Terima Kasih
Karya:
Muhammad Mujahid Almughni
Pagi
yang cerah telah datang dengan diawali oleh berbagai macam kejutan mulai dari
terbitnya fajar, gradasi warna di sekeliling matahari hingga kicaun burung yang
berbunyi seakan menambah sensasi pagi ini menjadi lebih memnbahagiakan.
Tak
lupa juga dengan ayunan ombak obak laut yang juga tak mau kalah untuk
menampilkan seni karyanya di pagi hari, dan dapat dapat dilihat dari sini
terdapat banyak perbukitan yang hijau, yang di mana warna hijau adalah warna
yang membuat hati kita semua nyaman akan keberadaannya.
Dan
juga rumah-rumah yang sudah mulai membuka jendela dan pintu rumahnya untuk
segera menuju ke luar guna melihat sensasi terbitnya matahari di pantai.
Untuk
rumah mungkin bisa dibilang digunakan atau bisa dikatakan dialih fungsikan
untuk penginapan para pengunjung wisata, mulai dari rumah yang berbentuk villa,
hotel, maupun guest house. Tapi juga
masih ada di sekitaran wilayah pantai ini yang masih berpenghuni, benduduk asli
yang dimana mereka memanfaatkan kondisi geografis dengan bekerja sebagai
pemilik hotel, villa, guest house, pemandu wisata, nelayan, maupun pekerja
rumah makan.
Semuanya
dijalani dengan senang, sehingga hidup mereka tenang, nyaman, dan makmur. Dari
segi geografis, pantai ini jauh dari cuaca yang esktrem bahkan hampir satu
abad, tidak ada bencana yang melanda di pantai, seperti: tsunami, gempa
tektonik, atau angin badai. Meskipun ada, nelayan sekitar masih dapat menikmati
keindahan alam di pantai, seperti hembusan angin yang cukup kencang.
Peradaban
yang ada di pesisir pantai hingga zaman nenek moyang mereka menempati pertama, kultur
budaya dan agama masih dipegang erat. Hal ini terlihat secara langsung
religiusitas yang terbangun di masyarakat. Mulai peribadatan di tempat ibadah,
hingga hubungan yang baik antar masyarakat. Maka, Allah masih menjaga wilayah
tersebut dari marabahaya. Meskipun penduduk mayoritas adalah muslim, namun
toleransi antar umat beragama tetap terjalin dengan baik.
Pantai
yang saya maksud di atas adalah Pantai Papuma, yang terletak di Kota Jember
Provinsi Jawa Timur. Keelokan pemandangan yang ada di sekitar pantai, membuat
pantai Papuma sebagai jujugan para wisatawan lokal maupun internasional. Sunset dan sunrise di setiap pagi dan menjelang Maghrib, membuat pemandangan
Pantai Papuma idola bagi pemburu matahari terbit dan terbenam. Sinar yang
tampak dari kejauhan, seakan hadir di depan mata begitu dekat.
Saya
adalah orang yang sangat menikmati keindagan pantai Papuma. Lebih tepatnya
sebagai wahana healing melepas
kepenatan dan kejenuhan. Di tengah kesibukan belajar bahkan mungkin sebagian
orang mengisi masa rileks saat pekerjaan menumpuk.
Nama
saya Feno Abdillah, telah berusia dua puluh tujuh tahun sudah menikmati anugrah
Allah. Ketika masa sekolah dasar, saya bersekolah di SD Al Ibrah Kota Surabaya.
Selanjutnya menapaki jenjang masa SMP dan SMA di kota yang sama. Kini, saya
tinggal di Provinsi Jogjakarta, yang sering dibilang Paris Van Java. Masa selepas SMA, orangtua saya mengizinkan untuk
melanjutkan studi yang lebih tinggi di UII Jogjakarta.
Tatkala
menjadi mahasiswa di universitas tersebut, saya menyempatkan diri untuk bekerja
sebagai tambahan mencari kehidupan agar tidak selalu mengharap banyak dari
orangtua. Setelah melalui lika-liku di kota gudeg, dengan izin Allah, amanah
dan pekerjaan saya semakin maju dan berkembang pesat. Puncaknya, saya memiliki
perusahaan sendiri di bidang otomotif. Meskipun karir selalu menanjak, namun
kesendirianku yang membuatku asyik hingga menikmati pekerjaan dan pertemanan,
jodohpun belum terpikirkan. Perjalanan kesuksesan tersebut, teriring doa dan
restu dari malaikat tanpa sayap, yakni seorang ibu. Kini tepat tanggal 22
Desember 2025, rasa-rasanya ingin merayakan bersama orang yang telah membesar,
mendidik, dan mendoakan saya di saat lapang dan sempit.
Berkat
doa dan restu ibu, semua yang saya hadapi dan kerjakan menjadi lebih ringan.
Bagaimanapun kesuksesan yang dibangun oleh seorang anak, tidak terlepas tetesan
air mata yang selalu membasahi pipi seorang ibu. Setiap sujud dan angkatan
tangan ketika berdoa, semua doa seakan tembus hingga ke sidrotul muntaha, semua
terkabulkan. Maka, di balik keindahan pantai Papuma ini, ingin rasanya saya
mempersembahkan sebuah puisi yang terindah untuk ibu.
Ibu…
Memelukmu
adalah kenyamananku
Melukis
senyummu adalah keinginanku
Mencintaimu
sudah tentu kewajibanku
Namun
terkadang
Melawanmu
menjadi kebiasaanku
Bahkan
ku menyiakanmu dan
Melupakanmu
sebagai seorang ibu
Tanpa
kusadari begitu teririsnya hatimu
Harusnya
aku menjadi pelindung
Bukan
menjadi anak yang tak tahu untung
Harusnya
aku menjadi anak yang penurut
Bukan
menjadi anak yang banyak nuntut
Aku
masih sangat ingat
Ketika
itu tak ada biaya untuk berangkat
Dari
kampung menuju perkotaan yang padat
Waktu
itu hujan begitu lebat
Kakimu
kau paksa menapak
Hanya
bermodal payung rusak
Ibu
menjelajah rumah ke rumah dengan hati terisak
Tak
peduli petir menyambar
Ibu
tetap berjalan dengan sabar
Meski
tubuhmu sudah gemetar
Ibu
masih mengetuk pintu warga sekitar
Terimakasih
sang pencipta
Kau
beri aku seorang wanita tangguh
Yang
selalu mengusap air mata
Ketika
ku dilanda derita
Yang
punya hati sebening permata
Dan
yang menjadi mata air cinta
Bocah Nakal
Ku
tatap wajahmu di keremangan malam
Wajah
tuamu yang mulai kusam
Kulihat
dengan jelas kerut keningmu
Yang
dulu tak pernah tampak
Tanganmu
yang kuat
Kian
lemah seiring usia
Langkah
mu yang dulu tegap
Kini
rapuh dan membungkuk
Maafkan
aku ibu
Di
saat semua orang berfikir aku telah dewasa
Aku
masih jadi bocah nakal pembuat ulah
Aku
masih menyuguhkanmu cerita duka
Yang
kelak akan jadi gurauan manja
Kala
aku jadi anakmu yang berguna
Demikian apa yang telah kupersembahkan melalui dedikasi pekerjaan untuk diri, keluarga, dan masyarakat, itu semua berkat doa dan restu dari seorang ibu. Kini di saat ibu masih ada, saya selalu menyempatkan datang meminta restu setulus-tulusnya, bahwa kehidupan saya di masa yang akan datang semakin ringan.
Apapun
yang kuhadapi di masa sekarang, masa depan, baik kelancaran dan kesuksesan
karir, itu berkat doa dari ibu. Terima kasih yang tak terhingga atas segala
pengorbananmu selama ini, sejak kulahirkan hingga mampu berdiri di atas bumi
tanpa meminta bantuan ke siapapun, sekali lagi berkat doa tulus dari ibu. Ingin
rasanya melihatmu selalu ada di sampingku. Ingin rasanya menatapmu di saat
kumembutuhkanmu. Namun, anakmu kini nun jauh di mata, hanya berharap selalu dan
selalu doa restumu Ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar