Rabu, 04 Januari 2023

Malaikat Tak Bersayap karya Ahzami Nafiri Al Fatih Zakariyah

 Malaikat Tak Bersayap

Karya: Ahzami Nafiri Al Fatih Zakariyah

Kehidupan sangatlah singkat, banyak remaja sekarang kurang memanfaatkan waktu mudanya dengan baik. Terkadang aku juga merasa belum memanfaatkan waktu luang dengan benar, sejak kecil aku di latih untuk mandiri oleh orangtuaku. Namun, lain halnya dengan adikku berbanding terbalik denganku. Sewaktu kecil dia dimanja, aku menyadari karena aku sebagai kakak harus mengalah. Tapi terkadang aku sedih sejak kecil ibuku kerja di negeri orang, atau sering disebut TKW (tenaga kerja wanita). Aku menyadari semua, Allah berikan padaku adalah takdir, lewat itulah ibuku bisa menyekolahkan aku dan adikku.

Orang-orang sering bertanya “Kenapa ibumu masih di sana padahal kamu sudah besar?” Aku hanya tersenyum walaupun rasanya sedih. Dan semenjak bapakku meninggal, keluarga ibulah yang membiayaiku, beliau tidak lagi kerja disana, namun ibu membiayaiku lewat berjualan lauk di rumah. Aku belajar dari kehidupanku bahwa semua adalah titipan Allah dan semua yang kita miliki atas kekuasaannya.

26 April 2019

Aku tersadar dari lamunanku. Ternyata aku sendiri di kelas, entah kenapa aku rindu keluarga. Tiba tiba ada yang datang menghampiriku. ”Sya, tumben kamu nggak beli jajan,” ucap Laila, teman sebangkuku. ”Emm…enggak apa-apa La,” jawabku dengan senyuman. ”Besok kalau wisuda sama aku ya.” Sambil menawarkan jajan kepadaku. ”Siap La, entar sewaktu di acara bareng ya kita ngajak Dinar, Atul dan Fatimah,” dengan santainya aku mencomot jajan Laila.

“Pengumuman gaes ada brieving di mushola katanya suruh kumpul semua siswa kelas 12.” Salah satu temanku menginformasikan update untuk kelas 12.

“Anak-anak semua kumpul di mushola sekarang berkenaan satu minggu mendatang acara wisuda.” Pak Andika mengumumkan dengan speakernya. Setelah dua jam briefing aku langsung menelpon ibuku di warung bu Aminah. Aku membicarakan dengan beliau diadakannya wisuda di Masjid Agung Jawa Tengah. ”Sya hari minggu Ibu jemput kamu ke pondok ya, jangan lupa barang-barang disiapkan.” Begitulah kebiasaan seorang ibu mengingatkan anaknya. ”Duh jadi nggak sabar pulang ke rumah,” celetukku. Selesai menelpon aku melanjutkan aktivitasku seperti biasa. Karena aku masih mengenyam pendidikan di pesantren setiap pulang sekolah aku langsung ikut kegiatan mengaji.

04.26 WIB

Aku terbangun karena sudah Subuh, kumandang adzan membangunkanku untuk bergegas mengembil air wudhu. Hal yang sangat unik di pondok waktu Subuh, mengantuk ketika shalat Subuh termasuk aku juga pernah ketahuan mengentuk di depan pak kyai. Rasanya malu sekali ketika teringat itu.

Setelah selesai shalat berjamaah aku ditanya nadia teman sekamarku. ”Mbak Syaqila hari ini pulang ya?” ucap Nadia menyenggol lenganku dengan pena. ”Iya Nad, kan sebentar lagi acara gue lah”. Aku menjawab sambil menulis catatan ngaji. ”Nggak kerasa ya mbak bentar lagi udah mau lulus hehehehe..” kata Sinta teman seperjuanganku tapi berbeda angkatan. ”Emm… selesai ngaji kemas-kemas yuk, kan hari ini perpulangan kelas 12,” kataku. ”Kawan-kawan Abah Helmi udah datang,” salah seorang temanku yang duduk paling depan. Setelah kegiatan jamaah langsung ngaji kitab dengan Abah Helmi, yakni kitab yang beliau terangkan tafsir Al-Ibris karya K.H. Bisri Musthofa Rembang.

Seperti itulah kegiatanku di pondok, memang banyak cobaan yang aku alami disini, tapi aku percaya lewat berkidmat dengan pak kyai pasti ada berkahnya. Terkadang sebagian orang ada yang percaya ada yang tidak, aku sejak kecil sudah terbiasa jauh dengan orang tua. Namun, aku tidak berkecil hati Allah memberikan hidayah lewat aku di pondok pesantren. Ya, aku mencari sebuah kehidupan yang nyata, di sinilah aku mendapatkan sebuah arti tentang agama. Aku bersyukur seperti memiliki keluarga kedua di pondok, bagaimana tidak semua kehidupan dunia pesantren memang penuh kenangan, disini aku diajarkan cara beristiqomah, sabar, dan lain-lain.

“Nduk, bangun sudah jam empat ayo shalat Subuh, alarmmu itu bunyi terus.” Kata ibuku yang sedang membuka jendela kamarku. ”Hah Nduk? Lho aku ternyata udah pulang ke rumah?” Aku bertanya dengan diriku sendiri di dalam hati, ”Kamu ini sudah besar masih aja dibangunin ibu, di  pondok jangan kaya gini Sya.” Aku menjawab sambil membereskan tempat tidur. ”Bu jangan samakan pondok, ini kan di rumah… ada diskon bangunnya.” ”Besok acara wisuda, ibu kayaknya ngak bisa ikut Sya, ibu kan sekarang jualan.” Tapi aku tidak menjawab, langsung ke kamar mandi. ”Pagi-pagi udah bahas kek gitu, mana aku konek baru bangun,” gerutuku. Selesai shalat Subuh aku mengistiqomahkan mengaji walaupun di rumah, sudah hal biasa santri ketika selesai shalat murojaah hafalannya.

“Syaqila, ada telepon dari kawanmu Nduk,” kata ibu yang sedang masak air. ”Iya Bu.. sebentar.” Aku langsung bergegas mencari teleponnya. ”Halo, Assalamualaikum,” ”Waalaikumussalam, Sya jangan lupa hari Sabtu berangkat wisuda sebelum jam tujuh ya,” kata Laela. ”Insyallah La, aku on time tapi kan tergantung jalan rayanya kalau rame mungkin agak telat,” kataku. ”Iya juga ya rumahmu kan Kendal, ya semoga aja lancar dan on time.” ”Aminnn… terima kasih doanya La, semoga kamu juga lancar.” Tuttt…

“Yaaaaah, putus lagi sambungannya, belum juga salam.”

Aku langsung membantu ibuku yang sedang masak untuk dijual. ”Bu, besok acara wisuda sebelum jam tujuh.” Aku sambil menggoreng mendoan. ”Nanti disiapin seragamnya biar besok tinggal pakai,” ujara ibu. ”Bu bukan itu yang aku tanyain, masalahnya yang nganter ke sana siapa?” ”Besok kamu diantar sama mas Raffi ya, nanti Ibu yang bilang.” Ibu sibuk dengan masakannya.

Aku sedang menikmati suasana sore di perkampungan, aku berjalan menuju jalan raya. Dimana aku melewati sepanjang jalan kenangan selama tiga tahun, jalan yang penuh tantangan teringat waktu sekolah SMP. Ya memang pahit waktu pelepasan kelas sembilan. Entah kenapa aku takut terjadi hal yang sama, orangtuaku tidak bisa hadir di wisuda kemarin. Namun tak jadi kendala aku tetap berangkat ke wisuda, meskipun tidak ada yang hadir.

Hal yang sangat membuatku kurang semangat,  semenjak ayahku meninggal, keluarga ibuku mengajariku semangat untuk menjalani kehidupan. Aku teringat pesan ibuku sewaktu awal kelas 12. ”Sya, walaupun sekarang bapakmu tidak di sampingmu jangan sedih, semua terjadi atas kehendak Allah. Tugasmu sebagai anak berbakti kepada kedua orangtua, caranya bagaimana? Lewat doa lah yang bisa menguatkanmu nduk.”

“Sya … hello dari tadi lho aku panggil kamu, ada apa si?” Kata Syifa, dia adalah saudara dari ibu yang sering main bareng dari kecil. ”Nggak papa Syif aku cuma kepikiran nasihat ibu aja.” Aku menghentikan sepedaku karena sudah sampe rumah.

”Sya baju buat besok udah disiapain?”

”Iya Bu habis ini, aku siapain.”

”Bulek aku pamit pulang ya takut dicari ibu cari.”

”Fa, cepet sekali ke sininya nggak mau makan-makan dulu….” ”Nggak usah Bulek terima kasih.” Ibu memang mempunyai sifat yang ramah terhadap orang lain apalagi saudaranya sendiri, aku salut dengan beliau.

Hari ini adalah hari wisudaku dimana sebuah perjuangan selama tiga tahun aku di bangku Aliyah. Sesingkat ini putih abu-abuku sangat tidak terasa bagiku, aku sudah siap dengan baju seragam wisuda.

“Ibu berarti ngak ikut di acara wisudaku?” kataku dengan nada kecewa. ”Maafin ibu Sya, kamu kan tau ibu lagi jualan kalau ibu nggak jualan biaya sekolah untuk adikmu bagaimana?” ”Bu… ini sekali dalam seumur hidup, apa seenggaknya ibu ngertiin Syaqila sedikit aja.” Wajahku semakin menunduk terasa berat aku berangkat tanpa didampingi orangtua, padahal hari ini yang sangat berarti bagiku.

Tiba-tiba suara motor dari depan, ”Nah itu kamu dianter sama mas sepupu ya.” Kata ibuku sambil mengambil lauk untuk pembeli. ”Mas Raffi yang nganter?” ”Ayo Sya berangkat katanya sebelum jam tujuh.” Mas Raffi yang sudah siap dimotornya dengan suara lantangnya memanggilku..

Di perjalanan tak hentinya aku bersholawat, entah kenapa aku merasa kecewa dengan keputusan ibuku. Semenjak SD, MTS, sampai jenjang ini tanpa didampingi orang tua. Sedih pasti. Namun bagaimana lagi sudah menjadi takdirku. Ketika sudah sampai lokasi tepatnya di Masjid Agung Jawa Tengah. Perasaanku bercampur aduk, aku mengikuti acara tersebut dengan khidmat, semua berjalan dengan lancar. Ketika namaku dipanggil aku menumpahkan air mataku, bahwa benar-benar sudah berakhir masa Aliyahku. Aku menyalami semua guru-guru, karena jasa mereka yang  selalu memberiku doa dan semangat.

“Alhamdulillah mas Raffi aku lulus.” Aku langsung menghampiri mas Raffi yang sedang memvidiokanku waktu ke atas panggung. ”Sya setelah ini kan kamu nggak pulang langsung ke pondok, aku mau ngasih kamu sesuatu.” Sambil mengambil bingkisan dan surat. ”Dari siapa Mas?” Kataku sambil mengambil surat dari mas Raffi. ”Bukanya nanti ya.”

Untuk anakku tercinta,

Nduk, tak terasa kamu sudah besar. Ibu hanya bisa mendoakanmu, selalu menyemangatimu setiap waktu, namun kamu harus mengerti dari keadaan di keluarga kita. Allah selalu menguatkanmu dan juga menjagamu. Ibu ikhlas kalau kamu mengambil pilihan setelah lulus untuk mengabdi di pondok, dua bulan lagi ibu akan bekerja lagi di luar negeri. Tugasmu hanya mendoakan ibu dan belajar. Selagi ibu mampu membiayaimu sampai sampai jenjang yang lebih tinggi, kamu jangan seperti ibu, kamu harus melebihi ibu. Carilah ilmu sampai akhir hayatmu. Allah akan memberi jalan bagi orang yang mencari ilmu agama. Pesan ibu walaupun kamu tidak didampingi orangtuamu tetaplah tabah dan ikhlas. Kamu bisa berkhidmat untuk kyaimu. Lewat gurulah kamu tanamkan rasa khidmatmu, semoga Syaqila menjadi anak sholehah, manfaat buat orang lain, nggak boleh sedih terus semangat!!!

Aku benar-benar kaget ternyata ibu punya tujuan lain, terimakasih ibu selama ini kau selalu membimbingku, selama ini aku berprasangka denganmu. Aku sangat jahat menilai orangtuaku sendiri dengan sifat-sifat yang kotor. Aku janji aku akan berusaha semampuku untuk berkhidmat di pondok, kau bagaikan mutiaraku, kamu akan tetap bercahaya di kehidupanku.


Pesan yang ingin disampaikan dalam cerita di atas yakni teruslah berbuat kebaikan kepada orangtua. Jangan pernah sedikitpun suudzon terhadap orangtua.

(Ed:Ozan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...