Penantian Dua Tahun
Karya: Izza
editor: Oz4N
Rufaidah adalah wanita mulia, yang
memperoleh kemuliaan dari orang mulia. Betapa tidak, ia adalah perawat wanita
pertama dalam sejarah Islam. Karena kerja kerasnya membantu pasukan Islam dalam
medan pertempuran, ia memperoleh kehormatan dari manusia mulia, Rasulullah ﷺ. Nabi agung itu berkenan melilitkan
kalung di leher perempuan yang selalu hadir dalam setiap pertempuran. Anugerah
dari Rasulullah ﷺ itu sangat berkesan, dan ia berwasiat kalung itu harus
dikubur bersama jasadnya. Rufaidah, namanya begitu harum, dan diabadikan sebagai istilah pos kesehatan
dalam Islam (Khaimah Islam). Ialah wanita yang memiliki tempat khusus bagi
pejuang Islam. Siapakah Rufaidah? Nama lengkapnya adalah Rufaidah binti Sa’ad
al Aslamiyah. Wanita ini berasal dari Bani (marga) Aslam, salah satu marga dari
suku Khazraj di Madinah. Dalam salah
satu sumber disebutkan bahwa ia bernama Ku’aibah binti Sa’ad (lihat Usud
al-Gabah (Raja Rimba), VIII: 252).
Rufaidah dilahirkan di Yatsrib (kini
dikenal sebagai Madinah al Munawwarah –pent.) dan tumbuh di sana sebelum
hijrah. Ia termasuk kelompok muslim pertama dari Bani Aslam. Pada saat
Rasulullah ﷺ
diizinkan oleh Allah SWT untuk berhijrah, Rufaidah termasuk di antara para
muslimah kaum Ansar yang menyambut Sang Rasul dengan tabuhan rebana dan kendang
serta iringan lagu yang sangat terkenal
dan abadi (Tala’al Badru ‘Alaina). Ketika agama Islam sudah menyelimuti
Madinah, Rufaidah berkonsentrasi pada pekerjaan paramedic (keperawatan) yang
diwarisi dari para leluhurnya. Saat itu ia melakukan perawatan dan penyembuhan
terhadap masyarakat muslim yang menderita sakit. Ia mendirikan kemah pengobatan
di samping Masjid Nabawi (lihat ibn Ishaq).
Dari keterangan dua paragraf di atas,
aku kutip dari sebuah buku karya Ahmad Syauqi alFanjari dengan judul Rufaidah.
Aku ingin sekali menulis tentang nama tersebut. Kenapa aku ingin sekali
menuliskan nama tersebut, karena berkaitan dengan nama yang kusandang dari
kedua orangtuaku. Iya, namaku adalah Rufaidah Izzatul Islamy. Putri dari abi
Achmad Fauzan dan umi Azizah. Ceritanya adalah sebagai berikut, let’s check it
out….
Bermula dari abiku berkunjung pada
sebuah pameran buku di Kota Malang, yang memang seringkali diadakan pada saat
liburan sekolah. Abi dan umi berkunjung ke sana karena promosi acara tersebut
sangat gencar. Bagaimana tidak, melalui sebuah broadcast SMS, WA, banner dan
spanduk terpampang di mana-mana. Rasa penasaran abi untuk mengunjungi acara
tersebut, mengharuskan mencari waktu yang tepat agar dapat menikmati acara
dengan senyaman mungkin. Ternyata abiku berangkat di sore hari selepas dari
kantor (bekerja di Humas/hubungan masyarakat). Abi dan umi adalah sosok yang
gemar membaca buku, sehingga mereka selalu mencari buku yang sekiranya cocok
dan menarik. Bahkan ketika aku belum lahir di dunia, abi dan umiku tinggal di
perumahan daerah Soekarno Hatta kota Malang bersama eyang uti dan kakung, abi
dan umi selalu menyempatkan membaca buku. Maka, tatkala ada acara pameran buku,
abipun sangat antusias untuk mendatanginya.
Singkat cerita di acara pameran buku,
umi melihat sebuah buku kecil dan bersampul warna putih dengan sketsa seorang
wanita berhijab. Ketika diambil dan dibaca di bagian sinopsis, umiku tertarik
untuk membuka buku tersebut dari lembar pertama dan selanjutnya. Dirasa isinya
menarik, akhirnya buku dengan jumlah 196 halaman, terbeli untuk dibawa pulang.
Disamping buku tersebut, orangtuaku membeli beberapa buku dan barang lainnya
yang sekiranya juga menarik. Khususnya umiku, tertarik membeli jilbab.
Abiku berasal dari Surabaya, sementara
umiku berasal dari sebuah desa di kabupaten yang asri dan sejuk daerahnya,
yakni Temanggung. Konon, pernikahan abi dan umi sudah memasuki tahun kedua.
Sehingga, kata orangtua abi dan umi, mereka mengharapkan cucu kesayangannya
yang nun jauh dari dua kota tersebut. Aku tinggal di kota Malang, sehingga
penantian itu sangat lama bagi Bapak, Emak, dan mbah Kakungku. Sementara
nenekku telah meninggal, ibu dari umiku. Akhirnya, abi dan umi mendatangi
dokter satu ke dokter lainnya untuk konsultasi sekaligus berobat agar mendapat
keturunan. Sudah beberapa dokter rekomendasi dari keluarga, tetangga, hingga
teman. Namun, kata umi masih belum ada tanda-tanda kalau hamil. Tapi ada yang
menarik dari cerita umi setelah menunaikan sholat maghrib, bahwa umi membaca
sebuah buku tentang keajaiban bersedekah. Dari buku tersebut, umi mempraktikkan
apa yang disampaikan penulis. Bahwa ketika kita sedang menghadapi masalah maupun
keinginan kita ingin diwujudkan oleh Allah, maka dianjurkan untuk bersedekah.
Akhirnya, umi mengajak abi keliling kota Malang untuk mencari para abang becak
yang sedang mangkal untuk menunggu penumpang. Umilah yang selalu menunjukkan
tempat para abang becak berada. Ketika umi memberikan sedekah ke abang becak,
umi meminta untuk didoakan diberikan keturunan. Senyum merekah dan doa dari
mereka seakan pertanda optimisnya umi atas semakin dekat harapan dan
cita-citanya.
Atas takdir Allah, selain berikhtiar ke
beberapa dokter dan bidan terdekat, akhirnya hari yang dinantikan umi tiba.
Kabar gembira di pagi hari, umi tersenyum lega. Akhirnya harapan itu menjadi
kenyataan di depan mata. Umi hamil. Setiap harinya aku dijaga, dicek, bahkan
selalu dikonsultasikan ke dokter terkait perkembanganku dari hari ke hari, dari
bulan ke bulan. Betapa bahagianya abi dan umiku. Setelah sekian lama, akhirnya
aku berada di samping abi dan umiku. Ketika berusia delapan bulan, umiku sudah
was-was. Bagaimana tidak, kata umi aku begitu aktif di dalam perut. Tendang
sana tendang sini. Kata umi, seakan-akan tiada hari untuk selalu bergerak aktif
di dalam perut. Pada saat menjelang kelahiran, umi diantar abi ke bidan untuk
kontrol sekaligus menunggu detik-detik kebahagiaan. Umi sudah seharian berada
di rumah bidan dekat rumah, namun masih belum ada tanda-tanda aku keluar. Hari
berikutnya pun sama. Bahkan kata perawat yang membantu bidan tersebut, akan
lahir di hari itu juga. Umi merasa kesakitan, sampai dibantu suntikan untuk
meredam rasa sakit tersebut. Akhirnya, abi yang tidak tega melihat umi
kesakitan, akhirnya menelepon rumah sakit di daerah Soekarno Hatta Malang agar
dijemput di rumah bidan. Bidan pun menyetujuinya. Seftelah sholat dhuhur
ambulan tiba dan tepat berada di depan rumah bidan. Tanpa menunggu waktu lama,
umipun dibawa ke rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut.
Setelah tiba di rumah sakit, abi
diminta dokter untuk menunggu di luar. Karena abi belum sholat dhuhur, akhirnya
abi menuju musholla rumah sakit di lantai dasar untuk menunaikan sholat.
Sembari berdoa agar aku dan umi selamat dan sehat. Tepat tanggal 17 Januari
2010, lahirlah aku di dunia ini. Tangisanku yang kencang kata umi membuat hati
beliau menjadi bahagia. Air mata umi meleleh seketika itu juga menyaksikanku
digendong oleh dokter yang menangani umi secara cesar. Setelah aku keluar dan
dibersihkan, aku ditempatkan di sisi umi sebelah kanan. Abipun diperkenankan
masuk untuk melafalkan adzan di telinga sisi kanan. Air mata abipun tumpah dan
mengalir di pipinya. Tak kuat menahan haru dan perjuangan umi.
Aku lahir di dunia dengan diberi nama
Rufaidah Izzatul Islamy. Terinspirasi dari cerita yang sesuai dengan judul buku
“Rufaidah”. Abi dan umi berharap, suatu saat aku dapat memberikan manfaat
kepada orang lain dalam bidang kedokteran. Bagaimana tidak, perjuangan umi di
saat pertama kali hamil hingga melahirkan begitu luar biasa. Mulai tidak bisa
tidur dengan nyenyak di malam hari, rasa capek dan lelah, hingga tangisan
bahkan antara hidup dan mati di saat melahirkan. Itu semua perjuangan seorang
ibu yang patut kita hormati setiap saat. Bahkan di setiap sholatku, tidak
pernah kulupakan doa untuk umi dan abi. Begitu hebatnya perjuangan umi ketika
melahirkanku hingga aku bisa menjadi anak yang mandiri. Akupun juga bersyukur,
setiap hari aku selalu dibimbing untuk selalu giat belajar, ngaji, dan
mendampingi adikku Zahrona. Sekali lagi, aku berterima kasih kepada umi dan abi
atas doa, bimbingan, dan arahan selama ini kepadaku. Yang patut aku syukuri
pula, abi dan umi selalu mendukungku untuk terus berprestasi, baik di
perlombaan-perlombaan IPA dan menghafal Quran. Aku kini duduk di kelas 5 SD
Alam Ar-Rohmah, di kelas tahfidz. Setiap harinya menghafal Quran dan belajar
pelajaran pada umumnya. Selain itu, aku dibimbing dan didampingi belajar
tatkala ada lomba esok harinya. Meskipun di sekolah aku juga diikutkan
pembinaan olimpiade. Di beberapa perlombaan yang kuikuti, Alhamdulillah aku
bisa menjadi juara. Mulai tingkat kecamatan, Jawa dan Bali, hingga nasional.
Itu semua berkat arahan dan bimbingan abi, umi, serta ustadzah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar