"Perjalanan yang Tak Pernah Sia-Sia"
Langit Malang sore menjelang petang itu tampak cerah. Udara masih segar ketika Arfan memanaskan kendaraannya. Ia hendak menjemput ibu dan keponakan-keponakannya. Jarak pulang-pergi sekitar 180 kilometer itu bukan perkara ringan. Namun, bagi Arfan, tidak ada perjalanan yang lebih berarti daripada perjalanan untuk ibunya.
"Insyaallah jam delapan malam sampai," tulisnya melalui pesan singkat kepada keponakannya.
Di sepanjang jalan tol, pikirannya melayang pada banyak hal. Tentang masa kecilnya yang penuh dengan kasih sayang seorang ibu. Tentang bagaimana sang ibu rela menjual jajanan di sekitar sekolah begituoun teringat ayahnya berjualan tempe keliling agar ia tetap bisa sekolah. Tentang saat sang ibu jatuh sakit tapi tetap memaksakan diri memasakkan sarapan.
Kini, ketika Allah memberikan sedikit kelapangan rezeki, Arfan hanya ingin satu hal: menjadi anak yang berbakti.
Di tengah perjalanan, ia teringat sabda Rasulullah ﷺ:
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua."
(HR. Tirmidzi, no. 1899)
Betapa besar kedudukan orang tua, apalagi seorang ibu. Bahkan, dalam sebuah hadits, ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab:
"Ibumu."
Kemudian siapa?
"Ibumu."
Kemudian siapa lagi?
"Ibumu."
Kemudian siapa?
"Ayahmu."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hati Arfan menghangat. Ia merasa sedang melakukan perjalanan menuju surga. Ya, surga yang berada di telapak kaki ibunya.
Sesampainya di Surabaya, ibunya menyambut dengan senyum teduh meskipun tidak bisa melihat secara langsung. Tanpa banyak kata, Arfan mencium tangan dan memeluk erat ibunya. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke Malang melewati jalan tol yang sesak dengan truk dan tronton. Meskipun begitu perjalanan tersebut terasa nikmat dengan pemandangan pegunungan yang diterangi kilauan lampu.
"Sampai mana, Fan?" tanya ibunya lembut.
"Masih di tol," jawabnya sambil tersenyum.
Di perjalanan pulang, Arfan lebih banyak diam, mendengarkan cerita-cerita sederhana ibunya. Tentang cucu dan cicit yang lucu serta janji ingin mengajak cucu-cucunya berlibur di Malang.
Baginya, suara ibu adalah irama yang menenangkan.
Sesampainya di rumah, ia dan istrinya menggandeng dan memaoah tangan ibunya masuk. Menyiapkan teh hangat, membawakan bantal, lalu duduk menemani hingga akhirnya tertidur pulas terbawa mimpi.
Hikmah dari perjalanan itu sederhana, namun dalam.
Dalam letihnya perjalanan itu, Arfan belajar bahwa berbakti kepada orang tua bukan hanya sekadar kewajiban, tapi juga ladang pahala, sumber keberkahan hidup, dan sebab turunnya ridha Allah. Tidak ada perjalanan yang lebih mulia daripada perjalanan untuk orang tua. Tidak ada hadiah yang lebih berharga di sisi Allah selain doa dan baktinya seorang anak kepada ibunya.
Dan bagi Arfan, setiap kilometer yang ia tempuh demi ibunya adalah jejak menuju surga.


.jpg)


