Selasa, 18 Oktober 2022

Penantian Dua Tahun

 Penantian Dua Tahun

Karya: Izza

editor: Oz4N

Rufaidah adalah wanita mulia, yang memperoleh kemuliaan dari orang mulia. Betapa tidak, ia adalah perawat wanita pertama dalam sejarah Islam. Karena kerja kerasnya membantu pasukan Islam dalam medan pertempuran, ia memperoleh kehormatan dari manusia mulia, Rasulullah . Nabi agung itu berkenan melilitkan kalung di leher perempuan yang selalu hadir dalam setiap pertempuran. Anugerah dari Rasulullah itu sangat berkesan, dan ia berwasiat kalung itu harus dikubur bersama jasadnya. Rufaidah, namanya begitu harum, dan  diabadikan sebagai istilah pos kesehatan dalam Islam (Khaimah Islam). Ialah wanita yang memiliki tempat khusus bagi pejuang Islam. Siapakah Rufaidah? Nama lengkapnya adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Wanita ini berasal dari Bani (marga) Aslam, salah satu marga dari suku Khazraj di Madinah.  Dalam salah satu sumber disebutkan bahwa ia bernama Ku’aibah binti Sa’ad (lihat Usud al-Gabah (Raja Rimba), VIII: 252).

Rufaidah dilahirkan di Yatsrib (kini dikenal sebagai Madinah al Munawwarah –pent.) dan tumbuh di sana sebelum hijrah. Ia termasuk kelompok muslim pertama dari Bani Aslam. Pada saat Rasulullah diizinkan oleh Allah SWT untuk berhijrah, Rufaidah termasuk di antara para muslimah kaum Ansar yang menyambut Sang Rasul dengan tabuhan rebana dan kendang serta iringan  lagu yang sangat terkenal dan abadi (Tala’al Badru ‘Alaina). Ketika agama Islam sudah menyelimuti Madinah, Rufaidah berkonsentrasi pada pekerjaan paramedic (keperawatan) yang diwarisi dari para leluhurnya. Saat itu ia melakukan perawatan dan penyembuhan terhadap masyarakat muslim yang menderita sakit. Ia mendirikan kemah pengobatan di samping Masjid Nabawi (lihat ibn Ishaq).

Dari keterangan dua paragraf di atas, aku kutip dari sebuah buku karya Ahmad Syauqi alFanjari dengan judul Rufaidah. Aku ingin sekali menulis tentang nama tersebut. Kenapa aku ingin sekali menuliskan nama tersebut, karena berkaitan dengan nama yang kusandang dari kedua orangtuaku. Iya, namaku adalah Rufaidah Izzatul Islamy. Putri dari abi Achmad Fauzan dan umi Azizah. Ceritanya adalah sebagai berikut, let’s check it out….

Bermula dari abiku berkunjung pada sebuah pameran buku di Kota Malang, yang memang seringkali diadakan pada saat liburan sekolah. Abi dan umi berkunjung ke sana karena promosi acara tersebut sangat gencar. Bagaimana tidak, melalui sebuah broadcast SMS, WA, banner dan spanduk terpampang di mana-mana. Rasa penasaran abi untuk mengunjungi acara tersebut, mengharuskan mencari waktu yang tepat agar dapat menikmati acara dengan senyaman mungkin. Ternyata abiku berangkat di sore hari selepas dari kantor (bekerja di Humas/hubungan masyarakat). Abi dan umi adalah sosok yang gemar membaca buku, sehingga mereka selalu mencari buku yang sekiranya cocok dan menarik. Bahkan ketika aku belum lahir di dunia, abi dan umiku tinggal di perumahan daerah Soekarno Hatta kota Malang bersama eyang uti dan kakung, abi dan umi selalu menyempatkan membaca buku. Maka, tatkala ada acara pameran buku, abipun sangat antusias untuk mendatanginya.

Singkat cerita di acara pameran buku, umi melihat sebuah buku kecil dan bersampul warna putih dengan sketsa seorang wanita berhijab. Ketika diambil dan dibaca di bagian sinopsis, umiku tertarik untuk membuka buku tersebut dari lembar pertama dan selanjutnya. Dirasa isinya menarik, akhirnya buku dengan jumlah 196 halaman, terbeli untuk dibawa pulang. Disamping buku tersebut, orangtuaku membeli beberapa buku dan barang lainnya yang sekiranya juga menarik. Khususnya umiku, tertarik membeli jilbab.

Abiku berasal dari Surabaya, sementara umiku berasal dari sebuah desa di kabupaten yang asri dan sejuk daerahnya, yakni Temanggung. Konon, pernikahan abi dan umi sudah memasuki tahun kedua. Sehingga, kata orangtua abi dan umi, mereka mengharapkan cucu kesayangannya yang nun jauh dari dua kota tersebut. Aku tinggal di kota Malang, sehingga penantian itu sangat lama bagi Bapak, Emak, dan mbah Kakungku. Sementara nenekku telah meninggal, ibu dari umiku. Akhirnya, abi dan umi mendatangi dokter satu ke dokter lainnya untuk konsultasi sekaligus berobat agar mendapat keturunan. Sudah beberapa dokter rekomendasi dari keluarga, tetangga, hingga teman. Namun, kata umi masih belum ada tanda-tanda kalau hamil. Tapi ada yang menarik dari cerita umi setelah menunaikan sholat maghrib, bahwa umi membaca sebuah buku tentang keajaiban bersedekah. Dari buku tersebut, umi mempraktikkan apa yang disampaikan penulis. Bahwa ketika kita sedang menghadapi masalah maupun keinginan kita ingin diwujudkan oleh Allah, maka dianjurkan untuk bersedekah. Akhirnya, umi mengajak abi keliling kota Malang untuk mencari para abang becak yang sedang mangkal untuk menunggu penumpang. Umilah yang selalu menunjukkan tempat para abang becak berada. Ketika umi memberikan sedekah ke abang becak, umi meminta untuk didoakan diberikan keturunan. Senyum merekah dan doa dari mereka seakan pertanda optimisnya umi atas semakin dekat harapan dan cita-citanya.

Atas takdir Allah, selain berikhtiar ke beberapa dokter dan bidan terdekat, akhirnya hari yang dinantikan umi tiba. Kabar gembira di pagi hari, umi tersenyum lega. Akhirnya harapan itu menjadi kenyataan di depan mata. Umi hamil. Setiap harinya aku dijaga, dicek, bahkan selalu dikonsultasikan ke dokter terkait perkembanganku dari hari ke hari, dari bulan ke bulan. Betapa bahagianya abi dan umiku. Setelah sekian lama, akhirnya aku berada di samping abi dan umiku. Ketika berusia delapan bulan, umiku sudah was-was. Bagaimana tidak, kata umi aku begitu aktif di dalam perut. Tendang sana tendang sini. Kata umi, seakan-akan tiada hari untuk selalu bergerak aktif di dalam perut. Pada saat menjelang kelahiran, umi diantar abi ke bidan untuk kontrol sekaligus menunggu detik-detik kebahagiaan. Umi sudah seharian berada di rumah bidan dekat rumah, namun masih belum ada tanda-tanda aku keluar. Hari berikutnya pun sama. Bahkan kata perawat yang membantu bidan tersebut, akan lahir di hari itu juga. Umi merasa kesakitan, sampai dibantu suntikan untuk meredam rasa sakit tersebut. Akhirnya, abi yang tidak tega melihat umi kesakitan, akhirnya menelepon rumah sakit di daerah Soekarno Hatta Malang agar dijemput di rumah bidan. Bidan pun menyetujuinya. Seftelah sholat dhuhur ambulan tiba dan tepat berada di depan rumah bidan. Tanpa menunggu waktu lama, umipun dibawa ke rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut.

Setelah tiba di rumah sakit, abi diminta dokter untuk menunggu di luar. Karena abi belum sholat dhuhur, akhirnya abi menuju musholla rumah sakit di lantai dasar untuk menunaikan sholat. Sembari berdoa agar aku dan umi selamat dan sehat. Tepat tanggal 17 Januari 2010, lahirlah aku di dunia ini. Tangisanku yang kencang kata umi membuat hati beliau menjadi bahagia. Air mata umi meleleh seketika itu juga menyaksikanku digendong oleh dokter yang menangani umi secara cesar. Setelah aku keluar dan dibersihkan, aku ditempatkan di sisi umi sebelah kanan. Abipun diperkenankan masuk untuk melafalkan adzan di telinga sisi kanan. Air mata abipun tumpah dan mengalir di pipinya. Tak kuat menahan haru dan perjuangan umi.

Aku lahir di dunia dengan diberi nama Rufaidah Izzatul Islamy. Terinspirasi dari cerita yang sesuai dengan judul buku “Rufaidah”. Abi dan umi berharap, suatu saat aku dapat memberikan manfaat kepada orang lain dalam bidang kedokteran. Bagaimana tidak, perjuangan umi di saat pertama kali hamil hingga melahirkan begitu luar biasa. Mulai tidak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari, rasa capek dan lelah, hingga tangisan bahkan antara hidup dan mati di saat melahirkan. Itu semua perjuangan seorang ibu yang patut kita hormati setiap saat. Bahkan di setiap sholatku, tidak pernah kulupakan doa untuk umi dan abi. Begitu hebatnya perjuangan umi ketika melahirkanku hingga aku bisa menjadi anak yang mandiri. Akupun juga bersyukur, setiap hari aku selalu dibimbing untuk selalu giat belajar, ngaji, dan mendampingi adikku Zahrona. Sekali lagi, aku berterima kasih kepada umi dan abi atas doa, bimbingan, dan arahan selama ini kepadaku. Yang patut aku syukuri pula, abi dan umi selalu mendukungku untuk terus berprestasi, baik di perlombaan-perlombaan IPA dan menghafal Quran. Aku kini duduk di kelas 5 SD Alam Ar-Rohmah, di kelas tahfidz. Setiap harinya menghafal Quran dan belajar pelajaran pada umumnya. Selain itu, aku dibimbing dan didampingi belajar tatkala ada lomba esok harinya. Meskipun di sekolah aku juga diikutkan pembinaan olimpiade. Di beberapa perlombaan yang kuikuti, Alhamdulillah aku bisa menjadi juara. Mulai tingkat kecamatan, Jawa dan Bali, hingga nasional. Itu semua berkat arahan dan bimbingan abi, umi, serta ustadzah.

Terima kasih umi dan abi, doaku selalu kutujukan kepadamu di setiap sholatku. Semoga umi dan abi selalu diberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan hidup. Allahumma fighfirlii wa liwaa lidhayya warham humaa kamaa rabbayaa nii shoghiroon. "Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orangtuaku. Baik umi maupun abiku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku di waktu kecil."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...