Musuh jadi Sahabat
(lagi)
Karya: Zahrona Namira Ramadhani
Kelas: 4C
Mentari di SD Cahaya telah
meninggi. Suasana halaman sekolah semakin terasa hangat bahkan hingga masuk di
sela-sela jendela kelas. Namun, itu tidak mengurangi semangat anak-anak SD Cahaya
dalam menuntut ilmu. Ya, hari itu adalah hari Selasa, suasana pagi yang cerah
menyambut kedatangan mereka untuk belajar. Dari kejauhan nun jauh di timur,
sinar matahari semakin jelas diiringi dengan beterbangan burung-burung di atas
genteng SD Cahaya.
Pukul 06.55
Lima menit kemudian, semua siswa
beranjak masuk dengan tertib ke kelasnya masing-masing dengan disambut tangan
yang penuh keikhlasan dari guru. Satu persatu masuk sembari mengucapkan
‘Assalamu’alaikum’. Sang ibu guru yang menyambutpun dengan ucapan
‘Waalaikumussalam’ hingga siswa yang terakhir masuk kelas. Begitulah suasana
pagi sebelum pembelajaran dimulai. Sambutan hangat dari guru membuat siswa
semakin semangat. Meskipun tidak berangsur-angsur sinar matahari yang
menyelinap di jendela belum redup. Bagi mereka sinar mentari adalah asupan
energi untuk tubuh.
Zahrona, siswi yang manis duduk
di paling depan memimpin teman-temannya untuk berdoa sebelum belajar. Suara
lantangnya mengajak siswa lainnya untuk menghadap depan dan menengadahkan tangan
serta melantunkan doa sesuai yang diajarkan. Bacaan demi bacaan telah
dituntaskan dan kini mereka siap menerima pembelajaran dari guru. Kali ini
pelajaran pertama adalah Matematika. Pelajaran yang sangat disukai oleh
Zahrona. Ya, Zahrona adalah siswi yang gemar sekali menghitung angka hingga
harga-harga yang ada di struk belanjaan uminya pun dihitung.
Bu Izza sebagai guru Matematika
sangat mengagumi Zahrona yang pintar berhitung. Bahkan, bu Izza kini berharap
jika ada lomba-lomba akademik khususnya Matematika, rasa-rasanya Zahrona akan
diikutkan agar memiliki keberanian dan mampu mengukur kemampuannya. Sehingga
Zahrona yang kini duduk di kelas 4 selalu bersemangat apabila Ibu Izza
menyampaikan ada perlombaan Matematika. Dengan kemampuan yang dimiliki Zahrona,
ibu Izza yakin bahwa anak didiknya itu akan bisa bersaing dengan siswa-siswa
dari SD lain.
Tidak berselang lama, pelajaran
Matematika pun usai. Ibu Azizah yang sedari menjelaskan materi tentang luas
persegi panjang pun pamitan untuk bergegas ke kelas. Maka kelas Zahrona kini
telah sepi setelah ditinggal ibu Izza. Meskipun begitu, tidak berselang lama
ibu Zaima yang mengajar Bahasa Indonesia melanjutkan pembelajaran sesuai jadwal
di hari Selasa. Ibu Zaima menjelaskan materi tentang kalimat langsung dan tidak
langsung. Bagi Zahrona, pelajaran Bahasa Indonesia adalah salahsatu pelajaran
yang disukai selain Matematika. Selain ibu Zaima asyik, beliau juga sabar dan
jelas dalam mengajar. Maka tidak heran,
semua siswa di ruangan kelasnya sangat menikmati meskipun kadangkala materi
yang diajarkan cukup membingungkan. Khususnya berkaitan dengan materi kalimat
transitif dan intransitive.
Sudah satu jam berlangsung
pelajaran Bahasa Indonesia. Bel yang nyaring di ujung SD Cahaya membuyarkan
semua siswa untuk tiba istirahat sekolah. Zahrona, Qiya, maupun Zahra kini
menyiapkan diri untuk istirahat. Namun, tidak diduga-duga, Qiya teman Zahrona
yang satu ini memang doyan makan. Maka, tidak heran apabila bel sekolah
bordering, pertanda untuk segera bergegas ke kantin sekolah untuk jajan.
Tok tok tok….
Suara keras yang diketuk dari
luar mengagetkan siswa seisi kelas. Bagaimana tidak, Mufi teman Zahrona, Qiya,
dan Zahra yang beda kelas langsung masuk kelas setelah mengetuk pintu. “Qiya…
Qiya… kamu di mana?” teriak Mufi. Zahrona yang sedang ngobrol dengan Zahra
buru-buru menjawabnya, “Qiya ke kantin. Kami pun ditinggal tanpa diajaknya.”
Tanpa menunggu kesempatan yang ada, Mufi pun tanpa pamitan ke Zahrona dan Zahra
berlari menuju kantin. Zahrona dan Zahra yang aneh melihatnya pun juga menyusul
mereka berdua untuk jajan di kantin.
Suara kencang dari Mufi memanggil
Qiya terdengar oleh semua siswa yang sudah antri di kantin. “Qiya…. Akhirnya
aku menemukanmu.” Teriak Mufi. Qiya yang sedari tadi antri di barisan kedua
akhirnya kaget dan menoleh ke sumber suara. Mufi yang kini telah menemukan Qiya
begitu girang seakan mendapatkan hadiah. “Ada apa Mufi kamu panggil aku dengan
teriak-teriak?” tanya Qiya. Mufi yang sudah merencanakan dari kelas, akhirnya
ngomong terus terang kepada Qiya. “Aku mau pinjam uangmu Qiya.” Harap Mufi.
Seakan tidak percaya yang biasanya Mufi selalu rajin jajan tiba-tiba mau pinjam
uangnya. “Berapa?” “Enam ribu rupiah saja,” jawab Mufi setelah ditanya jumlah
uang yang akan dipinjam. “Insya Allah besok saya kembalikan,” lanjut Mufi.
Tidak berselang lama, Qiya pun
merogoh saku bajunya dan memberikan kepada Mufi. “Jangan lupa besok
dikembalikan lho ya.” Mufi yang mendengarnya pun mengangguk bahwa ia akan
mengembalikan uang Qiya. Zahrona dan Zahra yang mendengar dari dekat Mufi,
tersenyum seakan tidak percaya bahwa Mufi akan pinjam uang Qiya.
Hingga tibalah esok harinya….
Zahrona, Qiya, dan Zahra tiga
sahabat yang sekelas selalu datang tepat waktu. Begitupun Mufi teman dekat Qiya
di komplek perumahan, juga sudah masuk ke kelasnya. Seperti biasa, Rabu
pelajarannya adalah IPS, PAI, dan Al Quran. Setelah semua selesai, seperti
biasa Zahrona, Qiya, dan Zahra bergegas ke kantin. Namun, sebelum mereka menuju
kantin yang berada di ujung gedung SD, Qiya berpapasan dengan Mufi. Seakan
ingat janji Mufi yang akan mengembalikan uangnya, maka Qiya pun menagih
hutangnya. Seakan tidak ingat, Mufi pun menyampaikan bahwa ia tidak membawa
uang sama sekali. Sehingga uang Qiya belum kembali. Dua hari berikutnya pun
sama, jawaban yang sama dari Mufi di saat Qiya ingin menagih uangnya, ternyata
Mufi tidak membawa uang. Namun, seolah Qiya tidak percaya seratus persen,
karena sebelum berangkat sekolah, orang tua Mufi memberikan uang saku
kepadanya.
Ketika tagihan tidak diindahkan,
maka Qiya pun semakin lama semakin jengkel. Padahal uang sakunya juga sudah
menipis. Maka, Qiya kini seolah tidak ingin bergaul lagi dengan Mufi. Sahabat
yang dulu selalu asyik diajak bareng ke sekolah, kini seakan menjadi musuh Qiya
gegara uang pinjamannya belum kembali. Namun, lama kelamaan Zahrona dan Zahra
yang menjadi sahabat Qiya menasihatinya bahwa meskipun uangnya belum kembali
tapi jangan sampai putus hubungan dengan Mufi. Setelah Zahrona menasihati Qiya,
tidak berselang lama, Mufi pun datang dan membawa uang untuk mengembalikan
hutang ke Qiya. Kini Qiya seakan tidak percaya bahwa temannya itu adalah anak
yang baik. Bukan berarti lambatnya mengembalikan hutang seakan putus
hubungannya. Kini, mereka bersahabat kembali, meskipun Qiya pernah menganggap
musuh gara-gara masalah hutang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar