Malaikat Tak Bersayap
Karya:
Ahzami Nafiri Al Fatih Zakariyah
Kehidupan
sangatlah singkat, banyak remaja sekarang kurang memanfaatkan waktu mudanya
dengan baik. Terkadang aku juga merasa belum memanfaatkan waktu luang dengan
benar, sejak kecil aku di latih untuk mandiri oleh orangtuaku. Namun, lain
halnya dengan adikku berbanding terbalik denganku. Sewaktu kecil dia dimanja, aku
menyadari karena aku sebagai kakak harus mengalah. Tapi terkadang aku sedih
sejak kecil ibuku kerja di negeri orang, atau sering disebut TKW (tenaga kerja
wanita). Aku menyadari semua, Allah berikan padaku adalah takdir, lewat itulah
ibuku bisa menyekolahkan aku dan adikku.
Orang-orang
sering bertanya “Kenapa ibumu masih di sana padahal kamu sudah besar?” Aku
hanya tersenyum walaupun rasanya sedih. Dan semenjak bapakku meninggal, keluarga
ibulah yang membiayaiku, beliau tidak lagi kerja disana, namun ibu membiayaiku
lewat berjualan lauk di rumah. Aku belajar dari kehidupanku bahwa semua adalah
titipan Allah dan semua yang kita miliki atas kekuasaannya.
26 April
2019
Aku
tersadar dari lamunanku. Ternyata aku sendiri di kelas, entah kenapa aku rindu
keluarga. Tiba tiba ada yang datang menghampiriku. ”Sya, tumben kamu nggak beli
jajan,” ucap Laila, teman sebangkuku. ”Emm…enggak apa-apa La,” jawabku dengan
senyuman. ”Besok kalau wisuda sama aku ya.” Sambil menawarkan jajan kepadaku. ”Siap
La, entar sewaktu di acara bareng ya kita ngajak Dinar, Atul dan Fatimah,” dengan
santainya aku mencomot jajan Laila.
“Pengumuman
gaes ada brieving di mushola katanya
suruh kumpul semua siswa kelas 12.” Salah satu temanku menginformasikan update
untuk kelas 12.
“Anak-anak
semua kumpul di mushola sekarang berkenaan satu minggu mendatang acara wisuda.”
Pak Andika mengumumkan dengan speakernya. Setelah dua jam briefing aku langsung
menelpon ibuku di warung bu Aminah. Aku membicarakan dengan beliau diadakannya
wisuda di Masjid Agung Jawa Tengah. ”Sya hari minggu Ibu jemput kamu ke pondok
ya, jangan lupa barang-barang disiapkan.” Begitulah kebiasaan seorang ibu
mengingatkan anaknya. ”Duh jadi nggak sabar pulang ke rumah,” celetukku. Selesai
menelpon aku melanjutkan aktivitasku seperti biasa. Karena aku masih mengenyam pendidikan
di pesantren setiap pulang sekolah aku langsung ikut kegiatan mengaji.
04.26 WIB
Aku
terbangun karena sudah Subuh, kumandang adzan membangunkanku untuk bergegas
mengembil air wudhu. Hal yang sangat unik di pondok waktu Subuh, mengantuk
ketika shalat Subuh termasuk aku juga pernah ketahuan mengentuk di depan pak
kyai. Rasanya malu sekali ketika teringat itu.
Setelah
selesai shalat berjamaah aku ditanya nadia teman sekamarku. ”Mbak Syaqila hari
ini pulang ya?” ucap Nadia menyenggol lenganku dengan pena. ”Iya Nad, kan
sebentar lagi acara gue lah”. Aku menjawab sambil menulis catatan ngaji. ”Nggak kerasa ya mbak bentar lagi udah mau lulus hehehehe..” kata
Sinta teman seperjuanganku tapi berbeda angkatan. ”Emm… selesai ngaji
kemas-kemas yuk, kan hari ini perpulangan kelas 12,” kataku. ”Kawan-kawan Abah Helmi
udah datang,” salah seorang temanku yang duduk paling depan. Setelah kegiatan
jamaah langsung ngaji kitab dengan Abah Helmi, yakni kitab yang beliau
terangkan tafsir Al-Ibris karya K.H. Bisri Musthofa Rembang.
Seperti
itulah kegiatanku di pondok, memang banyak cobaan yang aku alami disini, tapi
aku percaya lewat berkidmat dengan pak kyai pasti ada berkahnya. Terkadang
sebagian orang ada yang percaya ada yang tidak, aku sejak kecil sudah terbiasa
jauh dengan orang tua. Namun, aku tidak berkecil hati Allah memberikan hidayah
lewat aku di pondok pesantren. Ya, aku mencari sebuah kehidupan yang nyata, di sinilah
aku mendapatkan sebuah arti tentang agama. Aku bersyukur seperti memiliki
keluarga kedua di pondok, bagaimana tidak semua kehidupan dunia pesantren
memang penuh kenangan, disini aku diajarkan cara beristiqomah, sabar, dan
lain-lain.
“Nduk,
bangun sudah jam empat ayo shalat Subuh, alarmmu itu bunyi terus.” Kata ibuku
yang sedang membuka jendela kamarku. ”Hah Nduk? Lho aku ternyata udah pulang ke
rumah?” Aku bertanya dengan diriku sendiri di dalam hati, ”Kamu ini sudah besar
masih aja dibangunin ibu, di pondok
jangan kaya gini Sya.” Aku menjawab sambil membereskan tempat tidur. ”Bu jangan
samakan pondok, ini kan di rumah… ada diskon bangunnya.” ”Besok acara wisuda, ibu
kayaknya ngak bisa ikut Sya, ibu kan sekarang jualan.” Tapi aku tidak menjawab,
langsung ke kamar mandi. ”Pagi-pagi udah bahas kek gitu, mana aku konek baru
bangun,” gerutuku. Selesai shalat Subuh aku mengistiqomahkan mengaji walaupun
di rumah, sudah hal biasa santri ketika selesai shalat murojaah hafalannya.
“Syaqila,
ada telepon dari kawanmu Nduk,” kata ibu yang sedang masak air. ”Iya Bu.. sebentar.”
Aku langsung bergegas mencari teleponnya. ”Halo, Assalamualaikum,” ”Waalaikumussalam,
Sya jangan lupa hari Sabtu berangkat wisuda sebelum jam tujuh ya,” kata Laela. ”Insyallah
La, aku on time tapi kan tergantung
jalan rayanya kalau rame mungkin agak telat,” kataku. ”Iya juga ya rumahmu kan
Kendal, ya semoga aja lancar dan on time.”
”Aminnn… terima kasih doanya La, semoga kamu juga lancar.” Tuttt…
“Yaaaaah,
putus lagi sambungannya, belum juga salam.”
Aku
langsung membantu ibuku yang sedang masak untuk dijual. ”Bu, besok acara wisuda
sebelum jam tujuh.” Aku sambil menggoreng mendoan. ”Nanti disiapin seragamnya
biar besok tinggal pakai,” ujara ibu. ”Bu bukan itu yang aku tanyain, masalahnya
yang nganter ke sana siapa?” ”Besok kamu diantar sama mas Raffi ya, nanti Ibu
yang bilang.” Ibu sibuk dengan masakannya.
Aku
sedang menikmati suasana sore di perkampungan, aku berjalan menuju jalan raya. Dimana
aku melewati sepanjang jalan kenangan selama tiga tahun, jalan yang penuh
tantangan teringat waktu sekolah SMP. Ya memang pahit waktu pelepasan kelas sembilan.
Entah kenapa aku takut terjadi hal yang sama, orangtuaku tidak bisa hadir di
wisuda kemarin. Namun tak jadi kendala aku tetap berangkat ke wisuda, meskipun
tidak ada yang hadir.
Hal
yang sangat membuatku kurang semangat, semenjak
ayahku meninggal, keluarga ibuku mengajariku semangat untuk menjalani
kehidupan. Aku teringat pesan ibuku sewaktu awal kelas 12. ”Sya, walaupun
sekarang bapakmu tidak di sampingmu jangan sedih, semua terjadi atas kehendak Allah.
Tugasmu sebagai anak berbakti kepada kedua orangtua, caranya bagaimana? Lewat
doa lah yang bisa menguatkanmu nduk.”
“Sya …
hello dari tadi lho aku panggil kamu,
ada apa si?” Kata Syifa, dia adalah saudara dari ibu yang sering main bareng
dari kecil. ”Nggak papa Syif aku cuma kepikiran nasihat ibu
aja.” Aku menghentikan sepedaku karena sudah sampe rumah.
”Sya
baju buat besok udah disiapain?”
”Iya Bu
habis ini, aku siapain.”
”Bulek
aku pamit pulang ya takut dicari ibu cari.”
”Fa, cepet
sekali ke sininya nggak mau
makan-makan dulu….” ”Nggak usah Bulek
terima kasih.” Ibu memang mempunyai sifat yang ramah terhadap orang lain
apalagi saudaranya sendiri, aku salut dengan beliau.
Hari
ini adalah hari wisudaku dimana sebuah perjuangan selama tiga tahun aku di
bangku Aliyah. Sesingkat ini putih abu-abuku sangat tidak terasa bagiku, aku
sudah siap dengan baju seragam wisuda.
“Ibu
berarti ngak ikut di acara wisudaku?” kataku dengan nada kecewa. ”Maafin ibu Sya,
kamu kan tau ibu lagi jualan kalau ibu nggak jualan biaya sekolah untuk adikmu
bagaimana?” ”Bu… ini sekali dalam seumur hidup, apa seenggaknya ibu ngertiin Syaqila
sedikit aja.” Wajahku semakin menunduk terasa berat aku berangkat tanpa
didampingi orangtua, padahal hari ini yang sangat berarti bagiku.
Tiba-tiba
suara motor dari depan, ”Nah itu kamu dianter sama mas sepupu ya.” Kata ibuku
sambil mengambil lauk untuk pembeli. ”Mas Raffi yang nganter?” ”Ayo Sya berangkat katanya sebelum jam tujuh.” Mas Raffi
yang sudah siap dimotornya dengan suara lantangnya memanggilku..
Di
perjalanan tak hentinya aku bersholawat, entah kenapa aku merasa kecewa dengan
keputusan ibuku. Semenjak SD, MTS, sampai jenjang ini tanpa didampingi orang
tua. Sedih pasti. Namun bagaimana lagi sudah menjadi takdirku. Ketika sudah
sampai lokasi tepatnya di Masjid Agung Jawa Tengah. Perasaanku bercampur aduk, aku
mengikuti acara tersebut dengan khidmat, semua berjalan dengan lancar. Ketika
namaku dipanggil aku menumpahkan air mataku, bahwa benar-benar sudah berakhir
masa Aliyahku. Aku menyalami semua guru-guru, karena jasa mereka yang selalu memberiku doa dan semangat.
“Alhamdulillah
mas Raffi aku lulus.” Aku langsung menghampiri mas Raffi yang sedang
memvidiokanku waktu ke atas panggung. ”Sya setelah ini kan kamu nggak pulang
langsung ke pondok, aku mau ngasih kamu sesuatu.” Sambil mengambil bingkisan
dan surat. ”Dari siapa Mas?” Kataku sambil mengambil surat dari mas Raffi. ”Bukanya
nanti ya.”
Untuk
anakku tercinta,
Nduk, tak terasa kamu sudah besar. Ibu hanya
bisa mendoakanmu, selalu menyemangatimu setiap waktu, namun kamu harus mengerti
dari keadaan di keluarga kita. Allah selalu menguatkanmu dan juga menjagamu. Ibu
ikhlas kalau kamu mengambil pilihan setelah lulus untuk mengabdi di pondok, dua
bulan lagi ibu akan bekerja lagi di luar negeri. Tugasmu hanya mendoakan ibu
dan belajar. Selagi ibu mampu membiayaimu sampai sampai jenjang yang lebih
tinggi, kamu jangan seperti ibu, kamu harus melebihi ibu. Carilah ilmu sampai
akhir hayatmu. Allah akan memberi jalan bagi orang yang mencari ilmu agama. Pesan
ibu walaupun kamu tidak didampingi orangtuamu tetaplah tabah dan ikhlas. Kamu
bisa berkhidmat untuk kyaimu. Lewat gurulah kamu tanamkan rasa khidmatmu, semoga
Syaqila menjadi anak sholehah, manfaat buat orang lain, nggak boleh sedih terus
semangat!!!
Aku
benar-benar kaget ternyata ibu punya tujuan lain, terimakasih ibu selama ini
kau selalu membimbingku, selama ini aku berprasangka denganmu. Aku sangat jahat
menilai orangtuaku sendiri dengan sifat-sifat yang kotor. Aku janji aku akan
berusaha semampuku untuk berkhidmat di pondok, kau bagaikan mutiaraku, kamu
akan tetap bercahaya di kehidupanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar