SAJADAH BIRU
Malam berbalut bintang yang memesona
dan dipadukan dengan temaram rembulan yang sedikit malu untuk menampakkan
kecantikannya. Hembusan angin yang lembut mendorong pohon bambu memainkan bunyi
yang iramanya merdu dan syahdu. Gesekan antar bambu menghasilkan suara yang
nyaris tak tergantikan di kota. Seiring alunan irama bamboo, nun jauh di sana
gedung pencakar langit dengan sombongnya menampakkan diri seakan-akan dirinya
lah yang paling gagah di muka bumi. Padahal, lampu yang menyorot di sekitar
gedung yang menjulang tinggi, berasal dari pembangkit listrik yang berada di
Desa Sumberpatih. Iya, desa ini menyediakan pemandangan yang asri dipadu
hamparan sawah yang menghijau kekuning-kuningan. Selain itu, di pojok desa
terdapat pembangkit listrik yang dibangun pemerintah provinsi untuk menambah
daya kekuatan listrik bagi PJU (Penerangan Jalan Umum).
Burung yang hilir mudik terbang dari
satu pohon ke pohon lainnya, menambah suasana desa tersebut menjadi daerah yang
layak untuk dipakai tempat istirahat dari kepenatan pekerjaan. Meskipun jarak
tempuh ke kota hampir 10 kilometeran, desa ini tidak serta merta meninggalkan
kesejukannya meskipun orang kota memasang AC di perkantoran, apartemen, maupun
rumah. Maka, layaknya desa pada umumnya, Desa Sumberpatih menyajikan keelokan
budaya dan kesahajaan warganya.
Hari Kamis, 20 Oktober 2010 keheningan
Desa Sumberpatih pecah di malam itu. Kentongan di Balai Desa Sumberpatih
berkali-kali dipukul oleh pak Andre hingga tiga kali nada. Intonasi pukulan
kentongan yang seirama, menandakan ada berita meninggal dunia.
Berbondong-bondong warga menuju sumber suara tersebut, dan menanyakan siapakah
yang telah dipanggil oleh Sang Maha Kuasa. Tua, muda, bapak, ibu, bahkan nenek
yang rumahnya terdekat dari balai desa, tidak ketinggalan untuk menuju ke balai
desa. Meskipun acara TV diisi sinetron yang saat ini digemari oleh emak-emak,
dimatikan seketika, dan bergegas menuju ke balai desa.
Pak Andre menaruh tongkat pemukul di
tempat kentongan balai desa, dan menemui warga yang sudah berkumpul.
“Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…. Pangapunten Bapak/Ibu, kulo
aturaken Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.... Mbah Min sedho, terose
putune mas Amik wau, sak niki tasik ten
rumah sakit Mardhi Seger Bapak/Ibu, jadi mohon keikhlasannya dan permintaan
maaf dari keluarga Mbah Min,” kata Pak Andre kepada warga. “Innalillahi wa inna
ilaihi rojiun….” Warga pun spontan melafalkan kalimat istirja’. Beberapa warga
bergegas menuju kediaman Mbah Min untuk menyiapkan perkakas pemandian dan
pemakaman. Pak Andre menyarankan ke warga terkait tenda takziah untuk dibawa
serta menggunakan kendaraan bak terbuka menuju rumah mbah Min.
Warga bahu membahu mengambil keranda di
Musholla An Nuur dekat balai desa. Sebagian mereka pergi ke kota untuk membeli
perlengkapan pemakaman seperti kain mayat, maisan, kayu dan kapur barus.
Deruman motor cak Aji memecahkan telinga ketika starter pertamanya. Motor butut
keluaran 1991 masih melaju kencang di kisaran 60km/jam. Cak Aji sudah tau
betul, di mana tempat membeli perlengkapan tersebut. Ditemani sahabat karibnya,
Cak Ali, mereka mengenakan helm full face layaknya pembalap melaju menuju toko
Langgeng Jaya. Dentuman mesin motor mereka masih terdengar meskipun jarak
pandang sudah tidak terlihat, justru yang tersisa adalah asap oli motor yang
lama tidak diganti. Bagi cak Aji, meskipun motor butut, yang penting tarikan
dan sensasi suara mesin begitu menggoda.
Iya, kabar meninggalnya mbah Min sangat
menghentakkan warga Desa Sumberpatih. Bagaimana tidak, sosok yang suka menolong
warga dan rajin beribadah ini dipanggil oleh sang Maha Kuasa. Sudah beberapa hari
ini, Mbah Min berbaring di rumah sakit dikarenakan umur yang sudah senja.
Selain itu juga, ada riwayat diabetes yang selalu setia menemani kehidupan Mbah
Min. Hampir sepekan lamanya, cucu kesayangan mas Amik selalu mendampingi Mbah
Min di rumah sakit. Tidak pernah sekalipun mas Amik meninggalkan nenek yang
merawatnya sejak kecil, dikala orangtuanya bekerja serabutan di luar kota.
Hanya ketika sholat wajib, mas Amik izin sejenak ke Mbah Min untuk menunaikan
sholat berjamaah di rumah sakit. Menyuapi, menyelimuti, bahkan memijat kaki
sebagai bentuk kasih sayang mas Amik agar Mbah Min lekas bugar kembali dan
beraktivitas seperti dulu lagi.
Mbah Min adalah sosok wanita tua yang
disegani karena kebaikannya. Setiap ada warga yang kesulitan biaya pendidikan,
sekecil apapun baginya untuk warga di Desa Sumberpatih, Mbah Min selalu
terdepan dalam membantu. Tak ayal, warga merasa kehilangan Mbah Min yang murah
senyum dan ringan tangan. Pernah sekali datang ke rumahku untuk sekadar
mengantarkan nasi. Mbah Min datang membawa nasi dari pasar, karena di sana
telah bertemu dengan orang yang pernah dibantu beliau. Nasi yang diberikan ke
Mbah Min ada dua kotak, sehingga yang satu kotak diantar ke rumahku dan satunya
lagi dibawa pulang. Kebetulan rumah Mbah Min berjarak lima rumah dari rumahku.
Entah hal tersebut yang keberapa kalinya beliau mengantar nasi meskipun di
rumahku ibu telah menanak nasi. Sehingga, bagi ibu, Mbah Min adalah sosok
orangtua yang seakan menggantikan nenekku yang meninggal di saat aku masih 6
bulan di gendongan ibuku.
Mbah Min, itulah panggilannya.
Sebagaimana yang kuketahui selama ini, nama asli beliau adalah Minarsih.
Sesepuh desa selain kakek dan nenekku yang telah lama dipanggil di haribaanNya.
Putra-putri Mbah Min sudah lama meninggalkan desa menuju kota idaman
masing-masing. Meskipun anak-anaknya tidak ada yang menemani di usia senjanya,
Mbah Min tidak pernah mengeluh dan menyerah dengan kondisinya. Masih ada cucu
kesayangannya, yakni mas Amik. Baginya, selama masih bisa beribadah dan
membantu sesama adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa.
Suatu ketika Mbah Min berangkat
terlebih dahulu ke musholla sambil menenteng rantang dari rumahnya. Setelah
tiba di depan pintu musholla, Mbah Min mengeluarkan beberapa apem yang telah
dibuatnya untuk ditaruh di meja musholla. Tak ayal warga yang berangkat ke
musholla dan selesai menunaikan sholat jamaah, mengambil satu per satu apem
yang telah dihidangkan Mbah Min. Apem, cucur, atau jajanan lainnya yang sering
kujumpai di pasar, seringkali kujumpai sudah berada rapi di atas meja musholla.
Semua itu bikinan Mbah Min. Mbah Min mudanya adalah penjual jajanan pasar yang
cukup laris di pasar. Orang pasar pasti kenal dengan Mbah Min, selain orangnya
ramah ketika menjual jajanan, rasanya pun enak dan murah harganya.
Konon menurut cerita dari mulut ke
mulut, jajanan Mbah Min sudah menyebar hingga ke luar desa. Hajatan, acara
pernikahan, khitanan, hingga gawe besar di kecamatan yang diselenggarakan
pemerintah daerah, jajanan Mbah Min sudah dirasakan oleh banyak orang. Tak ayal
tetangga kanan kirinya pun turut membantu Mbah Min agar pesanan sesuai dengan
jadwal. Agar batas pengambilan sesuai pemesanan dapat dilayani dengan tepat
waktu. Setiap bulan, pasti ada pelanggan yang memesan jajanan buatan Mbah Min.
Seakan, rezeki selalu menghampiri Mbah Min dari Allah melalui pemesan jajanan
tradisional.
“Pak Naryo…. kerandanya apa sudah
diambil di musholla?” tanya pak Andre. “Tadi ada beberapa remaja yang
dikoordinir oleh mas Hasto sedang menuju ke musholla pak,” jawab pak Naryo. Jarak
rumah Mbah Min dengan musholla lumayan jauh, hampir 500 meter. Maka, Hasto dan
teman-temannya bergegas ke musholla untuk mengangkut keranda. Musholla An Nuur
adalah satu-satunya tempat ibadah di desa Sumberpatih. Masjid Al Ukhuwah yang
saat ini sedang tahap pembangunan, masih belum layak dijadikan tempat ibadah.
Karena pembangunannya masih 50 persen tahap penyelesaian. Meskipun begitu, bagi
almarhumah sejauh apapun tempat ibadah seakan begitu dekat ingin berjumpa
dengan Rabbnya, sedekat sajadah birunya. Sajadah biru. Ketika berangkat ke
musholla, Mbah Min tidak pernah lupa membawa sajadah biru. Meskipun sudah
usang, baginya teman setia yang selalu mendampingi untuk bertemu Rabb Semesta
Alam. Sajadah peninggalan almarhum Mbah Sutiyo, suami tercintanya. Mbah Sutiyo
ketika ke musholla, sajadah biru lah yang disampirkan di pundak tuanya.
Mbah Sutiyo selalu berangkat terlebih
dahulu dibandingkan warga ketika waktu sholat tiba. Ketika waktu adzan tiba,
suara mbah Sutiyo terdengar serak-serak karena sudah senja. Warga mengenali
betul suara itu, sehingga warga seantero desa terasa terpanggi agar menunaikan
sholat berjamaah. Mbah Sutiyo seorang muadzin desa. Keseharian beliau
dihabiskan di musholla untuk berdzikir dan tilawah Alquran. Sesekali Mbah
Sutiyo dan mas Amik membantu Mbah Min membawa jajanan yang dihidangkan di
musholla.
Setiap matahari akan muncul dan
menyinari desa Sumberpatih, Mbah Sutiyo sudah berganti pakaian untuk ke kebun
dan memotong daun pisang yang sudah lebar. Beberapa daun berjatuhan terkena
sabetan parang yang dibawa Mbah Sutiyo. Setelah terkumpul beberapa lembar yang
dirasa cukup, dibawa pulanglah untuk diberikan ke Mbah Min. Sementara daun
pisang tergeletak rapi, tangan Mbah Sutiyo menggoyang dan menarik batang
singkong. Beliau tau pohon singkong yang sudah menghasilkan singkong besar dan
lebat di bawah tanah. Sementara mas Amik sudah siap untuk berangkat sekolah di
MA KH. Muh. Salim desa Sumberpatih.
Keranjang di samping onthelnya sudah
terisi oleh daun pisang dan singkong. Singkong besar dan lebat isinya membuat
hati Mbah Sutiyo semringah. Membayangkan tangan istri tercinta menguliti
singkong untuk dijadikan jajanan yang nikmat. Sebenarnya di kebun Mbah Sutiyo
ada beberapa pohon kelapa yang siap panen juga, namun dengan usia renta dan tubuh
yang tidak sekuat masa mudanya, Mbah Sutiyo selalu memanggil mas Amik untuk memanjat pohon kelapa.
Karenanya pohon kelapa itu dilewati begitu saja oleh Mbah Sutiyo. Lain halnya
ketika tubuh Mbah Sutiyo masih kuat, maka setinggi apapun pohon kelapa, seakan
bukan rintangan baginya. Selain mengambil kelapa, daun pohon kelapapun
dijatuhkan untuk dimanfaatkan sebagai anyaman atau pembungkus jajan. Sehingga,
beragam manfaat pohon kelapa dapat dirasakan bagi keluarga Mbah Sutiyo.
Sajadah biru yang dibawa Mbah Min ke
musholla telah mengingatkan betapa sosok laki-laki yang telah menemaninya
selama setengah abad. Mbah Sutiyo adalah sosok sederhana dan tegas dalam
bertindak. Oleh karenanya, didikan Mbah Sutiyo kepada anak-anaknya begitu
membekas di hati Mbah Min. Anak pertamanya kini telah bekerja di perusahaan
surat kabar dengan menjadi direksi pemasaran. Sesekali si sulung menyempatkan
pulang sekadar membawa oleh-oleh dari kota sekaligus mengajak putri semata
wayangnya. Sementara anak kedua dari Mbah Sutiyo dan Mbah Min diajak oleh
suaminya menetap di luar Jawa. Justru dari anak kedua inilah, perekonomian Mbah
Min cukup terbantu. Apalagi kehadiran mas Amik di sisi mereka cukup membantu.
Meskipun putri dan suaminya jarang menemuinya, setidaknya selalu mentransfer uang
kepada mereka melalui mas Amik. Anak keduanya sudah dikarunia tiga anak. Anak
pertama mas Amik, kedua dan ketiga ikut bersama kedua orangtuanya. Terakhir si
bungsu yang sudah menikah 2 tahun lalu, kini tinggal di Jawa Tengah dan belum
dikaruniai anak hingga sekarang. Maka cucu Mbah Sutiyo dan Mbah Min berjumlah
empat.
Sajadah biru Mbah Min yang diletakkan
pada shof pertama di jamaah putri, sudah menjadi rahasia umum bahwa tempat
tersebut milik Mbah Min. Sehingga jamaah putri yang sholat di musholla selalu
paham dan memposisikan diri untuk menempati
tempat selain sajadah biru Mbah Min. Meskipun di musholla telah
disediakan mukena dan sajadah, Mbah Min tidak pernah alpa untuk membawa sendiri
sajadah biru. Bahkan Mbah Min telah mengenakan mukena warna putih telur dari
rumah menuju musholla.
“Pak Naryo jangan lupa juga untuk
menyediakan gentong yang terisi air,” ujar pak Andre. Pak Andre adalah Ketua RT
ku. Entah sudah ke berapa tahun beliau menjabat ketua RT di tempatku. Akupun
juga tidak tahu, bagaimana ceritanya pak Andre menjabat ketua RT begitu lama.
Ibuku hanya bilang, sudah tidak ada sosok yang layak dan mampu seperti pak
Naryo. Sawah yang membentang luas di desa kami, konon milik pak Andre. “Sudah
siap gentong dan gayung, pak Andre,” jawab pak Naryo.
Setelah cak Aji dan cak Ali datang
membawa perlengkapan mayat, merekapun menuju rumah Mbah Min. Maisan yang dibawa
dari toko, langsung diletakkan di depan rumah almarhum, dan cak Ali langsung
bergegas mengambil pensil untuk menulis nama almarhumah. Kuas kecil dan cat
warna hitam berada di samping maisan. Agar ketika tulisan nama dan tanggal
kematian tertulis dengan benar, giliran kuas kecil yang menebali sebagai tanda
bahwa maisan tersebut adalah Mbah Min.
Bunyi sirine ambulan terdengar dari
kejauhan. Pak Achmad berada di depan ambulan sebagai pembuka jalan sepanjang
perjalanan, telah tampak di depanku. Berarti ambulan tersebut mengantarkan
jenazah Mbah Min dari rumah sakit yang ditemani mas Amik. Pak Achmad memarkir
motornya di samping rumahku, karena di kediaman almarhumah sudah banyak pelayat
yang sedari menunggu kedatangan Mas Amik dan jenazah Mbah Min. Wargapun
bergegas mendekati ambulan untuk mengangkat peti jenazah Mbah Min untuk
diantarkan terakhir kalinya menuju ruang tamu almarhumah. Sementara ibu-ibu
yang melayat silih berganti membawa nampan berisi beras maupun gula untuk
ditaruh di ruang belakang sebagai bentuk membantu keluarga almarhumah.
Pak Andre pun berdiri dan membawa toa
untuk mengumumkan kepada warga agar siap-siap untuk menyolati almarhumah di
musholla. Namun, sembari menunggu kedatangan keluarga besarnya yang hingga kini
masih dalam perjalanan, wargapun mengambil air wudhu untuk persiapan sholat
jenazah. Sehingga, ketika putra-putrinya sudah datang, mereka sudah siap untuk
menyolati jenazah. Ketika tiba putra-putrinya dari kota masing-masing, wargapun
mengangkat peti jenazah menuju musholla untuk disholati bersama. Silih berganti
jamaah untuk menyolati jenazah almarhumah, dikarenakan musholla yang kecil itu
tidak bisa menampung banyak jamaah. Setelah dirasa tidak ada lagi yang
menyolati jenazah, kini warga mengantarkan ke tempat terakhir almarhumah yakni
pemakaman Islam desa Sekarpatih. Liang lahat yang telah digali sebelumnya sudah
siap untuk menyambut peti jenazah Mbah Min. Pelayatpun duduk dan mendoakan
almarhumah yang dipimpin oleh mudin setempat.
Putra-putrinya sudah mengikhlaskan
kepergian orangtua yang selalu mendidik dan membimbing di kala kecilnya.
Kepergian ibu mereka di kehidupannya seolah menjadi nasihat bahwa tugas dan
kewajiban itu kini ada pundak putra-putrinya untuk melanjutkan bimbingan kepada
cucu Mbah Min. Keempat cucu Mbah Min menangis tersedu ditinggal seorang nenek
yang begitu ramah dan dekat dengan mereka. Cucu-cucu Mbah Min masih ingat betul
tatkala lebaran Idul Fitri tiba, Mbah Min selalu menjadi jujukan pertama kali
oleh warga sekitar. Sehingga rumah nenek mereka penuh kehadiran warga untuk
sungkem kepada nenek mereka. Bagi warga, Mbah Min adalah sesepuh desa Sekarpatih
yang patut diteladani dan disegani.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar