Kamis, 26 Juni 2025

Perjalanan yang Tak Pernah Sia-sia

 "Perjalanan yang Tak Pernah Sia-Sia"


Langit Malang sore menjelang petang itu tampak cerah. Udara masih segar ketika Arfan memanaskan kendaraannya. Ia hendak menjemput ibu dan keponakan-keponakannya. Jarak pulang-pergi sekitar 180 kilometer itu bukan perkara ringan. Namun, bagi Arfan, tidak ada perjalanan yang lebih berarti daripada perjalanan untuk ibunya.

"Insyaallah jam delapan malam sampai," tulisnya melalui pesan singkat kepada keponakannya.

Di sepanjang jalan tol, pikirannya melayang pada banyak hal. Tentang masa kecilnya yang penuh dengan kasih sayang seorang ibu. Tentang bagaimana sang ibu rela menjual jajanan di sekitar sekolah begituoun teringat ayahnya berjualan tempe keliling agar ia tetap bisa sekolah. Tentang saat sang ibu jatuh sakit tapi tetap memaksakan diri memasakkan sarapan.
Kini, ketika Allah memberikan sedikit kelapangan rezeki, Arfan hanya ingin satu hal: menjadi anak yang berbakti.

Di tengah perjalanan, ia teringat sabda Rasulullah ﷺ:
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua."
(HR. Tirmidzi, no. 1899)

Betapa besar kedudukan orang tua, apalagi seorang ibu. Bahkan, dalam sebuah hadits, ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab:
"Ibumu."
Kemudian siapa?
"Ibumu."
Kemudian siapa lagi?
"Ibumu."
Kemudian siapa?
"Ayahmu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hati Arfan menghangat. Ia merasa sedang melakukan perjalanan menuju surga. Ya, surga yang berada di telapak kaki ibunya.
Sesampainya di Surabaya, ibunya menyambut dengan senyum teduh meskipun tidak bisa melihat secara langsung. Tanpa banyak kata, Arfan mencium tangan dan memeluk erat ibunya. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke Malang melewati jalan tol yang sesak dengan truk dan tronton. Meskipun begitu perjalanan tersebut terasa nikmat dengan pemandangan pegunungan yang diterangi kilauan lampu.

"Sampai mana, Fan?" tanya ibunya lembut.
"Masih di tol," jawabnya sambil tersenyum.
Di perjalanan pulang, Arfan lebih banyak diam, mendengarkan cerita-cerita sederhana ibunya. Tentang cucu dan cicit yang lucu serta janji ingin mengajak cucu-cucunya berlibur di Malang.

Baginya, suara ibu adalah irama yang menenangkan.

Sesampainya di rumah, ia dan istrinya menggandeng dan memaoah tangan ibunya masuk. Menyiapkan teh hangat, membawakan bantal, lalu duduk menemani hingga akhirnya tertidur pulas terbawa mimpi.

Hikmah dari perjalanan itu sederhana, namun dalam.

Dalam letihnya perjalanan itu, Arfan belajar bahwa berbakti kepada orang tua bukan hanya sekadar kewajiban, tapi juga ladang pahala, sumber keberkahan hidup, dan sebab turunnya ridha Allah. Tidak ada perjalanan yang lebih mulia daripada perjalanan untuk orang tua. Tidak ada hadiah yang lebih berharga di sisi Allah selain doa dan baktinya seorang anak kepada ibunya.

Dan bagi Arfan, setiap kilometer yang ia tempuh demi ibunya adalah jejak menuju surga.

Sabtu, 21 Juni 2025

Ajang Seleksi FLS3N 2025 Tingkat SMP Kabupaten Malang Digelar Meriah di SMPN 1 Kepanjen


Ajang Seleksi FLS3N 2025 Tingkat SMP Kabupaten Malang Digelar Meriah di SMPN 1 Kepanjen

Malang, 21 Juni 2025 — Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten Malang sukses menggelar ajang seleksi Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) jenjang SMP tahun 2025 yang berlangsung pada Sabtu, 21 Juni 2025 di SMPN 1 Kepanjen, Malang.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh perwakilan dari SMP Negeri, SMP Negeri Satap, dan SMP Swasta se-Kabupaten Malang. Para peserta bersaing dalam delapan cabang lomba seni dan sastra, yakni: Menulis Ilustrasi, Menyanyi Solo, Mendongeng, Menulis Cerita Pendek, Pantomim, Esambel Campuran 3 Alat Musik, Tari Kreasi, dan Kreativitas Musik Tradisional.



SMP Ar Rohmah Boarding School turut ambil bagian dalam kegiatan bergengsi ini dengan mengirimkan delegasi dalam dua cabang lomba, yakni Menulis Cerita Pendek dan Mendongeng. Peserta yang mewakili sekolah adalah Fattan Syafiq Amirul Haq (kelas 8 Scout) dan Chesta Adabi (kelas 8 EMaster) untuk cabang Mendongeng, serta Faith Nur Rabbani dan Muhammad Athaya Musyaffa (keduanya dari kelas 7 Ellitra) untuk cabang Menulis Cerita Pendek.


Dari hasil seleksi yang diumumkan pada Sabtu malam pukul 20.00 WIB, Muhammad Athaya Musyaffa berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan menduduki peringkat 7 besar dari total 58 peserta lomba Menulis Cerita Pendek tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Malang. Prestasi ini menjadi dorongan semangat bagi SMP Ar Rohmah untuk terus membina dan mengembangkan bakat siswa di bidang seni dan sastra.

Semoga pada ajang FLS2N tahun berikutnya, delegasi dari SMP Ar Rohmah Boarding School dapat kembali menorehkan prestasi yang lebih gemilang dan mengharumkan nama sekolah di kancah daerah maupun nasional.

Salam Literasi

Jumat, 20 Juni 2025

Amalan Pengundang Rezeki Allah

 AMALAN PENGUNDANG REZEKI ALLAH

Oleh: Ust. Ajang Kusmana

 Semua makhluk hidup di dunia ini terlahir dengan rezekinya masing-masing tanpa terkecuali. Rezeki pun terbagi menjadi dua hal, ada yang tak membutuhkan usaha kita seperti udara dan panca indera, serta rezeki yang wajib diusahakan seperti bekerja dan kesehatan. Hakikatnya, rezeki sudah disiapkan. Tugas kita hanyalah berikhtiar dengan menjemput rezeki tersebut melalui pekerjaan ataupun bisnis. Namun ikhtiar saja terkadang tidak cukup, meskipun kita sudah banting tulang. 


 Nah, berikut ini adalah 5 amalan untuk membarengi ikhtiarmu. Insya Allah deh rezekimu akan semakin lancar.


 *1. Berdoa*

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rezeki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (HR. Ibnu Majah, no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322.


 Ya, doa adalah senjata ampuh untuk membarengi segala ikhtiar yang kita lakukan. Doa dan ikhtiar adalah dua hal yang tak bisa dilepaskan. Ikhtiar adalah usaha kita sebaik mungkin untuk menjemput rezeki, dan doa adalah meminta yang terbaik kepada Allah atas segala yang telah kita usahakan. Dan yakinlah bahwa setiap doa kita akan didengar dan terkabul, tentunya dengan cara yang dikehendaki Allah.


 *2. Shalat Dhuha*

"Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang.” (HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475)


 Sudah menjadi rahasia umum jika shalat Dhuha merupakan sarana ibadah agar rezeki kita dilancarkan, seperti yang disebutkan dalam hadits diatas. Tak hanya dilancarkan rezeki, shalat Dhuha juga memiliki faedah lainnya,seperti setara dengan pahala umrah.


 *3. Bersedekah*


Allah Ta’ala berfirman,


قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ


“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ


“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2588)


Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah ada dua penafsiran:


Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Secara inderawi dan realita bisa dirasakan.

Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak. (Syarh Shahih Muslim, 16: 128)


 Secara kasat mata, harta kita akan berkurang saat bersedekah. Namun hakikatnya, sedekah justru akan melipat gandakan harta kita. Kenapa? Karena yang akan menggantinya adalah Allah. Dan Allah-lah sebaik-baik pemberi balasan.


 *4. Sillaturahmi*


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ


“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557).


Kata Imam Nawawi dilapangkan rezeki adalah diluaskan atau diperbanyak rezekinya. Juga bisa maksudnya adalah Allah berkahi rezekinya. (Syarh Shahih Muslim, 16: 104)


Ibnu Hajar dalam Al-Fath menjelaskan, “Silaturahmi dimaksudkan untuk kerabat, yaitu yang punya hubungan nasab, baik saling mewarisi ataukah tidak, begitu pula masih ada hubungan mahrom ataukah tidak.”


 Dengan sillaturahmi, artinya kita memperbanyak pertemanan dan memperluas jaringan. Disanalah tersedia kesempatan kita juga untuk memperlancar rezeki entah bisnis maupun mencari pekerjaan. Sillaturahmi tak hanya berkunjung, tapi juga menjalin komunikasi dan bertegur sapa. Dengan silaturahmi juga kita mampu saling berbagi ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan.


 *5. Takwa*

“Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan memberikannya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [65] : 2-3)


Kita pasti ingin segala keperluan kita dicukupkan dan diberkahi, dan seperti dalam ayat diatas, Allah telah menjanjikan akan memberikan jalan keluar dari setiap permasalahan dan rezeki yang tak kita sangka-sangka. Tapi dengan satu syarat, yaitu takwa.


Takwa artinya kita selalu menjaga diri kita untuk tetap di jalan Allah dengan melakukan segala

 perintahnya dan menjauhkan diri dari yang dilarangnya. Selama diri kita bisa berada terus dalam jalan yang benar, maka Allah akan selalu memberikan jalan keluar dan rezekinya yang penuh berkah.


Rezeki bisa berbentuk uang, kesehatan, kebahagiaan dan ketenangan yang bahkan lebih berharga daripada uang.

Senin, 09 Juni 2025

Momentum Qurban

 

Momentum Qurban... 


Rijalul dakwah Rabbani sebelum jihad dan qital sesungguhnya harus bisa dan terlatih menggerakkan pisau tajamnya ke leher binatang qurban, salah satu bentuk i'dad atau persiapan . 


Hamba beriman dan seorang muslim harus berani dan siap menyembeleh qurbanya, memutuskan nafas jalan binatang dan melepaskan sifat-ssfat kebinatangan yang ada pada diri kita.


Sifat-sifat hawa nafsu wahn, cinta dunia dan takut mati, rakus dunia, materi, penyakit qolbun maridz atau qolbun mayat iri, dengki, hasad sombong, egois, superior, riya', sum'a, medit, bakhil, ta'ashup, fanatik berlebihan, SMS senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang dst, harus disembeleh terlebih dahulu. 


Baru akan melahirkan generasi Ibrahim, generasi Ismail dan generasi ibu Siti Hajar di abad ini dan siap menghadapi dan menyongsong kebangkitan dan kemenangan izzul islam wal muslimin. 


Jadikan momentum Idul qurban, Idul Adha sebagai perubahan dan mereformasi diri, keluarga dan ummat lebih baik yang tangguh menuju kebangkitan dan kemenangan Izzul wal muslimin Islam.

Salam Progresif.

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...