Kamis, 20 Oktober 2022

Tempe Idamanku

 Tempe Idamanku



Machmud. Nama singkat yang sangat melekat dalam kehidupanku. Setiap pukul 02.30, sebelum ayam berkokok pertanda waktu mulai pagi, bapakku beranjak dari tempat tidur langsung menuju kamar mandi. Setelah membasuh kaki, tangan, muka untuk menghilangkan kantuk, diawali dengan membaca doa sebelum wudhu, tersapu rata seluruh bagian tubuh. Meskipun bulan masih mengintip di waktu dini hari, sementara matahari esok belum menunjukkan batang hidungnya, bapakku keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaian yang melekat dengan sarung dan koko. Tidak lupa kopyah hitam yang sedikit lusuh terpatri dalam rambut yang sudah mulai memutih. Sajadah terhampar di lantai. Gerakan urutan sholat mulai takbiratul ihram hingga salam, diiringi suara lirihnya. Beranjak rokaat terakhir, keheningan di pagi hari yang bersua dengan Tuhannya di kala sujud lamanya, senantiasa berbisik di bumi dan terdengar di langit. Sujud penuh khidmat. Percakapan seorang hamba dengan Tuhan. Diangkat tubuh rentanya untuk tasyahud akhir. Tibalah salam. Terangkat tangan ke atas sembari meneteskan air mata senajan mendoakan seluruh keluarga menjadi anak yang sukses.

Kembali ke belakang untuk mengecek kayu bakar yang telah dinyalakan setelah terbangun sebelum menunaikan sholat tahajud. Api yang sudah mengecil, dicoba ditiup perlahan dengan memasukkan kayu sedikit demi sedikit. Gas elpiji berwarna hijau maupun pink, belum menampakkan diri saat itu. Sehingga kesetiaan kayu bakar untuk menanak kedelai menjadi matang masih dirasakan bau kepulan asap. Hingga dua puluh menit lamanya kedelai itu belum menguning sempurna, jangan sampai api hilang begitu saja. Terjaga hingga panas dan gelembung air yang menguap di panci besar pertanda sudah mulai matang. Tangan tidak diam begitu saja. Masih ada olahan kedelai yang telah ditaburi ragi sejak sore itu, dicampur agar senyawa kimia telah mengikat dan merekat. Ketika masih panas, terbantu dengan kipas angin kecil di samping hamparan tempat pengadukan tempe. Setelah dingin, satu persatu daun pisang yang tersedia siap membungkus tempe agar tetap segar. Satu persatu ukuran kecil berwarna hijau itu kini telah terisi tempe.

Terdengar suara adzan dari masjid Jadidah. Suara khas itu memanggil para jamaah untuk segera menuju masjid. Panggilan tersebut mengantarkan bapak untuk bergegas ke masjid. Selepas shubuh, sepeda jengki atau yang dikenal dengan sepeda keboh, dengan obrok kayu di kanan kiri telah siap untuk diisi tempe. Mulai ukuran besar, sedang, hingga kecil tertata rapi mulai bawah hingga atas. “Van, ayo dorong ke depan. Biar bapak kuat melewati jembatan kayu di atas sungai itu.” Pintanya kepadaku. Iya, rumah kami di depan sungai kecil sebelum jalan raya. Sehingga sebagai penyambung dari rumah ke jalan, maka dibuatlah jembatan kayu. Setelah beranjak dari depan mataku, kayuhan bapak menuju pasar untuk menjajakan tempe di pasar, emak sudah menyiapkan masakan di dapur.

Sholat tahajud bapak telah terdengar dalam rumah. Suara seraknya ingin sekali membangunkan keluarga kami. Namun, bapak tidak secara langsung untuk membangunkan kami, sehingga suara takbirotul ihram, rukuk, I’tidal, sampai sujud terdengar. Agar kami yang masih terbuai mimpi bangun untuk menghadap ilahi rabbi.

“Emak, tempe yang sudah dibungkus ditaruh di mana?” tanyaku kepada emak. Emak panggilan kepada ibu. Bagiku sosok emak juga pantang mengeluh apalagi menyerah. Pukul 06.00 WIB, sarapan telah tersedia di meja. Hari ini lauk istimewa. Telur bali. Bagiku sangat istimewa. Telur bali bikinan emak seakan tidak ada duanya. “Taruh saja di pojok pintu, tapi jangan sampai menghalangi jalan untuk keluar masuk,” jawab emak. Tas pinggang berwarna merah dengan gambar sang hero pujaan film masa kecilku, telah dipenuhi buku tulis dan buku paket yang hampir sama setiap harinya. Sepatu mirip para kungfu master identik putih di bawahnya, kukenakan untuk sekolah dengan tali yang hampir putus di bagian atasnya.

Selepas pulang sekolah, kutaruh tas dan sepatuku di tempatnya, kuambil kelereng di lemari pakaian warna coklat. Di sana hamparan kelereng dari berbagai warna dan ukurannya, kuambil dan kulempar ke dinding dengan mencari siapa kelereng yang terjauh untuk memulai. Di kala asyik bermain kelereng, sepeda bapakku tiba. Kusambut dengan tangan penuh debu serta bau sinar matahari di kaos hijauku, kusambut tangan rentanya dan kucium telapak tangan tersebut. Kudorong sepeda hingga masuk di halaman rumah. Obrok kayu yang di sana sini telah banyak yang patah, kuambil telenan dan pisau di dalamnya, serta plastik kresek putih sebagai wadah jualan tempe. Kulihat hari ini tidak ada sisa tempe. Hatiku senang dan riang. Begitupun wajah bapakku, meskipun peluh keringat membasahi punggung dan dahinya. Kupindahkan berdua dengan bapak obrok kayu itu di ruang belakang. Esok terpakai kembali.

“Alhamdulillah ya pak, tempenya sudah habis,” ujarku. “Alhamdulillah patut disyukuri nak. Semoga rezeki hari ini berkah dan dapat dibuat tabungan untuk sekolah lanjutanmu.” Mendengar jawaban tersebut, sontak mata yang tadi basah dengan keringat karena bermain kelereng, sekarang basah karena air mata. Perjuangan menjual tempe yang tidak seberapa keuntungannya, namun bagi bapak sedikit demi sedikit apabila disyukuri maka akan berlipat-lipat. “Jangan lupa, habis bermain, bantu emak di rumah. Jangan main terus,” lanjutnya.

Bagiku tempe olahan bapak luar biasa enak. Tidak ada campuran selain ragi yang sudah terukur dan sesuai takaran. Ternyata banyak pelanggan bapak yang kehabisan stok ketika bapak berdagang di pasar. Setelah aku tanyakan ke bapak, hampir para pelanggan bapak adalah penjual nasi di rumah maupun pasar itu sendiri. Kata penjual nasi, tempe bapak ketika digoreng atau digodok, rasanya enak dan harum. Apakah efek dari daun pisang atau…? Entahlah, bagiku tempe bapak terenak di dunia. Tempe olahan bapak tidak semua dijual. Sehingga ada yang disisakan untuk kami. Entah dimasak untuk campuran sayur atau sekadar digoreng dengan bumbu kecap sedikit pedas.

Tabungan bapak sudah mulai banyak dari hasil jerih payahnya menjual tempe di pasar. Emak berjanji kepadaku, jika tabungan bapak sudah mencukupi, aku akan dibelikan baju untuk persiapan masuk pondok. Bapak sembari selesai melepas lelah, tidak pernah melupakan pendidikan anaknya. Ada Koran bekas sisa pembungkus tempe, dibaca sekilas ada profil pondok pesantren yang berada di ujung kota Surabaya. Dibaca berkali-kali agar tahu maksud dan tujuan berita tersebut, dipanggilah aku di hadapan beliau. “Nanti bapak pondokkan di sini ya. Di sini sepertinya bagus tempat pendidikannya serta biayanya sangat terjangkau.” “Njih Pak,” jawabku. Tibalah waktu berangkat ke pondok. Meskipun dalam batinku, masa bermain dengan teman di halaman belakang rumah milik masyarakat setempat dengan bermain bola dan sekadar menerbangkan layangan di sore hari. Kini seakan masa bermain itu sudah selesai. Tekad bapak yang sangat membara demi pendidikan anaknya, rela mengeluarkan biaya dan tenaga. Iringan doa dan air mata dari kedua orangtuaku, mengantarkanku ke gerbang pondok. Di sana disambut seorang ustadz dan santri yang sembari menunggu santri baru.

Tempe bapak semakin hari semakin banyak penggemarnya. Institusi kantor pun tidak ketinggalan. Sehingga sebelum bapak berangkat ke pasar, diantarlah terlebih dahulu ke kantor. Sehingga setiap harinya bapak mengolah kedelai menjadi tempe cukup banyak. Teringat bagaimana mesin pengolah tempe yang masih manual. Sebelum berpindah ke mesin dengan menyambungkan colokan listrik. Sehingga ketika kedelai dimasukkan mesin dan tempe tidak tersisa, maka cukup dicabut colokan tersebut. Namun, mesin pengolah tempe bapak yang digerakkan tangan dengan putaran kiri ke kanan, menjadikan tangan seperti atlet binaraga. Tangan seakan getot dan kuat hingga muncul lekukan di lengan.

Rezeki yang didapatkan hasil penjualan tempe dapat menyekolahkan kami sekeluarga. Kakak-kakak serta adikku sudah beranjak lulus hingga sekolah lanjutan atas. Bagi bapak, pendidikan sangat penting. Orang akan terpandang apabila memiliki riwayat pendidikan. Sehingga, kelak di antara kami ada yang bisa menjadi seorang guru. Didikan serta asuhan bapak yang tegas, menjadikan kami menjadi anak yang kuat, baik mental dan fisiknya. Tidak terbuai dengan materi, karena memang bagiku cukup untuk semua kebutuhan. Bertahun-tahun mengolah kedelai menjadi tempe, tidak membaut bapak patah arang. Justru ketika mendengar anaknya mendapatkan nilai yang bagus serta laporan dari guru bahwa anaknya tidak bermasalah, bagi bapak itu semua anugerah yang tidak bisa ditulis dengan kata-kata.

Tempe idaman bapak memang istimewa. Tatkala aku kembali ke pondok di saat masa liburan selesai, emak tidak lupa membawakanku olahan tempe. Sambel tempe. Iya… selain olahan tempe bali, sambel tempe buatan emak sangat maknyus. Bahkan, tempe bisa diolah menjadi keringan tempe yang dapat disimpan hingga dua pekan lamanya. Saat teringat bapak maupun emak ketika berada di pondok, kubawa keringan tempe sebagai kudapan di kala perut memanggil penanda lapar. Bahkan, kakakku pun tidak lupa ketika berangkat kerja, bekal di dalam tepak makanan ada olahan tempe emak.

Tempe mengantarkan keluarga kami merasakan pendidikan yang layak. Di antara keluarga kami sudah ada yang telah menyelesaikan studi kuliah hasil dari jualan tempe. Bagiku tempe bapak sebagai inspirasi untuk tetap berkreasi dan mensyukuri nikmatNya. Bahwa, sekecil apapun bentuk rasa syukur, bagi Sang Pencipta akan ditambah rezekinya.

Kini teringat bapak yang ahli mengolah kedelai menjadi tempe. Jasa bapak mulai terbangun di dini hari hingga siang yang panas, telah kurasakan. Ketegasan terpancar di wajahnya serta senyum merekah yang selalu kulihat, kini selalu terngiang di kala hati ingin menyendiri. Betapa berat pekerjaanmu kala itu, namun tidak pernah terlihat wajah lelah putus asa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...