Senin, 15 Juli 2024

Musuh jadi Sahabat (lagi)

 

Musuh jadi Sahabat (lagi)

Karya: Zahrona Namira Ramadhani

Kelas: 4C

 


Mentari di SD Cahaya telah meninggi. Suasana halaman sekolah semakin terasa hangat bahkan hingga masuk di sela-sela jendela kelas. Namun, itu tidak mengurangi semangat anak-anak SD Cahaya dalam menuntut ilmu. Ya, hari itu adalah hari Selasa, suasana pagi yang cerah menyambut kedatangan mereka untuk belajar. Dari kejauhan nun jauh di timur, sinar matahari semakin jelas diiringi dengan beterbangan burung-burung di atas genteng SD Cahaya.

Pukul 06.55

Lima menit kemudian, semua siswa beranjak masuk dengan tertib ke kelasnya masing-masing dengan disambut tangan yang penuh keikhlasan dari guru. Satu persatu masuk sembari mengucapkan ‘Assalamu’alaikum’. Sang ibu guru yang menyambutpun dengan ucapan ‘Waalaikumussalam’ hingga siswa yang terakhir masuk kelas. Begitulah suasana pagi sebelum pembelajaran dimulai. Sambutan hangat dari guru membuat siswa semakin semangat. Meskipun tidak berangsur-angsur sinar matahari yang menyelinap di jendela belum redup. Bagi mereka sinar mentari adalah asupan energi untuk tubuh.

Zahrona, siswi yang manis duduk di paling depan memimpin teman-temannya untuk berdoa sebelum belajar. Suara lantangnya mengajak siswa lainnya untuk menghadap depan dan menengadahkan tangan serta melantunkan doa sesuai yang diajarkan. Bacaan demi bacaan telah dituntaskan dan kini mereka siap menerima pembelajaran dari guru. Kali ini pelajaran pertama adalah Matematika. Pelajaran yang sangat disukai oleh Zahrona. Ya, Zahrona adalah siswi yang gemar sekali menghitung angka hingga harga-harga yang ada di struk belanjaan uminya pun dihitung.

Bu Izza sebagai guru Matematika sangat mengagumi Zahrona yang pintar berhitung. Bahkan, bu Izza kini berharap jika ada lomba-lomba akademik khususnya Matematika, rasa-rasanya Zahrona akan diikutkan agar memiliki keberanian dan mampu mengukur kemampuannya. Sehingga Zahrona yang kini duduk di kelas 4 selalu bersemangat apabila Ibu Izza menyampaikan ada perlombaan Matematika. Dengan kemampuan yang dimiliki Zahrona, ibu Izza yakin bahwa anak didiknya itu akan bisa bersaing dengan siswa-siswa dari SD lain.

Tidak berselang lama, pelajaran Matematika pun usai. Ibu Azizah yang sedari menjelaskan materi tentang luas persegi panjang pun pamitan untuk bergegas ke kelas. Maka kelas Zahrona kini telah sepi setelah ditinggal ibu Izza. Meskipun begitu, tidak berselang lama ibu Zaima yang mengajar Bahasa Indonesia melanjutkan pembelajaran sesuai jadwal di hari Selasa. Ibu Zaima menjelaskan materi tentang kalimat langsung dan tidak langsung. Bagi Zahrona, pelajaran Bahasa Indonesia adalah salahsatu pelajaran yang disukai selain Matematika. Selain ibu Zaima asyik, beliau juga sabar dan jelas dalam mengajar.  Maka tidak heran, semua siswa di ruangan kelasnya sangat menikmati meskipun kadangkala materi yang diajarkan cukup membingungkan. Khususnya berkaitan dengan materi kalimat transitif dan intransitive.

Sudah satu jam berlangsung pelajaran Bahasa Indonesia. Bel yang nyaring di ujung SD Cahaya membuyarkan semua siswa untuk tiba istirahat sekolah. Zahrona, Qiya, maupun Zahra kini menyiapkan diri untuk istirahat. Namun, tidak diduga-duga, Qiya teman Zahrona yang satu ini memang doyan makan. Maka, tidak heran apabila bel sekolah bordering, pertanda untuk segera bergegas ke kantin sekolah untuk jajan.

Tok tok tok….

Suara keras yang diketuk dari luar mengagetkan siswa seisi kelas. Bagaimana tidak, Mufi teman Zahrona, Qiya, dan Zahra yang beda kelas langsung masuk kelas setelah mengetuk pintu. “Qiya… Qiya… kamu di mana?” teriak Mufi. Zahrona yang sedang ngobrol dengan Zahra buru-buru menjawabnya, “Qiya ke kantin. Kami pun ditinggal tanpa diajaknya.” Tanpa menunggu kesempatan yang ada, Mufi pun tanpa pamitan ke Zahrona dan Zahra berlari menuju kantin. Zahrona dan Zahra yang aneh melihatnya pun juga menyusul mereka berdua untuk jajan di kantin.

Suara kencang dari Mufi memanggil Qiya terdengar oleh semua siswa yang sudah antri di kantin. “Qiya…. Akhirnya aku menemukanmu.” Teriak Mufi. Qiya yang sedari tadi antri di barisan kedua akhirnya kaget dan menoleh ke sumber suara. Mufi yang kini telah menemukan Qiya begitu girang seakan mendapatkan hadiah. “Ada apa Mufi kamu panggil aku dengan teriak-teriak?” tanya Qiya. Mufi yang sudah merencanakan dari kelas, akhirnya ngomong terus terang kepada Qiya. “Aku mau pinjam uangmu Qiya.” Harap Mufi. Seakan tidak percaya yang biasanya Mufi selalu rajin jajan tiba-tiba mau pinjam uangnya. “Berapa?” “Enam ribu rupiah saja,” jawab Mufi setelah ditanya jumlah uang yang akan dipinjam. “Insya Allah besok saya kembalikan,” lanjut Mufi.

Tidak berselang lama, Qiya pun merogoh saku bajunya dan memberikan kepada Mufi. “Jangan lupa besok dikembalikan lho ya.” Mufi yang mendengarnya pun mengangguk bahwa ia akan mengembalikan uang Qiya. Zahrona dan Zahra yang mendengar dari dekat Mufi, tersenyum seakan tidak percaya bahwa Mufi akan pinjam uang Qiya.

Hingga tibalah esok harinya….

Zahrona, Qiya, dan Zahra tiga sahabat yang sekelas selalu datang tepat waktu. Begitupun Mufi teman dekat Qiya di komplek perumahan, juga sudah masuk ke kelasnya. Seperti biasa, Rabu pelajarannya adalah IPS, PAI, dan Al Quran. Setelah semua selesai, seperti biasa Zahrona, Qiya, dan Zahra bergegas ke kantin. Namun, sebelum mereka menuju kantin yang berada di ujung gedung SD, Qiya berpapasan dengan Mufi. Seakan ingat janji Mufi yang akan mengembalikan uangnya, maka Qiya pun menagih hutangnya. Seakan tidak ingat, Mufi pun menyampaikan bahwa ia tidak membawa uang sama sekali. Sehingga uang Qiya belum kembali. Dua hari berikutnya pun sama, jawaban yang sama dari Mufi di saat Qiya ingin menagih uangnya, ternyata Mufi tidak membawa uang. Namun, seolah Qiya tidak percaya seratus persen, karena sebelum berangkat sekolah, orang tua Mufi memberikan uang saku kepadanya.

Ketika tagihan tidak diindahkan, maka Qiya pun semakin lama semakin jengkel. Padahal uang sakunya juga sudah menipis. Maka, Qiya kini seolah tidak ingin bergaul lagi dengan Mufi. Sahabat yang dulu selalu asyik diajak bareng ke sekolah, kini seakan menjadi musuh Qiya gegara uang pinjamannya belum kembali. Namun, lama kelamaan Zahrona dan Zahra yang menjadi sahabat Qiya menasihatinya bahwa meskipun uangnya belum kembali tapi jangan sampai putus hubungan dengan Mufi. Setelah Zahrona menasihati Qiya, tidak berselang lama, Mufi pun datang dan membawa uang untuk mengembalikan hutang ke Qiya. Kini Qiya seakan tidak percaya bahwa temannya itu adalah anak yang baik. Bukan berarti lambatnya mengembalikan hutang seakan putus hubungannya. Kini, mereka bersahabat kembali, meskipun Qiya pernah menganggap musuh gara-gara masalah hutang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta

Yogyakarta bersama Keluarga Tercinta Hari Selasa, 1 Juli 2025, adalah hari yang aku tunggu-tunggu sejak lama. Sejak seminggu sebelumnya (set...