Rabu, 19 Oktober 2022

Sajadah Biru

 SAJADAH BIRU



Malam berbalut bintang yang memesona dan dipadukan dengan temaram rembulan yang sedikit malu untuk menampakkan kecantikannya. Hembusan angin yang lembut mendorong pohon bambu memainkan bunyi yang iramanya merdu dan syahdu. Gesekan antar bambu menghasilkan suara yang nyaris tak tergantikan di kota. Seiring alunan irama bamboo, nun jauh di sana gedung pencakar langit dengan sombongnya menampakkan diri seakan-akan dirinya lah yang paling gagah di muka bumi. Padahal, lampu yang menyorot di sekitar gedung yang menjulang tinggi, berasal dari pembangkit listrik yang berada di Desa Sumberpatih. Iya, desa ini menyediakan pemandangan yang asri dipadu hamparan sawah yang menghijau kekuning-kuningan. Selain itu, di pojok desa terdapat pembangkit listrik yang dibangun pemerintah provinsi untuk menambah daya kekuatan listrik bagi PJU (Penerangan Jalan Umum).

Burung yang hilir mudik terbang dari satu pohon ke pohon lainnya, menambah suasana desa tersebut menjadi daerah yang layak untuk dipakai tempat istirahat dari kepenatan pekerjaan. Meskipun jarak tempuh ke kota hampir 10 kilometeran, desa ini tidak serta merta meninggalkan kesejukannya meskipun orang kota memasang AC di perkantoran, apartemen, maupun rumah. Maka, layaknya desa pada umumnya, Desa Sumberpatih menyajikan keelokan budaya dan kesahajaan warganya.

Hari Kamis, 20 Oktober 2010 keheningan Desa Sumberpatih pecah di malam itu. Kentongan di Balai Desa Sumberpatih berkali-kali dipukul oleh pak Andre hingga tiga kali nada. Intonasi pukulan kentongan yang seirama, menandakan ada berita meninggal dunia. Berbondong-bondong warga menuju sumber suara tersebut, dan menanyakan siapakah yang telah dipanggil oleh Sang Maha Kuasa. Tua, muda, bapak, ibu, bahkan nenek yang rumahnya terdekat dari balai desa, tidak ketinggalan untuk menuju ke balai desa. Meskipun acara TV diisi sinetron yang saat ini digemari oleh emak-emak, dimatikan seketika, dan bergegas menuju ke balai desa.

Pak Andre menaruh tongkat pemukul di tempat kentongan balai desa, dan menemui warga yang sudah berkumpul. “Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…. Pangapunten Bapak/Ibu, kulo aturaken Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.... Mbah Min sedho, terose putune  mas Amik wau, sak niki tasik ten rumah sakit Mardhi Seger Bapak/Ibu, jadi mohon keikhlasannya dan permintaan maaf dari keluarga Mbah Min,” kata Pak Andre kepada warga. “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun….” Warga pun spontan melafalkan kalimat istirja’. Beberapa warga bergegas menuju kediaman Mbah Min untuk menyiapkan perkakas pemandian dan pemakaman. Pak Andre menyarankan ke warga terkait tenda takziah untuk dibawa serta menggunakan kendaraan bak terbuka menuju rumah mbah Min.

Warga bahu membahu mengambil keranda di Musholla An Nuur dekat balai desa. Sebagian mereka pergi ke kota untuk membeli perlengkapan pemakaman seperti kain mayat, maisan, kayu dan kapur barus. Deruman motor cak Aji memecahkan telinga ketika starter pertamanya. Motor butut keluaran 1991 masih melaju kencang di kisaran 60km/jam. Cak Aji sudah tau betul, di mana tempat membeli perlengkapan tersebut. Ditemani sahabat karibnya, Cak Ali, mereka mengenakan helm full face layaknya pembalap melaju menuju toko Langgeng Jaya. Dentuman mesin motor mereka masih terdengar meskipun jarak pandang sudah tidak terlihat, justru yang tersisa adalah asap oli motor yang lama tidak diganti. Bagi cak Aji, meskipun motor butut, yang penting tarikan dan sensasi suara mesin begitu menggoda.

Iya, kabar meninggalnya mbah Min sangat menghentakkan warga Desa Sumberpatih. Bagaimana tidak, sosok yang suka menolong warga dan rajin beribadah ini dipanggil oleh sang Maha Kuasa. Sudah beberapa hari ini, Mbah Min berbaring di rumah sakit dikarenakan umur yang sudah senja. Selain itu juga, ada riwayat diabetes yang selalu setia menemani kehidupan Mbah Min. Hampir sepekan lamanya, cucu kesayangan mas Amik selalu mendampingi Mbah Min di rumah sakit. Tidak pernah sekalipun mas Amik meninggalkan nenek yang merawatnya sejak kecil, dikala orangtuanya bekerja serabutan di luar kota. Hanya ketika sholat wajib, mas Amik izin sejenak ke Mbah Min untuk menunaikan sholat berjamaah di rumah sakit. Menyuapi, menyelimuti, bahkan memijat kaki sebagai bentuk kasih sayang mas Amik agar Mbah Min lekas bugar kembali dan beraktivitas seperti dulu lagi.

Mbah Min adalah sosok wanita tua yang disegani karena kebaikannya. Setiap ada warga yang kesulitan biaya pendidikan, sekecil apapun baginya untuk warga di Desa Sumberpatih, Mbah Min selalu terdepan dalam membantu. Tak ayal, warga merasa kehilangan Mbah Min yang murah senyum dan ringan tangan. Pernah sekali datang ke rumahku untuk sekadar mengantarkan nasi. Mbah Min datang membawa nasi dari pasar, karena di sana telah bertemu dengan orang yang pernah dibantu beliau. Nasi yang diberikan ke Mbah Min ada dua kotak, sehingga yang satu kotak diantar ke rumahku dan satunya lagi dibawa pulang. Kebetulan rumah Mbah Min berjarak lima rumah dari rumahku. Entah hal tersebut yang keberapa kalinya beliau mengantar nasi meskipun di rumahku ibu telah menanak nasi. Sehingga, bagi ibu, Mbah Min adalah sosok orangtua yang seakan menggantikan nenekku yang meninggal di saat aku masih 6 bulan di gendongan ibuku.

Mbah Min, itulah panggilannya. Sebagaimana yang kuketahui selama ini, nama asli beliau adalah Minarsih. Sesepuh desa selain kakek dan nenekku yang telah lama dipanggil di haribaanNya. Putra-putri Mbah Min sudah lama meninggalkan desa menuju kota idaman masing-masing. Meskipun anak-anaknya tidak ada yang menemani di usia senjanya, Mbah Min tidak pernah mengeluh dan menyerah dengan kondisinya. Masih ada cucu kesayangannya, yakni mas Amik. Baginya, selama masih bisa beribadah dan membantu sesama adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa.

Suatu ketika Mbah Min berangkat terlebih dahulu ke musholla sambil menenteng rantang dari rumahnya. Setelah tiba di depan pintu musholla, Mbah Min mengeluarkan beberapa apem yang telah dibuatnya untuk ditaruh di meja musholla. Tak ayal warga yang berangkat ke musholla dan selesai menunaikan sholat jamaah, mengambil satu per satu apem yang telah dihidangkan Mbah Min. Apem, cucur, atau jajanan lainnya yang sering kujumpai di pasar, seringkali kujumpai sudah berada rapi di atas meja musholla. Semua itu bikinan Mbah Min. Mbah Min mudanya adalah penjual jajanan pasar yang cukup laris di pasar. Orang pasar pasti kenal dengan Mbah Min, selain orangnya ramah ketika menjual jajanan, rasanya pun enak dan murah harganya.

Konon menurut cerita dari mulut ke mulut, jajanan Mbah Min sudah menyebar hingga ke luar desa. Hajatan, acara pernikahan, khitanan, hingga gawe besar di kecamatan yang diselenggarakan pemerintah daerah, jajanan Mbah Min sudah dirasakan oleh banyak orang. Tak ayal tetangga kanan kirinya pun turut membantu Mbah Min agar pesanan sesuai dengan jadwal. Agar batas pengambilan sesuai pemesanan dapat dilayani dengan tepat waktu. Setiap bulan, pasti ada pelanggan yang memesan jajanan buatan Mbah Min. Seakan, rezeki selalu menghampiri Mbah Min dari Allah melalui pemesan jajanan tradisional.

“Pak Naryo…. kerandanya apa sudah diambil di musholla?” tanya pak Andre. “Tadi ada beberapa remaja yang dikoordinir oleh mas Hasto sedang menuju ke musholla pak,” jawab pak Naryo. Jarak rumah Mbah Min dengan musholla lumayan jauh, hampir 500 meter. Maka, Hasto dan teman-temannya bergegas ke musholla untuk mengangkut keranda. Musholla An Nuur adalah satu-satunya tempat ibadah di desa Sumberpatih. Masjid Al Ukhuwah yang saat ini sedang tahap pembangunan, masih belum layak dijadikan tempat ibadah. Karena pembangunannya masih 50 persen tahap penyelesaian. Meskipun begitu, bagi almarhumah sejauh apapun tempat ibadah seakan begitu dekat ingin berjumpa dengan Rabbnya, sedekat sajadah birunya. Sajadah biru. Ketika berangkat ke musholla, Mbah Min tidak pernah lupa membawa sajadah biru. Meskipun sudah usang, baginya teman setia yang selalu mendampingi untuk bertemu Rabb Semesta Alam. Sajadah peninggalan almarhum Mbah Sutiyo, suami tercintanya. Mbah Sutiyo ketika ke musholla, sajadah biru lah yang disampirkan di pundak tuanya.

Mbah Sutiyo selalu berangkat terlebih dahulu dibandingkan warga ketika waktu sholat tiba. Ketika waktu adzan tiba, suara mbah Sutiyo terdengar serak-serak karena sudah senja. Warga mengenali betul suara itu, sehingga warga seantero desa terasa terpanggi agar menunaikan sholat berjamaah. Mbah Sutiyo seorang muadzin desa. Keseharian beliau dihabiskan di musholla untuk berdzikir dan tilawah Alquran. Sesekali Mbah Sutiyo dan mas Amik membantu Mbah Min membawa jajanan yang dihidangkan di musholla.

Setiap matahari akan muncul dan menyinari desa Sumberpatih, Mbah Sutiyo sudah berganti pakaian untuk ke kebun dan memotong daun pisang yang sudah lebar. Beberapa daun berjatuhan terkena sabetan parang yang dibawa Mbah Sutiyo. Setelah terkumpul beberapa lembar yang dirasa cukup, dibawa pulanglah untuk diberikan ke Mbah Min. Sementara daun pisang tergeletak rapi, tangan Mbah Sutiyo menggoyang dan menarik batang singkong. Beliau tau pohon singkong yang sudah menghasilkan singkong besar dan lebat di bawah tanah. Sementara mas Amik sudah siap untuk berangkat sekolah di MA KH. Muh. Salim desa Sumberpatih.

Keranjang di samping onthelnya sudah terisi oleh daun pisang dan singkong. Singkong besar dan lebat isinya membuat hati Mbah Sutiyo semringah. Membayangkan tangan istri tercinta menguliti singkong untuk dijadikan jajanan yang nikmat. Sebenarnya di kebun Mbah Sutiyo ada beberapa pohon kelapa yang siap panen juga, namun dengan usia renta dan tubuh yang tidak sekuat masa mudanya, Mbah Sutiyo selalu memanggil  mas Amik untuk memanjat pohon kelapa. Karenanya pohon kelapa itu dilewati begitu saja oleh Mbah Sutiyo. Lain halnya ketika tubuh Mbah Sutiyo masih kuat, maka setinggi apapun pohon kelapa, seakan bukan rintangan baginya. Selain mengambil kelapa, daun pohon kelapapun dijatuhkan untuk dimanfaatkan sebagai anyaman atau pembungkus jajan. Sehingga, beragam manfaat pohon kelapa dapat dirasakan bagi keluarga Mbah Sutiyo.

Sajadah biru yang dibawa Mbah Min ke musholla telah mengingatkan betapa sosok laki-laki yang telah menemaninya selama setengah abad. Mbah Sutiyo adalah sosok sederhana dan tegas dalam bertindak. Oleh karenanya, didikan Mbah Sutiyo kepada anak-anaknya begitu membekas di hati Mbah Min. Anak pertamanya kini telah bekerja di perusahaan surat kabar dengan menjadi direksi pemasaran. Sesekali si sulung menyempatkan pulang sekadar membawa oleh-oleh dari kota sekaligus mengajak putri semata wayangnya. Sementara anak kedua dari Mbah Sutiyo dan Mbah Min diajak oleh suaminya menetap di luar Jawa. Justru dari anak kedua inilah, perekonomian Mbah Min cukup terbantu. Apalagi kehadiran mas Amik di sisi mereka cukup membantu. Meskipun putri dan suaminya jarang menemuinya, setidaknya selalu mentransfer uang kepada mereka melalui mas Amik. Anak keduanya sudah dikarunia tiga anak. Anak pertama mas Amik, kedua dan ketiga ikut bersama kedua orangtuanya. Terakhir si bungsu yang sudah menikah 2 tahun lalu, kini tinggal di Jawa Tengah dan belum dikaruniai anak hingga sekarang. Maka cucu Mbah Sutiyo dan Mbah Min berjumlah empat.

Sajadah biru Mbah Min yang diletakkan pada shof pertama di jamaah putri, sudah menjadi rahasia umum bahwa tempat tersebut milik Mbah Min. Sehingga jamaah putri yang sholat di musholla selalu paham dan memposisikan diri untuk menempati  tempat selain sajadah biru Mbah Min. Meskipun di musholla telah disediakan mukena dan sajadah, Mbah Min tidak pernah alpa untuk membawa sendiri sajadah biru. Bahkan Mbah Min telah mengenakan mukena warna putih telur dari rumah menuju musholla.

“Pak Naryo jangan lupa juga untuk menyediakan gentong yang terisi air,” ujar pak Andre. Pak Andre adalah Ketua RT ku. Entah sudah ke berapa tahun beliau menjabat ketua RT di tempatku. Akupun juga tidak tahu, bagaimana ceritanya pak Andre menjabat ketua RT begitu lama. Ibuku hanya bilang, sudah tidak ada sosok yang layak dan mampu seperti pak Naryo. Sawah yang membentang luas di desa kami, konon milik pak Andre. “Sudah siap gentong dan gayung, pak Andre,” jawab pak Naryo.

Setelah cak Aji dan cak Ali datang membawa perlengkapan mayat, merekapun menuju rumah Mbah Min. Maisan yang dibawa dari toko, langsung diletakkan di depan rumah almarhum, dan cak Ali langsung bergegas mengambil pensil untuk menulis nama almarhumah. Kuas kecil dan cat warna hitam berada di samping maisan. Agar ketika tulisan nama dan tanggal kematian tertulis dengan benar, giliran kuas kecil yang menebali sebagai tanda bahwa maisan tersebut adalah Mbah Min.

Bunyi sirine ambulan terdengar dari kejauhan. Pak Achmad berada di depan ambulan sebagai pembuka jalan sepanjang perjalanan, telah tampak di depanku. Berarti ambulan tersebut mengantarkan jenazah Mbah Min dari rumah sakit yang ditemani mas Amik. Pak Achmad memarkir motornya di samping rumahku, karena di kediaman almarhumah sudah banyak pelayat yang sedari menunggu kedatangan Mas Amik dan jenazah Mbah Min. Wargapun bergegas mendekati ambulan untuk mengangkat peti jenazah Mbah Min untuk diantarkan terakhir kalinya menuju ruang tamu almarhumah. Sementara ibu-ibu yang melayat silih berganti membawa nampan berisi beras maupun gula untuk ditaruh di ruang belakang sebagai bentuk membantu keluarga almarhumah.

Pak Andre pun berdiri dan membawa toa untuk mengumumkan kepada warga agar siap-siap untuk menyolati almarhumah di musholla. Namun, sembari menunggu kedatangan keluarga besarnya yang hingga kini masih dalam perjalanan, wargapun mengambil air wudhu untuk persiapan sholat jenazah. Sehingga, ketika putra-putrinya sudah datang, mereka sudah siap untuk menyolati jenazah. Ketika tiba putra-putrinya dari kota masing-masing, wargapun mengangkat peti jenazah menuju musholla untuk disholati bersama. Silih berganti jamaah untuk menyolati jenazah almarhumah, dikarenakan musholla yang kecil itu tidak bisa menampung banyak jamaah. Setelah dirasa tidak ada lagi yang menyolati jenazah, kini warga mengantarkan ke tempat terakhir almarhumah yakni pemakaman Islam desa Sekarpatih. Liang lahat yang telah digali sebelumnya sudah siap untuk menyambut peti jenazah Mbah Min. Pelayatpun duduk dan mendoakan almarhumah yang dipimpin oleh mudin setempat.

Putra-putrinya sudah mengikhlaskan kepergian orangtua yang selalu mendidik dan membimbing di kala kecilnya. Kepergian ibu mereka di kehidupannya seolah menjadi nasihat bahwa tugas dan kewajiban itu kini ada pundak putra-putrinya untuk melanjutkan bimbingan kepada cucu Mbah Min. Keempat cucu Mbah Min menangis tersedu ditinggal seorang nenek yang begitu ramah dan dekat dengan mereka. Cucu-cucu Mbah Min masih ingat betul tatkala lebaran Idul Fitri tiba, Mbah Min selalu menjadi jujukan pertama kali oleh warga sekitar. Sehingga rumah nenek mereka penuh kehadiran warga untuk sungkem kepada nenek mereka. Bagi warga, Mbah Min adalah sesepuh desa Sekarpatih yang patut diteladani dan disegani.

Kini, kehadiran sosok sesepuh yang murah senyum dan baik hati ini telah tiada selama-lamanya. Namun, kehadirannya masih dirasakan seantero desa dengan peninggalan sajadah biru di musholla An Nuur. Sajadah biru itu tertata rapi di lemari musholla, sebagai kenangan terindah almarhumah akan kebaikan tiada tara. Semoga Mbah Min layak menempati surga dan berkumpul dengan orang-orang shaleh seperti beliau. Kini Mbah Min tersenyum telah menemui suami tercinta Mbah Sutiyo dan Rabbnya. Sajadah biru menjadi saksi betapa Mbah Min sebagai ibu, nenek, dan orangtua bagi warga Sekarpatih yang kebaikannya akan selalu diingat. Selamat jalan Mbah Min.


By: Oz4N

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...