Tempe Idamanku
Machmud. Nama singkat yang sangat melekat dalam kehidupanku.
Setiap pukul 02.30, sebelum ayam berkokok pertanda waktu mulai pagi, bapakku
beranjak dari tempat tidur langsung menuju kamar mandi. Setelah membasuh kaki,
tangan, muka untuk menghilangkan kantuk, diawali dengan membaca doa sebelum
wudhu, tersapu rata seluruh bagian tubuh. Meskipun bulan masih mengintip di
waktu dini hari, sementara matahari esok belum menunjukkan batang hidungnya,
bapakku keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaian yang melekat dengan
sarung dan koko. Tidak lupa kopyah hitam yang sedikit lusuh terpatri dalam
rambut yang sudah mulai memutih. Sajadah terhampar di lantai. Gerakan urutan
sholat mulai takbiratul ihram hingga salam, diiringi suara lirihnya. Beranjak
rokaat terakhir, keheningan di pagi hari yang bersua dengan Tuhannya di kala
sujud lamanya, senantiasa berbisik di bumi dan terdengar di langit. Sujud penuh
khidmat. Percakapan seorang hamba dengan Tuhan. Diangkat tubuh rentanya untuk
tasyahud akhir. Tibalah salam. Terangkat tangan ke atas sembari meneteskan air
mata senajan mendoakan seluruh keluarga menjadi anak yang sukses.
Kembali ke belakang untuk mengecek kayu bakar yang telah
dinyalakan setelah terbangun sebelum menunaikan sholat tahajud. Api yang sudah
mengecil, dicoba ditiup perlahan dengan memasukkan kayu sedikit demi sedikit.
Gas elpiji berwarna hijau maupun pink, belum menampakkan diri saat itu.
Sehingga kesetiaan kayu bakar untuk menanak kedelai menjadi matang masih
dirasakan bau kepulan asap. Hingga dua puluh menit lamanya kedelai itu belum
menguning sempurna, jangan sampai api hilang begitu saja. Terjaga hingga panas
dan gelembung air yang menguap di panci besar pertanda sudah mulai matang. Tangan
tidak diam begitu saja. Masih ada olahan kedelai yang telah ditaburi ragi sejak
sore itu, dicampur agar senyawa kimia telah mengikat dan merekat. Ketika masih
panas, terbantu dengan kipas angin kecil di samping hamparan tempat pengadukan
tempe. Setelah dingin, satu persatu daun pisang yang tersedia siap membungkus
tempe agar tetap segar. Satu persatu ukuran kecil berwarna hijau itu kini telah
terisi tempe.
Terdengar suara adzan dari masjid Jadidah. Suara khas itu
memanggil para jamaah untuk segera menuju masjid. Panggilan tersebut
mengantarkan bapak untuk bergegas ke masjid. Selepas shubuh, sepeda jengki atau
yang dikenal dengan sepeda keboh, dengan
obrok kayu di kanan kiri telah siap untuk diisi tempe. Mulai ukuran besar,
sedang, hingga kecil tertata rapi mulai bawah hingga atas. “Van, ayo dorong ke
depan. Biar bapak kuat melewati jembatan kayu di atas sungai itu.” Pintanya
kepadaku. Iya, rumah kami di depan sungai kecil sebelum jalan raya. Sehingga
sebagai penyambung dari rumah ke jalan, maka dibuatlah jembatan kayu. Setelah
beranjak dari depan mataku, kayuhan bapak menuju pasar untuk menjajakan tempe
di pasar, emak sudah menyiapkan masakan di dapur.
Sholat tahajud bapak telah terdengar dalam rumah. Suara
seraknya ingin sekali membangunkan keluarga kami. Namun, bapak tidak secara
langsung untuk membangunkan kami, sehingga suara takbirotul ihram, rukuk,
I’tidal, sampai sujud terdengar. Agar kami yang masih terbuai mimpi bangun
untuk menghadap ilahi rabbi.
“Emak, tempe yang sudah dibungkus ditaruh di mana?” tanyaku
kepada emak. Emak panggilan kepada ibu. Bagiku sosok emak juga pantang mengeluh
apalagi menyerah. Pukul 06.00 WIB, sarapan telah tersedia di meja. Hari ini
lauk istimewa. Telur bali. Bagiku sangat istimewa. Telur bali bikinan emak
seakan tidak ada duanya. “Taruh saja di pojok pintu, tapi jangan sampai
menghalangi jalan untuk keluar masuk,” jawab emak. Tas pinggang berwarna merah
dengan gambar sang hero pujaan film masa kecilku, telah dipenuhi buku tulis dan
buku paket yang hampir sama setiap harinya. Sepatu mirip para kungfu master
identik putih di bawahnya, kukenakan untuk sekolah dengan tali yang hampir
putus di bagian atasnya.
Selepas pulang sekolah, kutaruh tas dan sepatuku di
tempatnya, kuambil kelereng di lemari pakaian warna coklat. Di sana hamparan
kelereng dari berbagai warna dan ukurannya, kuambil dan kulempar ke dinding
dengan mencari siapa kelereng yang terjauh untuk memulai. Di kala asyik bermain
kelereng, sepeda bapakku tiba. Kusambut dengan tangan penuh debu serta bau
sinar matahari di kaos hijauku, kusambut tangan rentanya dan kucium telapak
tangan tersebut. Kudorong sepeda hingga masuk di halaman rumah. Obrok kayu yang
di sana sini telah banyak yang patah, kuambil telenan dan pisau di dalamnya, serta plastik kresek putih sebagai wadah jualan tempe. Kulihat hari ini
tidak ada sisa tempe. Hatiku senang dan riang. Begitupun wajah bapakku,
meskipun peluh keringat membasahi punggung dan dahinya. Kupindahkan berdua
dengan bapak obrok kayu itu di ruang belakang. Esok terpakai kembali.
“Alhamdulillah ya pak, tempenya sudah habis,” ujarku.
“Alhamdulillah patut disyukuri nak. Semoga rezeki hari ini berkah dan dapat
dibuat tabungan untuk sekolah lanjutanmu.” Mendengar jawaban tersebut, sontak
mata yang tadi basah dengan keringat karena bermain kelereng, sekarang basah
karena air mata. Perjuangan menjual tempe yang tidak seberapa keuntungannya,
namun bagi bapak sedikit demi sedikit apabila disyukuri maka akan
berlipat-lipat. “Jangan lupa, habis bermain, bantu emak di rumah. Jangan main
terus,” lanjutnya.
Bagiku tempe olahan bapak luar biasa enak. Tidak ada
campuran selain ragi yang sudah terukur dan sesuai takaran. Ternyata banyak
pelanggan bapak yang kehabisan stok ketika bapak berdagang di pasar. Setelah
aku tanyakan ke bapak, hampir para pelanggan bapak adalah penjual nasi di rumah
maupun pasar itu sendiri. Kata penjual nasi, tempe bapak ketika digoreng atau
digodok, rasanya enak dan harum. Apakah efek dari daun pisang atau…? Entahlah,
bagiku tempe bapak terenak di dunia. Tempe olahan bapak tidak semua dijual. Sehingga
ada yang disisakan untuk kami. Entah dimasak untuk campuran sayur atau sekadar
digoreng dengan bumbu kecap sedikit pedas.
Tabungan bapak sudah mulai banyak dari hasil jerih payahnya
menjual tempe di pasar. Emak berjanji kepadaku, jika tabungan bapak sudah
mencukupi, aku akan dibelikan baju untuk persiapan masuk pondok. Bapak sembari
selesai melepas lelah, tidak pernah melupakan pendidikan anaknya. Ada Koran
bekas sisa pembungkus tempe, dibaca sekilas ada profil pondok pesantren yang
berada di ujung kota Surabaya. Dibaca berkali-kali agar tahu maksud dan tujuan
berita tersebut, dipanggilah aku di hadapan beliau. “Nanti bapak pondokkan di
sini ya. Di sini sepertinya bagus tempat pendidikannya serta biayanya sangat
terjangkau.” “Njih Pak,” jawabku. Tibalah waktu berangkat ke pondok. Meskipun
dalam batinku, masa bermain dengan teman di halaman belakang rumah milik
masyarakat setempat dengan bermain bola dan sekadar menerbangkan layangan di
sore hari. Kini seakan masa bermain itu sudah selesai. Tekad bapak yang sangat
membara demi pendidikan anaknya, rela mengeluarkan biaya dan tenaga. Iringan
doa dan air mata dari kedua orangtuaku, mengantarkanku ke gerbang pondok. Di
sana disambut seorang ustadz dan santri yang sembari menunggu santri baru.
Tempe bapak semakin hari semakin banyak penggemarnya.
Institusi kantor pun tidak ketinggalan. Sehingga sebelum bapak berangkat ke
pasar, diantarlah terlebih dahulu ke kantor. Sehingga setiap harinya bapak
mengolah kedelai menjadi tempe cukup banyak. Teringat bagaimana mesin pengolah
tempe yang masih manual. Sebelum berpindah ke mesin dengan menyambungkan colokan listrik. Sehingga ketika kedelai
dimasukkan mesin dan tempe tidak tersisa, maka cukup dicabut colokan tersebut. Namun, mesin pengolah
tempe bapak yang digerakkan tangan dengan putaran kiri ke kanan, menjadikan
tangan seperti atlet binaraga. Tangan seakan getot dan kuat hingga muncul lekukan di lengan.
Rezeki yang didapatkan hasil penjualan tempe dapat menyekolahkan
kami sekeluarga. Kakak-kakak serta adikku sudah beranjak lulus hingga sekolah
lanjutan atas. Bagi bapak, pendidikan sangat penting. Orang akan terpandang
apabila memiliki riwayat pendidikan. Sehingga, kelak di antara kami ada yang
bisa menjadi seorang guru. Didikan serta asuhan bapak yang tegas, menjadikan
kami menjadi anak yang kuat, baik mental dan fisiknya. Tidak terbuai dengan
materi, karena memang bagiku cukup untuk semua kebutuhan. Bertahun-tahun
mengolah kedelai menjadi tempe, tidak membaut bapak patah arang. Justru ketika
mendengar anaknya mendapatkan nilai yang bagus serta laporan dari guru bahwa
anaknya tidak bermasalah, bagi bapak itu semua anugerah yang tidak bisa ditulis
dengan kata-kata.
Tempe idaman bapak memang istimewa. Tatkala aku kembali ke
pondok di saat masa liburan selesai, emak tidak lupa membawakanku olahan tempe.
Sambel tempe. Iya… selain olahan tempe bali, sambel tempe buatan emak sangat
maknyus. Bahkan, tempe bisa diolah menjadi keringan tempe yang dapat disimpan
hingga dua pekan lamanya. Saat teringat bapak maupun emak ketika berada di
pondok, kubawa keringan tempe sebagai kudapan di kala perut memanggil penanda
lapar. Bahkan, kakakku pun tidak lupa ketika berangkat kerja, bekal di dalam tepak makanan ada olahan tempe emak.
Tempe mengantarkan keluarga kami merasakan pendidikan yang
layak. Di antara keluarga kami sudah ada yang telah menyelesaikan studi kuliah
hasil dari jualan tempe. Bagiku tempe bapak sebagai inspirasi untuk tetap
berkreasi dan mensyukuri nikmatNya. Bahwa, sekecil apapun bentuk rasa syukur,
bagi Sang Pencipta akan ditambah rezekinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar