Rabu, 04 Januari 2023

Terima Kasih karya Muhammad Mujahid Almughni

 Terima Kasih

Karya: Muhammad Mujahid Almughni

Pagi yang cerah telah datang dengan diawali oleh berbagai macam kejutan mulai dari terbitnya fajar, gradasi warna di sekeliling matahari hingga kicaun burung yang berbunyi seakan menambah sensasi pagi ini menjadi lebih memnbahagiakan.

Tak lupa juga dengan ayunan ombak obak laut yang juga tak mau kalah untuk menampilkan seni karyanya di pagi hari, dan dapat dapat dilihat dari sini terdapat banyak perbukitan yang hijau, yang di mana warna hijau adalah warna yang membuat hati kita semua nyaman akan keberadaannya.

Dan juga rumah-rumah yang sudah mulai membuka jendela dan pintu rumahnya untuk segera menuju ke luar guna melihat sensasi terbitnya matahari di pantai.

Untuk rumah mungkin bisa dibilang digunakan atau bisa dikatakan dialih fungsikan untuk penginapan para pengunjung wisata, mulai dari rumah yang berbentuk villa, hotel, maupun guest house. Tapi juga masih ada di sekitaran wilayah pantai ini yang masih berpenghuni, benduduk asli yang dimana mereka memanfaatkan kondisi geografis dengan bekerja sebagai pemilik hotel, villa, guest house, pemandu wisata, nelayan, maupun pekerja rumah makan.

Semuanya dijalani dengan senang, sehingga hidup mereka tenang, nyaman, dan makmur. Dari segi geografis, pantai ini jauh dari cuaca yang esktrem bahkan hampir satu abad, tidak ada bencana yang melanda di pantai, seperti: tsunami, gempa tektonik, atau angin badai. Meskipun ada, nelayan sekitar masih dapat menikmati keindahan alam di pantai, seperti hembusan angin yang cukup kencang.

Peradaban yang ada di pesisir pantai hingga zaman nenek moyang mereka menempati pertama, kultur budaya dan agama masih dipegang erat. Hal ini terlihat secara langsung religiusitas yang terbangun di masyarakat. Mulai peribadatan di tempat ibadah, hingga hubungan yang baik antar masyarakat. Maka, Allah masih menjaga wilayah tersebut dari marabahaya. Meskipun penduduk mayoritas adalah muslim, namun toleransi antar umat beragama tetap terjalin dengan baik.

Pantai yang saya maksud di atas adalah Pantai Papuma, yang terletak di Kota Jember Provinsi Jawa Timur. Keelokan pemandangan yang ada di sekitar pantai, membuat pantai Papuma sebagai jujugan para wisatawan lokal maupun internasional. Sunset dan sunrise di setiap pagi dan menjelang Maghrib, membuat pemandangan Pantai Papuma idola bagi pemburu matahari terbit dan terbenam. Sinar yang tampak dari kejauhan, seakan hadir di depan mata begitu dekat.

Saya adalah orang yang sangat menikmati keindagan pantai Papuma. Lebih tepatnya sebagai wahana healing melepas kepenatan dan kejenuhan. Di tengah kesibukan belajar bahkan mungkin sebagian orang mengisi masa rileks saat pekerjaan menumpuk.

Nama saya Feno Abdillah, telah berusia dua puluh tujuh tahun sudah menikmati anugrah Allah. Ketika masa sekolah dasar, saya bersekolah di SD Al Ibrah Kota Surabaya. Selanjutnya menapaki jenjang masa SMP dan SMA di kota yang sama. Kini, saya tinggal di Provinsi Jogjakarta, yang sering dibilang Paris Van Java. Masa selepas SMA, orangtua saya mengizinkan untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi di UII Jogjakarta.

Tatkala menjadi mahasiswa di universitas tersebut, saya menyempatkan diri untuk bekerja sebagai tambahan mencari kehidupan agar tidak selalu mengharap banyak dari orangtua. Setelah melalui lika-liku di kota gudeg, dengan izin Allah, amanah dan pekerjaan saya semakin maju dan berkembang pesat. Puncaknya, saya memiliki perusahaan sendiri di bidang otomotif. Meskipun karir selalu menanjak, namun kesendirianku yang membuatku asyik hingga menikmati pekerjaan dan pertemanan, jodohpun belum terpikirkan. Perjalanan kesuksesan tersebut, teriring doa dan restu dari malaikat tanpa sayap, yakni seorang ibu. Kini tepat tanggal 22 Desember 2025, rasa-rasanya ingin merayakan bersama orang yang telah membesar, mendidik, dan mendoakan saya di saat lapang dan sempit.

Berkat doa dan restu ibu, semua yang saya hadapi dan kerjakan menjadi lebih ringan. Bagaimanapun kesuksesan yang dibangun oleh seorang anak, tidak terlepas tetesan air mata yang selalu membasahi pipi seorang ibu. Setiap sujud dan angkatan tangan ketika berdoa, semua doa seakan tembus hingga ke sidrotul muntaha, semua terkabulkan. Maka, di balik keindahan pantai Papuma ini, ingin rasanya saya mempersembahkan sebuah puisi yang terindah untuk ibu.

Ibu…

Memelukmu adalah kenyamananku

Melukis senyummu adalah keinginanku

Mencintaimu sudah tentu kewajibanku

Namun terkadang

Melawanmu menjadi kebiasaanku

Bahkan ku menyiakanmu dan

Melupakanmu sebagai seorang ibu

Tanpa kusadari begitu teririsnya hatimu

Harusnya aku menjadi pelindung

Bukan menjadi anak yang tak tahu untung

Harusnya aku menjadi anak yang penurut

Bukan menjadi anak yang banyak nuntut

Aku masih sangat ingat

Ketika itu tak ada biaya untuk berangkat

Dari kampung menuju perkotaan yang padat

Waktu itu hujan begitu lebat

Kakimu kau paksa menapak

Hanya bermodal payung rusak

Ibu menjelajah rumah ke rumah dengan hati terisak

Tak peduli petir menyambar

Ibu tetap berjalan dengan sabar

Meski tubuhmu sudah gemetar

Ibu masih mengetuk pintu warga sekitar

Terimakasih sang pencipta

Kau beri aku seorang wanita tangguh

Yang selalu mengusap air mata

Ketika ku dilanda derita

Yang punya hati sebening permata

Dan yang menjadi mata air cinta

 

Bocah Nakal

Ku tatap wajahmu di keremangan malam

Wajah tuamu yang mulai kusam

Kulihat dengan jelas kerut keningmu

Yang dulu tak pernah tampak

Tanganmu yang kuat

Kian lemah seiring usia

Langkah mu yang dulu tegap

Kini rapuh dan membungkuk

Maafkan aku ibu

Di saat semua orang berfikir aku telah dewasa

Aku masih jadi bocah nakal pembuat ulah

Aku masih menyuguhkanmu cerita duka

Yang kelak akan jadi gurauan manja

Kala aku jadi anakmu yang berguna


        Demikian apa yang telah kupersembahkan melalui dedikasi pekerjaan untuk diri, keluarga, dan masyarakat, itu semua berkat doa dan restu dari seorang ibu. Kini di saat ibu masih ada, saya selalu menyempatkan datang meminta restu setulus-tulusnya, bahwa kehidupan saya di masa yang akan datang semakin ringan.

Apapun yang kuhadapi di masa sekarang, masa depan, baik kelancaran dan kesuksesan karir, itu berkat doa dari ibu. Terima kasih yang tak terhingga atas segala pengorbananmu selama ini, sejak kulahirkan hingga mampu berdiri di atas bumi tanpa meminta bantuan ke siapapun, sekali lagi berkat doa tulus dari ibu. Ingin rasanya melihatmu selalu ada di sampingku. Ingin rasanya menatapmu di saat kumembutuhkanmu. Namun, anakmu kini nun jauh di mata, hanya berharap selalu dan selalu doa restumu Ibu.


Aral rintang hingga badai menerjang, tidak membuat saya untuk pantang menyerah ke belakang. Ibu, saya sungguh beruntung memilikimu. Kini doakan saya menjadi anak yang selalu berbakti kepadamu dengan selalu membahagiakanmu. 

(Ed:Oz)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...