Rabu, 04 Januari 2023

Perjalanan Terindah karya Ahmad Aziz Alhabsy

 Perjalanan Terindah

Karya: Ahmad Aziz Alhabsy

Di kesunyian, alarm berbunyi. Teralunkan musik merdu, terdengar bersemangat berjudul Sang Pemimpi. Mataku sedikit terbuka, pertanda mimpi indah malam ini telah usai. Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB. Aku tetap terbaring, bukan berarti malas. Kuhayati setiap lirik musik yang kudengarkan, penuh dengan makna. Aku masih terbaring, kukumpulkan semangatku saat itu. Musik reff terdengar, semangatku semakin berkumpul. Kuterbangun dan langsung kubuka jendela kamarku. Angin pagi berhembus menyegarkan, walaupun memang masih gelap. Bibir ini berbisik, mengucapkan do’a tanda syukur atas dibangunkanya jasad ini dari alam yang tak kukenal. Aku siap melewati hari ini.

Aku berjalan menuju ruang makan, kulihat ibu telah menyiapkan makan sahur. Hari ini hari Senin, sudah menjadi amalan andalan kami untuk berpuasa setiap Senin dan Kamis. Aku tersenyum pada ibu, kuteruskan langkahku untuk membasuh muka, menyegarkan wajahku seusai bangun tidur. Berdua saja kami duduk di depan meja makan , aku dan ibuku.

“Sudah siapkah semua barangnya, Nak?”tanya ibuku.

“Tentu saja sudah, Bu. Tinggal berangkat saja,” jawabku.

“Hati-hati ya kalau sudah di sana. Terus hubungi ibu, takut terjadi apa-apa,” ucap ibuku dengan sedikit khawatir.

“Tenang saja, Bu. Lily bisa jaga diri kok, insya Allah,” ujarku.

“Baguslah kalau begitu. Seusai shalat Subuh, ayah akan langsung mengantarmu ke stasiun.”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Kulanjutkan membereskan apa saja yang harus ku bawa. Aku mungkin terlalu keasyikan, setelah shalat Subuh aku terdiam dan merenung. Bersama kesunyian aku membayangkan, mimpiku ternyata bisa terwujud. Dengan keadaan keluarga yang apa adanya, aku bisa kuliah tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun. Di dalam lamunanku, aku terkejut.

“Neng!” ucap ayahku dengan kerasnya.

“Iya Ayah?” jawabku kaget. “Ayo, sudah pukul lima. Nanti terlambat masuk kereta” ucap ayahku cemas.     “Oh, baiklah Ayah”.

Dengan menaiki motor yang begitu khas suaranya, kami mulai berangkat. Ibu tidak ikut mengantarku, katanya dia harus menjaga rumah. Lagipula tak bisa bila harus menaiki motor dengan tiga orang penumpang sambil membawa barang yang cukup banyak, sungguh hal yang mustahil.

“Jaga diri baik-baik, Nak. Banyak berdoa. Tetap semangat, jangan lupa ibadahnya,” nasehat ibu.

“Baik, Bu. Doakan saja Lily, semoga semuanya barakah bagi kehidupan Lily,” ucapku dengan mata yang cukup berkaca-kaca.

“Iya, Nak. Ibu pasti akan selalu mendoakanmu. Kalau begitu lekaslah, takut ketinggalan kereta,” ucap ibuku dengan air mata yang menetes.

“Kalau begitu kami berangkat dulu, Bu. Assalamu’alaikum,” ucap ayah. “Wa’alaikumussalam,” jawab ibu.

Aku pun bersalaman dengan ibu, begitupun ayah. Airmata membasahi pipi ibu. Aku mengerti, memang seperti itulah perasaan seorang ibu. Air mataku pun ikut terjatuh, hatiku luluh. Segera kubergegas menaiki motor sambil menghapuskan air mataku. Begitu dinginya Subuh itu. Namun untungnya aku tetap merasakan kehangatan, dari jaket pemberian ibuku dan dari hangatnya punggung ayahku.

Kereta beberapa menit lagi berangkat. Aku berlari dengan kencangnya bersama ayahku, membawa barang cukup berat. Tepat di depan pintu kereta aku berdiri.

“Hati-hati ya Nak. Kalau ada apa-apa hubungi ayah atau ibu. Banyak berdoa di jalan. Musafir doanya sangat mustajab. Kabari ayah kalua sudah sampai,” pesan ayah dengan suara lembutnya.

“Baik, Ayah. Doakan Lily ya,” ucapku tersenyum, namun dengan air mata yang menetes.

Ayah mengangguk. Aku masih tetap tersenyum. Tepat saat itu, kereta mulai berjalan. Aku pun masuk, kucari tempat duduk yang masih kosong, tepat di pinggir jendela. Kulihat ayahku masih berdiri, menunggu keberangkatan kereta hingga sampai jauh. Aku masih tetap tersenyum bersama linangan air mata. Ayahku, ibuku, dan juga desa yang kucintai ini pasti akan amat kurindukan. Di dalam hatiku aku semakin bertekad, aku harus bisa menggapai cita-citaku dengan baik. Ikhtiar dan do’a, sudah pasti harus kulakukan.

Perjalanan di dalam kereta memang amat membuatku nyaman, menurutku. Apalagi dengan duduk tepat di pinggir jendela. Di pagi hari yang cerah, pemandangan yang indah tentu sudah sangat cukup untuk menyegarkan penglihatan ini. Inilah salah satu tanda kekuasaanNya. Sesekali kuberanjak dari tempat dudukku, melangkah menuju pintu kereta. Angin berhembus, menerpa hijab biru mudaku, menggerakkan bibirku hingga akhirnya tersenyum reflex, tanpa sadar. Di depan mataku terlihat sawah yang terhampar luas. Langit biru, bersama para awan dan juga burung yang beterbangan semakin memperindah suasana ini.

“Maaf mbak, bisakah Anda menyingkir dulu dari sini?” ucap seorang lelaki berbaju merah dengan celana jins yang begitu rapi, ditambah dengan sepatu ala boybandnya yang senada dengan warna kaos. Aku sedikit hilang fikiran dengan gayanya  saat berbicara itu. Ditambah gaya pakaiannya yang seperti orang kota. Memang tampan, namun raut wajahnya seperti orang yang angkuh. Itulah pemikiranku, sebagai seseorang yang sederhana.

“Kalau ga mau, gimana?” ucapku sinis. “Maaf mbak, hati-hati kalau berdiri di situ, berbahaya.”

Aku terdiam. Di hatiku terjadi perdebatan. Aku menganggapnya orang kota yang angkuh, namun setelah kulihat ternyata ucapannya sangat lembut. Aku bingung, namun saat itu aku lebih mamilih sinis kembali padanya. Orang kota dengan gaya seperti itu pastilah sombong, dan terkadang selalu menyakiti hati orang-orang yang sederhana, apalagi perempuan sepertiku. Bila dia memang berlaku baik padaku, dia pasti memiliki maksud yang tidak baik. Seperti apa yang dikatakan orang-orang di sekitarku, dan juga sesuai dengan pengalaman pribadiku, bahwa laki-laki yang terlihat angkuh namun memiliki wajah yang tampan, pastilah dia selalu menyakiti hati seorang wanita.

“Maaf mbak, berbahaya berdiri di situ, saya hanya memberi tahu.”

“Lagipula….,” aku memotong ucapannya.

“Maaf ya Mas, kalau bahaya ya biar saja. Lagipula berbahaya buat saya, bukan buat Mas!” ucapku semakin sinis. “Tapi mba….”

“Tapi apa? Jangan paksa saya dong!” ucapku dengan lebih sinis lagi.

“Maaf Mbak, silakan jika mau tetap berdiri di situ. Tapi…” ucapnya.

“Tapi apa?” sentakku. Aku tahu ini tidak baik, tapi aku tetap pada pendirianku yaitu berlaku sinis kepada laki-laki, apalagi yang belum kukenal. “Mohon maaf sekali Mbak, kalau saya sudah kelewatan, silakan kalau Mbak berdiri lagi di situ,” ucapnya dengan sopan.

Aku cukup malu sebenarnya. Dia begitu lembut padaku, tapi aku malah menyentaknya. Akupun menjauhi pintu kereta itu dan kembali ke tempat dudukku. Dia pun melewatiku.

          “Makasih, Mbak,” ucap lelaki itu sambal tersenyum kecil. Aku pun melangkah, dalam hati aku masih ingin tetap berdiri di sana. Kutengok ke arah belakangku, kulihat lelaki itu malah berdiri di tempat di       mana aku berdiri tadi kemudian tersenyum. Aku sedikit kesal, kemudian aku pun menghampirinya.

“Katanya mau lewat, nyatanya kamu malah berdiri di situ!” teriakku kepadanya.

“Oh, iya maaf Mbak. Cuma mau berdiri sebentar, sekarangpun mau ke gerbong sebelah. Sekali lagi maaf ya, Mbak,” ucapnya dengan begitu ramah. Dia pun berjalan meninggalkan gerbong yang kutempati, menuju gerbong sebelah. Aku terdiam. Aku pun berdiri kembali di pintu kereta sambil melihat pemandangan dari setiap jalan yang kulewati. Akupun dapat tersenyum kembali dengan melihat semua itu.

Dari pagi sampai siang, gerbong yang kutempati memang penuh. Namun ternyata lama-kelamaan, penumpang satu persatu turun dari kereta. Gerbong mulai kosong, maklumlah memang tujuan yang kutuju adalah stasiun pemberhentian akhir, jadi aku harus tetap duduk di kereta hingga stasiun akhir, yaitu Malang. Cukup sepi juga. Aku masih tetap asik melihat pemandangan sambil duduk di kursi dekat jendela kereta. Aku merenung dan terkadang tersenyum sendiri. Kulihat kembali lelaki berkaos merah tadi, duduk di dekat pintu gerbong sambil memegang kamera SLRnya. Dia memotret segala yang ada di sekitarnya, dan dia seperti memotret ke arahku. Rasa suudzon mulai muncul kembali di dalam hatiku, sepertinya dia hendak mengambil foto wajahku. Aku pun beranjak dari tempatku, dan langsung menghampirinya.

“Kamu memfotoku? Buat apa, kamu orang asing, berani-beraninya mengambil fotoku!” ucapku dengan nada yang cukup tinggi. Dia hanya terdiam. Aku pun merebut SLR di tangannya. Kulihat foto-foto yang tadi dia ambil. Ternyata bukan fotoku, ada beberapa foto yang kulihat  dan itu adalah foto-foto pemandangan di sepanjang jalan yang telah dilewati.

Seketika itu dia merebut kembali SLRnya dengan wajah yang sinis. Aku amat tak berkutik waktu itu. Dia sepertinya kesal padaku. Aku terdiam, aku merasa amat bersalah.

“Maaf, Mas,” ucapku. Tanpa melihat wajahnya, aku langsung berlari ke tempat dudukku. Aku malu, mengapa aku harus suudzon kepadanya, ditambah lagi kejadian tadi pagi saat aku menyentaknya. Semakin aku mengingatnya, semakin ku merasa bersalah padanya. Perjalanan masih jauh, aku belum shalat Dhuhur. Biarlah, mungkin nanti bisa diqashar. Kereta berhenti di sebuah stasiun, menunggu penumpang yang akan segera masuk. Sesekali pengamen dan para pedagang masuk. Seorang anak kecil datang menghampiri penumpang dan memberikan amplop yang bertuliskan sesuatu. Anak kecil yang seharusnya menempuh pendidikan di sekolah, kini harus menyambung hidupnya demi sesuap nasi dan berharap ada yang empati kepadanya. Aku bersyukur, kehidupanku lebih baik daripadanya yang harus mencari nafkah sendiri. Sementara aku masih bergantung kepada orangtuaku.


Pesan yang terdapat dalam cerita tersebut yakni jangan suudzon kepada orang yang tidak kita kenal. Waspada boleh.

(ed:Ozan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...