari fitnah Dajjal. Mulut pak Rahmat mengikuti suara tilawah
tersebut. Beberapa ayat pertama dihafalkannya, karena seringnya mendengarkan
tilawah surat Al Kahfi.
Pak Hajipun datang pertama ke masjid
untuk mengecek persiapan sholat Jumat hari ini. “Pak Rahmat, sudah siap
masjidnya hari ini untuk menyambut jamaah sholat Jumat?” tanya pak Haji. Pak
Haji itu sebutan dari Haji Abdul Hamid. Orang kampong lebih familiar memanggil
pak Haji dibanding dengan nama aslinya. Beliau berasal dari kota besar di
Kalimantan. Hijrah di kampong sudah 30 tahunan. Berawal dari beliau berdagang
di kota dengan menjual akik khas Kalimantan. Berangsur-angsur dagangannya laris
dan jadi rujukan pembeli, akik pak Haji pun ludes terbeli dan hanya menyisakan
beberapa akik saja. Namun, dari hasil penjualan akik, pak Haji merasa belum
puas dan cenderung masih kurang untuk menghidupi keluarganya. Bagaikan besar
pasak daripada tiang. Pengeluaran di Jawa tidak sebanding jika di kota asalnya.
Seringkali barang yang dibutuhkan pak Haji harganya mahal dan tidak terjangkau.
Suatu ketika Pak Haji berangkat ke
pasar loak untuk mencari sebatang besi untuk menyambung ranjangnya yang sudah
peyot karena sudah lama berkarat. Keliling di setiap lapak yang ada, belum juga
ditemukan barang yang diinginkan. Akhirnya, ketemu lapak yang menjual barang
rongsokan besi yang masih bisa dimanfaatkan. Tawaran demi tawaran kepada
penjual besi, akhirnya disepakati harga yang sesuai kantong pak Haji. Sekembali
dari lapak besi, pak Haji mencoba keliling lapak pasar loak, memikirkan apa
yang sekiranya bisa dijaul belikan selain akik. Dasar pemikiran pak Haji adalah
pedagang, akhirnya bertanya kembali ke penjual besi. “Berapa penjual barang
rongsokan besi di pasar loak sini pak?” tanya pak Haji kepada penjual. “Baru
saya pak,” jawab penjual besi. “Terus bagaimana pangsa pasar penjualan besi
akhir-akhir ini?” tanyanya lagi. Si penjual besipun menjawab, “Alhamdulillah,
selama saya berjualan di sini, cukup rame dan bisa menghidupi keluarga kami
yang di rumah. Bahkan saya biasanya mengirimkan kelebihan uang ke orangtua di
desa untuk membangun rumah.” Tanpa berpikir panjang, ide gila pak Haji
mewujudkan jual beli besi rongsokan di kota yang belum dikenalnya serta belum
ada satupun keluarga di sini, pak Haji mencoba menelusuri bagaimana arus
perdagangan barang rongsokan besi. Baik dari pengepul hingga agen atau bahkan
orang-orang yang setor dan jual kembali ke penjual besi. Singkat cerita, pak
Haji mendirikan toko kecil-kecilan di depan rumahnya, meskipun rumahnya
berantakan dengan barang-barang rongsokan. Setahun dua tahun, omset penjualan
pak Haji semakin meningkat baik dari segi jumlah barang dan pembeli maupun
orang-orang yang mau menjual besi yang tidak terpakai kepada pak Haji.
Akhirnya, pak Haji sukses dan terkenal sebagai penjual besi rongsokan.
Berawal dari kesuksesan pak Haji
menjual beli barang rongsokan besi yang sangat disegani di kota, beliaupun
berinisiatif mendirikan sebuah tempat ibadah di kampong sekitar. Niat baik pak
Haji disambut warga dengan antusias. Bagaimanapun juga, kampong sekitar masih
harus berjalan jauh jika menunaikan ibadah sholat berjamaah. Akhirnya tempat
ibadah yang diidam-idamkan warga akan segera terwujud. Dengan senang hati ada
warga yang rela mewakafkan tanah untuk dijadikan masjid. Sementara material
untuk membangun masjid, pak Hajilah yang mengusahakan dananya. Baik dari pasir,
batu bata, semen, hingga besi diusahakan pak Haji agar menjadi Masjid Besar Al
Muhsinin seperti saat ini. Masjid megah di pinggir jalan yang sangat strategis
ini sering dikunjungi jamaah dari luar kota yang sedang singgah. Bahkan masjid
yang cukup megah dan indah ini menjadi jujugan jamaah apabila tiba waktu
berbuka puasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar