Generasi 554
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di
antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu
kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap
lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap
orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada
celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada
siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Maidah: 54)
Kaum Terbaik, Generasi
Pilihan Allah, Generasi 554 Jadikan Dirimu Bagian Dari Mereka
Ayat ini dikenal dengan
ayat generasi 554 karena berada pada surah ke 5 (surah al-Maidah) ayat ke 54.
Ayat ini menyebutkan tentang generasi terbaik yang Allah pilih untuk menjadi
penolong agama-Nya, tatkala orang-orang berpaling dari memperjuangkan Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam akan senantiasa jaya, ada atau tanpa keberadaan
kita dalam barisan perjuangan ini. Maka kita harus mengambil peran dalam
perjuangan demi kejayaan Islam untuk menyelamatkan diri kita. Sebab jika tidak,
Islam akan meninggalkan kita dengan kejayaannya, sedangkan kita terpuruk dalam
lembah kehinaan yang dapat membinasakan.
Pada kesempatan kali
ini, kami akan menyingkap makna yang terkandung dalam ayat tersebut,
sebagaimana telah dijelaskan oleh Pembina LPI Ar-Rohmah Pesantren Hidayatullah
Malang pada acara Rapat Kerja LPI Ar-Rohmah hari Jumat, 12 Juni 2020. Beliau
memaparkan bahwa, jika ingin menjadi generasi yang Allah janjikan pada
sebagaimana termaktub pada ayat tersebut, maka seorang santri sebagai generasi
pelanjut para ulama memiliki hal-ahl sebagai berikut:
1.
Visioner
Sebagaimana para
pendahulu Negara tercinta kita, khususnya para ulama yang memperjuangkan negeri
ini dari penjajah, mereka memiliki visi yang jelas dan terukur. Apa visi
mereka? Menjadikan negeri ini sebagai negeri yang merdeka dan terbebas dari
cengkeraman para penajajah yang selain ingin menguasai Indonesia juga mereka
ingin menyebarkan paham dan agama nasrani. Maka, tidak heran seorang santri
memiliki visi yang jelas ketika ingin memasuki bahkan belajar di pesantren.
Tidak sekedar belajar ilmu pasti sebagaimana ilmu-ilmu pada umumnya, atau
menghafal beberapa hadits dan kitab yang ada, tetapi kehadiran santri ketika
belajar di pesantren, maka jelas tujuan dan visinya. Yakni, kelak mereka akan
menjadi dan menyiapkan diri sebagai seorang pemimpin yang mana bekal pendidikan
umum dibarengi pendidikan agama. Pendidikan tersebut dibarengi dengan adab dan
akhlak terpuji. Kelak bekal mereka dalam memimpin negeri ini sebagaimana visi
LPI Ar-Rohmah yakni mencetak generasi yang Takwa, Cerdas, dan Mandiri. Visi
harus jelas, tujuan harus jelas, dan meraihnya penuh perjuangan dan
kesungguhan. Mustahil bila ingin menjadi seorang pemimpin tidak memiliki visi
yang jelas.
2.
Berjiwa juang tinggi
Ketika santri sudah jelas visi yang akan diraihnya di
masa depan dengan kesungguhan dan keseriusan, maka pantaslah jika visi tersebut
harus diraih dengan keistiqomahan yang tinggi. Kesehariannya tertata rapi,
jadwalnya terposisi dengan pasti, dan hidupnya terarah dengan aksi. Santri
sebagai cikal bakal dalam memimpin bangsa ini, maka selain memiliki visi, yakni
memiliki jiwa juang yang tinggi. Kemalasan yang menghampiri di setiap saat,
akan perlahan-lahan surut apabila dalam jiwa santri tertempa ketaatan. Taat
dalam menjalani kegiatan di pesantren, jiwa juang tinggi yang dimiliki santri
akan menjiwai dalam hati, pikiran, dan perilakunya. Kontrol ketaatan inilah
urgensi dalam jiwa santri. Sepantasnya sikap taat ini muncul untuk menstimulus jiwa santri dalam meraih
cita-cita. Berjiwa juang tinggi sangat dibutuhkan sebagai bekal ke mana arah
visi dan tujuan akan direngkuhnya. Jangan sampai kalah dengan berbagai alasan
yang ada. Entah itu jauh dari orangtua, fasilitas, maupun teman sekelilingnya.
3.
Sabar dan pantang menyerah
Ketika dihadapkan pada sebuah
permasalahan yang ada, santri mampu menghadapinya. Tidak keluh kesah bahkan
berputus asa, sampai-sampai harus mengadu ke orangtua. Menuntut ilmu penuh
kesabaran dan waktu yang panjang. Tidak cukup dipelajari hanya hitungan hari,
bulan, maupun tahun. Maka santri Ar-Rohmah ketika menuntut ilmu di pesantren,
tak lain harus memiliki jiwa sabar dan pantang menyerah. Keberadaan orangtua yang
jauh dari mata, keluarga yang tidak setiap saat dijumpainya, atau bahkan
binatang kesayangannya pun tidak luput akan kasih sayangnya di rumah, santri
akan terus berjuang untuk meraih cita-cita demi kemuliaan Islam di negeri ini.
Sabar dalam menuntut ilmu, sabar jauh dari ayah dan ibu, sabar dalam menghadapi
teman yang tidak satu tujuan, maka itulah kunci sukses seorang santri untuk
meraih masa depan yang cemerlang.
4.
Disiplin dan mandiri
Beragam aktivitas yang ada di
pesantren Ar-Rohmah, menjadikan santri disiplin waktu dan mandiri dari segala
aspek. Bila di rumah selalu dilayani oleh orang tua ataupun pembantu, di
pesantren dikerjakan secara mandiri. Apabila di rumah ketika ada baju kotor
yang habis dipakai bermain bola, di pesantren sedcara reflex baju yang dipakai
otomatis akan dicuci dan dikerjakan sendiri. Kunci sukses sebagai seorang
pemimpin yakni, waktu yang Allah berikan kepadanya dapat dimanfaatkan dengan
sebagik-baiknya serta bermafaat bagi orang yang ada di sekitarnya. Tersusun
rapi, terstruktur rapi, serta menghargai waktu adalah kunci meraih apa yang
diinginkan. Disiplin dan mandiri terus terpupuk dalam jiwa santri.
5.
Berani dan bertanggungjawab
Pertama kali calon santri ketika akan
menjadi santri Ar-Rohmah, melalui tahap ujian dan wawancara. Kesiapan dalam
memasuki era baru yang jauh dari hiruk pikuk kesenangan dunia, menjadikan
santri harus berani mengambil tugas mulia yakni menuntut ilmu dengan
sungguh-sungguh. Ebrani jauh dari keluarga tercinta, khususnya orang tua yang
melayani setiap saat, butuh proses tingkat tinggi, yakni berani mengambil peran
kemandirian sebagaimana orang tua mereka yang sukses pastinya ditempa dengan
beragam masalah dan problematikanya. Apapun masalah yang terjadi di
sekelilingnya, tidak menjadikan putus asa. Problematika yang dihadapi di
sekelilingnya, tidak menjadikan jiwa kerdil dalam dirinya. Tentu setiap jiwa
pasti mempunyai masalah dan problematikanya masing-masing. Santri Ar-rohmah
berani dan bertanggungjawab kepada Allah, orangtua, dan masyarakat pada umumnya
bahwa tugas mulia yang akan diemban di kemudian hari, harus diimbangi sikap
berani dan bertanggungjawab.
6.
Kreatif dan inovatif
Keterbatasan fasilitas dan
kelengkapan yang ada, mencetak santri untuk terus kreatif dan inovatif.
Walaupun di luar sebagaimana yang diketahuinya, semua fasilitas yang mendukung,
bukan berarti menjadikan jiwa mampu berkreasi dan berinovasi. Maka santri
Ar-Rohmah yakin seyakin-yakinnya bahwa ide brilian tidak cukup hanya dipikirkan
saja, tapi perlu diaplikasikan dalam bentuk karya nyata.
7.
Ikhlas mengabdi
Kunci untuk menjadikan jiwa generasi
muda saat ini yakni terus istiqomah dalam kebaikan dan kesabaran yang
diikhtiari dengan ikhlas mengabdi. Terjun ke masyarakat adalah langkah awal
dalam mengabdi, sosialisasi di masyarakat adalah langkah awal dalam berbakti.
Maka, ketika santri dinyatakan lulus dari pesantren, tumbuh keikhlasan dan
keridhoan untuk mengabdi di masyarakat.
Demikian, kriteria
generasi 554 yang terkandung dalam surat Al Maidah ayat 54. Semoga kita menjadi
santri yang siap memikul amananah Allah di muka bumi sebagai hamba dan
khalifahNya. (cak Ozan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar