Perjalanan Terindah
Karya:
Ahmad Aziz Alhabsy
Di
kesunyian, alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu, terdengar bersemangat
berjudul Sang Pemimpi. Mataku sedikit terbuka, pertanda mimpi indah malam ini
telah usai. Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB. Aku tetap terbaring, bukan berarti
malas. Kuhayati setiap lirik musik yang kudengarkan, penuh dengan makna. Aku
masih terbaring, kukumpulkan semangatku saat itu. Musik reff terdengar, semangatku
semakin berkumpul. Kuterbangun dan langsung kubuka jendela kamarku. Angin pagi
berhembus menyegarkan, walaupun memang masih gelap. Bibir ini berbisik, mengucapkan
do’a tanda syukur atas dibangunkanya jasad ini dari alam yang tak kukenal. Aku
siap melewati hari ini.
Aku
berjalan menuju ruang makan, kulihat ibu telah menyiapkan makan sahur. Hari ini
hari Senin, sudah menjadi amalan andalan kami untuk berpuasa setiap Senin dan Kamis.
Aku tersenyum pada ibu, kuteruskan langkahku untuk membasuh muka, menyegarkan
wajahku seusai bangun tidur. Berdua saja kami duduk di depan meja makan , aku
dan ibuku.
“Sudah
siapkah semua barangnya, Nak?”tanya ibuku.
“Tentu
saja sudah, Bu. Tinggal berangkat saja,” jawabku.
“Hati-hati
ya kalau sudah di sana. Terus hubungi ibu, takut terjadi apa-apa,” ucap ibuku
dengan sedikit khawatir.
“Tenang
saja, Bu. Lily bisa jaga diri kok, insya Allah,” ujarku.
“Baguslah
kalau begitu. Seusai shalat Subuh, ayah akan langsung mengantarmu ke stasiun.”
Aku
hanya tersenyum dan mengangguk. Kulanjutkan membereskan apa saja yang harus ku
bawa. Aku mungkin terlalu keasyikan, setelah shalat Subuh aku terdiam dan
merenung. Bersama kesunyian aku membayangkan, mimpiku ternyata bisa terwujud.
Dengan keadaan keluarga yang apa adanya, aku bisa kuliah tanpa mengeluarkan
biaya sedikitpun. Di dalam lamunanku, aku terkejut.
“Neng!”
ucap ayahku dengan kerasnya.
“Iya
Ayah?” jawabku kaget. “Ayo, sudah pukul lima. Nanti terlambat masuk kereta”
ucap ayahku cemas. “Oh, baiklah Ayah”.
Dengan
menaiki motor yang begitu khas suaranya, kami mulai berangkat. Ibu tidak ikut
mengantarku, katanya dia harus menjaga rumah. Lagipula tak bisa bila harus
menaiki motor dengan tiga orang penumpang sambil membawa barang yang cukup
banyak, sungguh hal yang mustahil.
“Jaga
diri baik-baik, Nak. Banyak berdoa. Tetap semangat, jangan lupa ibadahnya,”
nasehat ibu.
“Baik,
Bu. Doakan saja Lily, semoga semuanya barakah bagi kehidupan Lily,” ucapku
dengan mata yang cukup berkaca-kaca.
“Iya,
Nak. Ibu pasti akan selalu mendoakanmu. Kalau begitu lekaslah, takut
ketinggalan kereta,” ucap ibuku dengan air mata yang menetes.
“Kalau
begitu kami berangkat dulu, Bu. Assalamu’alaikum,” ucap ayah. “Wa’alaikumussalam,”
jawab ibu.
Aku
pun bersalaman dengan ibu, begitupun ayah. Airmata membasahi pipi ibu. Aku
mengerti, memang seperti itulah perasaan seorang ibu. Air mataku pun ikut
terjatuh, hatiku luluh. Segera kubergegas menaiki motor sambil menghapuskan air
mataku. Begitu dinginya Subuh itu. Namun untungnya aku tetap merasakan
kehangatan, dari jaket pemberian ibuku dan dari hangatnya punggung ayahku.
Kereta
beberapa menit lagi berangkat. Aku berlari dengan kencangnya bersama ayahku,
membawa barang cukup berat. Tepat di depan pintu kereta aku berdiri.
“Hati-hati
ya Nak. Kalau ada apa-apa hubungi ayah atau ibu. Banyak berdoa di jalan.
Musafir doanya sangat mustajab. Kabari ayah kalua sudah sampai,” pesan ayah
dengan suara lembutnya.
“Baik,
Ayah. Doakan Lily ya,” ucapku tersenyum, namun dengan air mata yang menetes.
Ayah
mengangguk. Aku masih tetap tersenyum. Tepat saat itu, kereta mulai berjalan.
Aku pun masuk, kucari tempat duduk yang masih kosong, tepat di pinggir jendela.
Kulihat ayahku masih berdiri, menunggu keberangkatan kereta hingga sampai jauh.
Aku masih tetap tersenyum bersama linangan air mata. Ayahku, ibuku, dan juga
desa yang kucintai ini pasti akan amat kurindukan. Di dalam hatiku aku semakin
bertekad, aku harus bisa menggapai cita-citaku dengan baik. Ikhtiar dan do’a,
sudah pasti harus kulakukan.
Perjalanan
di dalam kereta memang amat membuatku nyaman, menurutku. Apalagi dengan duduk
tepat di pinggir jendela. Di pagi hari yang cerah, pemandangan yang indah tentu
sudah sangat cukup untuk menyegarkan penglihatan ini. Inilah salah satu tanda
kekuasaanNya. Sesekali kuberanjak dari tempat dudukku, melangkah menuju pintu
kereta. Angin berhembus, menerpa hijab biru mudaku, menggerakkan bibirku hingga
akhirnya tersenyum reflex, tanpa sadar. Di depan mataku terlihat sawah yang terhampar
luas. Langit biru, bersama para awan dan juga burung yang beterbangan semakin
memperindah suasana ini.
“Maaf
mbak, bisakah Anda menyingkir dulu dari sini?” ucap seorang lelaki berbaju
merah dengan celana jins yang begitu rapi, ditambah dengan sepatu ala
boybandnya yang senada dengan warna kaos. Aku sedikit hilang fikiran dengan
gayanya saat berbicara itu. Ditambah
gaya pakaiannya yang seperti orang kota. Memang tampan, namun raut wajahnya
seperti orang yang angkuh. Itulah pemikiranku, sebagai seseorang yang
sederhana.
“Kalau
ga mau, gimana?” ucapku sinis. “Maaf mbak, hati-hati kalau berdiri di situ,
berbahaya.”
Aku
terdiam. Di hatiku terjadi perdebatan. Aku menganggapnya orang kota yang
angkuh, namun setelah kulihat ternyata ucapannya sangat lembut. Aku bingung,
namun saat itu aku lebih mamilih sinis kembali padanya. Orang kota dengan gaya
seperti itu pastilah sombong, dan terkadang selalu menyakiti hati orang-orang
yang sederhana, apalagi perempuan sepertiku. Bila dia memang berlaku baik padaku,
dia pasti memiliki maksud yang tidak baik. Seperti apa yang dikatakan
orang-orang di sekitarku, dan juga sesuai dengan pengalaman pribadiku, bahwa
laki-laki yang terlihat angkuh namun memiliki wajah yang tampan, pastilah dia
selalu menyakiti hati seorang wanita.
“Maaf
mbak, berbahaya berdiri di situ, saya hanya memberi tahu.”
“Lagipula….,”
aku memotong ucapannya.
“Maaf
ya Mas, kalau bahaya ya biar saja. Lagipula berbahaya buat saya, bukan buat
Mas!” ucapku semakin sinis. “Tapi mba….”
“Tapi
apa? Jangan paksa saya dong!” ucapku dengan lebih sinis lagi.
“Maaf
Mbak, silakan jika mau tetap berdiri di situ. Tapi…” ucapnya.
“Tapi
apa?” sentakku. Aku tahu ini tidak baik, tapi aku tetap pada pendirianku yaitu
berlaku sinis kepada laki-laki, apalagi yang belum kukenal. “Mohon maaf sekali Mbak,
kalau saya sudah kelewatan, silakan kalau Mbak berdiri lagi di situ,” ucapnya
dengan sopan.
Aku
cukup malu sebenarnya. Dia begitu lembut padaku, tapi aku malah menyentaknya.
Akupun menjauhi pintu kereta itu dan kembali ke tempat dudukku. Dia pun
melewatiku.
“Makasih,
Mbak,” ucap lelaki itu sambal tersenyum kecil. Aku pun melangkah, dalam hati
aku masih ingin tetap berdiri di sana. Kutengok ke arah belakangku, kulihat
lelaki itu malah berdiri di tempat di mana
aku berdiri tadi kemudian tersenyum. Aku sedikit kesal, kemudian aku pun
menghampirinya.
“Katanya
mau lewat, nyatanya kamu malah berdiri di situ!” teriakku kepadanya.
“Oh,
iya maaf Mbak. Cuma mau berdiri sebentar, sekarangpun mau ke gerbong sebelah.
Sekali lagi maaf ya, Mbak,” ucapnya dengan begitu ramah. Dia pun berjalan
meninggalkan gerbong yang kutempati, menuju gerbong sebelah. Aku terdiam. Aku
pun berdiri kembali di pintu kereta sambil melihat pemandangan dari setiap
jalan yang kulewati. Akupun dapat tersenyum kembali dengan melihat semua itu.
Dari
pagi sampai siang, gerbong yang kutempati memang penuh. Namun ternyata
lama-kelamaan, penumpang satu persatu turun dari kereta. Gerbong mulai kosong,
maklumlah memang tujuan yang kutuju adalah stasiun pemberhentian akhir, jadi
aku harus tetap duduk di kereta hingga stasiun akhir, yaitu Malang. Cukup sepi
juga. Aku masih tetap asik melihat pemandangan sambil duduk di kursi dekat
jendela kereta. Aku merenung dan terkadang tersenyum sendiri. Kulihat kembali
lelaki berkaos merah tadi, duduk di dekat pintu gerbong sambil memegang kamera
SLRnya. Dia memotret segala yang ada di sekitarnya, dan dia seperti memotret ke
arahku. Rasa suudzon mulai muncul kembali di dalam hatiku, sepertinya dia
hendak mengambil foto wajahku. Aku pun beranjak dari tempatku, dan langsung
menghampirinya.
“Kamu memfotoku?
Buat apa, kamu orang asing, berani-beraninya mengambil fotoku!” ucapku dengan
nada yang cukup tinggi. Dia hanya terdiam. Aku pun merebut SLR di tangannya.
Kulihat foto-foto yang tadi dia ambil. Ternyata bukan fotoku, ada beberapa foto
yang kulihat dan itu adalah foto-foto
pemandangan di sepanjang jalan yang telah dilewati.
Seketika
itu dia merebut kembali SLRnya dengan wajah yang sinis. Aku amat tak berkutik
waktu itu. Dia sepertinya kesal padaku. Aku terdiam, aku merasa amat bersalah.
“Maaf,
Mas,” ucapku. Tanpa melihat wajahnya, aku langsung berlari ke tempat dudukku.
Aku malu, mengapa aku harus suudzon kepadanya, ditambah lagi kejadian tadi pagi
saat aku menyentaknya. Semakin aku mengingatnya, semakin ku merasa bersalah
padanya. Perjalanan masih jauh, aku belum shalat Dhuhur. Biarlah, mungkin nanti
bisa diqashar. Kereta berhenti di sebuah stasiun, menunggu penumpang yang akan
segera masuk. Sesekali pengamen dan para pedagang masuk. Seorang anak kecil datang
menghampiri penumpang dan memberikan amplop yang bertuliskan sesuatu. Anak kecil
yang seharusnya menempuh pendidikan di sekolah, kini harus menyambung hidupnya
demi sesuap nasi dan berharap ada yang empati kepadanya. Aku bersyukur,
kehidupanku lebih baik daripadanya yang harus mencari nafkah sendiri. Sementara
aku masih bergantung kepada orangtuaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar