Rabu, 04 Januari 2023

Hutan Baluran karya Asyam Hanif Ramadhan Al Ahmadi

 Hutan Baluran

Karya: Asyam Hanif Ramadhan Al Ahmadi

Hutan Baluran yang masuk kawasan Taman Nasional Baluran adalah salah satu taman nasional di Jawa Timur.

Taman nasional yang dikenal destinasi wisata ini, juga tersohor tentang mitos keangkerannya yang tepatnya di Hutan Baluran.

Hutan ini berada di Kabupaten Situbondo berbatasan dengan wilayah utara Kabupaten Banyuwangi. Hutan ini akan Anda lewati jika Anda menuju Banyuwangi dari arah Surabaya via jalur pantai utara.

Jalan yang membelah hutan ini sepanjang kurang lebih 25 km. Terdiri dari tanjakan, turunan, kelokan, blind spot dan hal-hal menantang lainnya.

Cukup ekstrimnya jalanan di hutan Baluran ini, tak jarang mengakibatkan kecelakaan terjadi di wilayah hutan ini.

Di atas adalah sekilas mengenai hutan baluran Situbondo-Banyuwangi.

Denpasar, 13 Desember 2018

Hari ini adalah hari terakhir dimana enam anak muda ini berlibur di Denpasar, Bali. Mereka telah menghabiskan liburannya di Bali. Sudah satu minggu lamanya mereka di kota ini. Tak terasa, mereka harus kembali ke kota mereka karena waktu liburan sudah hampir habis. Mereka akan pulang menuju Yogyakarta.

Mereka menggunakan mobil. Jadi melewati jalur darat. Tujuh orang tersebut adalah dua kakak perempuannya Bagus, satu kakak laki-laki Bagus, satu teman dekat kakak perempuan Bagus, satu kawan kakak perempuan Bagus, serta Bagus. Mereka menggunakan mobil.

Di perjalanan menuju Bali tidak ada hal yang ganjil apapun, sampai di Bali pun Bagus menikmati liburannya. Setelah enam hari Bagus bersama rombongannya di Bali, sampailah hari di mana Bagus dan rombongannya harus balik ke Jogja dan mereka bergerak pulang menuju ke pelabuhan Gili Manuk dari Denpasar siang harinya. Jadi mereka baru sampai ke pelabuhan itu hampir masuk waktu Maghrib. Dan sesampainya di sana, menyeberanglah mereka ke pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Ketika sudah sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi ini, kakak perempuannya si Bagus menelpon bapak mereka. Untuk memberi kabar “Kami dah sampai di Ketapang, jam tujuh malam.” Bapaknya Bagus mengatakan, “Oh ya udah, alhamdulillah. Sekarang kalian cari hotel atau penginapan di dekat situ ya! Kalau kalian lewat Alas Baluran malam-malam bapak nggak bolehin ya! Nginep sana aja nggak usah mbalik!”

Setelah menutup telepon, mereka waktu itu sempat bingung. Antara mau kembali dan bantah perintah bapak mereka atau mencari penginapan dan melanjutkan perjalan pulang di esok harinya. Berunding lah mereka.

Nah waktu itu, mereka berenam ini sepakat untuk bantah perintah bapaknya. Dan memutuskan untuk pulang karena memang kakak perempuan Bagus ini harus pergi ke kantor esoknya.

Mereka melanjutkan perjalanan.  Perjalanan dari pelabuhan Ketapang menuju ke Jogja melewati Alas Baluran. Nah ketika masuk area jalur Baluran, Bagus waktu itu duduk di paling belakang. Waktu selepas maghrib membuat jalur Alas Baluran sepi. Bagus yang duduk di belakang sempat melihat ada mobil tua, berhenti di pinggir jalan. Bagus mengamati mobil tersebut bahkan sampai membalikkan badannya untuk melihat lebih fokus ke arah mobil tua tersebut. Setelah Bagus perhatikan, ternyata dalam mobil itu ibu-ibu semua. Dan ibu-ibu ini diam semua. Badan tidak gerak. Mulutnya tidak gerak. Pandangan berdenyit kosong ke depan. Di saat itu, Bagus sempat nanya kepada kakak-kakak nya. “Kalian tengok gak mobil tua di pinggir itu?” Mereka semua menjawab. “Ya, kami lihat mobil tua itu.” Tapi, kakak-kakak Bagus itu langsung bilang, “Paling itu cuma mobil mogok itu Dek.” Beberapa menit kemudian. Bergantilah Bagus yang menyupir mobil rombongan tersebut. Sampingnya si Bagus adalah abangnya, kakak laki-lakinya. Lanjut di perjalanan. Masih di Alas Baluran.

Mereka bertemu mobil tua lagi. Berbeda dengan yang di tumpangi ibu-ibu tadi, yang dinaiki ibu-ibu tadi mobil tua berwarna hijau. Dan yang di depan mereka warna mobilnya merah banyak karatnya. Mobil tersebut jalannya pelan sekali. Dan sesekali mobil di depan mereka itu senganja ngerem- ngerem. Supaya mereka menabrak mobil tua di depan mereka. Atau nyuruh mereka melewati hutan dengan pelan-pelan juga. Itu kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Nah pada saat itu, Bagus yang mau menyalip mobil berkarat ini, sempat ragu karena memang jalan nya banyak tikungan. Tapi karena beberapa kali resek, mengerem dengan sengaja. Bagus pun kesal. Disaliplah mobil tua itu oleh Bagus, sedangkan abangnya marah ke sopir mobil tua tersebut. Sementara abangnya tidak melihat secara langsung sopir mobil.


 

Lanjut lagi perjalanan mereka. Nah, selama perjalanan ini Bagus ini merasa aneh. Karena  Bagus merasa perjalannya melewati jalur alas baluran ini lama sekali. Untuk keluar dari alas baluran ini, padahal sebelumnya pas perjalanan dari Jogja ke Bali tidak begitu lama. Namun, kali ini beda. Sangat lama sekali. Kok kita gak keluar keluar dari alas baluran ini ya? batin Bagus dalam hati.

Dan pada saat itu sekitar satu jam mereka tidak menemukan kendaraan lain yang melalui Alas Baluran itu. Hanya mereka yang melewati jalur tersebut. Sampai akhirnya, tidak lama kemudian mereka melihat  lagi, si mobil merah yang berkarat tadi ada di depan mereka.

Bercampur aduk rasanya hati Bagus, antara bingung dan takut. “Lho, tadi kan dah kusalip.” Dan Bagus yakin mobil itu tidak pernah menyalip dia lagi. Dan dipikir-pikir lagi sama si Bagus, “Harusnya mobil itu dah ketinggalan jauh sekali, orang jalannya pelan sekali.”

“Bang itu yang mobil  telah kita salip kan?”

“Eh, iya Dek. Kok dia bisa di depan kita.”

“Ada yang nyalib tadi, Bang?”

“GAK ADA. Coba kau salip dia! Penasaran aku nengok supirnya.” Abangku seperti mengerutkan dahi penasaran dengan mobil merah tersebut. 

Bagus pun menyalip dengan pelan-pelan. Meskipun laju, tidak seperti menyalip yang pertama kecepatan mobil Bagus dari sisi kanan. Penasaran Bagus dan abangnya siapa kira-kira yang mengendarai mobil merah. Disaat lagi nyalib itu, mereka sama-sama melihat ke sebelah kiri. Untuk melihat sia supir mobil tersebut. Dan saat itu, mereka melihat si sopir tersebut menatap balik ke arah mereka. Dengan seyuman yang lebar. Senyum lebar yang sampai pipi terobek. Dan sopir itu, Tinggi sekaliii. Sampai atap mobil itu tidak cukup. Bungkuk. Ya Allah.

Terkejutlah si Bagus dan Abangnya. Nah, si Bagus dan Abangnya keluar kata sumpah serampah, entah apa saja yang diucapkan. Teriak teriak. “SALIP, CEPET, SALIP MOBIL ITU DEKKK!” kata abangnya. Saking keras teriakan mereka, penumpang di belakangpun kaget. “Woy, kalian kenapa marah-marah ini!” Tapi Bagus dan Abangnya  tidak mau menjawab. Diam. Mereka shock. Gak mungkin manusia seperti itu. Setelah beberapa menit melanjutkan perjalanan, mereka melihat warung, dan mereka pun memutuskan untuk beristirahat di warung itu. Sekalian si Bagus dan Abangnya menenangkan diri sebentar setelah kejadian tadi.

Disaat mereka berhenti di warung, mereka bertemu dengan yang jaga warung tersebut. Ada ibu-ibu bersama anaknya. Nah Bagus dengan beberapa kakaknya turun dari mobil untuk ngopi. Dan ada juga beberapa yang tetap memilih untuk tidur di mobil. Terbayang wajah sopir mobil tua warna merah menyelimuti wajah Bagus.

Selang beberapa menit, mereka duduk-duduk di warung tersebut. Tiba-tiba ada satu mobil datang. Dan berhenti tepat di samping mobil si Bagus. Bukan mobil yang tadi. Mobil lain. Pengendara mobil yang baru datang ini, membuka kaca mobil. Orang tersebut bertanya, “Kenapa Mas, ada yang bisa saya bantu?” Bagus menjawab, “Gak papa pak.” Bingung juga mereka. Orang kami duduk di warung kopi malah nanyak kenapa.

Nah setelah sekitar setengah jam berlalu, di warung tersebut. Mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Nah, disini kakak perempuan si Bagus mau membayar makanan dan minuman di warung itu. “Mbak... Mbak..! Bayar bukk ibukk ... bayar”

Tapi ketika dipanggil, ibu penjaga warung tersebut tidak keluar. Suasana warung tersebut tiba-tiba sepi sekali. Kakak Bagus pun kebingungan. Diletakkanlah uang lima puluh ribu di meja. Jika itu ada kelebihan, semoga menjadi sedekah untuk mereka.

Rombongan pun masuk ke mobil. Untuk melanjutkan perjalanan pulang. Setelah mereka sudah jalan beberapa menit, teman kakak si Bagus ini baru sadar. “Kok handphone aku gak ada di mobil ini.” Barulah dia teringat. HPnya ketinggalan di warung tadi. Akhirnya putar balik mencari warung. Ketika perjalanan kembali mencari warung tadi, tidak terlihat sedikitpun keberadaan warung. Akhirnya HP teman kakak si Bagus dihubungi dan dilacak keberadaannya melalui sinyal.

Ketika sinyal terlacak, kagetlah mereka bahwa keberadaan sinyal ada di dalam bangunan roboh. Bertambah kagetlah rombongan Bagus. Sementara HP tadi merasa tertinggal di warung kopi pinggir jalan. Mereka turun dan langsung mencari keberadaan HP teman kakaknya.

Bagus menemukan HP teman kakaknya dan uang lima puluh ribu yang mereka pakai untuk membayar kopi di warung tadi dalam keadaan tertumpuk di atas batu. Tanpa berpikir panjang, diambillah HP dan uang tersebut. Di saat itu pula, bapak yang menemui kami di warung muncul lgi, bertanya kabar tentang kami seperti yang ditanyakan sebelumnya. Lagi-lagi jawaban kami sama.

        Di saat genting seperti itu, salah satu rombongan menelepon bapak untuk memastikan rombongan dalam keadaan sehat dan sedikit ada masalah. Meskipun sinyal di hutan terputus-putus, akhirnya tersambunglah telpon ke bapak. “Pak…. Maaf, kami ada masalah di sini. Beberapa kali mengalami kejadian di luar nalar. Mohon doa dan restu dari Bapak, agar perjalan pulang kami berjalan lancar.”

“Bagaimana, lanjut pulang?” “Ok, Bapak bantu doa dari rumah.” Memang, Bapak bisa membantu hal-hal demikian. Akhirnya, kami pun lancar ketika pulang. Alhamdulillah...

Semua aman dan selamat sampai tujuan. Yogyakarta. Perjalanan yang cukup menegangkan dan melelahkan membuat bulu kuduk berdiri. Smeoga dengan kejadian yang kami alami dapat hikmah.


Pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini Cuma satu. Jangan bantah omongan orang tua....

(Ed:Oz)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...