Persahabatan yang
Tidak Terlupakan
Karya: Zahrona Namira
Ramadhani
Kelas: 4C
….
Persahabatan bagai
kepompong
Mengubah ulat menjadi
kupu-kupu
Persahabatan bagai
kepompong
Hal yang tak mudah
berubah menjadi indah
Persahabatan bagai
kepompong
Maklumi teman hadapi
perbedaan
….
Itulah sekelumit lagu Kepompong yang didengarkan Zaima saat
rebahan di kasur sembari melihat youtube. Lagu itu membuat Zaima teringat sosok
Rufaidah yang selama ini jauh di mata dekat di hati. Rufaidah adalah teman
bermain sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) Al Marhamah hingga kelas 3
SD. Namun ketika menjelang kelas 4 SD, mereka berdua berpisah karena Rufaidah
harus pindah sekolah mengikuti pekerjaan ayahnya di luar kota.
Zaima ingat betul bagaimana Rufaidah
yang selalu ceria dan suka menghibur di saat Zaima sedih bahkan menangis ketika
mainannya direbut anak laki-laki. Meskipun kini mereka sudah terpisah dengan
jarak, Zaima di kota Malang sementara Rufaidah di Temanggung Jawa Tengah, namun
komunikasi melalui WA masih terjalin erat. Adakalanya Rufaidah pulang kampung
ke kota Malang di saat momentum Idul Fitri. Sehingga Zaima pun bercerita
panjang tentang keseharian di sekolah yang sekarang kelas 6 SD. Tiga tahun
berpisah rasa-rasanya begitu panjang, namun terobati kerinduan itu ketika
mereka bertemu di saat liburan Ramadhan dan Idul Fitri.
Zaima kini sibuk memutar
lagu-lagu yang ada di youtube. Pada saat itu pula, ibunya sedang menggoreng
ayam di dapur kesukaan Zaima. “Zaima, ayam gorengnya sudah matang, Nak.”
Terdengar lantang suara ibu dari dapur memanggil namanya. Zaima pun bergegas
menutup youtube dan menaruh HPnya di meja kamar. Pintu kamar pun terbuka lebar
dan Zaima langsung menuju dapur untuk membantu ibunya menyiapkan makan siang
dengan sayur bening dan ayam goreng serta sambal terasi. Aroma sambal sudah
tercium di saat Zaima keluar dari kamar.
Hari ini Ahad, Zaima tidak
sekolah. Semua pekerjaan yang diberikan oleh ibunya dituntaskan ketika waktu
sudah memasuki pukul 10 pagi. Zaima pun memanfaatkan waktunya dengan bersantai
di kamar dengan membuka HP. Namun, ketika ibunya memanggil untuk makan siang
menjelang Dhuhur, Zaima pun langsung menuju dapur dan menunaikan makan siang
bersama ibu. Sementara itu ayahnya sedang ke luar kota untuk menghadiri acara
kantor sejak hari Jumat.
Di saat makan siang, Zaima
menyampaikan keluh kesahnya selama ini di sekolah. Bahwa semenjak kepindahan
Rufaidah di Temanggung, Zaima seakan belum mendapatkan sahabat dekatnya. “Ibu,
aku kangen dengan Rufaidah. Kalau misal nanti aku SMP, boleh tidak satu
sekolahan dengan dia?” setelah suapan nasi ke lima kalinya yang masuk di mulut
Zaima . Nafsu makannya tidak seperti biasanya yang begitu lahap meskipun dengan
ayam goreng kesukaannya. Namun hari ini seakan Zaima tidak begitu semangat
ketika teringat Rufaidah.
Ibunya yang mendengar seakan
merasa kasihan dengan Zaima yang begitu rindu dengan Rufaidah. Maka ibunya pun
menjawab, “Coba nanti ibu tanyakan ke bundanya ya, kira-kira Rufaidah nanti SMP
nya di mana. Jika masih tetap di Temanggung, maka Zaima tidak bisa menyusul ke
sana. Kan tau sendiri, Zaima ada di Malang. Kecuali Rufaidah SMPnya mondok.
Maka Zaima pun juga harus mondok.” Penjelasan ibunya pun membuat Zaima mengerti
maksud dari apa yang disampaikan. Mendengar kata mondok sepertinya pernah disampaikan
Rufaidah ketika chating tadi pagi.
Rufaidah mengutarakan ingin mondok di Malang yang mana pondoknya besar dan
terkenal. Sementara itu, Zaima masih belum ada rencana ingin ke mana setelah
lulus SD nanti. Maka, Zaima pun seakan terbawa keinginan untuk mondok juga
setelah ibunya dan Rufaidah menyampaikan kata mondok. Di saat itu pula, Zaima
mencoba mencari info pondok yang disampaikan Rufaidah.
Esoknya, setelah sepulang
sekolah, Zaima menyampaikan keinginan mondok seperti Rufaidah kepada ibunya.
Ibu Zaima yang sedari tadi membersihkan rumah dan berisitirahat di ruang tengah
akan meneruskan keinginan Zaima kepada ayah. Waktu telah menunjukkan pukul
14.00 WIB, ayah Zaima masih belum pulang dari kantor. Semenjak tadi malam
ketika ayah Zaima datang, Zaima telah tidur dan tidak mengetahui kedatangan
ayahnya. Rasa deg-degan Zaima akan jawaban ayahnya nanti seakan terbayar dengan
kebahagiaan ketika ayahnya datang dan telah berganti baju. Ayahnya pun mengajak
Zaima duduk di ruang tengah dengan ibu di sisi kanannya. “Zaima …. Ayah telah
mendengar banyak apa yang disampaikan ibu. Ayah sangat setuju jika Zaima masuk
pondok. Apalagi nanti Zaima akan satu pondok dengan Rufaidah. Ayah akan
mendukung sepenuhnya keinginan Zaima.” Zaima yang mendengarnya pun kegirangan
dan langsung memeluk ayah ibunya. Selanjutnya, Zaima pun mengirim pesan kepada
Rufaidah jika SMP nanti akan mondok seperti dirinya.
Selang beberapa bulan kemudian,
pengumuman penerimaan santriwati baru diterima oleh ibu Zaima. Kini dia telah
lulus SD dan akan memasuki dunia baru di SMP. Zaima diterima di SMP Ar Rohim
Malang bersama Rufaidah sahabat kecilnya yang lama terpisah. Zaima pun merasa
senang dapat satu sekolah lagi dengan Rufaidah. Hari berganti hari, bulan Juli
untuk pertama kalinya masuk pondok tinggal menunggu waktu, Zaima sudah merasa
siap untuk berpisah dengan kedua orangtuanya dan bertemu dengan sahabat
kecilnya. Zaima dan Rufaidah pun kini satu sekolah di pondok yang telah mereka
inginkan. Kini sahabat itu telah kembali bagaikan kepompong. Hari-hari di
pondok dilalui dengan semangat. Zaima
dan Rufaidah menjalani kehidupan di pondok selalu bersama-sama. Kemanapun
kegiatan pondok dilaksanakan, di sanalah ada sahabat yang selalu bersama dalam
suka dan duka. Zaima dan Rufaidah sahabat yang tak terlupakan.


