Senin, 15 Juli 2024

Persahabatan yang Tidak Terlupakan

 

Persahabatan yang Tidak Terlupakan

Karya: Zahrona Namira Ramadhani

Kelas: 4C

 

….

Persahabatan bagai kepompong

Mengubah ulat menjadi kupu-kupu

Persahabatan bagai kepompong

Hal yang tak mudah berubah menjadi indah

Persahabatan bagai kepompong

Maklumi teman hadapi perbedaan

….

Itulah sekelumit lagu Kepompong yang didengarkan Zaima saat rebahan di kasur sembari melihat youtube. Lagu itu membuat Zaima teringat sosok Rufaidah yang selama ini jauh di mata dekat di hati. Rufaidah adalah teman bermain sejak duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) Al Marhamah hingga kelas 3 SD. Namun ketika menjelang kelas 4 SD, mereka berdua berpisah karena Rufaidah harus pindah sekolah mengikuti pekerjaan ayahnya di luar kota.

Zaima ingat betul bagaimana Rufaidah yang selalu ceria dan suka menghibur di saat Zaima sedih bahkan menangis ketika mainannya direbut anak laki-laki. Meskipun kini mereka sudah terpisah dengan jarak, Zaima di kota Malang sementara Rufaidah di Temanggung Jawa Tengah, namun komunikasi melalui WA masih terjalin erat. Adakalanya Rufaidah pulang kampung ke kota Malang di saat momentum Idul Fitri. Sehingga Zaima pun bercerita panjang tentang keseharian di sekolah yang sekarang kelas 6 SD. Tiga tahun berpisah rasa-rasanya begitu panjang, namun terobati kerinduan itu ketika mereka bertemu di saat liburan Ramadhan dan Idul Fitri.

Zaima kini sibuk memutar lagu-lagu yang ada di youtube. Pada saat itu pula, ibunya sedang menggoreng ayam di dapur kesukaan Zaima. “Zaima, ayam gorengnya sudah matang, Nak.” Terdengar lantang suara ibu dari dapur memanggil namanya. Zaima pun bergegas menutup youtube dan menaruh HPnya di meja kamar. Pintu kamar pun terbuka lebar dan Zaima langsung menuju dapur untuk membantu ibunya menyiapkan makan siang dengan sayur bening dan ayam goreng serta sambal terasi. Aroma sambal sudah tercium di saat Zaima keluar dari kamar.

Hari ini Ahad, Zaima tidak sekolah. Semua pekerjaan yang diberikan oleh ibunya dituntaskan ketika waktu sudah memasuki pukul 10 pagi. Zaima pun memanfaatkan waktunya dengan bersantai di kamar dengan membuka HP. Namun, ketika ibunya memanggil untuk makan siang menjelang Dhuhur, Zaima pun langsung menuju dapur dan menunaikan makan siang bersama ibu. Sementara itu ayahnya sedang ke luar kota untuk menghadiri acara kantor sejak hari Jumat.

Di saat makan siang, Zaima menyampaikan keluh kesahnya selama ini di sekolah. Bahwa semenjak kepindahan Rufaidah di Temanggung, Zaima seakan belum mendapatkan sahabat dekatnya. “Ibu, aku kangen dengan Rufaidah. Kalau misal nanti aku SMP, boleh tidak satu sekolahan dengan dia?” setelah suapan nasi ke lima kalinya yang masuk di mulut Zaima . Nafsu makannya tidak seperti biasanya yang begitu lahap meskipun dengan ayam goreng kesukaannya. Namun hari ini seakan Zaima tidak begitu semangat ketika teringat Rufaidah.

Ibunya yang mendengar seakan merasa kasihan dengan Zaima yang begitu rindu dengan Rufaidah. Maka ibunya pun menjawab, “Coba nanti ibu tanyakan ke bundanya ya, kira-kira Rufaidah nanti SMP nya di mana. Jika masih tetap di Temanggung, maka Zaima tidak bisa menyusul ke sana. Kan tau sendiri, Zaima ada di Malang. Kecuali Rufaidah SMPnya mondok. Maka Zaima pun juga harus mondok.” Penjelasan ibunya pun membuat Zaima mengerti maksud dari apa yang disampaikan. Mendengar kata mondok sepertinya pernah disampaikan Rufaidah ketika chating tadi pagi. Rufaidah mengutarakan ingin mondok di Malang yang mana pondoknya besar dan terkenal. Sementara itu, Zaima masih belum ada rencana ingin ke mana setelah lulus SD nanti. Maka, Zaima pun seakan terbawa keinginan untuk mondok juga setelah ibunya dan Rufaidah menyampaikan kata mondok. Di saat itu pula, Zaima mencoba mencari info pondok yang disampaikan Rufaidah.

Esoknya, setelah sepulang sekolah, Zaima menyampaikan keinginan mondok seperti Rufaidah kepada ibunya. Ibu Zaima yang sedari tadi membersihkan rumah dan berisitirahat di ruang tengah akan meneruskan keinginan Zaima kepada ayah. Waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB, ayah Zaima masih belum pulang dari kantor. Semenjak tadi malam ketika ayah Zaima datang, Zaima telah tidur dan tidak mengetahui kedatangan ayahnya. Rasa deg-degan Zaima akan jawaban ayahnya nanti seakan terbayar dengan kebahagiaan ketika ayahnya datang dan telah berganti baju. Ayahnya pun mengajak Zaima duduk di ruang tengah dengan ibu di sisi kanannya. “Zaima …. Ayah telah mendengar banyak apa yang disampaikan ibu. Ayah sangat setuju jika Zaima masuk pondok. Apalagi nanti Zaima akan satu pondok dengan Rufaidah. Ayah akan mendukung sepenuhnya keinginan Zaima.” Zaima yang mendengarnya pun kegirangan dan langsung memeluk ayah ibunya. Selanjutnya, Zaima pun mengirim pesan kepada Rufaidah jika SMP nanti akan mondok seperti dirinya.

Selang beberapa bulan kemudian, pengumuman penerimaan santriwati baru diterima oleh ibu Zaima. Kini dia telah lulus SD dan akan memasuki dunia baru di SMP. Zaima diterima di SMP Ar Rohim Malang bersama Rufaidah sahabat kecilnya yang lama terpisah. Zaima pun merasa senang dapat satu sekolah lagi dengan Rufaidah. Hari berganti hari, bulan Juli untuk pertama kalinya masuk pondok tinggal menunggu waktu, Zaima sudah merasa siap untuk berpisah dengan kedua orangtuanya dan bertemu dengan sahabat kecilnya. Zaima dan Rufaidah pun kini satu sekolah di pondok yang telah mereka inginkan. Kini sahabat itu telah kembali bagaikan kepompong. Hari-hari di pondok dilalui dengan semangat.  Zaima dan Rufaidah menjalani kehidupan di pondok selalu bersama-sama. Kemanapun kegiatan pondok dilaksanakan, di sanalah ada sahabat yang selalu bersama dalam suka dan duka. Zaima dan Rufaidah sahabat yang tak terlupakan.

Musuh jadi Sahabat (lagi)

 

Musuh jadi Sahabat (lagi)

Karya: Zahrona Namira Ramadhani

Kelas: 4C

 


Mentari di SD Cahaya telah meninggi. Suasana halaman sekolah semakin terasa hangat bahkan hingga masuk di sela-sela jendela kelas. Namun, itu tidak mengurangi semangat anak-anak SD Cahaya dalam menuntut ilmu. Ya, hari itu adalah hari Selasa, suasana pagi yang cerah menyambut kedatangan mereka untuk belajar. Dari kejauhan nun jauh di timur, sinar matahari semakin jelas diiringi dengan beterbangan burung-burung di atas genteng SD Cahaya.

Pukul 06.55

Lima menit kemudian, semua siswa beranjak masuk dengan tertib ke kelasnya masing-masing dengan disambut tangan yang penuh keikhlasan dari guru. Satu persatu masuk sembari mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’. Sang ibu guru yang menyambutpun dengan ucapan ‘Waalaikumussalam’ hingga siswa yang terakhir masuk kelas. Begitulah suasana pagi sebelum pembelajaran dimulai. Sambutan hangat dari guru membuat siswa semakin semangat. Meskipun tidak berangsur-angsur sinar matahari yang menyelinap di jendela belum redup. Bagi mereka sinar mentari adalah asupan energi untuk tubuh.

Zahrona, siswi yang manis duduk di paling depan memimpin teman-temannya untuk berdoa sebelum belajar. Suara lantangnya mengajak siswa lainnya untuk menghadap depan dan menengadahkan tangan serta melantunkan doa sesuai yang diajarkan. Bacaan demi bacaan telah dituntaskan dan kini mereka siap menerima pembelajaran dari guru. Kali ini pelajaran pertama adalah Matematika. Pelajaran yang sangat disukai oleh Zahrona. Ya, Zahrona adalah siswi yang gemar sekali menghitung angka hingga harga-harga yang ada di struk belanjaan uminya pun dihitung.

Bu Izza sebagai guru Matematika sangat mengagumi Zahrona yang pintar berhitung. Bahkan, bu Izza kini berharap jika ada lomba-lomba akademik khususnya Matematika, rasa-rasanya Zahrona akan diikutkan agar memiliki keberanian dan mampu mengukur kemampuannya. Sehingga Zahrona yang kini duduk di kelas 4 selalu bersemangat apabila Ibu Izza menyampaikan ada perlombaan Matematika. Dengan kemampuan yang dimiliki Zahrona, ibu Izza yakin bahwa anak didiknya itu akan bisa bersaing dengan siswa-siswa dari SD lain.

Tidak berselang lama, pelajaran Matematika pun usai. Ibu Azizah yang sedari menjelaskan materi tentang luas persegi panjang pun pamitan untuk bergegas ke kelas. Maka kelas Zahrona kini telah sepi setelah ditinggal ibu Izza. Meskipun begitu, tidak berselang lama ibu Zaima yang mengajar Bahasa Indonesia melanjutkan pembelajaran sesuai jadwal di hari Selasa. Ibu Zaima menjelaskan materi tentang kalimat langsung dan tidak langsung. Bagi Zahrona, pelajaran Bahasa Indonesia adalah salahsatu pelajaran yang disukai selain Matematika. Selain ibu Zaima asyik, beliau juga sabar dan jelas dalam mengajar.  Maka tidak heran, semua siswa di ruangan kelasnya sangat menikmati meskipun kadangkala materi yang diajarkan cukup membingungkan. Khususnya berkaitan dengan materi kalimat transitif dan intransitive.

Sudah satu jam berlangsung pelajaran Bahasa Indonesia. Bel yang nyaring di ujung SD Cahaya membuyarkan semua siswa untuk tiba istirahat sekolah. Zahrona, Qiya, maupun Zahra kini menyiapkan diri untuk istirahat. Namun, tidak diduga-duga, Qiya teman Zahrona yang satu ini memang doyan makan. Maka, tidak heran apabila bel sekolah bordering, pertanda untuk segera bergegas ke kantin sekolah untuk jajan.

Tok tok tok….

Suara keras yang diketuk dari luar mengagetkan siswa seisi kelas. Bagaimana tidak, Mufi teman Zahrona, Qiya, dan Zahra yang beda kelas langsung masuk kelas setelah mengetuk pintu. “Qiya… Qiya… kamu di mana?” teriak Mufi. Zahrona yang sedang ngobrol dengan Zahra buru-buru menjawabnya, “Qiya ke kantin. Kami pun ditinggal tanpa diajaknya.” Tanpa menunggu kesempatan yang ada, Mufi pun tanpa pamitan ke Zahrona dan Zahra berlari menuju kantin. Zahrona dan Zahra yang aneh melihatnya pun juga menyusul mereka berdua untuk jajan di kantin.

Suara kencang dari Mufi memanggil Qiya terdengar oleh semua siswa yang sudah antri di kantin. “Qiya…. Akhirnya aku menemukanmu.” Teriak Mufi. Qiya yang sedari tadi antri di barisan kedua akhirnya kaget dan menoleh ke sumber suara. Mufi yang kini telah menemukan Qiya begitu girang seakan mendapatkan hadiah. “Ada apa Mufi kamu panggil aku dengan teriak-teriak?” tanya Qiya. Mufi yang sudah merencanakan dari kelas, akhirnya ngomong terus terang kepada Qiya. “Aku mau pinjam uangmu Qiya.” Harap Mufi. Seakan tidak percaya yang biasanya Mufi selalu rajin jajan tiba-tiba mau pinjam uangnya. “Berapa?” “Enam ribu rupiah saja,” jawab Mufi setelah ditanya jumlah uang yang akan dipinjam. “Insya Allah besok saya kembalikan,” lanjut Mufi.

Tidak berselang lama, Qiya pun merogoh saku bajunya dan memberikan kepada Mufi. “Jangan lupa besok dikembalikan lho ya.” Mufi yang mendengarnya pun mengangguk bahwa ia akan mengembalikan uang Qiya. Zahrona dan Zahra yang mendengar dari dekat Mufi, tersenyum seakan tidak percaya bahwa Mufi akan pinjam uang Qiya.

Hingga tibalah esok harinya….

Zahrona, Qiya, dan Zahra tiga sahabat yang sekelas selalu datang tepat waktu. Begitupun Mufi teman dekat Qiya di komplek perumahan, juga sudah masuk ke kelasnya. Seperti biasa, Rabu pelajarannya adalah IPS, PAI, dan Al Quran. Setelah semua selesai, seperti biasa Zahrona, Qiya, dan Zahra bergegas ke kantin. Namun, sebelum mereka menuju kantin yang berada di ujung gedung SD, Qiya berpapasan dengan Mufi. Seakan ingat janji Mufi yang akan mengembalikan uangnya, maka Qiya pun menagih hutangnya. Seakan tidak ingat, Mufi pun menyampaikan bahwa ia tidak membawa uang sama sekali. Sehingga uang Qiya belum kembali. Dua hari berikutnya pun sama, jawaban yang sama dari Mufi di saat Qiya ingin menagih uangnya, ternyata Mufi tidak membawa uang. Namun, seolah Qiya tidak percaya seratus persen, karena sebelum berangkat sekolah, orang tua Mufi memberikan uang saku kepadanya.

Ketika tagihan tidak diindahkan, maka Qiya pun semakin lama semakin jengkel. Padahal uang sakunya juga sudah menipis. Maka, Qiya kini seolah tidak ingin bergaul lagi dengan Mufi. Sahabat yang dulu selalu asyik diajak bareng ke sekolah, kini seakan menjadi musuh Qiya gegara uang pinjamannya belum kembali. Namun, lama kelamaan Zahrona dan Zahra yang menjadi sahabat Qiya menasihatinya bahwa meskipun uangnya belum kembali tapi jangan sampai putus hubungan dengan Mufi. Setelah Zahrona menasihati Qiya, tidak berselang lama, Mufi pun datang dan membawa uang untuk mengembalikan hutang ke Qiya. Kini Qiya seakan tidak percaya bahwa temannya itu adalah anak yang baik. Bukan berarti lambatnya mengembalikan hutang seakan putus hubungannya. Kini, mereka bersahabat kembali, meskipun Qiya pernah menganggap musuh gara-gara masalah hutang.

Les Berenang

 

Les Berenang

Karya: Zahrona Namira Ramadhani 3B



Di tepi kolam renang, seorang anak kecil bernama Zahrona mengamati orang-orang yang berenang dengan penuh semangat. Dia sebenarnya ingin sekali bisa berenang seperti mereka, tapi Zahrona takut air. Setiap kali mencoba untuk masuk ke dalam air, Zahrona selalu merasa ketakutan dan langsung berhenti.

Tapi suatu hari, Zahrona memutuskan untuk menghadapi ketakutannya. Dia meminta bantuan dari seorang pelatih renang untuk membantunya belajar berenang. Pelatih renang tersebut bernama Adi, dan dia langsung membuat Zahrona merasa nyaman dan aman di dalam air.

Adi mulai memberikan latihan renang pada Zahrona. Awalnya, Zahrona hanya belajar dasar-dasar berenang seperti cara bernapas di dalam air dan menggerakkan tangan dan kaki dengan benar. Setiap kali Zahrona merasa takut atau tidak yakin, Adi selalu memberikan dorongan dan semangat padanya.

Waktu terus berlalu, dan Zahrona semakin mahir dalam berenang. Dia mulai merasa nyaman di dalam air dan merasa senang ketika bisa bergerak dengan leluasa di dalam kolam renang. Dia bahkan mulai berlatih untuk berenang gaya bebas dan gaya kupu-kupu.

Suatu hari, Zahrona mengikuti kompetisi renang yang diadakan oleh klub renang setempat. Meski awalnya merasa gugup, Zahrona akhirnya bisa mengalahkan lawan-lawannya dan menjadi juara pertama di kelasnya. Zahrona merasa sangat senang dan bangga atas pencapaiannya, dan dia tahu bahwa semua itu tidak mungkin terjadi tanpa bantuan dan dukungan dari pelatih renangnya, Adi.

Sejak saat itu, Zahrona sering berlatih renang dan mengikuti berbagai kompetisi. Dia tahu bahwa belajar berenang bukan hanya tentang mengatasi ketakutan, tapi juga tentang semangat dan tekad untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah.

Zahrona menjadi semakin terampil dalam berenang, dan ia bahkan diundang untuk bergabung dengan tim renang nasional. Dengan kerja keras dan dedikasi, Zahrona berhasil menjadi atlet renang yang sukses dan terkenal di dunia olahraga.

Namun, meski telah mencapai banyak kesuksesan, Zahrona tidak pernah lupa akan perjuangannya dalam belajar berenang dan pentingnya bantuan dari orang lain. Dia sering memberikan motivasi kepada anak-anak yang takut air seperti dirinya dulu dan membantu mereka untuk belajar berenang dengan lebih percaya diri.

Setiap kali Zahrona berenang, dia merasa seperti sedang terbang bebas di dalam air. Dia merasakan getaran ketika tubuhnya meluncur di dalam air, dan merasa bebas dari beban dan kecemasan yang dia rasakan sebelumnya. Renang telah menjadi bagian penting dari hidupnya, dan dia merasa sangat bersyukur karena telah berani menghadapi ketakutannya dan mencapai kesuksesan yang luar biasa.

Kini, Zahrona tidak hanya menjadi atlet renang yang terkenal, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dia membuktikan bahwa dengan tekad dan kerja keras, siapa pun bisa mencapai apa yang diinginkan, bahkan ketika menghadapi rasa takut dan tantangan yang besar.

 

 

Minggu, 07 Juli 2024

Tausiyah Pemimpin Umum KH. Abdurrahman Muhammad

 Tausiyah Pemimpin Umum 

KH. Abdurrahman Muhammad

(Disampaikan dalam Halaqah Kubro dan Kemah Dai Hidayatullah Jawa Timur, 1 Muharram 1446 H)

=============================




Bersyukurlah karena Syukur syarat mendapat ridho Allah, ditambah nikmat dan dihindarkan dari Azab. Sesungguhnya Sudah dipenuhi kebutuhan dasar manusia, sehingga tidak ada alasan bagi manusia berkeluh kesah. Namun, Yang berat adalah istiqomah dalam menghadirkan sifat Syukur itu. 


Kenapa Islam pernah menguasai sepertiga dunia, karena awal ajaran Islam adalah pendidikan, dan pelaksanaannya adalah Halaqah. Karenanya Halaqah itu membangun Kepemimpinan agar lahir pemimpin-pemimpin umat.


Rumah Laba-laba adalah rumah terlemah. Namun mari melihat Mujahadah laba-laba dalam membangun rumahnya. Di bangun ditempat terbuka dan memilih makanan dari hewan-hewan yang terbang. Jika rumahnya hancur maka segera di bangun lagi. Kalau mujahadah seperti itu masih dikatakan lemah, bagaimana besar mujahadah membangun Iman?. 


Diantara contoh membangun Iman itu dicontohkan Saudara Kita di Palestina, terkhusus Mujahidin Hamas. Maka jangan berhenti mendoakan saudara kita di Palestina.


Merakit Ukhuwah itu sangat berat. Kalau sakit badan itu mudaTausiyah Pemimpin Umum 

KH. Abdurrahman Muhammad

(Disampaikan dalam Halaqah Kubro dan Kemah Dai Hidayatullah Jawa Timur, 1 Muharram 1446 H)

=============================

Bersyukurlah karena Syukur syarat mendapat ridho Allah, ditambah nikmat dan dihindarkan dari Azab. Sesungguhnya Sudah dipenuhi kebutuhan dasar manusia, sehingga tidak ada alasan bagi manusia berkeluh kesah. Namun, Yang berat adalah istiqomah dalam menghadirkan sifat Syukur itu. 


Kenapa Islam pernah menguasai sepertiga dunia, karena awal ajaran Islam adalah pendidikan, dan pelaksanaannya adalah Halaqah. Karenanya Halaqah itu membangun Kepemimpinan agar lahir pemimpin-pemimpin umat.


Rumah Laba-laba adalah rumah terlemah. Namun mari melihat Mujahadah laba-laba dalam membangun rumahnya. Di bangun ditempat terbuka dan memilih makanan dari hewan-hewan yang terbang. Jika rumahnya hancur maka segera di bangun lagi. Kalau mujahdah seperti itu masih dikatakan lemah, bagaimana besar mujahadah membangun Iman?. 


Diantara contoh membangun Iman itu dicontohkan Saudara Kita di Palestina, terkhusus Mujahidin Hamas. Maka jangan berhenti mendoakan saudara kita di Palestina.


Merakit Ukhuwah itu sangat berat. Kalau sakit badan itu mudah mengobati. Kalau sakit hati? Susah mengobatinya. Hati yang sakit penyebab ukhuwah rekat. 


Infaq adalah latihan kita berjihad. Tidak ada perintah dalam Al Quran melebihi banyaknya perintah Infak. Karena Infaq Islam ini pernah berjaya, bahkan saat itu, tidak adalagi yang mau menerima Infaq.


Islam itu nikmat, tapi dia tidak begitu saja datang kepada kita. Kalau tidak ada Nabi Muhammad berjihad, maka tidak datang Islam kepada kita. Dan hari ini kita memperingati salah satu momentum jihad itu yaitu Hijrah. 


Mengapa Nabi dihijrahkan ke Madinah, karena di Madinah pada waktu itu sudah ada 8 Halaqah. Halaqah itu dimulai dari 1 Murobbi Yaitu Mushab bin Umair. Maka keramat Halaqah itu. Dia menjadi pintu Hijrah yang menjadi tonggak tegaknya peradaban Islam, maka jika ingin mengembangkan organisasi, perkuat Halaqah.h mengobati. Kalau sakit hati? Susah mengobatinya. Hati yang sakit penyebab ukhuwah rekat. 


Infaq adalah latihan kita berjihad. Tidak ada perintah dalam Al Quran melebihi banyaknya perintah Infak. Karena Infaq Islam ini pernah berjaya, bahkan saat itu, tidak adalagi yang mau menerima Infaq.


Islam itu nikmat, tapi dia tidak begitu saja datang kepada kita. Kalau tidak ada Nabi Muhammad berjihad, maka tidak datang Islam kepada kita. Dan hari ini kita memperingati salah satu momentum jihad itu yaitu Hijrah. 


Mengapa Nabi dihijrahkan ke Madinah, karena di Madinah pada waktu itu sudah ada 8 Halaqah. Halaqah itu dimulai dari 1 Murobbi Yaitu Mushab bin Umair. Maka keramat Halaqah itu. Dia menjadi pintu Hijrah yang menjadi tonggak tegaknya peradaban Islam, maka jika ingin mengembangkan organisasi, perkuat Halaqah.

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...