Hutan Baluran
Karya:
Asyam Hanif Ramadhan Al Ahmadi
Hutan
Baluran yang masuk kawasan Taman Nasional Baluran adalah salah satu taman
nasional di Jawa Timur.
Taman
nasional yang dikenal destinasi wisata ini, juga tersohor tentang mitos
keangkerannya yang tepatnya di Hutan Baluran.
Hutan
ini berada di Kabupaten Situbondo berbatasan dengan wilayah utara Kabupaten
Banyuwangi. Hutan ini akan Anda lewati jika Anda menuju Banyuwangi dari arah
Surabaya via jalur pantai utara.
Jalan
yang membelah hutan ini sepanjang kurang lebih 25 km. Terdiri dari tanjakan,
turunan, kelokan, blind spot dan hal-hal menantang lainnya.
Cukup
ekstrimnya jalanan di hutan Baluran ini, tak jarang mengakibatkan kecelakaan
terjadi di wilayah hutan ini.
Di atas
adalah sekilas mengenai hutan baluran Situbondo-Banyuwangi.
Denpasar,
13 Desember 2018
Hari
ini adalah hari terakhir dimana enam anak muda ini berlibur di Denpasar, Bali.
Mereka telah menghabiskan liburannya di Bali. Sudah satu minggu lamanya mereka
di kota ini. Tak terasa, mereka harus kembali ke kota mereka karena waktu
liburan sudah hampir habis. Mereka akan pulang menuju Yogyakarta.
Mereka
menggunakan mobil. Jadi melewati jalur darat. Tujuh orang tersebut adalah dua
kakak perempuannya Bagus, satu kakak laki-laki Bagus, satu teman dekat kakak
perempuan Bagus, satu kawan kakak perempuan Bagus, serta Bagus. Mereka
menggunakan mobil.
Di
perjalanan menuju Bali tidak ada hal yang ganjil apapun, sampai di Bali pun
Bagus menikmati liburannya. Setelah enam hari Bagus bersama rombongannya di Bali,
sampailah hari di mana Bagus dan rombongannya harus balik ke Jogja dan mereka
bergerak pulang menuju ke pelabuhan Gili Manuk dari Denpasar siang harinya.
Jadi mereka baru sampai ke pelabuhan itu hampir masuk waktu Maghrib. Dan
sesampainya di sana, menyeberanglah mereka ke pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Ketika
sudah sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi ini, kakak perempuannya si Bagus
menelpon bapak mereka. Untuk memberi kabar “Kami dah sampai di Ketapang, jam
tujuh malam.” Bapaknya Bagus mengatakan, “Oh ya udah, alhamdulillah. Sekarang
kalian cari hotel atau penginapan di dekat situ ya! Kalau kalian lewat Alas Baluran
malam-malam bapak nggak bolehin ya! Nginep sana aja nggak usah mbalik!”
Setelah
menutup telepon, mereka waktu itu sempat bingung. Antara mau kembali dan bantah
perintah bapak mereka atau mencari penginapan dan melanjutkan perjalan pulang
di esok harinya. Berunding lah mereka.
Nah
waktu itu, mereka berenam ini sepakat untuk bantah perintah bapaknya. Dan
memutuskan untuk pulang karena memang kakak perempuan Bagus ini harus pergi ke
kantor esoknya.
Mereka
melanjutkan perjalanan. Perjalanan dari
pelabuhan Ketapang menuju ke Jogja melewati Alas Baluran. Nah ketika masuk area
jalur Baluran, Bagus waktu itu duduk di paling belakang. Waktu selepas maghrib
membuat jalur Alas Baluran sepi. Bagus yang duduk di belakang sempat melihat
ada mobil tua, berhenti di pinggir jalan. Bagus mengamati mobil tersebut bahkan
sampai membalikkan badannya untuk melihat lebih fokus ke arah mobil tua
tersebut. Setelah Bagus perhatikan, ternyata dalam mobil itu ibu-ibu semua. Dan
ibu-ibu ini diam semua. Badan tidak gerak. Mulutnya tidak gerak. Pandangan
berdenyit kosong ke depan. Di saat itu, Bagus sempat nanya kepada kakak-kakak
nya. “Kalian tengok gak mobil tua di pinggir itu?” Mereka semua menjawab. “Ya,
kami lihat mobil tua itu.” Tapi, kakak-kakak Bagus itu langsung bilang, “Paling
itu cuma mobil mogok itu Dek.” Beberapa menit kemudian. Bergantilah Bagus yang
menyupir mobil rombongan tersebut. Sampingnya si Bagus adalah abangnya, kakak
laki-lakinya. Lanjut di perjalanan. Masih di Alas Baluran.
Mereka
bertemu mobil tua lagi. Berbeda dengan yang di tumpangi ibu-ibu tadi, yang
dinaiki ibu-ibu tadi mobil tua berwarna hijau. Dan yang di depan mereka warna
mobilnya merah banyak karatnya. Mobil tersebut jalannya pelan sekali. Dan
sesekali mobil di depan mereka itu senganja ngerem- ngerem. Supaya mereka
menabrak mobil tua di depan mereka. Atau nyuruh mereka melewati hutan dengan
pelan-pelan juga. Itu kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Nah
pada saat itu, Bagus yang mau menyalip mobil berkarat ini, sempat ragu karena
memang jalan nya banyak tikungan. Tapi karena beberapa kali resek, mengerem
dengan sengaja. Bagus pun kesal. Disaliplah mobil tua itu oleh Bagus, sedangkan
abangnya marah ke sopir mobil tua tersebut. Sementara abangnya tidak melihat
secara langsung sopir mobil.
Lanjut
lagi perjalanan mereka. Nah, selama perjalanan ini Bagus ini merasa aneh. Karena Bagus merasa perjalannya melewati jalur alas
baluran ini lama sekali. Untuk keluar dari alas baluran ini, padahal sebelumnya
pas perjalanan dari Jogja ke Bali tidak begitu lama. Namun, kali ini beda.
Sangat lama sekali. Kok kita gak keluar
keluar dari alas baluran ini ya? batin Bagus dalam hati.
Dan
pada saat itu sekitar satu jam mereka tidak menemukan kendaraan lain yang
melalui Alas Baluran itu. Hanya mereka yang melewati jalur tersebut. Sampai
akhirnya, tidak lama kemudian mereka melihat
lagi, si mobil merah yang berkarat tadi ada di depan mereka.
Bercampur
aduk rasanya hati Bagus, antara bingung dan takut. “Lho, tadi kan dah kusalip.”
Dan Bagus yakin mobil itu tidak pernah menyalip dia lagi. Dan dipikir-pikir
lagi sama si Bagus, “Harusnya mobil itu dah ketinggalan jauh sekali, orang
jalannya pelan sekali.”
“Bang
itu yang mobil telah kita salip kan?”
“Eh,
iya Dek. Kok dia bisa di depan kita.”
“Ada
yang nyalib tadi, Bang?”
“GAK
ADA. Coba kau salip dia! Penasaran aku nengok supirnya.” Abangku seperti mengerutkan
dahi penasaran dengan mobil merah tersebut.
Bagus
pun menyalip dengan pelan-pelan. Meskipun laju, tidak seperti menyalip yang
pertama kecepatan mobil Bagus dari sisi kanan. Penasaran Bagus dan abangnya
siapa kira-kira yang mengendarai mobil merah. Disaat lagi nyalib itu, mereka
sama-sama melihat ke sebelah kiri. Untuk melihat sia supir mobil tersebut. Dan
saat itu, mereka melihat si sopir tersebut menatap balik ke arah mereka. Dengan
seyuman yang lebar. Senyum lebar yang sampai pipi terobek. Dan sopir itu,
Tinggi sekaliii. Sampai atap mobil itu tidak cukup. Bungkuk. Ya Allah.
Terkejutlah
si Bagus dan Abangnya. Nah, si Bagus dan Abangnya keluar kata sumpah serampah,
entah apa saja yang diucapkan. Teriak teriak. “SALIP, CEPET, SALIP MOBIL ITU
DEKKK!” kata abangnya. Saking keras teriakan mereka, penumpang di belakangpun
kaget. “Woy, kalian kenapa marah-marah ini!” Tapi Bagus dan Abangnya tidak mau menjawab. Diam. Mereka shock. Gak
mungkin manusia seperti itu. Setelah beberapa menit melanjutkan perjalanan, mereka
melihat warung, dan mereka pun memutuskan untuk beristirahat di warung itu.
Sekalian si Bagus dan Abangnya menenangkan diri sebentar setelah kejadian tadi.
Disaat
mereka berhenti di warung, mereka bertemu dengan yang jaga warung tersebut. Ada
ibu-ibu bersama anaknya. Nah Bagus dengan beberapa kakaknya turun dari mobil
untuk ngopi. Dan ada juga beberapa yang tetap memilih untuk tidur di mobil. Terbayang
wajah sopir mobil tua warna merah menyelimuti wajah Bagus.
Selang
beberapa menit, mereka duduk-duduk di warung tersebut. Tiba-tiba ada satu mobil
datang. Dan berhenti tepat di samping mobil si Bagus. Bukan mobil yang tadi.
Mobil lain. Pengendara mobil yang baru datang ini, membuka kaca mobil. Orang
tersebut bertanya, “Kenapa Mas, ada yang bisa saya bantu?” Bagus menjawab, “Gak papa pak.” Bingung juga mereka.
Orang kami duduk di warung kopi malah nanyak kenapa.
Nah
setelah sekitar setengah jam berlalu, di warung tersebut. Mereka memutuskan
untuk melanjutkan perjalanan pulang. Nah, disini kakak perempuan si Bagus mau
membayar makanan dan minuman di warung itu. “Mbak... Mbak..! Bayar bukk ibukk ...
bayar”
Tapi ketika
dipanggil, ibu penjaga warung tersebut tidak keluar. Suasana warung tersebut
tiba-tiba sepi sekali. Kakak Bagus pun kebingungan. Diletakkanlah uang lima
puluh ribu di meja. Jika itu ada kelebihan, semoga menjadi sedekah untuk
mereka.
Rombongan
pun masuk ke mobil. Untuk melanjutkan perjalanan pulang. Setelah mereka sudah
jalan beberapa menit, teman kakak si Bagus ini baru sadar. “Kok handphone aku gak ada di mobil ini.”
Barulah dia teringat. HPnya ketinggalan di warung tadi. Akhirnya putar balik
mencari warung. Ketika perjalanan kembali mencari warung tadi, tidak terlihat
sedikitpun keberadaan warung. Akhirnya HP teman kakak si Bagus dihubungi dan
dilacak keberadaannya melalui sinyal.
Ketika
sinyal terlacak, kagetlah mereka bahwa keberadaan sinyal ada di dalam bangunan
roboh. Bertambah kagetlah rombongan Bagus. Sementara HP tadi merasa tertinggal
di warung kopi pinggir jalan. Mereka turun dan langsung mencari keberadaan HP
teman kakaknya.
Bagus
menemukan HP teman kakaknya dan uang lima puluh ribu yang mereka pakai untuk
membayar kopi di warung tadi dalam keadaan tertumpuk di atas batu. Tanpa
berpikir panjang, diambillah HP dan uang tersebut. Di saat itu pula, bapak yang
menemui kami di warung muncul lgi, bertanya kabar tentang kami seperti yang
ditanyakan sebelumnya. Lagi-lagi jawaban kami sama.
Di saat genting seperti itu, salah satu rombongan menelepon bapak untuk memastikan rombongan dalam keadaan sehat dan sedikit ada masalah. Meskipun sinyal di hutan terputus-putus, akhirnya tersambunglah telpon ke bapak. “Pak…. Maaf, kami ada masalah di sini. Beberapa kali mengalami kejadian di luar nalar. Mohon doa dan restu dari Bapak, agar perjalan pulang kami berjalan lancar.”
“Bagaimana,
lanjut pulang?” “Ok, Bapak bantu doa dari rumah.” Memang, Bapak bisa membantu
hal-hal demikian. Akhirnya, kami pun lancar ketika pulang. Alhamdulillah...
Semua
aman dan selamat sampai tujuan. Yogyakarta. Perjalanan yang cukup menegangkan
dan melelahkan membuat bulu kuduk berdiri. Smeoga dengan kejadian yang kami
alami dapat hikmah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar